Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua

Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua
Tidak Sangka, Wanita Yang Sangat Aku Cintai. Bisa Terlihat Murahan Seperti Ini.


__ADS_3

Jantung Fox terasa nyeri mendengar ucapan dari yang biasanya dia panggil putri kecilnya, putri manisnya dan putri kesayangannya.


Tangis dalam dadanya yang sekuat tenaga dia tahan, namun sayangnya tidak berhasil. Air mata nya menetes beriringan dengan sebutan kata papa yang coba di panggilkan Candy kepadanya.


" Iya sayang. Nanti, pasti papa pulang."


" Kenapa papa tidak pamit seperti Oma?"


" Maksud Candy?"


" Oma juga pergi ke luar negeri, tapi Oma berpamitan sama Candy, mama dan Opa. Kenapa papa tidak?" Candy yang coba menjelaskan.


Ibu ke luar negeri?


" Maafkan papa sayang. Apa mama tahu? Candy sedang menelepon papa?"


" Enggak pa, Candy sembunyi-sembunyi ambil ponsel mama. Candy butuh waktu lama lho pa untuk mencari nama papa yang tidak ada di kontak mama. Lalu Candy ingat Oma dan opa yang pernah memanggil dengan sebutan suami istri. Ya sudah, Candy langsung mengeja dengan kata suami, dan akhirnya ketemu satu nama Suami Ter cin ta, di ponsel mama." Celoteh Candy yang begitu menggemaskan untuk di dengar sampai ke telinga Fox. Meskipun kata terakhir yang disebut Candy. Fox begitu membencinya.


Fox pun terkekeh. " Iya sayang. Candy tidur ya sayang! Sudah malam."


" Candy tidak bisa tidur papa. Hikz ... Hikz ... Hikz." Candy yang begitu sedih karena saking rindu papanya.


Begitu juga dengan Fox. Dia terlalu kecewa terhadap luka yang diberikan istrinya. Sampai-sampai harus seperti ini. Menghadapkannya pada pilihan yang sulit untuk bagaimana bersikap kepada Candy.


" Kalau begitu besok papa pulang ya," rayunya supaya percakapan keduanya cepat berakhir sebelum benar-benar semakin mengiris hati Fox.


" Benar pa?" Candy yang tersenyum tampak bahagia.


" Iya sayang, sekarang Candy tidur ya," bujuk kembali Fox pada putranya.


" Iya papa. Muach." seraya mendekatkan ponsel mamanya ke bibirnya.


" Muach," balas Fox yang kemudian bersedih kembali. Geram kepada Tamarin mengapa tidak memikirkan dampak dari perbuatan tidak terpujinya. Begitu juga dengan ayahnya, seolah lupa dengan wanita yang telah lama dia nikahi, yaitu ibunya. Keduanya benar-benar gila.


Malam pun berlalu tanpa terasa. Cahaya matahari yang terbit dari ufuk timur mulai menampakkan diri nya dari persembunyian.


Fox, tidak pernah membayangkan jika rumah tangganya akan karam. Tenggelam dan bahkan sudah terlihat suram tak bermasa depan.


Membuat minuman hangat dan tinggal di apartemen ini seorang diri, baru kali ini dia lakukan setelah enam tahun menikah dengan Tamarin.


Bukan tanpa sebab, dia terlanjur sudah mantap membuat keputusan untuk berpisah dari Tamarin. Dan hari ini, dia akan mencetuskan keputusan nya kepada Tamarin. Suka tidak suka, Tamarin harus menerimanya. Karena tidak mungkin Fox akan menerima dia, terlebih sekarang dia hamil kembali dan sudah dapat dipastikan jika itu anak ayahnya.


Fox yang menyeruput kopi hangat yang baru saja dibuatnya. Kedua matanya jelas tersirat kesedihan yang mendalam. Meletakkan kembali cangkir putih tebal di atas meja mini bar dapur apartemennya.


Fox yang kemudian keluar dari apartemennya. Langkahnya harus terhenti, tatkala melihat pintu tengah apartemen milik ayahnya.


Menoleh nya, memutar tubuhnya dan berdiri tepat tiga langkah di depan pintu apartemen ayahnya. Memasukkan kedua tangannya dalam saku celana melipis nya. Menatap pintu tersebut baik-baik. Mengingat kata-demi kata yang coba Jelly jelaskan dalam suratnya. Jelas, dadanya bagai tertusuk ribuan jarum dan itu sungguh memerih kan.


Kembali lagi, sepasang matanya menatap nanar. Ribuan kali menepis sayangnya ini kenyataan. Kepalanya tertunduk, tubuhnya membeku, memainkan bibir yang dapat dipastikan jika seluruh artinya adalah rasa kecewa yang teramat dalam.

__ADS_1


.


.


Di sekolah Candy.


" Papa." Candy yang terkejut sekali karena melihat Fox tengah tersenyum dan sudah menunggu di halaman sekolahnya.


Dia berlari dari mobil yang baru saja di buka oleh supir pribadinya. Menuju ke papa Fox dengan senyum lebar selebar-lebarnya.


Begitu pula dengan Fox, dia segera menangkap Candy dalam gendongan depannya.


" Papa," lirih Candy yang sangat bahagia. Terlihat sekali lesung pipi yang terbuka diikuti gigi susu yang berjajar dengan sempurna.


Fox yang jujur akhir-akhir ini menghindari dengan panggilan kata putri ku, kepada Candy. Karena memang jelas dia bukan putrinya. Sekarang, dia memilih memanggil Candy dengan sebutan sayang, atau memanggilnya dengan nama nya.


