
Di sebuah restoran mewah, Davos membawa Jelly untuk menikmati makan malam bersama.
Bukan pertama kalinya, Davos berlaku demikian kepada sekretarisnya. Melainkan ada beberapa sekretarisnya terdahulu yang pernah diajak kencan seperti yang saat ini dia lakukan kepada Jelly.
Entah mengapa? Davos sangat suka bermain-main dengan yang namanya wanita. Terlebih saat pertama melihat Jelly. Yang bahkan tanpa dia pasang umpan kepada sekretarisnya, Jelly sudah membuat kesalahan dengan tidak sengaja menabrak mobil bagian depannya.
Tanpa repot-repot dia membuat sekretarisnya merasa bersalah, yang akan mendapatkan hukuman dengan diajaknya berkencan atau sekedar menghabiskan waktu bersama. Atau banyak sekali keisengan dan kejahilan yang akan dilakukannya. Membuatnya sedih, menangis, senang dengan bersamaan seolah tengah mempermainkan perasaan wanita. Itu adalah hal yang sangat memuaskan hatinya. Ditengah stres mengerjakan semua pekerjaan kantornya.
Keduanya pun makan malam dan semakin dekat. Banyak sekali yang Davos pertanyakan kepada Jelly. Hingga keduanya tampak lebih akrab meskipun Davos masih saja ingin mengulik hal lebih dalam soal siapa Jelly sebenarnya.
.
.
Di rumah besar.
" Kemana ayah Bu?" Nyonya Mint yang tengah duduk seorang diri menikmati makan malam.
" Eh Fox, aku pikir kamu menginap di rumah sakit?"
" Enggak Bu, kemana ayah? Mengapa tidak menemani makan malam?"
" Oh, ayah kamu baru saja berangkat ke rumah sakit untuk menjenguk Candy."
Fox pun terdiam. Melanjutkan dengan menggeser kursi makan dan duduk. Memperhatikan terus wajah ibunya yang tidak sanggup mengatakannya jika benar pria yang dipanggil suami olehnya memiliki hubungan terlarang dengan menantunya.
" Kenapa Fox?" Nyonya Mint yang sadar jika putranya terus memperhatikannya. Mengunyah makan malamnya seraya menatap putranya.
" Tidak apa-apa Bu?"
" Ibu perhatikan kamu akhir-akhir ini murung. Ada apa?" Nyonya Mint yang mengambil gelas berisi air putih di depannya. Meneguknya dan mengembalikan lagi ke tempatnya.
" Tidak ada apa-apa Bu, hanya perasaan ibu saja."
Nyonya Mint tersenyum. " Berapa puluh tahun ibu mengenal mu Fox? Menyusui kamu, merawat kamu hingga dewasa, mana mungkin ibu tidak kerasa jika kamu terasa berubah dan sepertinya ada masalah yang kamu pikirkan?"
__ADS_1
Fox pun tersenyum, supaya menepis prasangka ibunya yang memang benar adanya. Namun tetap saja, rasanya sulit sekali memendam ini sendirian. Jujur disaat-saat seperti ini, harusnya dia bercerita kepada ibunya. Namun sayang, untuk permasalahan ini sepertinya dia akan tetap bungkam sampai semua benar-benar jelas dan terbuka.
" Aku ke kamar dulu ya Bu." Fox yang enyah dan pergi begitu saja meninggalkan ibunya yang pasti menambah pertanyaan dari wanita itu.
Sementara Nyonya Mint tidak bisa berbuat apa-apa. Ingin memanggil Fox dan memintanya tetap duduk menemani dia makan malam. Tapi dia sadar. Jika memang putranya tengah ada masalah yang dia tidak bisa bagi kepadanya.
Hanya bisa melihat punggung putranya dari kejauhan dengan langkah gontai yang tak bersemangat.
.
.
" Bye." Davos yang tersenyum lebar setelah di antar pulang sekretarisnya. Jelly.
Tidak menyangka, Jelly membuatnya menjadi aneh karena merasakan hal yang berbeda di batinnya.
Padahal dia sudah biasa bertemu dengan sekretaris cantik sejak dulu. Tapi mengapa? Jelly terlihat berbeda dari yang pernah dia ajak berkencan sebelum-sebelumnya.
" Bye." Jelly pun menginjak pedal gas mobilnya. Keempat roda itu pun melintas menyusuri halaman luas dari rumah bos besarnya.
Di dalam perjalanan malamnya menuju apartemen. Dia terus berpikir keras mempertanyakan kepada dirinya sendiri mengapa ayahnya berada di Jakarta?Keempat roda itu berhenti, dia dengan cepat menghubungi salah seorang yang dia kenal yang bekerja di Hotel milik ayahnya di kota Bandung.
