
Sebenarnya keluarga sudah menutup berita kecelakaan Fox. Keluarga juga tidak memberi tahu kepada pihak kantor Fox. Namun bagaimanapun itu tetaplah salah. Karena Fox adalah pemilik dari perusahaan ternama di Jakarta. Sudah tentu banyak meeting dan juga para koleganya pertanyakan.
Satu hari berselang tanpa kehadirannya di kantor. Sudah membuat Jelly kalang kabut dan tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaan ini tanpa kerja sama dari Fox. Tanda tangannya dibutuhkan guna lancarnya sebuah pekerjaan.
" Jelly ... Jelly." panggil Ita dengan nafas memburu yang tiba-tiba menyelonong masuk ke ruang kerja nya. " Hah ... hah ... hah." Nafas Ita tersengal hingga sedikit membungkuk dengan tangan kanan memegangi bagian perut depan.
" Kamu kenapa Ita?" reaksi Jelly yang tak kalah herannya.
" Apa kamu belum dengar berita?" Ita yang menoleh ke arah Jelly yang berdiri tepat di depan meja kerja nya.
" Berita apa?" Dahi Jelly yang penuh dengan kerut.
" Fox kecelakaan."
" Apa?" Jelly yang terkejut bukan main, tidak kuasa mendengar apa yang dikatakan oleh Ita. Meskipun hubungan mereka tidak sedekat dulu semenjak ada kehadiran Candy. Namun tetap saja, Jelly sangat khawatir dengan keadaan Fox mengingat wanita yang di depannya yaitu Ita pernah mengalami kecelakaan mobil yang begitu dahsyatnya.
Membuatnya harus bertahan di kursi roda dalam waktu yang lama terlebih kedua orang tuanya terenggut saat itu juga. " Kita sekarang ke rumah sakit Ita!" ajaknya gegas dengan menyambar sebuah tas hitam yang sedari tadi bertengger di atas meja kerja miliknya.
" Jelly tunggu Jelly!" Ita berusaha meraih tangan Jelly hingga Jelly berhenti langkah. " Keluarga Fox tidak menginginkan siapapun menemui putranya karena Fox masih belum sadar. Berita ini juga seharusnya tidak kita dengar. Berita Fox sekarang terbaring di rumah sakit akibat kecelakaan itu tertutup hanya untuk para rekan bisnis dan para kalangan atas dimana terkait dengan perusahaan yang sedang bekerja sama." imbuh Ita.
" Terus kamu tahu dari mana?" selidik Jelly.
" Milk yang mendengarnya. Karena Milk diberi tahu langsung dan itu suruh merahasiakannya sampai kesembuhan Fox."
Jelly dengan nafas pasrahnya. " Apa kamu tahu keadaanya?"
" Dia sudah melewati masa kritis, namun hanya dia belum tersadar hingga hari ini."
" Dia ceroboh sekali. Bukannya dia ahli menyetir? bagaimana bisa dia sampai kecelakaan?" lirihnya berjalan perlahan seraya bersedekap hingga mengusap dahinya.
" Kita doakan saja dari sini. Di sana pasti sudah ada keluarga Fox yang tiada henti menjaganya." imbuh Ita lagi.
" Kamu benar Ita." Jelly yang mulai terbiasa tanpa perhatian pria yang sudah dianggapnya pahlawan itu. Meskipun saat ini dia dekat dengan seorang pria. Tapi tetap saja, dia merindukan perhatian Fox yang dulu.
__ADS_1
" Kamu yang sabar ya." Ita yang kemudian merangkul bahu sahabatnya itu.
.
.
.
Di sebuah rumah sakit tepatnya di ruang khusus Fox dirawat. Hampir empat puluh delapan jam Fox belum terbangun setelah kecelakaan yang meremukkan badan mobilnya.
" Papa bangun!" seru Candy dengan isak tangisnya yang berada tepat di sisi tempat tidur rumah sakit dimana Fox terbaring.
" Sayang." Tamarin yang juga sama mengelus lengan kekar suaminya. Menatap dalam, wajah suami yang bagian kepalanya terbalut perban. Tamarin tidak berhenti untuk meneteskan air mata. Hingga untuk beberapa menit ke depan. Jari-jari bagian kiri Fox tergerak membuat Candy sontak mengguncang lengan Tamarin.
" Mama, lihat ma! papa bangun." Jejak basah yang sepenuhnya belum kering dari kedua pipi bocah mungil itu.
