Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua

Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua
Semua Usaha Ayah Milk Tutup & Bangkrut


__ADS_3

" Kita kan bisa membawa ibu, ayah, kak Happy dan mas Dent untuk tinggal di rumah kita Honey." celetuk Ita disela-sela makan nya.


Ada rumah milik orang tua ku juga, jika orang tua mu mau, mereka bisa ditinggal disana.


Sementara pria tampan berambut ikal alias Dent suami Happy itu memberanikan diri untuk masuk kamar. Meskipun Milk sudah melarangnya untuk menjauh sementara dari kakak perempuannya. Namun Dent mau kemana lagi selain ke kamarnya.


Setelah menutup pintu kamar, dia tahu jika Happy istrinya sedang duduk menangis menyembunyikan wajahnya di tepi ranjang.


Dent kemudian melangkah pelan mendekati dan bersimpuh di kaki istrinya. " Aku minta maaf." hanya kata tersebutlah yang bisa dia katakan atas kekhilafannya telah mencuri dan menggadaikan sertifikat rumah kelurga.


Happy yang tahu jika dihadapannya sudah ada suaminya, dia tidak berhenti memukul dada bidang milik suaminya. Pukulan bertubi-tubi dan kebencian Happy pada tindakan suaminya itu dibalas dengan pelukan erat dari sang suami yang berusaha mendapat maaf dari istrinya dan mencari jalan keluarnya.


Hingga Milk dan Ita pun dibuat terkejut dengan cekcok mulut di dalam kamar mereka. Namun Dent memberi kode kepada Milk bahwa dia tidak apa-apa dan hanya ingin bicara dengan kakak perempuannya dari hati ke hati.


Milk kemudian membiarkan mereka berbicara berdua. Milk kemudian lanjut mengantar Ita istirahat di kamar. Namun tidak dengan dia yang ingin lebih dulu menengok ibunya yang sedang berada di dalam kamarnya.


Milk yang menghampiri kamar ibunya dan berhenti tepat di depan pintu. Mengetuk pintu dan di jawab suara serak dari dalam. Milk kemudian membuka pintu dan perlahan masuk melangkah menuju wanita paruh baya yang sedang menyeka jejak basah di kedua pipinya.


" Milk." lirih wanita paruh baya yang kemudia memeluk putranya.


Milk pun yang duduk disamping ibunya berusaha menenangkannya. " Ibu yang kuat ya, ibu jangan sakit. Kita sedang banyak ujian. Kasihan ayah nanti." kata Milk kepada wanita paruh baya yang masih memeluknya.


Wanita paruh baya itu melepaskan pelukannya dari putranya. Menyeka jejak basah yang tak mungkin kering dalam waktu yang singkat. " Terus kita mau tinggal dimana? rumah kamu dan Ita sudah di jual untuk biaya rumah sakit istri mu." ucap sang ibu pasrah dengan hidupnya.

__ADS_1


" Ibu tenang ya, tadi aku sudah bicara sama Ita. Ita menawarkan kita tinggal di rumah kedua orang tuanya. Jadi ibu jangan bersedih lagi." tatap putra kepada sang ibu.


" Kamu tahu, rumah ini lebih dari tiga puluh tahun ibu tempati bersama ayah kamu." Wanita paruh baya yang mencoba bangkit dari duduknya dan berjalan menyentuhkan tangan ke pinggir jendela yang terbuka lebar. Bola matanya tidak lepas menggeser mengitari semua sudut halaman yang sepenuhnya di tanami pohon-pohon besar nan rindang. " Kenapa Dent suami kakak mu begitu tega melakukan ini pada kelurga yang sudah menampungnya? ibu tetap tidak rela Milk jika rumah ini disita oleh Bank." air mata bening itu lagi-lagi keluar lagi tanpa bisa berhenti.


Milk yang kemudian bangkit dan melangkahkan kaki ke posisi dimana ibunya berdiri tidak jauh dari ranjang. Menyentuh lengan wanita paruh baya dengan kerudung yang sudah tak rapi lagi. Milk menarik nafas panjang kemudian mengeluarkannya. " Nanti kita perbaiki nasib keluarga kita pelan-pelan ya Bu." kata Milk menenangkan ibunya.


