Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua

Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua
Kebohongan Tamarin


__ADS_3

" Oh, bukan Tuan. Itu hanya mobil yang mirip saja dengan milik nona Tamarin." Sang supir pribadi yang sudah kong kalikong sama Tuan besarnya.


Bahkan Tuan Kino sudah berjaga-jaga menghubungi supir pribadi Fox di sela-sela kepanikannya saat tahu jika Fox berjalan beriringan dengan Candy di halaman sekolah.


Iming-iming uang besar segera mengalir di rekeningnya jelas siapa yang mau menolaknya? Apalagi itu perintah dari Tuan besar, jelas ketimbang leher dipenggal dan dipecat, apa daya? maafkan aku Tuan Fox.


" Oh, ya sudah. Jadi itu bukan mobil Tamarin?" ulangnya untuk lebih meyakinkan.


" Bukan Tuan." Meskipun di dalam hati ingin berteriak. Iya itu mobil nona Tamarin Tuan. Sang supir yang sesekali melirik ke arah Tuannya dari spion yang tergantung di dalam mobil. Dalam batinnya cukup kasihan, tapi apa daya? Itu urusan mereka dan bukan urusannya.


Fox pun tidak hentinya membelai rambut selembut sutra putrinya yang berada tepat dibawah janggutnya. Entah apa yang dipikirkannya hingga ingatannya membayang saat malam pertama dengan Tamarin.


Sungguh kacau pikirannya saat itu hingga dia merunut ulang penanaman benih yang dilakukannya di rahim istrinya. Seperti tidak ada kejanggalan, toh setelah malam pertama dan malam kedua dia memang habis-habisan melakukannya. Dan barulah saat itu dia pergi ke Bandung. Dan tidak ada hal yang aneh jika kepulangannya setelah itu diberikan kejutan berita Tamarin hamil. Kedua kelopak mata Fox menatap gamang ke arah jalan raya berkelok yang sudah mulai lengang. Saat mengingat semua runutan peristiwa sembari kelima jari kanannya membelai pelan rambut selembut sutra milik putrinya.


Krug ... krug ... krug.


Hingga terdengar suara perut Candy yang keroncongan yang akhirnya Fox memutuskan untuk menghentikan lamunannya. " Candy lapar?" tengoknya kepada putrinya yang sudah tersenyum lebar dengan pipi merah merona.


" Hihihi ... iya papa." Candy yang menahan rasa malunya sembari menahan riak tawa.


" Sebentar lagi kita sampai rumah sayang. Habis itu kita makan siang sepuasnya." Nada akhir kalimat Fox yang penuh antusias guna mengimbangi anak seusia Candy.


" Okay papa." lirikan dari mata amber itu mengikuti perintah dari pemiliknya.


Tin ... Tin


Mobil yang ditumpangi mereka pun akhirnya sampai di depan pagar tinggi menjulang. Mobil pun masuk melaju pelan setelah petugas keamanan membuka pintu gerbang hingga berjalan ke halaman menuju ke dalam garasi. Fox pun melirik mobil ayahnya yang terparkir tepat di samping supir memberhentikan mobil yang ditumpanginya. Namun dia tidak mendapati mobil istrinya.


Sementara Tamarin cukup stress karena saking panik dia harus berkata apa kepada suaminya. Ini adalah hal terbodoh sekaligus tergila yang pernah dia lakukan. Menatap mantap kembali jalanan setelah beberapa kali mengatur nafas.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama karena memang sekolah Candy hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai pada rumah besar.


Candy yang sibuk bermanja minta di suap oleh papanya setelah berganti pakaian sekolahnya. Sedang Tuan Kino mungkin sengaja memejamkan matanya karena kelelahan setelah berolahraga supaya Fox tidak begitu curiga. Sepertinya memang pasangan gila itu pintar bermain sandiwara. Bayangkan saja? Sampai usia Candy sudah enam tahun mereka bungkam dan tak seorang pun menaruh curiga terhadap mereka.


" A ... A ... Aem." Fox yang memainkan bibirnya menggoda putrinya saat menyuapinya makan siang.


" Ah papa." Candy yang merasa papanya jahil, karena mulutnya sudah dia buka. Eh ... ternyata papanya menjauhkan sendok makan berisi nasi plus lauk menjauh semau yang dia suka.


Alhasil pun gelak tawa beriak menggema saling bersahutan dari keduanya. Ditambah dengan Candy yang manyun-manyun bibirnya karena ngambek papanya usil terhadapnya.


Hingga hells setinggi lima senti yang dikenakan Tamarin menghasilkan suara.


