
" Nyonya! Berhenti Nyonya!" Petugas keamanan yang sudah diberi tugas oleh Tuan Kino untuk tidak mengganggunya selama dia di lantai puncak.
" Lepaskan saya! Bukankah saya juga pemilik apartemen ini? Kenapa? Kenapa anda halangi saya." Murka Nyonya Mint yang meledak karena mengingat baru saja dia mendengar apa yang Jelly lihat di apartemen suaminya.
Petugas keamanan pun pasrah tidak bisa mencegah Nyonya Mint untuk naik ke lift menuju lanta puncak.
Tidak butuh waktu lama, hanya hitungan menit dia sudah di lantai puncak dan jujur dia ingin menampar keras menantunya dan bahkan menendangnya. Amarah Nyonya Mint sudah memuncak. Dadanya sudah berapi-api dan ingin memberi pelajaran kepada keduanya.
Langkah hells nya semakin bersuara. Dia seperti tak gentar ingin menjambak dua-duanya jika sudah tertangkap basah seperti ini.
Namun saat mendekati pintu tengah yakni pintu apartemen suaminya. Tiba-tiba langkahnya memelan, amarahnya mereda perlahan-lahan. Melihat pintu apartemen itu terbuka lebar dan Mint melihat beberapa orang pria tengah mengecek interior. Tampak suaminya tengah berbincang kepada beberapa pria tersebut dan ada juga satu wanita namun terbilang sudah tua, jika dilihat dari perawakannya.
Tuan Kino yang melihat jika istrinya tengah berdiri mematung di luar pintu apartemen. " Mint?" serunya dan langsung berjalan menuju kepada istrinya. " Kamu di sini?"
Nyonya Mint berusaha menyembunyikan amarahnya yang mereda perlahan, memasang wajah datar dan senyum tipis menyungging. Menutupi rasa malu akibat pikirannya yang terbawa oleh perasaan.
" Ada apa?" Tuan Kino yang kembali bertanya, karena melihat istrinya tampak aneh.
" Siapa mereka?" tanya Nyonya Mint yang tak lepas dari sepasang mata yang tertuju kepada beberapa pria dan wanita di dalam apartemen suaminya.
" Oh, ada beberapa fasilitas yang rusak. Sensor dapur yang sudah tidak begitu berfungsi. Bukankah mereka adalah pihak dimana mereka bertanggung jawab atas dapur canggih itu?"
" Oh," seraya menganggukkan kepala kecil berulang. Namun berbeda tanya dalam hatinya.
Apakah mereka sering menggunakannya? Sampai-sampai ada fasilitas yang rusak.
" Baiklah kalau begitu, aku kembali mengurus ini dulu," seraya menunjuk ke dalam apartemen. " Oh, ya. Ada apa kamu ke sini?"
Nyonya Mint kembali bingung dia harus menjawab apa. karena tujuan sebenarnya ke apartemen miliknya adalah menenangkan diri dan ingin meluapkan tangisnya. Namun malah tidak disangka, jika dia harus bertemu dengan suaminya. " A-aku mau ambil charge ku di sini." kilah Nyonya Mint yang akhirnya menuju ke apartemen miliknya tepat berada di sebelah milik suaminya.
Karena merasa tidak akan nyaman jika dia meneruskan rencananya, Nyonya Mint memilih pulang dan sedikit bingung dengan apa yang akan dia lakukan jika dia berpapasan dengan Tamarin.
" Kamu kejam sekali Tamarin ... Kalian berdua kejam." Mengingat kembali jika apartemen inilah yang sering mereka sambangi. Mint dengan dada bergemuruh menginjak pedal gas mobilnya dan melajukan mobilnya melesat meninggalkan apartemen.
__ADS_1
.
.
Di rumah besar.
" Oma," teriak Candy yang berlari memeluk Omanya yang tengah berjalan masuk ke dalam rumah.
