Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua

Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua
Benih-Benih Cinta


__ADS_3

Tuan Kino memandangi lekat wanita yang sudah dia hina melarat semenjak pertama kali bertemu.


Setelah melihat jika Tamarin sudah ketiduran. Sepasang mata pria yang di panggil ayah mertua oleh Tamarin itu benar-benar detail memperhatikan wajah cantik milik Tamarin.


Jemari telunjuknya merapikan sebagian rambut yang menutupi area sekitar wajah milik Tamarin.


Hingga tanpa sadar, wajah dan bibirnya begitu dekat dengan wajah dan bibir milik Tamarin. Tuan Kino lantas memejamkan mata dengan gelisah dan menarik wajah berikut kepalanya yang tadinya terbawa suasana ingin mengecup bibir menantunya.


Namun semua dia urungkan. Mengingat teringat siapa wanita yang di depannya adalah menantu yang dibencinya. Kelima jemari kirinya mengusap tengkuk leher yang sedari tadi sudah dia keringkan namun mulai berkeringat.


Tuan Kino kemudian pergi mandi dan membersihkan diri di dalam kamar mandi. Meninggalkan Tamarin yang masih ketiduran karena merasakan nyaman ketika dipijit oleh ayah mertuanya.


Selang tidak lama Tuan Kino pergi ke kamar mandi. Celah-celah sudut mata Tamarin sedikit terbuka. Dia langsung jenggirat karena ingat dan tersadar jika dirinya sedang dipijit oleh ayah mertuanya.


" Tuan Kino." lirihnya mencari keberadaan ayah mertuanya. Syukurnya kaki sebelah kanan miliknya sudah tidak sakit dan keram setelah di pijit oleh ayah mertuanya.


Akhirnya dia mencoba untuk menggerakkan kakinya dengan berdiri di samping ranjang. Alhasil benar, pijitan ayah mertuanya berhasil membuat kakinya lebih lemas dan tidak kaku seperti saat di kolam renang.


Sudut matanya tetiba melihat bingkai foto Tuan Kino dan Nyonya Mint yang sangat serasi dan terlihat bahagia. Tamarin lalu mengambil bingkai itu dan memandanginya dalam-dalam. Tuan Kino memeluk Nyonya Mint dari belakang dan keduanya melepas riak tawa ke udara.


" Kamu sudah bangun?" tanya Tuan Kino dengan jemari yang masih menutup daun pintu kamar mandi.


Tamarin menoleh ke sumber suara berasal. " Eh, sudah Tuan." Tamarin kemudian meletakkan kembali bingkai foto mereka berdua ke tempat semula, yakni di atas nakas di samping tempat tidur tepat tempatnya tadi berbaring ketiduran.


Entah mengapa? rongga dalam untuk menelan air liur rasanya sulit sekali bagi Tamarin. Ketika harus melihat ayah mertuanya hanya melingkarkan handuk dan bertelanjang dada keluar kamar mandi. Ketampanannya sebelas dua belas dengan Fox suaminya bahkan Tuan Kino terbilang awet muda dan sangat menjaga penampilan.


Tuan Kino yang melangkahkan kaki menuju ke tempat dimana dirinya berdiri serasa membuat jantung Tamarin berkali- kali terhenti. Wajah gugupnya benar-benar tidak bisa dia sembunyikan lagi. Sesekali dia harus memainkan lidah dan menggigit bibir bawahnya untuk mengurangi rasa gugupnya yang sudah tentu ayah mertuanya tahu.


Ketika langkah tubuh pria yang dia sebut ayah mertua itu berhenti dengan jarak yang lumayan dekat dengan dirinya yakni hanya enam puluh senti.


" Tuan, saya sebaiknya kembali ke kamar. Terimakasih atas ... atas ... " Tamarin yang mendadak gugup tidak karuan dengan kedua tangan yang mencoba merogoh-rogoh tidak jelas kantong saku handuk kimono, yang jelas-jelas kosong namun sepuluh jemari yang bersembunyi di balik saku handuk kimono yang dikenakannya itu keringetan panas dingin tidak karuan. " Atas semuanya." lanjut Tamarin menyelesaikan kalimatnya.

__ADS_1


Tuan Kino lantas memberikan anggukan kecil kepada Tamarin.


Duh Tamarin.


Bagaimana bisa seperti ini.


Bagaimana kalau ayah mertua mu itu mengetes kamu ini wanita seperti apa.


Dasar tolol kamu Tamarin.


