Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua

Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua
Tas Hitam Tak Bertuan


__ADS_3

" Kita sarapan dulu, aku yakin kamu belum makan." kata Fox penuh penekanan.


" Tapi ... " Jelly yang berusaha menolak tawaran Fox. Namun pergelangan tangan nya sudah digelandang oleh bos besarnya tanpa ada kata penolakan.


Keduanya lantas berjalan beriringan melewati loby. Untungnya restoran hotel tepat berada di depan loby. Jadi mereka tidak terlalu lama berjalan dan sudah sampai pada meja panjang dimana banyak menawarkan sarapan pagi yang menggoda perut keroncongan.


Kruk ... kruk ... kruk ... bunyi perut Jelly yang terdengar sampai ujung telinga Fox yang berdiri di sebelahnya.


" Tuh kan, perutmu minta diisi." tolehnya ke perut Jelly yang terbungkus dengan blazer berwarna merah muda.


Jelly yang malu setengah mati. Kepalanya hanya bisa menunduk dan jari-jari tangan kanannya menggaruk leher depan yang tidak gatal.


" Ayo! kamu nggak usah sungkan." lirih Fox berucap sembari melangkahkan kaki menuju hidangan yang akan dia ambil dan dia taruh di atas piring putih lebarnya.


Setelahnya untuk beberapa menit mereka sibuk mengambil menu yang tersaji di meja saji Hotel.


Jelly ternyata memiliki selera yang sama yaitu mengambil nasi goreng Hongkong dan omelette isi daging.


Sesaat setelah keduanya menaruh apa menu yang mereka ambil, mereka saling tatap untuk setengah detik an yang mungkin batin mereka bertanya. Kok sama.


Tapi Jelly langsung enyah dan menggeser kursinya. Menaruh pantatnya di atas kursi, meneguk jus apel yang sudah sedari tadi ingin dia teguk penghilang dahaga pagi.


Fox yang sesaat teringat istrinya di rumah. Setiap pagi, Tamarin selalu menyiapkan nasi goreng dengan berbagai macam versi dan juga omelette dengan berbagai isi berganti setiap harinya.


Namun karena sarapan pagi ini terbilang buru-buru, dia melupakan sejenak istrinya. Nanti saja dia akan mencoba menghubungi Tamarin setelah meeting usai.


Fox melihat wajah Jelly yang seperti menanggung beban berat. Fox memang tidak mengingat banyak tentang Jelly. Tapi seingatnya, orang tua Jelly cukup berada dan saat SMP dulu, setahu Fox, Ayahnya bahkan memiliki sebuah Hotel di kota Bandung ini. Tapi entahlah. Fox bahkan tidak melihat satu buah mobil pun, sebagai alat transportasi Jelly ke kantor.


Sepasang matanya tidak berhenti memandangi aktivitas Jelly yang sedang asyik menikmati makan pagi.


" Biasanya, kamu naik apa? kalau pergi ke kantor." Fox yang memberanikan diri untuk bertanya kepada Jelly yang sepertinya tertutup.


Membuat mulut Jelly berhenti dari aktivitas menghaluskan nasi goreng dan juga omelette untuk masuk ke dalam perutnya.


Sepasang matanya menatap pria yang sudah memakai cincin di jari manisnya. Sesekali matanya mencuri pandang ke arah jari manis sebelah kanan yang tersemat cincin melingkar itu. " Aku jalan kaki." jawab Jelly yang kemudian tangan kanannya mengambil gelas kosong di depannya dan bangkit dari duduknya lalu pergi mengisinya kembali dengan jus apel.

__ADS_1


Sudut mata Fox yang melirik ke arah wanita yang tengah mengisi gelasnya dengan jus apel kembali.


Isi kepalanya jelas bertanya, apa yang sebenarnya terjadi dan dia lewati semenjak saling tidak ada kabar berita dari satu sama lain. Membuatnya penasaran dan siapa tahu jika ini menyangkut masalah keuangan, siapa tahu dia bisa membantunya. " Maaf sebelumnya, mungkin ini masalah privasi ... " Fox yang belum selesai bicara namun Jelly menyelanya.


" Pukul delapan kurang lima belas menit. Sebentar lagi meeting, bukan kah seorang bos besar harus mencotohkan datang tepat waktu kepada bawahannya?" delik mata Jelly yang membuat Fox malu atas sikapnya.


Fox hanya bisa mendengus pelan. kemudian bangkit dari kursinya dan berdiri menunggu Jelly mengambil tas di kursi kosong sebelahnya.


Mereka kemudian berjalan keluar menuju dimana mobil terparkir. Tidak ada pertanyaan lagi yang keluar dari mulut Fox.


Setelahnya mereka sampai kantor pun, keduanya langsung bergegas masuk ke ruang meeting.


.


.


Sementara di rumah besar tepatnya di ruang makan. Nyonya Mint yang meminum obat sakit kepala setelah memakan sarapan paginya.


" Kamu kenapa?" tanya Tuan Kino kepada istrinya.


