
Tamarin masih terdiam. Dia yang awalnya ragu untuk mengatakan semua itu, berubah lebih berani dan berharap semuanya membaik.
Lagi-lagi karena sedikit depresi yang terjadi padanya. Membuat dia berpikir tidak stabil dan cenderung menggebu.
Melangkah lebih dekat dan jujur dia ingin memeluk suaminya karena rindu. " Iya," lirihnya yang masih abu-abu, karena belum bisa memastikan apa reaksi Fox.
Perasaan Fox berkecamuk. Kedua matanya berkaca-kaca. Bukan karena bahagia. Melainkan, begitu amat dalam dia sangat kecewa kepada Tamarin.
" Kamu tidak suka aku hamil?" seraya meraih lengan suaminya, namun dengan cepat Fox berusaha menghalaunya dengan pelan.
Tatapan Fox datar tidak ada pertanda tengah bahagia, melainkan sebaliknya. Tersenyum tipis setengah menyungging dan berjalan pelan menuju ke suatu tempat dalam kamarnya.
Diikuti dengan Tamarin yang berjalan di belakangnya. " Candy mau punya adik lagi sayang," ucapnya yang tidak tahu musti bagaimana lagi.
Fox yang akhirnya sampai pada ruang dimana dia menyimpan surat hasil pemeriksaan tentang kesuburannya pasca kecelakaan.
Berjalan kembali menuju sisi ranjang dengan diikuti Tamarin yang tidak berhenti berusaha membuat suaminya memiliki cinta kembali untuknya. " Kamu baca ini." Fox yang memberikan kedua map yang ada pada tangannya kepada Tamarin.
" Apa ini?" lirihnya dengan tatapan takut penuh ragu.
" Kamu baca!" Fox yang sudah tidak bisa menyembunyikan lagi rasa kecewanya.
Sementara percakapan keduanya, tidak lepas dari teropong Tuan Kino yang sengaja pulang terlebih dahulu untuk mengambil ponselnya setelah mengantar Candy.
Sadar jika sepertinya, kekasih gelapnya mendapati masalah genting akibat cinta terlarang keduanya. Dia dengan cepat menyuruh salah satu asisten rumah tangga berikut dengan supirnya untuk menunggu Candy dan mengajaknya jalan-jalan usai pulang sekolah. Sampai Tuan Kino menghubungi mereka dan menyuruhnya pulang.
__ADS_1
Menyaksikan kembali dengan pintu kamar Tamarin dan Fox yang sengaja dia buka sedikit agar lebih jelas keduanya membahas apa.
Tamarin yang perlahan membuka map pertama. Map berisi hasil pemeriksaan kesehatan terkait masalah kesuburan Fox.
Glek
Tamarin tidak percaya dan cukup tercengang. Setelah membaca kesimpulan dari Dokter jika Fox memiliki masalah kesehatan terkait kesuburannya. Bukan tidak dapat memiliki anak atau disebut mandul. Namun, dengan permasalahan kesehatan yang di deritanya. Hanya kurang dari 10% dia bisa memiliki anak dengan jangka waktu yang cepat.
Tamarin masih bingung, menggelengkan kepalanya berulang dengan perasaan tidak percayanya. " Ini semua tidak benar." Empat kata yang coba dia suarakan saat dia selesai membaca surat tersebut.
Berjalan mendekati Fox, suaminya. Menunjukkan lembaran kertas hasil pemeriksaan kesehatan terkait masalah kesuburan Fox. " Kamu tahu? tes seperti ini tidak sepenuhnya akurat," seraya mengangkat lembaran kertas hasil pemeriksaan tersebut ke udara dengan genggaman tangan kanannya. " Banyak, banyak yang divonis mereka sulit memiliki anak, pada kenyataannya mereka berhasil memiliki anak." Tamarin yang tidak mempercayai hasil tes tersebut meskipun batinnya frustasi. Meronta untuk dapat segera terselesaikan masalahnya dengan Fox. Dan kembali bahagia seperti dulu kala.
Sementara Fox yang berdiri di depan Tamarin dengan posisi membelakanginya. Tidak kuasa untuk menahan apa yang akan keluar dari mulutnya. Membuka mata istrinya, supaya meminta maaf dan apa salahnya mengaku saja? " Awalnya aku juga tidak percaya Tamarin," seraya berbalik menatap wajah wanita yang masih berstatus istrinya.
