Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua

Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua
Fox Bersama Mobilnya Jatuh Ke Jurang


__ADS_3

" Jadi dia tidak ada di kantor?" tanya Nyonya Mint kepada Ita.


" Iya bu," jawab Ita.


" Boleh aku masuk di ruang kerja putra ku?" tanya Nyonya Mint dengan sedih, perasaan nya campur aduk. Sebagai seorang ibu, dia merasakan telah terjadi sesuatu dengan Fox, namun dia tidak tahu itu apa. Hanya saja, dia dapat merasakan jika Fox tengah berada dalam situasi yang sulit.


Ita mengangguk dan membantu Nyonya Mint untuk masuk ke dalam ruang kerja putranya.


Baru dua langkah tepatnya berada tidak jauh dari pintu. Langkah Nyonya Mint kembali terhenti. Kedua matanya mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan.


Melangkah kan kembali kaki yang terbungkus hells setinggi tujuh sentinya. Mendekat dan menyentuhkan lengan beserta jemarinya pada kursi kerja Fox. " Kamu dimana Fox? Tidak biasanya ibu mencemaskan mu seperti ini."


.


.


Di rumah besar.


" Mama." teriak Candy dan segera menghampiri mamanya yang sedang berdiri tidak jauh dari Tuan Kino.


Tuan Kino pun kemudian menggendong Candy di depan supaya tingginya sejajar dengan mamanya, karena perut Tamarin masih sakit selesai operasi.


" Mama sudah sembuh?" tanya putri kecilnya yang terlihat sudah kembali ceria.


" Iya sayang, Candy juga sudah tidak demam?" Tamarin yang menyentuh kening putri kecilnya lalu menciumnya. Ketiganya berdiri layaknya sebuah keluarga harmonis bahkan terkikis jarak karena Tamarin mencium pipi putrinya dan Tuan Kino tersenyum melihatnya.


Saat ini, yang terpenting bagi Tamarin adalah kebahagiaan putrinya.


" Iya mama, Candy sudah sembuh. Itu semua karena semalam bertemu papa."


Bibir yang tersenyum dari Tuan Kino dan Tamarin mendadak berubah mengunci senyumnya, keduanya saling melirik seolah perkataan Candy adalah cambuk bagi keduanya.


Dengan terus Candy memanggil dan menganggap jika Fox adalah papanya, sudah tentu membuat jantung keduanya terasa nyeri ketika mendengar itu semua.


Menjelaskan kepada dia saat ini, tentulah Candy belum mengerti. Dan satu lagi, Candy pasti akan hancur hatinya saat mengetahui jika Fox bukanlah papanya.


Untuk menyudahi celotehan Candy yang malah akan membuat wanitanya bertambah sedih. Tuan Kino akhirnya membawa Candy bermain di taman. Sedang Tamarin melanjutkan naik ke lantai dua menuju kamarnya.

__ADS_1


Empat hari meninggalkan kamarnya, Tamarin tidak melihat ada hal yang berubah. Pecahan barang-barang akibat perkelahian sengit antara anak dan ayah sudah berakhir.


Fox sudah tahu cinta terlarang keduanya. Dan tidak ada hal yang akan bisa Tamarin perbuat kecuali menunggu surat keputusan cerai dari suaminya.


Perlahan, kakinya mengajak melangkah lebih dekat dan berakhir duduk di tepi ranjang. Tamarin yang kemudian menyentuhkan telapak tangannya pada atas ranjangnya. Tentulah dengan perasaan yang sedih. Karena kamar itu banyak menyimpan kenangan bersama dengan suaminya.


Bagian perbagian kamar, tidak luput dari sepasang mata yang terus mengajaknya menyelam mengingat semua hal tentang pernikahannya.


Termasuk bingkai-bingkai foto pernikahannya dengan Fox, hingga membuatnya menitikkan air mata. Sampai dimana, Tamarin baru menyadari jika di atas meja nakas nya, ada sebuah cincin Fox yang diletakkan di atas bingkai foto berukuran kecil, namun bingkai foto tersebut sengaja tidak diberdirikan oleh Fox dan malah ditutup.


Jemari Tamarin pun mengulur, meraih benda mungil berwarna silver yang biasanya melingkar di jari manis suaminya.


Tangis Tamarin pun bertambah, dia tidak menyangka dengan berakhirnya rumah tangganya dengan Fox yang menunggu hitungan hari.