" Candy di antar bibi?" tanya Fox seraya bertukar tatap dengan bocah manis menggemaskan yang tengah dia gendong depan itu.


" Iya pa."


" Bukan kah biasanya di antar Opa?" tanyanya kembali.


" Opa di rumah pa," seraya memilin kerah kemeja papanya.


" Kalau mama?"


" Oh, bukan seperti itu sayang. Papa pikir, mama sudah sembuh." Fox yang terlihat gelagapan saat Candy berkata demikian. Untungnya, jawaban darinya dapat diterima baik oleh Candy.


" Sekarang, Candy masuk dulu ya!" seraya menurunkan Candy dari gendongannya.


" Apa papa nanti pergi lagi?" Candy yang mendongak menatap janggut ayahnya.


Fox yang tidak tahu harus menjawab apa. Padahal jelas, dia ingin pulang ke rumah besar guna mengemasi sebagian pakaian kantornya. Membawanya ke apartemen, dan entah sampai kapan dia tinggal di sana. Mengurus surat perceraian nya kepada Tamarin dan setelah itu melanjutkan hidupnya.


Bagaimana dengan ibunya? dia sendiri juga bingung bagaimana menjelaskannya. Kecuali hanya bukti-bukti pasti, yang akan dilihatnya sendiri. Dengan begitu, ibunya menjadi tahu siapa suami dan menantunya. Ya, hanya itu yang bisa dia lakukan.


" Sekarang Candy masuk ya!" Fox yang berharap Candy melupakan pertanyaannya.


" Kenapa papa tidak jawab? Apa papa nanti pergi lagi." ulangnya terlihat sekali jika wajahnya memasam dan tidak bersemangat lagi.


" Sayang, pekerjaan papa banyak sekali. Ya, mungkin malam ini dan beberapa malam selanjutnya, papa akan sangat sibuk dan berada di luar kota. Sama kayak Oma ... Tapi papa janji, setiap Candy ingin bertemu papa, papa siap menemui Candy di sekolah."


" Di sekolah? Kenapa tidak di rumah pa?" tanya polosnya bocah manis itu.


" Candy ... "


Teet


Belum sampai Fox berusaha menimpali, bel Sekolah Candy berbunyi.

__ADS_1


" Sekarang Candy masuk dulu ya!" Fox yang berusaha mengantar Candy sampai depan kelasnya. Supaya Candy lebih tenang dan melepas rindunya.


" Janji ya papa?" seraya memberi jari kelingkingnya untuk dia gembok kan pada jari kelingking papanya.


" Iya sayang," lirihnya berbisik, senyumnya dia coba paksakan, meskipun tatapannya sungguh kasihan pada Candy dan dirinya sendiri.


Dada Fox benar-benar terasa sesak. Langkahnya menuju mobil yang berada di area parkir sekolah saja, terasa enggan dan lagi-lagi tidak percaya.


Isak tangisnya pecah, karena dia juga pria normal, tatkala rumah tangganya di guncang badai hebat, angin lebat dan bahkan ombak menggulung sebentar lagi rumah tangganya. Meluluh lantahkan segalanya, termasuk cintanya. Yang kini sudah tak bersisa untuk Tamarin, istrinya.


Sampai dimana dia sedikit tenang, dia lalu melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah besar dan mengemasi beberapa pakaian dan beberapa barang yang dia butuhkan.


.


.


Di rumah besar.


Tepatnya di kamar Tamarin dan Fox.


Tuan Kino sedang duduk di sebelah Tamarin dan membujuknya untuk memakan sarapan paginya.


Pintu kamar Tamarin terbuka lebar.


Fox pun tanpa mengeluarkan suara dari sepatu yang dia kenakan untuk menuju sampai pada lantai dua. Namun bukan berarti dia mengendap-endap juga supaya kedatangannya tidak tercium mereka.


Sesekali, tatapannya sudah mendongak pada pintu kamarnya yang terbuka. Melanjutkan langkahnya yang sudah tercium jika keduanya berada di dalam kamar nya.


Benar saja prasangkanya. Ayahnya terlihat sedang membelai rambut istrinya. Duduk begitu sangat dekat bahkan terkikis jarak antar keduanya. Bahu antar bahu keduanya bahkan tak sungkan saling bersentuhan.


Fox tetap pada mantapnya dia berjalan masuk perlahan. Menyembunyikan kedua tangannya dalam saku celana melipis nya.


Mendekat, dan persis langkahnya berdiri tepat di depan mereka.


Dan apa yang terjadi?


Tuan Kino terkejut bukan main. Cinta terlarang keduanya sudah terbukti bukan kali ini saja dia pergoki. Namun ini sudah kali ketiga Fox menangkap basah keduanya. Melihat keduanya saling menunjukkan rasa mereka yang sengaja mereka bungkam rapat, serapat-rapatnya.


" Fox." Tuan Kino menoleh, menatap wajah putra nya yang tersirat amarah dan kecewa.


Begitu juga dengan Tamarin. Jantungnya berdegup kencang, bagaimana bisa? dia tertangkap basah sedang dimanja oleh kekasih gelapnya.


Wajah ketiga nya bersitegang saling bertukar tatap.


Fox menyunggingkan senyum. Mengatur kata per kata yang akan dia sampaikan pada keduanya.


Pertama, menggeser bola matanya menatap Tamarin istrinya. " Tidak sangka, wanita yang begitu aku cintai. Bisa terlihat murahan seperti ini." nada pelan namun bermakna sangat merendahkan, mengiris-iris, mencabik-cabik hingga menghancur leburkan hati Tamarin.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2