Dia kan dari awal tidak suka dengan kamu. Bagaimana kalau dia sengaja melakukan ini dan melaporkan kepada Fox dan ...Tamarin bermonolog. Nafasnya tetiba sengal berhamburan dan pikirannya gembrambyang kemana-mana.


Tamarin dengan cepat meninggalkan kamar milik ayah mertuanya dan dengan cepat pula masuk ke dalam kamarnya.


Sementara di lantai dasar.


Klililililit


Suara telepon rumah berbunyi. Bibi dengan cepat menempelkan dekat pada telinganya.


" Hallo Bi, dimana istri saya?"


" Oh den Fox. Anu- anu den ... " bibi bingung harus bilang apa.


" Anu kenapa bi?" tanya cepat Fox dari balik telepon rumah.


" Nona Tamarin tenggelam di kolam renang."


" Apa? Tut ... Tut ..." telepon tetiba berhenti bersamaan dengan bibi yang ingin menjelaskan.


" Den Fox, tapi nona Tamarin su dah di to long o leh Tuan Besar." Meskipun sambungan telepon berhenti namun bibi tetap melanjutkan kalimatnya. " Aish." Bibi dengan cepat meletakkan kembali gagang telepon pada tempat semula.

__ADS_1


Sementara Tuan Kino yang sudah bersiap di meja makan untuk makan siang. Sedangkan Tamarin baru saja menuruni anak tangga dan kedua retina mata antara ayah mertua dan menantu itu lagi-lagi saling tatap hingga membuat langkah Tamarin terhenti. Meski dari kejauhan, namun entah mengapa sorot mata yang dilayangkan oleh ayah mertuanya itu berbeda dan syarat makna.


Untuk satu detik selanjutnya, langkah kaki jenjang itu menuruni anak tangga yang tersisa dan sampai dimana Tamarin berdiri di dekat ayah mertuanya.


" Selamat siang Tuan." sapa Tamarin dan memberikan hormat dengan menundukkan kepala pada ayah mertuanya.


" Siang Tamarin, bagaimana kakimu?" tanya Tuan Kino dengan tatapan yang tidak pernah berubah.


" Sudah jauh lebih baik Tuan. Oh, ya ... jika Tuan tidak menginginkan satu meja dengan ku. Biar aku makan siang nanti saja." Tamarin yang hendak pergi dan memutar tubuhnya namun pergelangan tangan kirinya dengan cepat di raih oleh ayah mertuanya.


" Duduklah!"


Sepasang mata Tamarin pun tidak berhenti dibuat terkejut dengan sikap ayah mertuanya yang bisa dikatakan luluh anaknya menikah dengannya. Sepertinya Tuan Kino sudah merelakan Fox menikah dengan nya sepenuhnya setelah kejadian tenggelam dari kolam renang. Alhasil restu pun dia dapat tanpa harus tersiksa batin dan telinga setiap hari seperti kejadian tadi pagi.


Setelah Tamarin duduk satu meja dengan Tuan Kino dan duduk di kursi yang disuruh oleh Tuan Kino yakni duduk di tempat yang biasanya Nyonya Mint duduki setiap sarapan pagi.


Sebelumnya Tamarin akan duduk di kursi dimana ada jarak satu kursi yang biasa jadi tempat duduk Fox ketika makan pagi. Namun Tuan Kino menyuruhnya duduk di sampingnya dan tidak terlalu jauh dengannya.


Suasana hening untuk beberapa menit karena kedua mulut sama-sama mengunyah dan akhirnya Tamarin jadi lebih tahu kalau ternyata ayah mertuanya sangat suka makan daging dan hanya sayur sebagai penunjang kesehatannya.


Bahkan Tuan Kino tidak menyentuh nasi dan hanya mengambil daging dan sayur yang ada di atas meja. Sementara minumnya, dia ternyata pecinta kopi Vietnam yang dia beli dengan sangat banyak untuk persediaan setiap harinya dari sebuah cafe kopi Vietnam terbesar di kota Jakarta.


Sementara Fox yang mengklakson lebih dari sepuluh kali dalam waktu yang singkat alias tidak sabaran pagar tinggi menjulang di depan mobilnya supaya cepat dibuka oleh security nya.


Fox yang memarkir sembarang mobilnya dan berlari masuk ke dalam.


" Sayang ..."


" Sayang ..."


Teriakan Fox cemas dengan lari tergopoh dan menuju ke posisi istrinya yang sedang duduk di meja makan.

__ADS_1


" Sayang kamu tidak papa." Fox yang cemas memeriksa semua bagian tubuh istrinya satu persatu.


BERSAMBUNG


__ADS_2