
Sementara di dalam mobil. Milk sesekali mencuri pandang pada kaca spion yang tergantung di dalam mobil untuk melihat wajah Jelly.
Sementara Fox tahu jika sepertinya pria yang saat ini tidak sengaja menjadi supirnya, pria itu sedang mencuri pandang mantan kekasihnya. Fox pun mengeluarkan dehem nya. " Ehm."
Hingga Jelly menoleh ke arahnya dan Milk berhenti mencuri pandang dari Jelly.
Sesampainya di pemakaman ibunya Jelly.
" Ini kan makam ibu?" tanyanya lirih kepada Fox yang duduk disampingnya.
" Iya. Kamu rindu kan sama ibu kamu? Aku tahu, jika kamu ingin pulang ke Bandung tapi kamu takut minta izin ke aku." ujar Fox yang kemudian mendapatkan pelukan tanpa sadar dari Jelly. Karena saking dekatnya mereka saling menggoda dalam canda. Membuat Jelly terharu dan merasa jika Fox lah pahlawannya.
Membuat kedua mata Milk sedikit tercengang dengan kedekatan mereka. Namun dia hanya bisa terdiam dan menyaksikan dari balik kaca spion yang tergantung. Meskipun ada perasaan yang tak bisa dijelaskan entah itu apa namanya.
" Maaf." Jelly yang melepaskan pelukannya. Air mata haru pun menetes dari sudut mata. " Terimakasih ya, kamu seolah tahu isi hati aku." imbuhnya
" Iya." jawaban lirih Fox menatap wajah wanita merana di dekatnya. Dia kemudian mengajak Jelly untuk turun dan membeli bunga untuk menabur makam ibunya. Disitu Jelly seolah tidak memperdulikan Milk meskipun ada segudang tanya yang dia tahan sejak tadi.
Sementara Milk yang melihat kedekatan Fox dan Jelly. Dia hanya bisa melihat dari dalam mobil jika Jelly terlihat bahagia. " Aku bahagia Jell, akhirnya kamu menemukan pria pengganti ku." lirihnya. " Tapi siapa dia? ... Fox ... " pikirnya keras. " Apa jangan-jangan dia ... " imbuhnya tanpa dia lanjutkan lagi.
Sementara Jelly yang duduk menaburkan bunga untuk makam ibunya. Dibantu dengan Fox yang sama pula melakukan memberikan taburan bunga pada makam ibu Jelly.
Jelly jelas tidak mengatakan apa-apa. Namun air matanya lagi-lagi jatuh tanpa aba-aba. Hanya bahasa tubuh yang terlihat dengan menyentuhkan telapak tangan pada nisan ibunya. Mencium nisan itu bersamaan dengan jatuhnya air mata.
Setelah dirasa cukup melepas rindu. Fox kemudian mengajak Jelly bangkit dan meninggalkan makam ibunya. Setelahnya sampai di mobil Milk. Jelly tidak lepas dengan tatapannya yang dibalas sama oleh Milk, namun mereka tidak mengeluarkan sepatah kata.
Mobil yang ditumpangi mereka akhirnya meninggalkan makam. Fox menyuruh untuk berhenti kepada Milk jika dia melihat toko kue.
Setelah lima belas menit tidak menemukan toko kue, akhirnya mobil berhenti juga. Milk membawa Jelly dan Fox berhenti di depan toko kue yang terkenal di kota Bandung.
Dia membeli dua kue. Satu untuk oleh-oleh istrinya Tamarin di Jakarta. Sedangkan satunya adalah kue ulang tahun untuk Jelly. Meskipun kejutan seperti ini terkesan murahan bagi dia. Tapi mungkin ini lebih baik ketimbang tidak sama sekali. Lihat saja! Jelly sungguh bahagia diberikan kejutan seperti ini. Fox pikir, kejutan seperti ini jauh lebih berharga dimata Jelly ketimbang dia mengajak Jelly makan malam di restoran mewah diiringi biola. Yang bisa saja malah dirinya dan Jelly terbawa rasa.
Di lain sisi, Jelly yang tinggal di dalam mobil dengan Milk. Meskipun Milk ragu, namun dia memberanikan untuk bicara.
__ADS_1
" Aku ikut senang, sekarang kamu sudah mendapat pria yang seribu kali lebih baik dari aku." Terdengar jelas hingga membuat Jelly menoleh ke Milk.
" Apa kamu bilang?" Jelly yang belum selesai memberikan penjelasan namun Fox tiba-tiba sudah dekat dan membuka pintu mobil. Jelly kemudian menggeser bola matanya. Terkejut dengan kotak berisi kue ulang tahun berikut lilin yang sudah menyala dan Fox membuka penutup lilin supaya tidak padam akibat terkena angin.
Tatapan keduanya jelas seperti ada rasa. Fox yang merasa kasihan dan Jelly yang merasa mendapatkan perhatian.
Fox yang melepas senyum saat lirikan Jelly penuh curiga. " Happy birthday." ucapan selamat singkat Fox kepada Jelly dan meletakkan kue persis menghalangi tubuh mereka.
Jelly yang kemudian sadar jika hari ini adalah hari ulang tahunnya. " Astaga." rona bahagia jelas terpancar binar dari mata hingga senyumnya yang mengembang.
Sementara Milk. Oh, ya. Hari ini kan Jelly ulang tahun. Aku ikut senang sih Jell, ada pria yang perhatian ke kamu.
