
" Kemana sih suami kamu itu? Apa kerja itu tidak boleh mengangkat telepon." geram sang mertua Milk yang hampir puluhan kali menghubungi menantunya namun tidak di angkatnya.
" Aaa, sakit Bu ... sakit." keluh Ita yang mengelus perutnya yang sudah besar itu. Dengan menarik nafas dan membuangnya kembali sepertinya Ita sudah tidak tahan jika jabang bayi dalam perutnya seperti akan mendesak untuk keluar.
" Ita." teriak sang ibu. " Kita bawa ke rumah sakit saja pak. Sepertinya Ita akan lahiran." ucap sang ibu Ita kepada ayahnya.
" I-iya Bu." panik ayah Ita.
" Pelan-pelan Ita." Ibu dan ayah Ita yang berusaha menuntun Ita untuk berjalan naik ke dalam mobil.
Ita yang menangis karena rasa sakit yang hebat pada perutnya. Terlebih suaminya Milk tidak mengangkat telepon dari ibunya. Membuat jiwa manja nya keluar dan terus memanggil-mangil nama suaminya.
" Sakit Bu ... sakit." keluh Ita yang mengeluarkan keringat dari dahinya. Padahal AC dalam mobil juga sudah tinggi, namun itu tidak menghentikan pori-pori bagian kulit untuk terus mengeluarkan keringat bercucuran.
" Sabar Ita ... sebentar lagi ya Ita." Ibunya Ita yang panik namun tetap menenangkan putrinya. " Ayo yah ... cepat sedikit yah." pinta ibu Ita kepada suaminya.
" Iya Bu." Pria tua itu menambah kecepatan dengan pikiran yang tidak tenang akibat mendengar tangis Ita yang kesakitan. Hingga menyetirnya pun tidak konsentrasi dan hilang pengendalian.
" Awas yah." teriak sang ibu Ita karena tahu jika mobil yang ditumpanginya akan bertabrakan dengan sebuah mobil truk besar.
Ita yang kemudian matanya membulat dan menegang seketika. " Aaa." teriaknya dan teriak ayah dan ibunya yang menggempar bertumpu menjadi satu, namun sayangnya tabrakan itu tak terelakkan.
Duar
Kedua body truk dan mobil yang saling ber hantaman. Kecelakaan kedua buah kendaraan itu tak terelakkan. Mobil yang dikendarai oleh ayah Ita ringsek tak berbentuk. Ayah dan Ibu Ita tidak terselamatkan. Mereka meninggal di tempat sebelum mendapat pertolongan.
Ngiung
Ngiung
Mobil ambulans yang lebih dari satu berdatangan menuju ke tempat kejadian. Sementara Ita, Sekujur tubuhnya berlumur dengan darah.
Ita diberikan pertolongan dan dengan cepat untuk di bawa ke rumah sakit di kota Bandung.
__ADS_1
.
.
Sementara di Jakarta, tepatnya di sebuah rumah sakit ternama.
" Kamu sudah sadar sayang." Fox membelai lembut kening dan juga pipi kanan dengan tatapan manis ke wajah istrinya Tamarin.
Tamarin tersenyum manis dan sangat bahagia Fox memberikan nya perhatian disaat dia bangun dan membuka matanya.
" Kamu jangan buat aku cemas lagi ya." jarak wajah mereka yang sangat dekat dan terlihat mesra jika dilihatnya. Membuat siapa pun pasti akan iri dengan cara Fox memperlakukan istrinya.
Untung saja kembaran Brad Pitt yang menjadi kekasih gelapnya tidak ada. Jika ada, mungkin saja keromantisan sepasang suami istri itu buyar seketika atau bahkan tidak pernah terjadi.
" Kamu tahu, aku cemas dan khawatir dengan kondisi mu tadi pagi." ujar Fox yang mencium jari-jari Tamarin dalam genggamannya. Namun begitu dia lakukan tanpa memalingkan wajahnya dari tatapan retina mata istrinya.
Membuat Tamarin tersenyum manja hingga pipinya merona. Merasa lebih dari kata bahagia yang dia dapatkan ketika mendapat perhatian dari suami tercintanya.
.
