
Ita masih membututi Jelly sampai akhirnya mobil Jelly masuk di sebuah kawasan apartemen.
" Jadi kamu tinggal di sini Jelly." lirih Ita yang sepasang matanya tertuju terus kepada Jelly yang turun dari mobil dan menuju loby hingga benar-benar dapat dipastikan jika Jelly benar-benar tinggal di apartemen tersebut.
Ita langsung menghubungi Fox. Fox pun merasa lega akhirnya Ita dapat menemukan tempat tinggal Jelly. Membuat Fox yang masih di kantor langsung bergegas ke apartemen yang diberitahukan oleh Ita.
Mobil Fox dengan cepat melesat hingga akhirnya dia sampai pada tempat dimana Jelly tinggal.
Fox turun dari mobil dan segera menuju loby. Bertanya pada seorang resepsionis dan akhirnya memberi tahu di lantai berapa Jelly tinggal.
Fox dengan cepat menuju lantai tersebut, bahkan sekarang dia sudah berdiri di depan pintu apartemen Jelly. Satu sampai dua ketukan pada pintu apartemen akhirnya berhasil membuat Jelly membuka pintunya.
" Fox." Jelly yang terkejut tidak percaya jika Fox kini berdiri di hadapannya.
" Jelly." Fox terlihat bingung mengapa hubungannya dengan Jelly terlihat kaku. Biasanya sangat mudah mengajak Jelly bercengkrama bahkan melempar canda padanya. Tapi malam ini, bibir nya terasa kelu mengingat Jelly sudah menjadi kekasih pria lain.
Sangat berasa sekali jika dia dan Jelly seperti terhalang bukit panjang yang membuat jarak antar keduanya tidak seperti dulu lagi.
" Apa kamu tidak mempersilahkan aku masuk?" Fox yang sangat berhati-hati mengatur kata yang keluar dari mulutnya. Takut ada yang salah saat emosi dia waktu itu tak terkendali hingga membuat Jelly kini pergi bahkan terlihat menaruh benci.
" Masuk." Jelly yang membuka pintu apartemennya lebih lebar. Dia pun mengambil minuman untuk Fox dan mempersilahkan Fox meminumnya.
" Apa kamu masih tidak ingin kembali?" tanya Fox dengan tatapan penuh harap supaya Jelly kembali bekerja di kantornya bahkan tinggal kembali di apartemennya.
Jelly tersenyum tipis. " Rasanya begini lebih baik bukan?"
" Jelly aku mohon, banyak sekali yang ingin aku ceritakan kepada mu. Dan aku butuh kamu. Aku mohon kembalilah." Fox yang tidak berhenti memohon kepada Jelly.
" Sudah lah Fox, sudah malam. Aku tidak ingin menjadi pemicu dari keributan mu dengan istri mu."
" Kamu salah besar Jelly, bukan kamu lagi masalahnya?"
Membuat Jelly dahinya berkerut, menatap Fox serius, karena untuk kedua kalinya membuat penasaran seperti yang dia sampaikan saat pertama kali Fox memintanya kembali.
" Lalu?" tanya Jelly menggebu menginginkan jawaban dari mulut Fox.
" Panjang dan sangat rumit ceritanya. Dan aku masih menunggu satu hal lagi. Satu hal yang akan membungkam mulut mereka untuk tidak mengelak lagi atas hubungan keduanya." Penjelasan Fox yang masih membuat Jelly tidak mengerti.
" Aku tidak mengerti."
__ADS_1
" Nanti kamu pasti akan mengerti. Jadi aku mohon, kembalilah!" Fox yang berusaha mendekatkan duduknya lebih dekat dengan Jelly. Menatapnya kembali dan berusaha mengajak Jelly untuk tidak memberi jarak padanya seperti saat ini.
" Aku akan pikirkan, sekarang pulanglah!" seraya bangkit dari duduknya lalu berdiri dan menyuruh Fox untuk pergi. Meskipun batinnya sangat berbeda dari ucapannya. Jujur dia ingin Fox lebih lama dengannya seperti dulu. Tapi rasanya, bukan waktu yang tepat untuk hubungan yang tidak jelas antar keduanya kembali baik-baik saja.
Fox mendengus. Bisa mengerti apa yang dirasakan Jelly. Tidak memberinya sebuah kepastian hubungan. Hubungan yang mengalir layaknya seorang teman dan membuat nyaman keduanya hingga bahkan Jelly tidak memikirkan seorang pria tatkala dekat dengannya.
Namun serasa tidak adil bagi Jelly. Saat bahkan dia sudah menjauh dari kehidupannya dan bertemu dengan seorang pria seperti Davos, malah membuat Fox baru terasa jika dia benar-benar membutuhkan Jelly saat ini.
Padahal selama enam tahun Jelly sudah dengan sabar menghadapinya semenjak kehadiran Candy. Namun bahkan dia sendiri yang sudah membuat Jelly pergi darinya.
Setelah cukup panjang Fox merunut semuanya dan terdiam. Barulah dia berkata. " Ya sudah, abaikan semua permintaan aku. Mungkin lebih baik seperti ini. Selamat ya, kalau kamu sudah mendapatkan tambatan hati." Fox yang kemudian pergi dari hadapan Jelly. Memasukkan kedua tangan untuk sembunyi di balik celana melipis nya.
