
" Nyonya, apa anda tidak pulang?" tanya orang kepercayaan Nyonya Mint yang mencoba memberanikan diri untuk masuk ke ruang kerja bos nya, seraya tak lepas mengedarkan kedua mata nya, bola mata yang bergeser hingga ke segala arah, melihat ruang kerja yang luluh lantah dalam sekejap. Buku berikut seluruh benda apapun yang berada tidak pada tempatnya, bahkan rak buku besar sampai mampu nyonya Mint mengambrukkan nya di tengah-tengah ruangan.
Nyonya Mint bahkan tidak menjawab. Kedua pipinya masih basah dan dia tengah bersandar pasrah di kursi kerjanya. Cukup lama orang kepercayaannya itu berdiri satu langkah di ambang pintu. Namun tidak satu pun kata keluar dari bibir wanita yang menjadi bosnya.
Isak sengguk nya masih samar terdengar oleh orang kepercayaannya. Sangat tahu jika apa yang tengah di alami bosnya, pastilah masalah besar dan masalah yang dapat dikatakan lebih dari serius.
Dan setelah merasa cukup lama dia berdiri dan tidak kunjung ada jawaban. Dia memutuskan untuk meninggalkan Nyonya Mint dan mengawasi kembali dari kejauhan.
sejujurnya dia tidak ingin pulang. Hati Mint terlalu sakit menerima pengkhianatan keduanya. Dia benar-benar tidak sangka, jika yang dipanggil ayah mertua oleh Tamarin dan dipanggil menantu oleh Kino suaminya tega dan berani bermain sandiwara di depannya. Menyembunyikan skandal cinta terlarang antara mertua dan menantu.
Mint pulang ke rumah besar sangat larut malam bahkan terbilang dini hari. Bahkan termasuk Kino suaminya sudah terlelap tidur di atas ranjang besar putih kamarnya.
Bersamaan dengan air shower yang gemericik membasahi seluruh tubuhnya, bersamaan pula tentang ingatannya mengenai peristiwa tadi siang yang dilihat di kantor suaminya. Air mata Mint deras bersama luruhnya gemericik air.
Suara gemericik shower pun terdengar dan membangunkan Tuan Kino suaminya. " Mint, baru pulang selarut ini?" tanyanya sembari memicingkan mata.
Mendengar pertanyaan dari suaminya, Mint hanya menjawab datar tanpa ekspresi. " Aku ngantuk, aku mau tidur." Nyonya Mint langsung merebahkan tubuhnya pada ranjang dimana biasanya dia tidur.
Tuan Kino pun hanya dapat melihati punggung istrinya.
Sedang Nyonya Mint, masih tidak dapat menghentikan air mata yang keluar dari pelupuk matanya.
Fox, bantu ibu mu ini!
Apa ini yang akan kamu sampaikan pada ibu waktu itu?
Apa ini Fox?
Dengan mencengkeram guling yang berada dalam dekapannya.
Apa lagi yang ibu belum ketahui Fox?
Apa lagi?
lirihnya terus menerus bertanya pada batinnya.
.
.
Keesokan hari.
Di rumah besar.
Tuan Kino yang tengah siap membenahi dasi pada kerah kemeja kantornya. Melihat Mint yang tidak biasanya masih tertidur pulas. Padahal biasanya, dia yang lebih rajin membangunkannya. Dia kemudian menyentuhkan telapak tangan pada dahi istrinya. " Kamu sakit Mint?" tanya Tuan Kino seraya duduk di pinggir ranjang tepat dimana Mint membaringkan tubuhnya.
__ADS_1
Mendengar samar dan merasakan jika terdapat sentuhan pada dahinya. Nyonya Mint pun membuka matanya sedikit demi sedikit. " It's ok. Aku baik-baik aja. Berangkatlah! Hari ini badan sedikit pegal, jadi aku akan meliburkan diri satu hari saja."
" Okay, Cup." Tuan Kino yang mengecup kening istrinya lalu bangkit dan pergi dari kamar.
Mengintip dari pintu kamar, melihati ketiganya sarapan pagi di meja makan layaknya sebuah keluarga, namun Mint masih belum memiliki prasangka jika Candy adalah putri kandung suaminya dengan Tamarin.
Mint kembali meneteskan air mata, ingin memaki keduanya tapi bibirnya bahkan tidak mampu berkata-kata.
Dia kemudian berjalan melihati kembali mereka dari atas balkon. Setelah ketiganya pergi, cukup lama isi kepalanya tersadar dan bangkit menuju ruang CCTV. Namun sial, dia bahkan tidak memiliki akses untuk masuk ke ruang itu. Kuncinya dibawa oleh suaminya. Mint hanya bisa gigit jari dan kembali lagi ke kamarnya dengan sangat frustasi.
Kenapa kamu tidak tanyakan langsung pada suami mu Mint? Tentang mengapa dia menutup rapat kasus Fox?
Apa aku harus bertanya?
Tidak!
Tidak!
Mint yang lagi-lagi dilanda kebingungan. Dia bingung apa yang harus dia lakukan. Hingga dia menangis dan hanya bisa menangis.
