Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua

Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua
Aku Keguguran?


__ADS_3

" Tamarin, kamu tega Fox pada istri mu!" Tuan Kino yang bangkit karena mengingat jika Tamarin tengah terluka dan kesakitan. " Tamarin! Tamarin!" Tuan Kino yang kemudian memapah Tamarin keluar dari kamar dan membawanya ke mobil menuju rumah sakit.


Fox bahkan hanya bisa memandang mereka dari atas balkon. Melihat mobil ayahnya melaju keluar dari rumah besar. Melihat betapa ayahnya panik saat Tamarin terluka saja sudah membuatnya sakit.


Ingatan Fox membayang, mengajaknya menyelam ke sebuah peristiwa dimana ayahnya begitu membenci Tamarin saat pertama kali masuk rumah ini.


Mengingat pula, jika Tamarin di cerca habis-habisan dengan sematan kata melarat. Belum lagi masalah membuang nasi goreng dan omelette yang Tamarin buat.


Begitu berbanding terbalik, dengan hari ini. Ayahnya begitu sangat mencintai Tamarin. Namun entah seberapa kedalaman cinta Tamarin kepada ayahnya? Dia belum bisa mengukurnya.


Fox sangat frustasi ketika melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar kembali guna memasukkan sebagian barang ke dalam koper untuk dibawanya tinggal di apartemen.


Lagi-lagi dia berpikir keras. Mengapa keduanya melakukan hal tersebut? terlebih dia yakin jika Tamarin tahu akan cintanya kepadanya. Buktinya saja, dia bersikukuh menikahi Tamarin, padahal jelas-jelas ayahnya sendiri yaitu Tuan Kino menentangnya habis-habisan.


Apakah ini takdir mereka? Berawal dari cinta terlarang keduanya, yang jujur masih sulit untuk dia terima.


Terlebih sudah ada Candy diantara keduanya. Jadi sangat dipastikan, jika keduanya akan selalu terhubung satu sama lain.


.


.


Di rumah sakit.


Tamarin sudah ditangani oleh seorang Dokter. Dokter mengatakan jika Tamarin mengalami keguguran dan rahimnya harus segera di bersihkan.


Di lakukan operasi untuk proses kuret pada janin yang masih berusia sangat dini.


Tuan Kino hanya bisa pasrah, yang terpenting saat ini adalah kesehatan Tamarin, wanitanya kembali baik-baik saja seperti sedia kala.


.


.


Di lain tempat, tepatnya di kantor Davos.


" Hai," Davos yang sedang berusaha memperjuangkan cintanya kepada Jelly. Memberanikan diri memberikan sekuntum bunga mawar merah maroon kepada Jelly.


Sementara Jelly tersenyum malu. Kedua pipinya merah merona. Dan membuat bibirnya tidak dapat berbuat apa-apa selain tersenyum seraya menatap Davos yang tengah menatapnya pula.


" Nanti malam, aku ingin mengajak mu keluar. Apa kamu bisa?" Mendadak bibir Davos belibet mengatakan hal sesederhana itu. Tapi jujur, dia membutuhkan waktu dua puluh empat jam guna memutuskan mengajak Jelly nanti malam berkencan.


Jelly mengangguk malu. Meskipun tidak dipungkiri jika jantungnya berdegup kencang.

__ADS_1


Davos yang sangat senang, dengan lirih mengucapkan kata yes. Karena jika dilihat dari mata Jelly. Sepertinya Jelly tidak akan menolaknya.


Membuat keduanya bertukar tatap, hingga Jelly yang yang merasa sangat malu, berusaha mengalihkan pandangannya ke luar jendela kaca dari gedung tersebut.


Davos cukup tahu diri, jika pesonanya membuat Jelly kikuk. Dia lantas berhenti memandang Jelly dan hendak beranjak pergi dari ruang kerja Jelly. " Sampai jumpa nanti malam," bisik Davos seraya mendekatkan bibirnya tidak jauh dari telinga Jelly.


Dan jujur itu membuat Jelly kembali tersenyum. Tidak dipungkiri, dia membutuhkan perhatian seorang pria setelah Fox benar-benar sudah dia usahakan untuk menghilang dari bagian hatinya.


Dan bersyukurnya, masih ada pria yang memberi perhatian padanya. Dan itu Davos. Waktunya Jelly tidak akan menyia-nyiakan kesempatan dicintai seorang CEO tampan seperti Davos.


Ya, meskipun sangat sulit, jika nama Fox tiba-tiba berganti menjadi Davos. Mencoba mengenal pria lain selain Fox. Meskipun ada setitik trauma, ketika dia sempat berkencan dengan pria yang salah. Hingga nyaris membuatnya ternoda. Tapi jika dilihat, Davos sebelas dua belas dengan Fox. Davos pasti akan menjaganya.


.


.


Sementara di rumah besar.


Fox yang sudah selesai mengemasi beberapa barang dan juga pakaiannya.


Perlahan melangkahkan kaki, namun kemudian terhenti, saat dia memandang foto pernikahan nya dengan Tamarin. Banyak sekali, lebih dari puluhan foto pernikahan nya dengan Tamarin membuatnya kembali menitikkan air mata.


Fox sungguh tidak kuat, dadanya kembali sesak. Mengingat ayahnya sangat mencintai istrinya. Dia kemudian menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan. Duduk di sisi ranjang. Perlahan melepas cincin pernikahannya yang tersemat di jari manis tangan kanannya.