Sedikit kecewa baginya, tapi tidak pada Jelly yang terlihat baik-baik saja. Fox tanpa ragu dan ini adalah terakhir kalinya dia membujuk Jelly. Mengingat masih banyak hal yang dia harus selesaikan dengan Tamarin berikut rencana rumah tangganya ke depan.
.
.
Selepas makan malam Fox akhirnya sampai pada rumah besar.
Cukup terkejut karena ada seorang Dokter keluarga yang baru saja menuruni anak tangga bersama ayah dan ibunya.
" Siapa yang sakit?" tanya Fox kepada ketiganya.
Berlanjut dengan Tuan Kino yang mengantarkan Dokter sampai pada pintu utama.
Berbeda dengan Nyonya Mint yang mengajak putra kesayangannya berbicara di taman belakang yang berdekatan dengan kolam renang.
Belum sampai langkah Nyonya Mint untuk sampai pada kursi rotan yang berada di pinggir kolam renang. Fox sudah mengeluarkan pertanyaan. " Ada apa Bu?"
" Ibu yang harusnya bertanya pada mu? Ada apa kamu dan Tamarin? Apa kalian bertengkar? Lama sekali Fox kamu bertengkar nya dengan istri mu? Dari Candy bahkan kecelakaan gara-gara kamu, sampai sekarang dia bahkan sudah pulih dan masuk sekolah, kamu bahkan masih marah dengan Tamarin." Nyonya Mint panjang lebar berusaha supaya Fox meredam kemarahannya dengan Tamarin. " Kasihan dia, sekarang dia sakit dan semua gara-gara sikap mu kepadanya," imbuh Nyonya Mint.
" Bu ... " seraya berjalan lebih dekat kepada ibunya namun Fox masih kelu bibirnya ingin mengatakan sesuatu hal yang menurutnya belum waktunya. Fox akhirnya berusaha mengunci mulutnya. Entah sampai kapan dia sendiri juga tidak tahu? Tanpa bertindak dan hanya diam mengetahui hal-hal yang jelas-jelas sudah mencurigakan.
" Kenapa?" Nyonya Mint berusaha meminta Fox melanjutkan apa yang sepertinya ingin putranya sampaikan.
Sementara Tuan Kino yang langsung menghampiri keduanya. Mengajak Nyonya Mint untuk pergi ke kamar dengan dalih menyuruh Nyonya Mint memijat tengkuk leher dan kepalanya yang terasa berat.
Tentulah itu alasan belaka. Dia tidak ingin Fox memberi tahu kepada ibunya tentang kecurigaan Fox padanya dan Tamarin. Tuan Kino akan berusaha keras supaya Fox tidak mengatakan hal yang menjadi prasangkanya kepada Nyonya Mint.
__ADS_1
.
.
Fox yang kemudian naik ke kamarnya.
Melihat Tamarin terjaga dalam tidurnya. Jujur ingin sebenarnya sekedar menyentuhkan telapak tangan pada dahi Tamarin. Namun bersamaan dengan itu, pengkhianatan yang dilakukan istrinya membayang dalam ingatan.
Berikut dengan berbagai alasan yang keduanya coba mainkan dengan apik. Dan juga kebohongan-kebohongan yang semakin terlihat jelas. Semuanya itu membuat Fox memilih enggan untuk sekedar memberikan perhatian kepada Tamarin.
Kekecewaannya terlanjur dalam. Dan saat-saat ini adalah dimana saatnya dia perlahan membuktikan satu persatu yang coba keduanya sembunyikan.
.
.
Dimana malam berganti dengan pagi.
Fox bahkan acuh dan tidak peduli terhadap Tamarin yang bahkan untuk bangkit dari tempat tidur saja rasanya sulit.
Dia hanya menatap istrinya yang berusaha keras menguatkan kaki dan tubuhnya yang sangat lemah.
Ingin sekali Fox membantunya, namun hanya rasa kecewa yang dia dapatkan tatkala Fox memilih keluar kamar dan berangkat kerja.
.
.
Di rumah sakit.
Fox yang sudah tidak sabar ingin membuka hasil tes pemeriksaan DNA Candy dengan nya.
Masih berada di rumah sakit dan duduk di kursi tunggu rumah sakit seraya menguatkan dada saat perlahan jemari kanannya membuka map yang berisi hasil pemeriksaan tes DNA Candy dengan nya.
Tidak cocok. Dua kata yang langsung dia arahkan pada kedua bola matanya untuk membaca nya berulang-ulang.
Tidak kuasa, meskipun dia sudah memiliki keyakinan jika Candy memang bukan putrinya. Namun tetap saja. Hatinya remuk seketika. Jantungnya terasa sakit dan tidak kuasa air mata pun menetes dari sudut mata.
Berusaha untuk mengulang kembali dalam membacanya. Namun hal serupa tetap di dapatnya. Kata sederhana yang cukup membuat nya terguncang hebat. Terlebih sebentar lagi akan membuat rumah tangganya karam.
__ADS_1
" Candy bukan putriku?" Pertanyaan pelan dan hanya dia yang bisa mendengarkan. Terasa begitu menyakitkan. Terlebih kedekatannya dengan Candy, begitu sangat disayangkan jika nantinya Candy mengetahui jika dia bukan papanya.
BERSAMBUNG