Jika dilihat dengan Fox yang sudah meletakkan cincin pernikahannya di atas meja nakas, itu menandakan jika Fox bahkan sudah sangat siap melepasnya dan tidak ada kata maaf yang akan keluar dari mulutnya.


Tamarin yang menangis hebat seraya menggenggam erat cincin Fox dalam pelukannya.


Hingga dimana Tuan Kino akhirnya datang. Mengetahui jika wanitanya bersedih dan menangis, dia langsung memeluk Tamarin.


Tidak ada kata-kata yang keduanya keluarkan dari mulut mereka masing-masing. Yang ada hanyalah bahasa tubuh mereka yang saling menyatu dan saling menguatkan.


.


.


" Hai Tuan ... jangan pakai mobil itu!" teriak kedua orang suruhan dari Tuan Kino yang berulang namun Fox tidak mendengar bahkan mengacuhkan.


" Sial, terkena masalah lagi kita." umpat dari salah satu orang suruhan dari Tuan Kino yang langsung merogoh ponsel di dalam saku celana jeans biru nya.


Dengan cepat membuka layar ponsel menekan nama Tuan Kino dalam daftar kontaknya dan menempelkan benda pipih tersebut di telinganya.


Perasaan takut pasti, karena mobil itu remnya blong dan kedua orang suruhan Tuan Kino sedang menunggu mobil satunya untuk datang namun belum di antar.


Sialnya Fox langsung menyambar saja kunci mobil tersebut dan pasti dua orang suruhan Tuan Kino akan terkena imbas dari amukan bos nya.


" Yuhuy ... kamu kalah ayah. Sebentar lagi ibu akan tahu skandal cinta terlarang mu dengan Tamarin." Fox yang begitu menggebu. Raut wajahnya begitu tersirat amarah sekaligus dendam yang berapi-api.

__ADS_1


Mobil Rubicon berwarna hitam itu melaju kencang tanpa Fox menyadari jika remnya tengah tidak berfungsi.


Sesaat kemudian, Fox yang tengah melajukan mobil itu dengan sangat kencang berubah panik. Menekan dengan sangat keras dan berulang pedal rem, namun mobil tidak berhenti dan tetap melaju dengan kecepatan kencang tanpa dia bisa mengendalikan. " Ada apa ini? ... Shiit!" umpatnya disela-sela kepanikan.


Fox terus berjuang mengotak-atik semua bagian yang mungkin bisa dia kendalikan. Namun sayangnya dengan kecepatan mobil yang sungguhlah kencang, membuat dia kewalahan dan tidak bisa mengendalikan mobilnya.


Entah ayahnya membawa kemana, daerah terpencil yang terdapat jurang tinggi berikut aliran sungai deras dibawahnya. Jangan ditanya kecuraman jurang tersebut. Yang masuk jurang dan mobil terbang ke bawah sudah dapat dipastikan tewas di tempat.


Jantung Fox berdegup kencang. Kedua tangan beserta lengan mencengkeram badan setir dengan sangat kuat. Sadar nyawanya dalam bahaya dan mungkin kematian akan menjemputnya.


Fox berusaha mengendalikan mobil Rubicon hitam itu semampu yang dia bisa. Supaya dia tidak terbang ke dasar jurang terjal yang dibawahnya terdapat aliran sungai deras berikut dapat dipastikan jika ada buaya yang siap memakannya jika dia terjun bebas bersama dengan mobil sialan ini.


" Shiit!" Berulang kali dia mengumpat dengan ketegangan wajahnya yang sungguhlah luar biasa. Menambah kebenciannya dengan ayahnya yang sudah membawanya dalam situasi sulit ini.


Glodak


Glodak


Glodak


" Aaaaa." teriak Fox yang tahu jika mobilnya terbang dan masuk ke dalam jurang. Bersamaan dengan suara tubuhnya beserta mobil tersebut yang berulang membentur bagian jurang.


.


.


Di tempat berbeda.


Ther


Nyonya Mint yang masih berada di kantor Fox tidak sengaja menyenggol bingkai foto putranya. Bingkai foto Fox yang dimana Fox belum menikah dengan Tamarin.


" Astaga. Kenapa perasaanku tidak enak. Jantungku terasa nyeri sekali. Ada apa ini?"


BERSAMBUNG


Bye-bye Fox. Kasihan sekali, sudah menjadi korban pengkhianatan malah harus berakhir tragis dan malah masuk ke dalam jurang.

__ADS_1


Suaminya Tamarin. Yang mau cerai malah masuk jurang.



__ADS_2