Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua

Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua
Tamarin Sakit


__ADS_3

" Kenapa diam?" Tanya Tamarin lagi seolah tidak sabar menunggu sebuah jawaban dari suaminya.


Fox yang kemudian melepaskan jemari istrinya dan mengalihkan pandangannya dari tatapan istrinya. Membuka kancing bagian atas kemeja yang dikenakan nya. " Aku jatuh, saat melihat proyek apartemen." jawab Fox yang sudah pasti terlihat bohongnya.


" Apa? jatuh?" Tamarin yang melangkah mendekat lagi di hadapan suaminya dan menatap lekat kembali wajah suaminya baik-baik. " Luka mu itu tidak karena jatuh. Luka mu itu seperti orang habis berantem dan kena pukul. Jangan kamu coba-coba bohong." Mata Tamarin yang terlihat sedikit kesal karena Fox seperti tida jujur kepadanya.


" Aku nggak papa." jawab Fox dengan santai dan melanjutkan kembali membuka kancing kemeja berikutnya.


" Bukan masalah nggak papa, luka mu itu kenapa?" tanya Tamarin dengan sangat cepat dan menginginkan Fox berkata jujur padanya.


" Iya oke, aku habis dipukulin preman." jawab pasrah Fox.


" Hah." Tamarin seketika terkejut dengan dahi berkerut. " Bagaimana bisa?" tanyanya lagi seolah ingin tahu kronologi bagaimana suaminya bisa digebukin oleh preman.


" Aku capek sayang. Intinya ada preman jalan yang menghadang dan berusaha minta uang dan barang berharga di saat aku melihat proyek di Lembang dan terlihat jalanan sepi. Kesempatan bagi mereka terlebih plat nomorku adalah plat Jakarta. Ya sudah, perkelahian tidak terelakkan lagi. Dan alhasil seperti ini." Fox yang melepaskan kemeja biru muda yang dikenakannya.


" Apa? preman?" Tamarin yang shock bukan main hingga menutup mulut menganga nya dengan kedua telapak tangannya. Betapa terkejutnya dia dan merasa berdosa nya dia. Saat suaminya tugas ke luar kota malah dia asyik bersenang-senang dan bermanja ria dengan kekasih gelapnya yang tidak lain tidak bukan adalah ayah mertuanya.


Sementara suaminya, wajahnya penuh luka lebam bahkan ada dua bekas sobekan di kedua sudut bibir dan itu semua akibat ulah perkelahian dengan preman.


Tamarin menelan ludahnya dengan sangat sulit. Tidak bisa dijelaskan apa perasaannya saat itu kecuali rasa bersalah yang teramat dalam.


Aku tidak bohong. Ini bukan bohong Fox. Memang kamu berkelahi dengan preman. gumam Fox dalam hati seolah menepis jika dirinya berkata tidak jujur kepada Tamarin. Hanya saja penyebutan nama Jelly yang tidak dia jelaskan kepada istrinya karena toh memang dia juga tidak ada hubungan apa-apa dengan Jelly. Perasaannya hanya sebatas teman, atasan dan bawahan meskipun dulu pernah tersemat cinta belum kesampaian dengan nya.


Tamarin langsung memeluk erat suaminya yang bertelanjang dada itu. Kedua matanya berkaca-kaca karena mendengar apa yang dialami oleh suaminya sungguh membuatnya merasa istri tidak tahu diri dan sungguh kejam.


Fox yang kemudian menyentuhkan telapak tangannya membelai rambut cokelat terang dan luruh memeluk punggung istrinya pula.

__ADS_1


" Sudah, aku sudah tidak papa. Aku mau mandi dulu ya." Fox yang melepaskan pelukan istrinya diikuti dengan satu dua tetes air mata yang terjatuh di pipi istrinya. " Sudah jangan nangis lagi. Kamu jangan terlalu cemas lagi. Suami mu ini masih cukup kuat untuk menghadapi preman jalan begajulan." Diikuti dengan senyum terkekeh dari Fox dan menghapus tetesan pada pipi istrinya.


" Tapi kamu janji ya, kamu harus lebih hati-hati lagi. Jangan lewat jalan sepi lagi." Tamarin dengan cemasnya kepada suami yang sudah dikhianati nya itu.


" Iya." jawab Fox yang kemudian melangkahkan kaki menjauh dari hadapan istrinya dan menuju kamar mandi.


Sementara Tamarin yang menguatkan seluruh sendi kakinya untuk berdiri di depan suaminya agar terlihat sehat bugar baik-baik saja dan tidak seperti habis berjalan puluhan kilometer dengan engos-engosan. Dia memijat sendirian betis dan telapak kaki yang sudah terlihat kasar dan terasa panas enyut-enyutan dengan kedua tangannya.


.


.