" Dari semalam kepala ku berdenyut. Semalam juga aku sudah beli obat di apotik ujung jalan. Tapi sepertinya, belum reda juga." Nyonya Mint yang sedari tadi memijit pelan kedua pelipisnya.


" Tidak usah yah." Nyonya Mint yang menggelengkan kepala.


" Kalau begitu sebaiknya kamu tidak usah pergi ke kantor." kata Tuan Kino lagi kepada Nyonya Mint.


" Tidak yah, aku harus tetap pergi ke kantor. Biar aku suruh supir antar jemput aku. Aku berangkat dulu ya." Nyonya Mint yang bangkit dan menggeser kursi meja makan dan mencium punggung tangan suaminya, begitu juga dengan Tuan Kino yang mencium kedua pipi istrinya itu.


Sementara Tamarin hanya bisa memperhatikan percakapan mereka.


Nyonya Mint yang melangkah pergi ke halaman rumah dan memanggil supir pribadinya untuk mengantarkan nya ke kantor.


" Antarkan saya ke kantor ya pak, saya kurang enak badan. Tapi saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya." perintah Nyonya Mint kepada salah seorang supir pribadinya.


Ini nih, yang begini ini ... bisa membuat pria haus belaian. Nyonya sibuk amat, sampai lupa kepada Tuan besar. Sudahlah, bisa perang dunia ketiga jika Tuan Fox dan Nyonya Mint tahu jika suaminya lebih perhatian ke menantunya. gumam supir pribadi yang sedikit banyak tahu jika Tuan besarnya begitu memberi perhatian berbeda dan sedikit berlebihan ke menantunya.

__ADS_1


Terlebih mereka suka terang-terangan dan seolah tidak berkompromi tempat untuk mengekspresikan cinta mereka.


Apalagi kata beberapa asisten yang ada di dalam, terutama bagian dapur. Sering sekali, Tuan besar memperlakukan menantunya itu begitu spesial seperti keduanya menjalin sebuah hubungan.


Namun itu hanyalah rumor yang belum terbukti dengan tindakan nyata dari keduanya yang tertangkap basah kepalang oleh Nyonya Mint ataupun Tuan Fox sendiri.


" Kenapa diam?" tanya Nyonya Mint sedikit heran, mengapa supir pribadi rumahnya malah mematung seperti melamun tidak berhenti menatap nya.


" Maaf Nyonya, saya hampir lupa. Mobil yang biasanya dipakai untuk mengantarkan seluruh penghuni rumah sudah saya antarkan ke tempat servis mobil kemarin sore. Karena waktunya servis."


" Oh, kalau begitu pakai mobil saya." Nyonya Mint yang langsung berjalan menuju ke arah mobilnya yang bersebelahan dengan mobil Tuan Kino.


Tapi baru saja sampai di depan ban belakang mobil milik Nyonya Mint. Keduanya memberhentikan langkah heran dengan sedikit menunduk melihat ke arah ban mobil belakang.


" Sepertinya ban belakang bocor Nyonya." kata supir pribadinya yang jongkok melihat dan memastikan ban mobil tersebut benar-benar bocor.


" Iya, padahal semalam juga tidak papa." jawab Nyonya Mint dengan sesekali memegangi pelipisnya. " Kalau begitu kita pakai mobil bapak aja." Nyonya Mint bahkan sudah menyandarkan pinggangnya ke body mobil suaminya.


" Baik Nyonya, akan saya tanyakan kuncinya kepada Tuan besar."


" Iya." jawabnya lirih.


Tidak lama supir pribadi kembali membawa sebuah kunci mobil di tangan.


" Silahkan Nyonya." supir pribadi yang membukakan pintu mobil bagian tengah tepatnya di belakang persis kursi penumpang bagian depan. Yakni jok dimana Tamarin duduk semalam pulang dari apartemen bersama kembaran Brad Pitt.


Nyonya Mint masuk mobil dan langsung menyandarkan kepalanya. Sementara sang supir berjalan menuju kursi kemudi dan betapa terkejutnya dia. Sepasang matanya membulat sempurna. Mendelik ke arah jok depan tepat dimana Nyonya Mint duduk.


Terdapat sebuah tas hitam dan berserak lipstik yang keluar dari tempatnya. Astaga Tuan Besar, kenapa mainnya kurang cantik sih. gumamnya dalam hati.


" Ayo pak, jalan! keburu siang." perintah Nyonya Mint yang kembali menyandarkan kepalanya.


" Oh, iya Nyonya." Dengan cepat sang supir masuk dan duduk di kursi kemudi. Melajukan mobil dengan kecepatan pelan keluar dari gerbang pagar tinggi yang menjulang.


Sang supir hanya deg-degan tidak karuan, kalau tetiba Nyonya besar tahu jika ada sebuah tas hitam tak bertuan tertinggal di mobil Tuan.

__ADS_1


Sesekali melirik ke arah Nyonya besar dari balik spion yang tergantung di bagian tengah mobil. Sedikit lega, karena Nyonya hanya menyandarkan kepalanya dan sesekali memejam kan mata karena kurang enak badan.


BERSAMBUNG


__ADS_2