Meletakkannya di atas meja nakas. Seraya menutup satu bingkai foto berukuran sedang yang terpajang pula di atas meja nakas tersebut.


Berikut dengan cincin yang dia letakkan di atas meja, adalah tanda menyerahnya dia dan siap melepaskan Tamarin dan pernikahannya yang sebentar lagi berakhir dengan kata perpisahan.


Tampak sekali dia sangat frustasi. Berada di dalam kamarnya, sungguh membuat batinnya teriris ketika mengingat rekaman-rekaman dari CCTV yang sempat tadi dia saksikan sendiri.


Fox pun akhirnya menutup pintu kamarnya dan membawa dua koper besar miliknya dengan menyuruh asisten rumah tangganya.


Dengan cepat melajukan mobilnya dan benar saja, mobil yang ditumpangi Candy berpapasan dengannya. Dia yang pikirannya kacau tidak melihatnya. Namun tidak dengan Candy.


" Bibi, itu mobil papa?" Candy yang membuka kaca jendela mobil dan memanggil papanya. " Papa," teriak Candy yang kepalanya berada di ambang jendela mobil dengan terus memanggil nama papanya.


Setelah Candy memanggilnya papa, jujur Fox mendengarnya. Namun dia sengaja terus tanpa berhenti seraya memandangi Candy dari kaca spion mobil nya.


" Bibi, papa tidak berhenti. Kejar papa! Kejar papa!" rengeknya meraung kepada supir pribadinya dan kepada bibi yang mengantarnya. " Ayo pak supir! Kejar papa!" Diikuti dengan tangis yang luar biasa.


" Bagaimana ini?" Supir pribadinya yang bingung juga harus berbuat apa.


" Ya sudah kejar saja! Nona Candy menangis," kata bibi yang mencoba menenangkan Candy yang duduk di sebelahnya.

__ADS_1


Mobil yang ditumpangi Candy memutar rodanya. Kembali ke arah dimana mobil papa Candy tengah melaju.


Fox, sama pula sedihnya. Dia tidak tega sebenarnya, berpura-pura kepada Candy untuk tidak melihatnya. Namun, hatinya sulit mengingkari jika sebenarnya, dia juga enggan bersikap seperti ini.


Mobil Fox pun berhenti saat tahu jika mobil yang ditumpangi Candy berbalik mengejarnya. Dengan cepat dia menyeka air mata. Menyiapkan kata untuk Candy, karena Fox sadar jika bocah kecil itu sudah sangat pintar.


Mobil yang ditumpangi Candy pun akhirnya berhenti. Candy yang sesenggukan menangis dengan cepat membuka pintu mobil. Begitu juga dengan Fox yang berpura-pura tersenyum bahagia sedang batinnya tersiksa dengan kenyataan yang menimpa rumah tangganya.


Fox yang sudah berdiri di luar mobil menunggu Candy berlari kepadanya. Dan benar saja, bocah manis itu berlari menujunya dan seperti terasa, jika dia berusaha menjauhinya.


" Papa." Candy yang kemudian memeluk Fox yang sudah jongkok mengimbangi tingginya Candy.


Padahal tadi pagi, dia sudah melepas rindu dengan Candy di sekolahnya. Namun firasat bocah manis itu sangatlah kuat, hingga Candy memeluknya dengan sangat erat.


" Papa mau berangkat kerja?" tanya Candy yang sudah melepas pelukan Fox.


" Iya sayang," Kedua mata Fox yang tak terlepas dari berkaca-kaca.


" Papa hati-hati ya!" imbuh Candy.


" Iya sayang." Fox yang menyentuhkan kelima jemari kanannya pada puncak kepala Candy.


" Dada papa." Lambaian tangan Candy yang jujur menambah Fox semakin tersiksa.


" Da." Fox yang kemudian masuk mobilnya. Melajukan mobilnya perlahan. Masih memandangi bocah kecil itu dari spion mobilnya yang masih berdiri tidak bergeming dari posisinya dan terus melambaikan tangannya.


Air mata Fox kembali menetes. Isaknya sudah tidak bisa dia tahan. Kebenciannya dengan Tamarin semakin bertambah karena lagi-lagi membuat dirinya semakin tersudut dengan bagaimana dia harus bersikap kepada Candy yang tidak tahu jika dia bukan papanya.


.


.


" Baby ... kamu sudah bangun." Tuan Kino yang begitu perhatiannya kepada Tamarin. Meraih kelima jemari Tamarin yang tidak tersuntik jarum infus. Mengecupnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


" Kenapa? Kenapa perut ku sakit sekali?" Tamarin yang berusaha bersandar namun gerakannya sudah membuat perutnya sakit.


" Kamu keguguran Baby."


" Apa?" Tamarin mengerutkan dahinya tidak percaya. " Aku keguguran?" wajahnya menepis tidak percaya seraya menyentuhkan kelima jemarinya pada perutnya.


" Iya." Tuan Kino yang membelai rambut Tamarin dan berusaha menenangkan nya.


Tamarin pun kembali menangis. Dia menangisi banyak hal. Pertama, jelas kegugurannya. Kedua, teringat perkataan Fox akan menceraikannya. Ketiga, bagaimana hidup dia selanjutnya? Keempat, lalu bagaimana dengan Candy?

__ADS_1


" Lalu bagaimana jika Nyonya Mint mengetahuinya?" tanya Tamarin disela-sela tangisnya.


BERSAMBUNG


__ADS_2