Untuk pertama kali setelah perang dingin keduanya, keduanya bertukar tatap. Berbicara dari hati ke hati meskipun terkait perihal menyakitkan dalam rumah tangga mereka.
Tamarin semakin takut. Seluruh jari-jari tangan nya ikut bergetar saat Fox memberikan map kedua di atas telapak tangannya untuk dia baca.
Seluruh sendi pada kedua kakinya mendadak lemas karena bingung apa lagi yang akan diberitahukan Fox melalui kedua map tersebut.
" Aku tidak mau membacanya!" Tamarin jujur enggan membaca map kedua. Lebih baik dia tidak tahu kenyataan omong kosong apa lagi yang akan berusaha suaminya katakan lewat surat dalam map tersebut.
" Kamu perlu membaca itu!" Nada pelan Fox yang tidak ada emosi-emosinya. Karena seluruh murkanya dia redam dan meledak dalam hatinya. Dan seperti nya belum saatnya. Karena Tamarin, juga sangat berkompromi menanggapinya.
Dengan penuh sesal Tamarin akhirnya mengikuti titah suaminya. Perlahan dia membuka map kedua. Hanya butuh waktu satu detik, isak tangisnya bersuara. " Candy ... tidak mungkin!" Tamarin berusaha membaca seksama setelah dia menepisnya.
__ADS_1
" Ini tidak mungkin!" Menatap suaminya yang menitikkan air mata juga.
" Candy anak kamu!" tepisnya dengan nada masih terbilang pelan yang keluar dari mulut Tamarin.
" Candy anak kamu!" teriaknya sangat keras hingga tubuhnya luruh dengan tangisan yang semakin pecah. Kedua telapak tangan yang coba dia cengkeram kan dengan sangat kuat pada rambut kepalanya.
Fox pun juga tak kalah sesenggukan nya meskipun dia seorang pria. Melihat dengan mata kepala sendiri istrinya bermain cinta dengan ayahnya, itu adalah hal yang sulit dia terima. Dia masih diam, menyaksikan istrinya luruh di atas lantai dengan isak tangisnya. Meronta menampik semua hal yang mustahil untuk dapat dikembalikan seperti semula.
Tamarin juga tak kalah gila tatkala membaca hasil tes DNA Candy dan suaminya. Dia benar-benar depresi karena jujur dia bersikukuh mengira Candy adalah putri nya dengan Fox.
" Candy putri kamu ... Candy putri kamu!" teriaknya sangat tidak terima. Tangisnya semakin pecah menggema.
Fox yang tak kalah sedihnya. Untuk dia detik kemudian dia memberanikan bicara. Hatinya menyuruh untuk tidak toleransi terhadap kesedihan istrinya. " Kenapa kamu tidak jujur saja? Siapa ayah Candy sebenarnya? ... Siapa Tamarin?" Dua kalimat awal Fox yang masih pelan. Namun mendadak murkanya membuncah di akhir kalimat yang bertanya siapa ayah Candy sebenarnya.
Tidak dipungkiri, meskipun dia tahu jawabannya. Dia hanya ingin baik istri dan ayahnya berkata yang sesungguhnya. Baginya itu lebih baik, ketimbang menikamnya dengan sepuluh pedang bersamaan. Dan jujur itu sangat menyakitkan.
Istri dan ayahnya sendiri, telah bungkam selama enam tahun lamanya menyembunyikan cinta terlarang mereka. Dan memiliki buah hati bernama Candy yang jujur dia juga sangat menyayanginya. Tapi semua itu dusta, dusta yang ditutupi rapat oleh keduanya. Meremukkan hatinya dan sebentar lagi menghancurkan rumah tangganya.
" Siapa Tamarin? ... Siapa?" Fox bahkan terkesan seram dengan murkanya. Mencengkeram dagu Tamarin. Mendongakkan untuk menatap murkanya.
" Candy anak kamu ... Dia anak kamu sayang," lirihnya bersamaan dengan sesenggukan tangis yang coba dia tepis.
Fox lalu melepaskan cengkraman dagu Tamarin sedikit kasar. Membuang wajah Tamarin yang baru kali pertama dia bersikap kasar kepada istrinya.
Sengaja, sengaja Fox melakukannya. Melampiaskan murkanya akibat dusta dan pengkhianatan kejam yang dilakukan oleh istrinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG