Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua

Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua
Cincin Ayah?


__ADS_3

" Apa yang kamu katakan Fox?" Nyonya Mint mendadak serius terlihat sekali dengan wajahnya yang terlihat menegang.


" Iya, Bu. Aku akan menceraikan Tamarin." Fox yang kalut dan tidak bisa berpikir jernih. Pikirannya kacau bahkan sangat pusing hingga kepalanya berdenyut hebat.


" Apa masalahnya tidak bisa dibicarakan baik-baik? Sampai-sampai kamu harus menceraikan Tamarin." Nyonya Mint yang tadi sempat berdiri karena saking terkejutnya, kini kembali duduk di sebelah putranya dan menyentuh bahu putranya.


Sementara Fox, jelas ingin berteriak kepada ibunya untuk memberi tahukan semuanya. Namun dia sendiri bingung bagaimana cara menjelaskan nya.


Belum sampai Fox bicara, Nyonya Mint mendapat telepon dari seorang pengusaha kelas atas yang akan dia wawancara. Karena lagi-lagi Nyonya Mint adalah wanita yang gila kerja. Dia akan menunda percakapan dengan putranya dan melanjutkannya di rumah.


" Maafkan ibu Fox. Ibu ada pekerjaan." Nyonya Mint jujur tidak enak dengan putranya yang sudah menyempatkan untuk datang ke kantornya.


" Apa tidak bisa? ibu sebentar saja mendengarkan apa yang akan aku sampaikan?" Fox berusaha mengiba kepada ibunya. Dia sendiri bingung harus bercerita kepada siapa. Ibunya, selalu sibuk dengan pekerjaannya. Padahal saat ini, dia membutuhkan ibunya untuk membahas masalah rumah tangganya terkait dengan ayahnya. Dan jelas-jelas hal itu sangat penting pula bagi rumah tangga ibunya.


" Maafkan ibu Fox," seraya memegang ponsel dengan penuh kebimbangan. " Ibu janji, setelah ibu menyelesaikan tugas ibu, ibu akan mendengarkan cerita mu sayang." Nyonya Mint berusaha menghibur putranya, padahal jelas-jelas jika mendengar apa yang akan Fox sampaikan. Nyonya Mint bahkan bisa saja jantungan atau menangis berguling-guling terkait suaminya sendiri yang menyembunyikan asmara terlarangnya dengan menantunya.


" Ibu pergi dulu ya Fox," seraya menepuk pipi kanan putranya sebanyak dua kali lantas mengambil tas yang sejak tadi berada di sudut meja kerjanya. Meninggalkan putranya yang masih berantakan hatinya karena permasalahan rumah tangga.


Sementara Fox, dia juga sangat kasihan dan tidak tega menghancurkan hati ibunya yang sangat terlihat baik-baik saja tanpa ada beban.


.


.


Di lain tempat.


Jelly dan Davos sedang berada di bengkel resmi, tempat dimana mobil mewah Davos tengah di perbaiki.


Setelah semalam dia mendapat kabar dari bengkel. Davos mengajak ikut serta Jelly untuk mengambil mobil mewahnya.


Davos yang berjalan mengecek dengan sangat detail bagian perbagian pada mobil mewahnya.

__ADS_1


Wajahnya sangat puas karena mobil mewahnya kembali mulus tanpa goresan sedikit pun.


Sementara Jelly yang memutar langkah dan ingin membayar semua biaya perbaikan ke kasir. Namun langkahnya terjegal oleh Davos.


" Tidak perlu! Lupakan perkataan ku waktu itu," ucap Davos kepada Jelly.


" Tapi, aku kan yang menabrak mobil mu? Bukan kah sudah ada kesepakatan diantara kita?" ujar Jelly sedikit heran.


" Aku bilang lupakan Jelly! Jujur waktu itu aku hanya bercanda karena ingin tahu apakah kamu akan bertanggung jawab atau tidak? Ternyata kamu mau bertanggung jawab. Apa kamu pikir aku setega itu terhadap sekretarisku sendiri?" imbuh Davos seraya tersenyum tipis meskipun dia sedikit geli karena kaku menggombal. Padahal jelas-jelas diawal pertemuan keduanya, Davos sangat arogan bahkan terkesan galak dan mengerjai Jelly dengan memberikan pekerjaan banyak supaya Jelly pulang malam. Belum lagi mengerjai Jelly dengan dalih antar jemput padahal jelas-jelas mobilnya banyak berjajar di garasi rumahnya.


Sedangkan Jelly bertambah bingung dengan sikap bos barunya itu. " Baiklah." Akhir-akhir ini, Davos bahkan tidak pernah berbicara ketus kepadanya lagi, alih-alih bersikap seperti pertama kali Jelly bekerja. Davos sepertinya sudah banyak berubah dan bahkan tidak terlihat dingin dan arogan. Belum lagi, masalah kecupan kening waktu malam hari itu. Jujur membuat dia semakin tidak mengerti dengan orang satu itu.


Kedekatan keduanya pun berlanjut dengan makan siang disela-sela padatnya pekerjaan mereka hari itu. Davos malah bersikap manis mengelap pinggir bibir Jelly yang terdapat sisa makanan dengan ibu jarinya.


Sedikit membuat Jelly canggung dan salah tingkah hingga terlihat resah jika dilihat dari duduknya.


Hingga makan siang keduanya pun usai. Davos dan Jelly segera kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan mereka.


" Jelly," panggil Davos dengan penuh pertimbangan karena dia sendiri juga bingung bagaimana mengajak Jelly sekedar menikmati makan malam.


Sudah tidak ada alasan, mobil mewahnya sudah keluar dari bengkel. Yang ada hanyalah keberanian yang harus dilakukan oleh Davos sendiri untuk mengajak Jelly pergi makan malam.


" Iya." Jelly pun akhirnya menoleh dan menghentikan langkahnya yang akan masuk ke ruang kerjanya.


Sementara Davos menggaruk kepala belakangnya cukup resah dan tampak gengsi karena mengapa bisa dia begitu berkeinginan menjadikan Jelly sebagai kekasihnya.


" Em-lupakan Jelly! silahkan lanjutkan kerja mu." Davos yang terlihat malu namun berusaha menutupi keresahan hatinya. Hanya ingin mengajak Jelly makan malam saja, mendadak bibirnya kaku tidak dapat berbicara.


" Okay," lirih Jelly yang kemudian melanjutkan membuka daun pintu ruang kerjanya.


.

__ADS_1


.


Di rumah besar.


" Mama." panggil Candy kepada Tamarin yang selesai di periksa oleh Dokter.


Tuan Kino tidak menginginkan wanitanya sedih berlarut-larut. Hingga dia menyuruh seorang Dokter keluarga untuk memeriksa kandungan Tamarin karena Tuan Kino takut terjadi hal buruk dengan janin dalam kandungan Tamarin.


Janin masih sebesar biji kecambah saja, Tuan Kino sudah hebohnya minta ampun. Sekali lagi, itu dia lakukan karena rasa cintanya yang begitu besar terhadap Tamarin.


Dari dulu, rasa itu belum berubah bahkan semakin bertambah meskipun Fox putranya sudah mengungkap jati diri Candy.


Sejak hari itu, dimana Tamarin bertengkar hebat dengan Fox. Fox tidak pernah pulang ke rumah. Dia memilih tinggal di apartemen eksklusif nya yang pernah ditinggali oleh Jelly.


Meskipun dia juga harus berbohong kepada Candy kalau dirinya ada pekerjaan ke luar kota untuk waktu yang cukup lama.


Bersamaan dengan Nyonya Mint yang akan ke luar negeri untuk beberapa hari ke depan terkait pekerjaannya.


.


.


Fox membanting tubuhnya kasar di atas ranjang apartemennya. Dia bahkan sangat kesepian dan sangat hancur.


Saat dia tidak bisa tidur dan ingin membuat minuman hangat ke dapur. Langkahnya tiba-tiba berhenti karena baru dia sadari ternyata ada sebuah cincin di atas meja berikut dengan secarik kertas yang baru dia ketahui.


Dua benda itu berada di atas meja tepatnya di ruang santai bagian tengah.


" Apa itu?" Fox mendekat dan dia pikir milik Jelly. " Cincin?" lirihnya seraya memegang itu cincin dan kepalanya mulai berpikir. " Cincin siapa ini?" Fox pun memutar benda tersebut dan melihatnya lebih detail dan lebih dekat. " Kino? Cincin ayah?" tanyanya bertambah dengan seiring keingintahuannya tentang bagaimana bisa cincin ayahnya berada di apartemen miliknya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2