" Mama." Panggil Candy yang menoleh ke arah Tamarin yang sudah dapat dipastikan jantungnya berdegup kencang tidak karuan.


Sementara Fox menatap heran dengan istrinya. Terlihat sedikit berantakan dan lipstiknya memudar tidak seperti biasanya yang menggunakan lipstik merah pekat atau warna menyala seperti hari biasanya.


Tamarin pun menata langkahnya. Mencoba menyembunyikan kegugupannya dan harus berhasil membuat Fox percaya.


" Iya ma, nggak apa-apa kok. Kan Candy sudah di jemput papa." Sepasang mata amber yang menggelitik dengan polosnya. Wajah Candy yang mendongak ketika Tamarin sedikit membungkuk dan membelai rambut sutra putrinya.


" Terimakasih ya sayang, kamu sudah jemput Candy."


" Iya sama-sama. Memangnya kamu dari mana? Trus ada apa dengan ponsel kamu? Kenapa aku telepon tidak di angkat?"


Pertanyaan Fox jelas membuat Tamarin semakin stres. Dia bahkan belum menyiapkan jawaban yang tepat atas keterlambatannya menjemput Candy hari ini.


" Semua ini gara-gara Loly, kamu ingat dia kan?" Tamarin yang asal aja menyebut nama sahabatnya yang dulu.


" Iya Loly, ada apa dengan dia? Bukankah kata mu dia menikah dan tinggal di luar negeri?"

__ADS_1


Dieng


Astaga.


Kenapa aku lupa?


Tamarin mulai terlihat panik namun dengan cepat dia mengatasinya. " Oh, iya ... ma-maksudku dia baru saja sampai di Jakarta. Makanya mendadak dia ingin mengajak ku bertemu." Sedikit gugup awalnya, namun kemudian Tamarin lancar jaya mengatakan nya.


" Apa kalian makan? Dimana kalian makan? Oh, maksudku ... Mengapa sampai kamu tidak dengar bunyi ponselmu?" Fox yang sebenarnya hanya ingin tahu mengapa Tamarin tampak pucat tanpa memakai lipstik dan terlihat sedikit berantakan.


Kenapa Fox bertanya sampai sedetail itu?


Apa dia curiga pada ku?


" Iya, tadi kita makan." jawab cepat Tamarin yang asal. Padahal perutnya sangat lapar setelah kehabisan tenaga buat bercinta ekstra maksimal. " Ponsel ku memang sepertinya rusak. Entahlah, atau aku lupa mengatur volumenya atau memang sengaja aku atur mode senyap." imbuhnya seraya membolak- balik ponsel pintarnya ditambah dengan dipencet-pencet asal tidak jelas oleh Tamarin.


Fox yang manggut-manggut mendengar penjelasan istrinya.


Sementara Candy sibuk memakan nasi dan juga lauk kesukaannya sampai habis tak bersisa tanpa memikirkan mama papanya membahas apa?


Tidak berselang lama, ponselnya mengeluarkan suara dan sepertinya tanda pesan masuk. Dan itu terdengar cukup kuat hingga telinga Fox. Dan Fox pun mulai berdehem seolah apa yang dikatakan Tamarin soal ponselnya yang kemungkinan rusak adalah alasan belaka.


Membuat Tamarin terkejut karena malu alasannya tidak koheren dengan kenyataannya. Kalau nada dering pesan saja, bunyinya mengalahkan sirine ambulan, masak iya nada dering panggilan di mode senyap.


" Itu bunyi?" Fox yang mengerjap kan kedua mata sembari menyangga janggut pada tangannya.


" Oh, iya ... ini ponsel memang aneh. Tadi tidak ada suaranya. Sekarang ada suaranya. Oh my God, sepertinya memang aku harus servis ini ponsel." Tamarin yang mengumpat dirinya sendiri di dalam hati. Merasa malu ketika alasan yang dia berikan kepada Fox sungguh terkesan di ada-adakan. " Aku ke kamar dulu ya sayang." Tamarin yang bangkit hendak meninggalkan meja makan. Namun Fox melihat jelas saat rambut Tamarin menyamping. Resleting punggung dari dress terusan press body span di atas lutut tanpa lengan milik istrinya itu terbuka cukup lebar dan tidak biasanya Tamarin tidak serapi itu.


Lagi-lagi membuat sepasang mata Fox tercengang. Pikirannya semakin tidak karuan. Bahkan detik itu pula, dia sudah berpikir macam-macam.

__ADS_1


" Tamarin." panggilnya.


BERSAMBUNG


__ADS_2