Sementara di tempat berbeda. Jelly sangat resah memandangi langit-langit atap apartemen. Dia berjalan kesana kemari karena tidak bisa tidur. Sesekali membuka gorden dan menatap wajah Jakarta yang penuh dengan kerlap-kerlip lelampuan dari puncak apartemen dimana dia berdiri di dalam nya.


Dia kemudian mengisi insomnia nya dengan mengeluarkan baju dan menata semua baju-baju yang dibawanya ke dalam lemari. Apa yang dia lakukan itu pun belum cukup membunuh kesepian nya malam ini.


.


.


" Sayang, kamu sakit?" Fox langsung jenggirat duduk dari yang tadinya posisi tertidur. Dia menyentuhkan kembali telapak tangannya ke kening istrinya dan benar saja, suhu tubuh Tamarin meningkat dan terasa panas. Tamarin juga terlihat menggigil seperti orang kedinginan. " Kita ke rumah sakit ya." pinta Fox yang menyingkap selimut tebal istrinya.


" Tidak usah." tolak Tamarin dengan nada lemah. " Aku tidak papa. Setelah sarapan aku pasti baik-baik saja. Aku hanya butuh obat penurun panas dan minum teh hangat, setelahnya dibuat istirahat aku pasti sembuh." terang Tamarin yang berusaha menjelaskan.


" Kalau begitu baiklah. Aku akan siap-siap dan turun ke bawah untuk sarapan bersama." Fox yang beranjak dari ranjang untuk mempersiapkan diri melakukan aktivitas untuk persiapan ke kantor.


Setelahnya itu usai. Keduanya turun ke lantai dasar untuk menuju meja makan. Fox yang membantu Tamarin untuk duduk dan menyuruh bibi untuk mengambilkan obat penurun panas di ruang obat-obatan.

__ADS_1


Sementara Tuan Kino dan juga Nyonya Mint baru terlihat setelah semalam beradu tegang di jalan yang terjebak kemacetan.


" Selamat pagi semua. Hai sayang." sapa Nyonya Mint yang kemudian mengecup Fox putranya.


" Pagi Bu." balas Fox.


" Hai Tamarin, kamu tidak papa? kenapa kamu terlihat pucat dan seperti orang sedang sakit?" tanya Nyonya Mint yang mendekat dan menyentuhkan telapak tangan ke pundak Tamarin sambil membungkukkan punggung untuk melihat wajah Tamarin yang terlihat tidak sedang baik-baik saja itu.


" Tamarin sakit Bu, badannya panas. Tapi dia tidak mau di bawa ke rumah sakit. Dia hanya minta obat penurun panas." sahut Fox menimpali pertanyaan ibunya itu.


Deg


Tuan Kino yang merasa bersalah dengan kekasih pujaannya itu. Kasihan kamu Baby. Pasti kamu capek karena semalam berjalan puluhan kilometer. Tenang, nanti aku pijitin kaki mu. Untuk menebus rasa bersalahku karena menyuruh mu keluar mobil dan berjalan. gumam dalam hati Tuan Kino yang matanya tertuju memperhatikan wanita pujaannya.


" Oh, begitu. Ya sudah, suapi istri mu! suruh dia minum obat! dan suruh dia istirahat!" Nyonya Mint kemudian menuju kursi dimana selalu menjadi tempat duduknya saat makan pagi.


Suapan pertama ... Lancar jaya. Suapan kedua ... " Uog ... Uog ... " Tamarin mual-mual dan berlari menuju ke wastafel sambil menutup mulutnya untuk memuntahkan apa yang baru saja masuk ke dalam mulut hingga perutnya.


Semuanya terkejut. Melihat Tamarin seperti itu. Tuan Kino jelas tidak tega dan ingin memeluknya. Tapi apa daya? saat kondisi seperti ini. Tamarin milik suaminya. Dia hanya bisa berdiri mematung dan melihat Tamarin dari kejauhan yang sudah dipapah oleh Fox suaminya untuk menuju ke rumah sakit atas saran dari Nyonya Mint.


Tamarin tanpa banyak kata, dia hanya bisa menggigil kedinginan dan merasakan tubuhnya meriang tidak karuan. Terlebih baru saja perutnya juga tidak enak untuk dibuat makan. Mendekap erat dirinya sendiri dengan bibir bergetar tidak ada hentinya.


" Untung kemarin aku sudah isi full bahan bakar." lirih Fox mengatakannya saat akan melajukan mobil keluar dari garasi. Cukup jelas menjawab rasa penasaran Tamarin, bahwa ternyata, Fox berbelok ke arah pom bensin hingga semalam dia lebih dulu sampai rumah besar.


Mobil Fox melesat cepat setelah security nya membukakan pagar tinggi hitam menjulang. Hingga body mobil bahkan sudah lenyap dari pandangan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2