
Jelly yang berhenti langkah saat akan memasuki loby. " Fox." lirih Jelly yang hafal betul suara yang dia sebut pahlawan untuknya. Barulah dia menoleh ke sumber suara. Benar adanya. Pria itu sangat mudah bisa menemukannya meskipun dia sudah berjuang keras pergi bahkan resign dari kantornya.
Fox yang berusaha melangkah lebih dekat. Bersyukur masih bisa menemukan Jelly di Jakarta. Entah mengapa? rasanya sangat berdosa mengirim pesan yang ternyata sangat menyakitkan bagi Jelly.
Kini, keduanya saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Dengan mudah Fox sebenarnya sangat bisa meraih tangan Jelly dan mengajaknya pergi. Namun itu tidak dia lakukan. Mengingat Jelly juga memiliki hak untuk memilih perusahaan mana yang akan membuatnya nyaman bekerja.
" Aku minta maaf Jelly," lirih Fox yang jujur membuatnya merasa bersalah.
" Tidak apa-apa. Lagi pula aku juga sudah bekerja," ucap Jelly datar seolah dia baik-baik saja tanpa bantuan Fox.
" Apa kamu akan tetap bekerja di sini?"
" Kenapa memangnya? Bukankah aku pemicu kamu dan istri mu bertengkar."
" Hehm." Fox pun tersenyum menyungging. " Awalnya iya. Namun semakin kesini, aku semakin sadar siapa sebenarnya istriku. Ternyata banyak hal yang dia sembunyikan dari ku," ucap Fox sedikit getir membicarakan masalah rumah tangganya.
" Maksudnya?"
" Jawabannya, jika kamu kembali bekerja di kantor ku dan segera pergi dari kantor ini."
Jelly masih tidak mengerti apa maksud Fox. Namun tiba-tiba Davos membuyarkan kedua nya yang tengah berbicara serius.
" Hai sayang, aku mencari mu. Kamu ternyata di sini," ujar Davos seraya meraih tangan Jelly lalu menggenggamnya. Sebenarnya ingin dengan cepat mengajak Jelly pergi namun Davos yang sedikit banyak mengenal Fox saingan bisnisnya itu merasa tidak enak hati jika tidak bertegur sapa.
Glek
Membuat Jelly bingung. Tertegun dengan wajahnya yang berusaha mencari jawaban atas tindakan bos barunya itu.
Begitu juga dengan Fox. Kedua bola matanya bergeser ke arah sosok pria yang tidak asing pula baginya. Dia menggaruk pelipisnya berulang, tidak percaya jika ternyata Jelly begitu cepat menjadikan Davos kekasihnya.
" Hai Fox, apa kabar?" seraya mengulurkan tangan ke arah Fox.
" Kabar baik Davos," balas Fox menjabat tangan Davos.
" Sayang, kita masuk yuk!" seraya merangkul kan lengannya hingga bahu kanan Jelly dengan sangat erat.
Mambuat Jelly bertambah bingung seraya melirik ke tangan Davos yang kini berada di bahunya guna mengajaknya pergi.
__ADS_1
Jujur membuat Fox putus asa, karena ternyata Jelly sudah menjadi kekasih Davos Dan jelas tidak akan mau kembali bekerja di kantornya.
" Iya," jawab Jelly melirik menoleh ke Davos. " Aku masuk dulu," pamitnya kepada Fox.
" Okay." Jujur membuat Fox bingung. Yang hanya sekedar ingin meminta nomor ponsel saja kepada Jelly menjadi tidak leluasa karena ada Davos yang tidak bukan sudah menjadi kekasih Jelly.
Jelly sesekali masih menoleh resah ke belakang memandang Fox yang bahkan masih belum bergeming dari posisi berdirinya.
Sementara Davos melepaskan rangkulannya saat keduanya sudah berada di ruang kerja Davos. Keduanya bahkan sempat membuat sepasang mata para staf dan karyawan kantor tidak hentinya menjadikan pusat perhatian.
Namun dari keseluruhan orang kantor sudah cukup tahu jika bos besar mereka sering menggoda sekretarisnya sendiri. Dan Jelly bukan kali pertama yang diperlakukan Davos seperti itu.
" Sorry Jelly." Davos yang malah bingung sendiri bagaimana menjelaskan ke Jelly.
Harkatnya sebagai atasan yang tersemat penakluk para wanita seakan runtuh saat berhadapan dengan Jelly.
Namun jujur, cukup beberapa menit setelah Davos menimang-nimang. Tidak masalah jika harkatnya harus runtuh asal Jelly tidak berhenti bekerja dari kantornya dan kembali bekerja di kantor Fox.
" Em ... " Davos yang bolak-balik kebingungan sendiri menyampaikan kepada Jelly. Menggaruk kasar rambutnya. Menoleh ke Jelly dan berbalik memunggungi nya kembali. Dan itu dilakukan berulang hingga Jelly bosan.