.
Milk hanya duduk di sisi tempat tidur pasien. Dimana wajah Jelly begitu dekat dapat dia saksikan. Dan bisa saja dia sentuhkan jarinya untuk sekedar rindu pernah mengelus rambut pada puncak kepalanya.
Namun dia mengurungkan niatnya itu. Dia memilih memandangi setiap inci bagian wajah mantan kekasihnya itu. Yang Milk tahu jika Jelly membuka matanya, dia pasti akan meradang dan bisa saja menamparnya.
Terlebih jika dilihat sakit hatinya Jelly. Sudah jelas tanpa ampun dan tiada maaf baginya dan Ita. Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba memperbaiki hubungan untuk kembali baik kembali. Hanya sekedar teman bercerita tanpa perasaan apa-apa mungkin akan bisa.
Jelly yang hidungnya masih terpasang alat yang memberinya oksigen. Perlahan matanya terbuka dan jari-jemarinya bergerak perlahan.
Samar-samar retina matanya melihat sosok pria yang duduk di sisi tempat tidurnya. Retina mata kembali memperjelas siapa sosok pria itu sesungguhnya.
" Milk." lirihnya lemah. Meskipun terpasang infus di tangan kanannya.
__ADS_1
" Jelly, kamu sudah sadar." Milk yang tersenyum senang karena akhirnya Jelly tidak menjadi korban akibat sebuah kecerobohan.
" Aku dimana?" masih dengan nada yang lemah dan ingatan yang sepenuhnya belum jernih.
" Kamu di rumah sakit. Kamu tenang ya. Sebentar lagi dokter akan datang." Milk yang sudah memencet tombol panggilan kepada perawat.
Tidak lama perawat datang dan langsung memanggil dokter. Dokter kemudian memeriksa Jelly.
" Bagaimana Dok?" tanya Milk setelah dokter usai memeriksa kondisi Jelly.
" Ibu Jelly tidak apa-apa. Hanya masih trauma dan butuh istirahat. Meskipun kondisinya baik-baik saja, saya sarankan lebih baik untuk pulang besok saja." ujar Dokter.
" Kamu dengar sendiri Jell, dokter bilang apa?Kamu harus istirahat dulu dan bermalam di rumah sakit untuk malam ini."
Jelly hanya mengangguk mengisyaratkan dengan kedua matanya yang berkedip.
Setelahnya dokter keluar, makanan dari rumah sakit pun tidak lama masuk diantar oleh petugas.
" Aku suapin kamu ya Jell." pinta Milk yang tidak mungkin dia tolaknya. Ketakutan dalam kepalanya masih teringat jelas saat dia terjebak dalam lift tadi. Mustahil, jika dia memasang wajah benci kepada pria yang berusaha meminta maaf kepadanya.
" Terimakasih ya." ucap Jelly dengan lirikan sudut matanya yang masih belum berani menatap wajah Milk secara dekat.
" Sama-sama. Aku juga minta maaf, karena kejadian ini terjadi di kantor ku." Milk yang merasa berdosa sekaligus menyesal mengapa tadi tidak tetap saja mengantar Jelly sampai lantai dasar. Jika saja dia tadi mengantar Jelly sampai loby, mungkin peristiwa ini tidak terjadi.
Satu suapan pun mendarat ke dalam mulut Jelly. Jelly mulai berani menatap wajah pria yang pernah mengisi seluruh bagian dari hatinya. Tiga tahun menjalin suatu hubungan bahkan hampir menikah, tidak mungkin dengan mudah rasa itu hilang begitu saja.
Bahkan sampai detik ini, dia pun sejujurnya masih tidak rela jika pria yang kini ada di depannya menikahi sahabatnya sendiri. Terlebih mereka akan memiliki anak dan pasti akan menambah keharmonisan rumah tangga mereka.
Tidak Jelly! kamu jangan terus membenci dia.
Lihat! semakin kamu membenci dia, dia bahkan menolong mu dan menyelamatkan jiwa mu yang hampir saja tidak ada.
Lupakanlah sakit hati mu itu Jelly!
__ADS_1
gumam Jelly menasehati dirinya sendiri.
BERSAMBUNG