" Fox." Gembiranya hati Tamarin, dia segera memencet tombol dimana perawat dan dokter akan datang. Dan benar saja tidak berselang lama mereka datang. Itu membuat Nyonya Mint dan Tuan Kino yang duduk di depan ruangan Fox bangkit.
" Ada apa Dok?" sahut Nyonya Mint yang menyela sebelum Dokter dan perawat masuk ke ruang rawat Fox.
Dokter kemudian memeriksa pasien. Satu persatu dia periksa hingga tak ada yang terlewatkan. Dimana saatnya tiba, mengecek apakah pasien ada masalah dengan ingatannya? mengingat benturan pada kepalanya sangatlah hebat.
Dokter kemudian menyuruh semua keluarga berkumpul di sisi tempat tidur pasien dimana Fox terbaring. Membuat semuanya sudah was-was takut jika Fox tidak mengingat mereka.
Setelah semuanya berdiri berbaris dan Tuan Kino menggendong Candy. Fox menatap mereka dengan kedua mata yang sepenuhnya terbuka. Meskipun dia merasakan sakit begitu hebat di bagian Kyuri alias timun Jepang ukuran jumbo miliknya.
Namun Fox bisa melihat jika semua keluarganya sangat mengkhawatirkan keadaanya. " Candy." lirih Fox dengan sangat lemah dan terdengar samar.
Namun ketika dia menyebut nama Candy, jelas sudah meruntuhkan pikiran buruk mereka dari kata amnesia yang menghantui dia hari ini.
" Syukurlah, kamu tidak hilang ingatan Fox." Nyonya Mint yang menyentuh lengan putranya. Menatapnya dalam dengan air mata yang tak hentinya mengambang.
" Iya sayang, syukurlah kamu tidak amnesia." imbuh Tamarin.
__ADS_1
" Hore papa bangun." riangnya wajah Candy membuat semuanya beriak tawa termasuk Fox yang melihatnya juga sedikit tertawa meskipun ada bagian yang sungguh menyiksanya.
" Jadi sudah ya, Tuan ... Nyonya. Dapat dipastikan jika pasien tidak mengalami amnesia." kata Dokter yang kemudian menyela.
" Sakit." keluh Fox dengan lirih dengan melirik ke bawah perut bagian alat perangnya di ranjang dengan Tamarin.
" Oh, saya mengerti. Nanti akan saya periksa menyeluruh ya pak." ucap Dokter yang sangat tahu jika Fox sedang mengeluhkan alat perang ranjang yang sedikit menyiksanya. Alat perang tersebut terjepit sehingga membuatnya terluka dan harus puasa bercinta di atas ranjang untuk sementara dengan batas waktu yang belum dapat di pastikan.
Membuat semua yang berdiri di sisinya menyuarakan riak tawa kecil sebagai bahan candaan. " Itu tandanya kamu harus puasa buat adik Candy." celetuk Nyonya Mint yang kemudian menutup mulutnya.
Sementara Tamarin hanya melepas senyum dengan geleng-geleng kepala.
Candy senang sekali karena papanya sudah sadar.
Sejak saat itu hampir setiap hari Candy tidak pernah absen untuk menyuapi papanya.
" Hap ... nyam ... nyam ... nyam." Goda Fox kepada putri manisnya yang sedang menyuapinya makan bubur sarapan pagi dari rumah sakit.
" Hihihihi." tawa kecil dari Candy yang menggemaskan. " Enak papa?"
" Enak dong sayang, kan Candy yang suapi papa." Dengan bibir Fox yang sengaja dia buat-buat manyun supaya terlihat lucu dan Candy menertawainya.
Gelak tawa yang terdengar keluar sudah membuat hati Fox terasa damai. Fox kemudian mengecup rambut kepala putrinya yang sedang duduk di atas tempat tidurnya dan bersebelahan dengan nya yang sedang bersandar di tempat tidur pasien yang sudah di setel oleh perawat.
" Papa lain kali hati-hati ya kalau bawa mobil. Aku takut papa kenapa-napa." Bola mata amber yang sedari tadi menoleh dan menatap wajah Fox membuatnya semakin menyayangi putrinya.
" Tentu sayang." Kecupan pun mendarat kembali di puncak kepala Candy.
" Papa janji ya, akan selalu jaga Candy."
" Iya sayang."
Keduanya pun tersenyum dan berpelukan. Akhirnya ketakutan Candy yang dikira papanya bisa saja meninggal atau hilang ingatan, semuanya bahkan tidak terjadi dan kini kondisi Fox terlihat jauh lebih baik.
__ADS_1
BERSAMBUNG