Sampai dimana sore hari tiba. Sejak tadi pagi pulang sekolah Candy cukup lama bermain dengan Nyonya Mint.
" Oma kita berenang yuk, kan sudah tidak panas lagi Oma." rengek Candy yang sebenarnya sejak tadi siang dia ingin mengajak Omanya berenang. Namun Nyonya Mint mengalihkan perhatian Candy, supaya berenang sore saja biar cuacanya tidak terlalu panas.
" Okay, yuk," seru Nyonya Mint yang lumayan terhibur dengan tingkah gemas Candy seharian ini.
Byur
Candy yang sudah menceburkan tubuhnya ke dalam air kolam renang. Dia dibantu dengan pelampung karena Nyonya Mint tidak ikut berenang. Namun demikian dia juga tetap mengawasi Candy.
Sampai dimana dia kembali duduk di kursi taman dan melamun. Mint benar-benar masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya kemarin.
" Oma tolong." Candy yang mencoba meraih pelampungnya namun tidak berhasil. Tubuhnya tenggelam muncul kembali ke permukaan air seraya meminum air kolam. " Oma ... Tolong Oma."
Lheb
Blu khutug ... Blu khutug
Candy yang tidak dapat meraih pelampung nya dan akhirnya tenggelam. Bersamaan dengan mobil Tamarin dan Tuan Kino yang tengah parkir di garasi rumah besar.
Tuan Kino pun segera masuk ke dalam rumah. Namun langkahnya tiba-tiba saja berhenti, karena melihat Mint istrinya tengah duduk santai di kursi taman belakang dekat dengan kolam renang. Dia pun segera menyusul kesana, guna sekedar menyapa istrinya.
" Mint," sapanya cukup mengagetkan Nyonya Mint yang tengah melamun.
Nyonya Mint langsung terkejut dan bangkit berdiri menoleh ke arah suaminya yang sama berdirinya di dekatnya.
__ADS_1
" Sedang apa kamu disini Mint?"
" Sedang ... " Nyonya Mint yang menengok ke arah kolam renang namun tidak melihat Candy dan tersisa pelampung nya saja. " Astaga Candy ... Candy ... Candy." teriaknya berlari mendekat ke arah kolam dan histeris melihat Candy berada di dasar kolam.
" Candy!" teriak Tuan Kino yang langsung menceburkan ke dasar kolam guna menolong putri kecilnya.
Byur
Candy, tenang sayang, papa datang.
batin Tuan Kino saat tengah menyelam menolong putri kecilnya. Di raihlah tubuh Candy dan dibawanya Candy ke atas hingga sampai di pinggir kolam.
Karena mendengar suara Nyonya Mint berteriak histeris, Tamarin pun mendatangi ibu mertuanya itu. Dan alangkah terkejutnya saat melihat Candy tengah berusaha diselamatkan oleh Tuan Kino.
" Candy ... Candy kamu kenapa sayang?" Tamarin tak kalah paniknya saat melihat putrinya sedang berusaha diberikan pertolongan pertama oleh Tuan Kino.
" Candy maafkan Oma Candy." Begitu juga tangis Nyonya Mint yang merasa bersalah karena lalai mengawasi Candy.
" Ug ... Ug ... Ug ... "
Suara Candy memuntahkan air kolam pun terdengar.
" Candy sayang." Peluk erat dari Tuan Kino dengan sangat cemas dan panik bercampur menjadi satu.
Begitu juga dengan Tamarin yang memeluk putrinya seraya menangis karena takut jika Candy tidak selamat. " Candy tidak apa-apa sayang?" Ketiganya bahkan tanpa terkikis jarak seolah lupa jika Nyonya Mint menyaksikan mereka.
Nyonya Mint masih tidak sadar akan ketiganya memang terdapat ikatan dari cinta terlarang suami dan menantunya, yaitu Candy. Dia masih dirundung ketakutan, alih-alih takut jika Candy tidak terselamatkan.
Plak
Tamparan Tuan Kino yang membuat Nyonya Mint menangis.
" Kamu ceroboh sekali Mint." Murka Tuan Kino yang dari dulu memang berlebihan jika berurusan dengan Candy.
Tapi Nyonya Mint tidak sangka, jika sekarang harus dia yang menerima tamparan keras dari suaminya.
" Bawa masuk Candy Tamarin!" Tuan Kino yang masih berada di hadapan Mint, istrinya.
Sementara Nyonya Mint menyentuh pipi kanannya yang masih terasa kebas akibat tamparan keras dari suaminya.
" Bagaimana kalau putri ku tidak selamat? Dan aku tidak ingin kehilangan darah daging ku lagi setelah kepergian Fox?" Murka Tuan Kino yang tidak terkendali malah membuka jati diri Candy sesungguhnya tanpa dia sadari.
Nyonya Mint yang mendengar betul, apa yang diucapkan suaminya itu.
" Putri? Putri ku? Apa maksud mu? Menyebut Candy adalah putri mu?"
__ADS_1
BERSAMBUNG