
" Sini saya pijitin!" Tuan Kino yang menyingkap selimut dan menggeser duduknya kemudian memijat kedua pelipis milik Nyonya Mint dengan sepuluh jemarinya.
Tok ... Tok ...
Suara ketukan pintu yang dikira Nyonya Mint adalah bibi yang membawakan secangkir teh hangat untuknya.
" Masuk bi!" seru Nyonya Mint dengan duduk santai menikmati pijitan dari suaminya.
" Permisi Nyonya." Ternyata Tamarin yang membawa nampan berisi segelas teh hangat di atasnya. Tamarin kemudian berjalan masuk ke dalam kamar menuju meja nakas dimana sangat dekat dengan posisi kekasih gelapnya yang sedang memijit pelipis istrinya.
" Tamarin." seru Nyonya Mint yang terkejut sebab dikiranya adalah bibi. " Kenapa kamu? kenapa tidak bibi saja yang antar?" imbuhnya.
" Tidak papa Nyonya, bibi sedang menerima telepon. Jadi tidak ada salahnya saya yang mengantar. Saya juga banyak menganggur nya. Jadi tidak masalah, jika hanya mengantar segelas teh hangat ke kamar Nyonya." Tamarin yang selesai menaruh segelas teh hangat di atas meja nakas milik ibu mertuanya.
" Maaf jadi merepotkan, terimakasih Tamarin." Nyonya Mint yang memberikan senyuman kepada menantunya.
Sementara Tuan Kino berhenti sesaat dari memijitnya karena memandangi Tamarin tanpa mengedipkan mata.
Tamarin yang masih berdiri di depan ibu mertuanya. " Kalau begitu saya permisi Nyonya."
" Iya." jawab lirih Nyonya Mint. " Sekali lagi terimakasih." Entah mengapa? Nyonya Mint mencium aroma parfum yang sama saat Tamarin berdiri di depannya. Menoleh ke kanan belakang tepatnya ke wajah suaminya dengan penuh pertanyaan dalam kepalanya.
" Kenapa?" tanya Tuan Kino heran dengan tatapan istrinya.
" Enggak, sudah pijitnya! Aku mau tidur." jawab Nyonya Mint yang melepaskan sepuluh jemari kekar milik Tuan Kino yang memegang kedua pelipisnya.
.
.
Sedangkan di ruang meeting. Tampak tepuk tangan dari semua direksi yang mengikuti meeting hari ini sangat puas dengan presentasi yang dipimpin oleh Fox. Dan terakhir Fox memberi kesempatan kepada Jelly, karena menurutnya Jelly sangat kompeten di bidang pemasaran.
Alhasil benar dugaan Fox. Bahwa Jelly sebenarnya sangat pantas jika harus memimpin sebagai Manager perusahaan miliknya.
__ADS_1
Entah mengapa niatnya mengajak Jelly bergabung di kantor pusat yakni di Jakarta tiba-tiba muncul dalam benaknya.
Meeting selesai. Semua direksi keluar dari ruang meeting dan tinggallah Jelly dan Fox yang masih tersisa di ruang meeting.
" Kamu hebat Jell, ide mu sangat brilian." kata Fox sambil bertepuk tangan pelan dan berjeda.
" Kamu bisa saja." nada malu dari Jelly yang menggeser kursi untuk duduk setelah berdiri dari presentasi.
Fox yang menatap Jelly dengan serius. " Bagaimana kalau kamu ikut bergabung di kantor pusat? Ada posisi manager pemasaran yang kosong dan itu sepertinya sangat cocok untuk kamu. Tentu saja secara penghasilan pasti berlebih." Fox yang memberikan tawaran kepada Jelly.
Jelly yang seketika terkejut atas tawaran Fox, bos besarnya sekaligus pemilik Perusahaan dimana dia bernaung memberinya tawaran langsung dan itu sangat menggiurkan. " Apa kamu bilang? ke Jakarta?" lirihnya bertanya serius atas tawaran yang diberikan Fox.
Jujur sebenarnya Jelly menginginkan untuk terbebas dari yang namanya kota Bandung. Itu bukan tanpa alasan, melainkan ingin sekaligus menata hidupnya yang baru yang jauh dari kenangan menyakitkan.
Bagiamana bisa cepat move on? Jika sebelum kedatangan Fox yakni sekitar empat hari yang lalu, Dia bertemu tanpa sengaja dengan sahabat dan mantan kekasihnya itu ketika sedang makan malam di sebuah restoran.
Mereka tampak mesra dan bahagia, terlebih sepertinya mereka akan segera memiliki seorang anak, karena sangat jelas jika sahabatnya tengah berbadan dua.
" Kamu melamun lagi ya?" tanya Fox yang membuyarkan isi kepala Jelly dari lamunan pahitnya.
" Kamu kenapa? apa kamu ada masalah?" tanya Fox penuh harap semoga Jelly berbagi cerita beban apa yang ada di kepalanya.
" Sebaiknya saya kembali ke ruang kerja saya." Jelly yang reflek memundurkan kursinya dan bangkit berdiri.
Namun Fox meraih pergelangan tangan Jelly.
" Duduklah!" pinta Fox dengan harap.
Jelly yang setengah detik berpikir, kemudian menuruti saja apa yang dikatakan oleh bos besar yang ada di depannya itu. Dia duduk kembali tanpa banyak kata.
" Aku tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi dengan hidupmu. Tapi aku bisa merasakan, jika isi kepalamu menanggung banyak beban. Aku tidak memaksa mu untuk bercerita. Karena kita toh juga baru saja bertemu. Tapi kamu boleh bercerita, jika kamu merasa membutuhkan ku, dan aku siap untuk itu." wajah serius Fox sekaligus memegang kedua lengan Jelly tanpa disadarinya.
Deg
__ADS_1
Mungkinkah getaran cinta belum kesampaian itu datang lagi?
Tidak! Fox sudah memiliki istri. Tapi mengapa? setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu menaruh perhatian yang luar biasa.
Apa ini perasaanku saja?
Jelly yang bermonolog dalam hati.
" Aku janji, aku akan cerita jika aku sudah tidak mampu. Untuk tawaran mu, akan aku pikirkan?" jawab jelas singkat padat yang keluar dari bibir Jelly.
" Baiklah, kalau begitu kita makan siang bersama." ujar Fox dengan cepat tanpa pikir panjang lagi.
Jelly yang terkejut kembali dengan perintah Fox yang sesuka hatinya.
" Ayolah! jangan GR atau jangan berpikiran apapun! Lupakan itu! anggap aja kamu adalah google map atau waze petunjuk arah ku selama aku berada di Bandung." Fox yang menarik pergelangan tangan milik Jelly untuk segera beranjak dari tempat duduknya.
Jelly yang hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah konyol Fox yang sekaligus bos besarnya itu.
Menuruti saja mengikuti pergelangan tangan kanan miliknya digelandang oleh Fox yang menjadikannya petunjuk jalan untuk lima hari ke depan.
.
.
Sementara Tamarin yang gelisah di kamarnya menunggu ponselnya berdering. Merasa tidak sabar karena sebenarnya sudah jam makan siang namun Fox tidak menghubunginya juga.
Dia putuskan untuk menghubungi Fox terlebih dahulu. Menyambar ponsel yang tidak jauh dari posisi nya dan menempelkan ke dekat telinganya.
Menanti sebuah jawaban dari balik sambungan telepon yang ternyata ponsel Fox tertinggal di mobil. Sementara Fox dan Jelly menikmati makan siang di sebuah restoran Hotel dimana tempatnya menginap.
Mereka sepertinya tengah asyik mengobrol, hingga suara riak tawa keduanya melambung ke udara.
Jelly yang biasanya sering melamun dan seperti banyak beban. Kali ini berbeda, kedatangan Fox benar-benar membuat hatinya sedikit lega. Hidupnya yang pahit dan percintaan yang miris seperti sudah terkikis semenjak pria yang saling mereka sebut teman lama atau lebih tepatnya teman dibangku SMP sudah membuat dia sedikit terobati dengan tingkahnya yang gila.
__ADS_1
Memberinya dia canda yang tak pernah dia duga sebelumnya. Namun sayang, pria yang duduk di sampingnya sudah memiliki cinta yang akan selalu pulang. Sudah tentu cinta itu untuk istrinya yang dia rasakan, jika Fox sangat mencintainya. Fox sangat mencintai istrinya.
BERSAMBUNG