" Jadi ayah di usir wanita itu? Hotel ayah di ambil alih oleh wanita itu? Bagaimana bisa? Bukankah wanita itu juga mencintai ayah?" Kerutan yang penuh di dahinya tidak dengan cepat dia pulihkan. Batinnya masih saja menerka penyebab ayahnya harus mengalami hal demikian.
" Trus sekarang ayah di mana?" lirihnya bertanya.
.
.
Di rumah sakit.
" Baby." Tuan Kino yang mengecup bibir wanitanya. Tamarin tengah termenung sendirian duduk seorang diri di depan ruang rawat Candy. " Kenapa kamu di luar?" tanyanya penasaran mengapa terdapat jejak basah pada kedua pipi kekasih gelapnya.
Dengan cepat Tamarin mengusapnya hingga tak berjejak.
__ADS_1
" Apa kamu habis menangis? Dan apa itu gara-gara Fox?"
" Wanita itu ... ?" Tamarin yang belum usai dengan kalimatnya namun dengan cepat Tuan Kino menyelanya.
" Wanita siapa yang kamu maksud?"
Tamarin yang melipat kedua tangannya di dada. " Wanita yang bekerja dengan Fox, ternyata sudah enam tahun dia tinggal di apartemen sebelah apartemen anda."
" Apa?" Tuan Kino benar-benar tercengang dengan apa yang dikatakan oleh Tamarin. " Si-siapa wanita yang kamu maksud?" tanya Tuan Kino guna memperjelas.
Tamarin yang berusaha mengingat nama wanita itu. " Je-Jelly."
" Jelly? Siapa dia?"
" Entahlah, teman SMP Fox dan Fox memperkerjakan dia di kantornya. Menyuruhnya tinggal di apartemen sebelah apartemen anda. Dan sudah enam tahun dia tinggal di sana." Tamarin yang tidak bisa menyembunyikan kecemasannya saat menatap kekasih gelapnya.
Hal serupa di alami Tuan Kino. Hatinya cukup resah dan menatap Tamarin yang tak kalah gelisah.
Menghembuskan nafas panjang terdengar berat. " Apa menurutmu dia tahu?" tanya Tuan Kino kepada wanitanya.
" Entahlah, tapi aku merasakan perubahan sikap dari Fox?" Tamarin dengan cemas menatap pria yang terkikis jarak darinya. Bahu keduanya bahkan saling menyentuh menatap ke depan yakni terdapat taman kecil berikut gemericik air yang setiap saat bahkan terdengar suaranya.
Sementara Tuan Kino, jelas pikirannya bertambah. Belum selesai dia mencari cara supaya Fox tidak ragu akan masalah Candy putrinya terkait golongan darah miliknya yang tidak sesuai dengannya. Malah ditambah masalah dengan seorang wanita bernama Jelly yang ternyata sangat lama tinggal di sebelah apartemennya.
Membuatnya mendengus kasar seraya merangkul kan kelima jemari kirinya kepada wanitanya supaya lebih tenang.
" Aku rasa tidak ada yang mengetahui selama kita bungkam. Jadi tenanglah! Aku akan segera urus wanita itu," ucapnya.
Tamarin pun lega dan melepas senyum tipis, menyandarkan kepalanya pada bahu pria yang sudah seperempat mengisi bagian hatinya. Jelas tidak dipungkiri jika Tamarin juga tidak bisa terlepas begitu saja dengan kekasih gelapnya.
" Lalu apa yang membuat kalian bertengkar malam itu?" imbuhnya bertanya kepada wanitanya.
" Aku sengaja pura-pura marah, saat mengetahui jika Fox bahkan membelikan mobil mewah kepada wanita itu. Aku bahkan menyuruhnya untuk menyuruh wanita itu pergi dari apartemennya. Menyuruhnya pula untuk membuat wanita itu resign dari kantornya. Itu semua aku lakukan guna menutup rapat hubungan kita. Namun bersamaan itu pula, pertengkaran kami tidak padam dengan cepat begitu saja. Melainkan dia malah ingin pergi malam itu ... dan membuat Candy celaka, karena Candy mengejarnya."
Tidak disangka, percakapan mereka yang memang tidak di dengar oleh seorang pria yang meneropong nya dari kejauhan. Namun dari bahasa tubuh keduanya sangat jelas membuktikan jika ayahnya dan istrinya tidak sekedar saling menenangkan antara hubungan mertua dan menantu. Melainkan lebih dari itu.
__ADS_1
" Jadi benar mereka ada hubungan?" Fox yang masih bungkam ketika kenyataan perih bertubi-tubi dia dapati. Dari kejauhan melihat keduanya bercengkrama tidak biasa. Saling menyentuhkan jemari seolah keduanya benar-benar ada rasa.
BERSAMBUNG