Jelas jari Jelly gemas dan mencubit perut Fox. Hingga terdengar gelak tawa dari kursi penumpang bagian belakang mobil sedan itu. Sementara sang supir, hanya bisa menyaksikan ngobrol asyik mereka tanpa banyak kata.
" Jadi ini, alasan kamu bawa aku ke Bandung?" tanya Jelly dengan senyum berbunga-bunga.
" Sekarang kamu make a wish dulu, trus tiup lilinnya." balas Fox.
Melihat Jelly bahagia saat ini, sungguh miris dengan nasib Milk yang saat ini malah sedang berjuang mencari uang seperak dua perak guna membeli makanan untuk istri dan keluarganya. Milk hanya bisa menarik nafas panjang dan mengeluarkannya. Mencuri pandang dari spion terhadap dua orang yang terlihat sangat asyik bercengkrama.
" Apa kamu mau tinggal saja untuk semalam di Bandung? aku tahu kamu masih rindu sama ibu kamu, siapa tahu kamu akan ke makam lagi untuk lebih lama? Biar aku kembali ke Jakarta sendiri malam ini. Tapi jangan lupa, jika hari Senin, kamu harus sudah ada di kantor dan masuk kerja." ucap Fox yang memberi tawaran untuk Jelly.
Semoga dijawab iya sama Jelly. Harap Milk dalam hatinya.
Namun Jelly geleng-geleng kepala. " Tidak usah. Kita mampir ke rumah Bandung, setelah itu kita sama-sama balik ke Jakarta."
" Okay." jawab Fox dengan sedikit anggukan. Dia kemudian menyuruh Milk untuk melajukan mobilnya ke rumah Jelly.
Dua puluh menit perjalanan yang mereka tempuh untuk sampai ke rumah Jelly. Dengan pintu yang dibuka oleh asisten rumah tangga yang belum pulang. Ya, bibi hanya membersihkan rumah setiap pagi sampai sore. Setelah itu bibi pulang ke rumahnya dan kembali entah dua hari sekali atau sekiranya rumah terlihat kotor.
" Rumah Jelly." lirih Milk seolah memiliki ide jika akan meminta bantuan Jelly untuk menyewa rumahnya saja. Dia akan mencoba mencicil uang sewa karena sementara dia dan keluarganya belum memiliki uang. " Ya, rumah Jelly." wajah Milk yang kembali bersemangat.
Sementara Jelly melangkah perlahan mengedarkan seluruh pandangan. Dia kemudian memasuki kamar ibunya dan duduk di atas tempat tidur milik ibunya. Telapak tangannya meraba seolah terngiang jika ini adalah singgasana dimana setiap hari ibunya berbaring berjuang melawan penyakit yang di deritanya.
__ADS_1
Tidak terasa, jika kedua matanya kembali berkaca-kaca. Fox yang hanya berdiri di ambang pintu bisa merasakan jika Jelly merindukan sosok ibunya.
Tidak lama, tiga puluh menit lebih dan tidak sampai satu jam mereka disana. Fox dan Jelly akhirnya memutuskan kembali ke Jakarta malam ini juga.
Setibanya di Bandara.
" Jelly." panggil Milk kepada Jelly yang sudah beberapa langkah untuk masuk ke dalam Bandara.
Jelly dan Fox pun menoleh ke arah Milk.
" Oh, tidak. Hati-hati." Milk merasa bukan waktu yang tepat untuk bicara kepada Jelly. Terlebih Jelly sedang mengejar penerbangan malam itu juga. Jadi sebaiknya lain waktu saja dia akan cerita kepada Jelly.
Sementara Jelly dan Fox saling bertukar tatap melihat Milk sepertinya canggung. " Iya." balas Jelly yang kemudian melangkah pergi dengan Fox.
Sementara Milk masih menyandarkan tubuh pada body mobilnya. Bersedekap melihat Jelly dan teman pria nya menghilang dari pandangan.
Fox dan Jelly masih ada waktu satu jam untuk makan malam bersama sebelum naik ke pesawat. Mereka kemudian makan di sebuah restoran cepat saji. Entah mengapa? kebersamaan mereka terasa lebih dekat dan Fox sangat senang bisa membuat Jelly tersenyum bahagia.
.
.
Setelahnya mengantar Jelly ke apartemen. Fox kemudian pulang dan sampai rumah besar larut malam. Membuka pintu kamar dan ternyata Tamarin istrinya belum tidur.
" Baru pulang sayang?" tanya Tamarin yang kemudian mendekat dan memeluknya erat. Lama sekali dia mendekap suami yang yang dicintai sekaligus di khianati olehnya. Seolah merasa berdosa kepada suaminya namun jujur dia tidak bisa menolak perhatian dan kasih sayang ayah mertuanya yang melebihi apapun kepadanya. Bahkan rela melakukan apapun lebih dari Fox suaminya.
Tamarin yang kemudian mendongak ke wajah suaminya yang menatap lekat wajah jernih miliknya. Melepas senyum kepada suami dan memberinya kode jika dia butuh belaian manja, karena Fox hampir melupakan dia atau bahkan pudar cintanya kepada Tamarin.
Membawa suaminya di atas ranjang, bersamaan dengan jemari lentik yang dimainkan untuk menekan tombol lampu sisi ranjang padam.
Cetek
BERSAMBUNG
__ADS_1