.


.


Malam pun akhirnya tiba. Dimana pria tua itu melajukan mobil yang dikendarainya untuk memasuki halaman rumah. Memarkirnya di bawah pohon besar yang tidak jauh dari depan rumahnya. Tampak sekali dari raut wajahnya kacau dan seperti ada hal besar yang sedang dia pikirkan.


Sementara Milk dan Ita berikut ibunya sedang berada di meja makan. Ibu Milk menyempatkan memasak seadanya dengan sayur yang tersisa di lemari pendingin.


" Malam yah." hanya Milk yang menjawab.


Sementara pria tua itu memperhatikan istrinya yang tak bersemangat dan tertunduk lesu di meja makan. Sedikit heran mengapa suasana hening terlebih juga Happy dan suaminya tidak biasanya tidak berkumpul untuk makan bersama. " Ada apa? Dimana kakakmu dan suaminya? Mengapa tidak kumpul makan bersama?" tanya yang langsung dia lontarkan dari mulutnya kemudian melepas jaket kulit hitamnya dan membungkusnya ke bagian puncak kursi makan.


" Rumah kita disita oleh Bank." sedih istrinya yang tidak bisa menahan air mata.


" Hah," terkejut nya pria tua itu hingga berhenti sejenak dari yang harus nya dia duduk, setelah menggeser kursus makan. Namun dia kembali berdiri. Dia menatap serius wajah putranya.


" Mas Dent, suami kak Happy menggadaikan sertifikat rumah ini tanpa sepengetahuan kita semua." sahut Milk menjelaskan kepada ayahnya.

__ADS_1


Pria tua yang disebut Milk sebagai ayah itu kemudian menegangkan kedua bola matanya. Nafasnya berubah sesak seketika diikuti dengan rasa tidak percaya. " Apa kamu bilang?"


" Iya, mas Dent tidak bisa membayar uang cicilan hingga jatuh tempo dan akhirnya dalam satu minggu ini, kita harus mengosongkan rumah." Milk menambahkan.


Membuat pria tua yang meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja itu kemudian tertunduk lesu. Masih untung dia tidak terkena serangan jantung mendadak. " Ayah juga ingin katakan. Usaha bidang logistik kita tutup karena gulung tikar."


Membuat pasang mata dari istri, putra dan menantunya itu shock bukan main. Semua mata bulat penuh mereka tertuju pada sosok pria tua yang masih tertunduk lesu. Pria tua itu kemudian duduk dan berusaha menenangkan jiwanya. Menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan berat dan itu terlihat nyata disaksikan oleh istri, putra dan menantunya.


" Kenapa bisa?" tanya Milk antusias.


" Bisnis logistik itu tidak luput dari uang pinjaman dari Bank. Cicilan macet karena setiap hari mengalami penurunan. Ayah bahkan menghabis kan seluruh tabungan untuk menalangi biaya operasional satu tahun terakhir. Yang ayah pikir bisa kembali berkembang, namun sayang nya berbalik dan berakhir dengan kata tutup. Ayah sudah tidak bisa memperjuangkan puluhan karyawan." ayah Milk berusaha menjelaskan.


" Jadi? beberapa cabang kantor logistik ayah di tutup?" tanya Milk yang tidak percaya.


" Iya Milk."


Membuat wanita di sampingnya yakni istrinya bertambah pilu mendengar apa yang disampaikan oleh suaminya. Menangis kembali dengan menyentuhkan ujung kerudung pada bagian pipi kanannya untuk mengelap air mata yang berhenti mengalir sedari tadi.


Membuat Happy dan Dent yang mendengar penjelasan mereka bergerak cepat berjalan menuju meja makan menghampiri semuanya. " Apa yah? usaha ayah tutup semua dan kita bangkrut?" tanya serius Happy dengan rasa tidak percaya. Garis kerut pada dahinya muncul jelas jika dia sungguh tidak percaya dengan semua ini. Isak tangisnya menggema, kemudian Dent suaminya berusaha merangkulnya.


Suasana meja makan yang kacau karena tangis dahsyat Happy dan juga masing-masing dari penghuni rumah yang tidak dipungkiri menahan sesak dada dan terasa pilu menerima kejatuhan dan kemiskinan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2