" Sebaiknya aku pergi." Jelly yang hendak memutar langkah untuk segera keluar dari ruangan Davos.
Jelly akhirnya mengangguk kemudian pergi dari ruangan Davos.
Sepanjang dia setelah bertemu dengan Fox. Pikiran Jelly sedikit kacau. Pekerjaannya cukup terganggu tatkala terngiang ajakan Fox untuk kembali bekerja di kantornya.
Oh ya, kenapa Fox tadi bilang seperti itu ya?
gumam Jelly yan teringat ucapan Fox masalah istrinya.
.
.
" Apa? Jelly tidak mau berhenti dari kantor barunya?" Ita yang lagi-lagi dibuat terkejut jika mendengar berita tantang Jelly dari Fox.
" Aku butuh bantuan kalian berdua," lirih Fox seraya duduk di sudut meja kerja Ita dan melirik pula ke arah Milk, suami Ita. " Aku mohon, bujuk Jelly untuk kembali bekerja di perusahaan ini. Cepat Ita kamu temui dia!"
__ADS_1
Membuat Ita yang awalnya hanya berdiri dan tertegun, menjadi bereaksi lebih cepat dan segera keluar dari ruang kerjanya mengingat perintah Fox barusan.
" Jelly kenapa kamu bikin susah orang saja sih?" lirih Ita seraya berdecak saat memencet tombol lift untuk segera turun dan berbicara kepada Jelly dari hati ke hati.
Ita yang bersedekap di dalam lift meskipun sedikit kesal karena ulah Jelly dan akhirnya sedikit banyak menambah daftar pekerjaan dirinya.
Fox yang lagi-lagi tidak tenang berada di ruang kerjanya. Berdiri menghadap dinding kaca memandang jauh ke depan. Bimbang terhadap sikap yang harus dia lakukan kepada Tamarin saat di rumah. Jujur dia malas pulang dan enggan satu kamar dengan Tamarin. Sedikit demi sedikit kebenciannya tertanam kepada wanita yang sudah dia nikahi selama enam tahun itu.
.
.
" Sorry ... Sorry." Fox berusaha membantu mengambil barang belanjaan milik wanita yang tidak sengaja dia tabrak nya saat dia tengah berada di Mall. Kesibukan dia menghubungi Ita membahas masalah Jelly membuat dia tidak begitu konsentrasi tatkala dirinya dan seorang wanita yang berada di Mall bertabrakan.
" Terimakasih," ujar wanita yang jelas kaget bukan kepalang karena pria yang menabraknya ternyata adalah Fox, suami dari sahabatnya. " Fox," seraya terkejut dan kemudian memeluknya.
" Loly." Fox yang sama terkejutnya. " Waw, tidak sangka kita berjumpa di sini? Padahal rasanya baru kapan lalu kamu pulang dan mengajak Tamarin bertemu." Fox yang sangat bersemangat tanpa berpikir macam-macam.
" Pulang?" Dahi Loly yang sedikit berkerut karena tidak mengerti apa maksud dari kalimat yang disampaikan oleh suami dari sahabatnya itu.
" Iya. Bukankah seingat ku, antara dua bulan yang lalu kamu juga pulang dari luar negeri dan mengajak Tamarin bertemu?" jelas Fox kepada Loly.
Loly yang malah bingung dan tanpa pikir panjang pula langsung menyanggah. " Baru hari ini aku pulang Fox. Sebelum-sebelumnya tidak pernah. Bahkan aku belum bertemu dengan Tamarin," ujar Loly.
Fox yang terdiam. Lalu dengan cepat dia berusaha mengatakan sesuatu kepada Loly. " Oh, mungkin aku salah dengar saat itu Loly, abaikan! Oh ya, bagaimana kabar Pop juga? Lama sekali aku tidak mendengarnya dari Tamarin."
" Pop juga sama sekarang tinggal di luar negeri. Dia bahkan belum pernah pulang kembali setelah menikah dan punya anak."
Obrolan keduanya terputus saat pria bule mendekat dan mengajak Loly segera meninggalkan Mall.
Fox dan Loly pun saling mengucap kalimat perpisahan sebagai tanda persahabatan keduanya.
" Jadi benar dugaan ku? Saat dia terlambat menjemput Candy, kemungkinan dia ... " lirih Fox seraya mengingat kata per kata yang diucap oleh Tamarin sebagai alasannya waktu itu. Belum lagi ingatan Fox menyelam kembali jika memang saat itu wajah Tamarin berantakan bahkan tanpa lipstik dan resleting punggungnya terbuka.
Membuat kedua mata nya berkaca-kaca. Dadanya bergemuruh kembali jika mengingat ternyata dia di bohongi.
" Apa mereka melakukannya di Apartemen milik ayah?"
__ADS_1
BERSAMBUNG