Nyonya Mint yang melihat jika Candy berlari ke arahnya pun seketika jongkok mengimbangi tinggi Candy yang sudah berada di hadapannya. " Candy sedang apa?" Gaya bicara yang tentu mengimbangi Candy yang masih anak-anak dan menggemaskan.
" Candy sedang bermain dengan mama," ucap bocah manis itu yang entah bagaimana membuatnya sulit untuk bersikap.
" Selamat malam ibu mertua," sapa Tamarin dengan ramah dan senyumnya namun tidak pada Nyonya Mint yang jujur ingin mencakar dan meraup bibir Tamarin dengan sepuluh jemarinya.
Nyonya Mint bahkan tampak acuh saat Tamarin bersikap manis kepadanya. Dia langsung begitu saja menjauh dari keduanya tanpa basa-basi.
Namun Tamarin masih beranggapan jika mungkin Nyonya Mint sedang ada masalah pekerjaan. Meskipun dia cukup sedih, mengapa beberapa kali ibu mertuanya tampak sinis kepadanya?
Nyonya Mint bahkan enggan makan malam satu meja dengan Tamarin malam itu. Tamarin dan Candy yang makan malam berdua menunggu Opanya pulang, namun Tuan Kino tidak kunjung pulang ke rumah.
Tok ... Tok
" Masuk!"
Nyonya Mint yang mengetahui jika yang mengantar minuman hangat adalah Tamarin. Tatapannya berubah seketika, begitu sangat tidak suka saat melihat wajah Tamarin, yang entah harus dia sebut apa?
Nyonya Mint kemudian bangkit dari ranjangnya dan membuang kasar nampan berikut gelas yang berada di atasnya.
Ther
Dengan dikuasai murka yang sudah diubun-ubun. Nyonya Mint masih mengeluarkan kata-kata yang bahkan tidak Tamarin suka. " Aku tidak menyuruh mu Tamarin! Aku tidak menyuruh mu! Sekarang kamu pergi!" sentak Nyonya Mint yang membuat seketika bola mata Tamarin berkaca-kaca.
Tuan Kino yang baru datang dan masih berada di anak tangga, semakin cepat melangkahkan kakinya menuju ke sumber suara, yang sudah di dengarnya adalah MInt, istrinya.
__ADS_1
" Ada apa ini? Ada apa Mint?" Tuan Kino yang menatap Tamarin sudah menitikkan air mata dan bergerak langkah menuju Mint dan menatapnya pula. Tergambar raut kekecewaan dan terdengar nafas berantakan dari Mint, istrinya. " Ada apa kalian? Ada apa?" ulang Tuan Kino kepada keduanya yang bahkan Mint enggan menatap Tamarin. " Ada apa ini Tamarin?"
Membuat Mint yang muak dengan sandiwara keduanya. Membuat dia tidak kuasa antara marah, kecewa, sedih dan banyak rasa yang lainnya yang mengungkapkan kekecewaan Mint pada keduanya. Dia pun dengan gegas berlari menuju kamar mandi dan membanting pintu kamar mandi dengan sangat keras.
Brak
Membuat Tuan Kino terhenyak. Sampai kedua bahunya menyembul karena bingung dengan sikap istrinya yang tiba-tiba berubah dan tidak tahu apa penyebabnya.
Tuan Kino menyentuhkan ibu jarinya pada pipi Tamarin, dia tidak ingin melihat wanitanya bersedih dan ingin mengusap jejak basah yang sedikit demi sedikit menetes deras, namun dihempaskan oleh Tamarin bersamaan dengan langkahnya yang keluar dari kamar.
Tuan Kino yang tidak dapat bereaksi apa-apa. Satu istrinya tengah murka tanpa tahu dia penyebabnya apa. Yang kedua, dia juga tidak mungkin mengejar Tamarin begitu saja.
" Ada apa ini?" Tuan Kino cukup frustasi karena kali pertama mendapati Mint, istrinya berlaku demikian kepada Tamarin.
Tuan Kino pun berusaha mengetuk pintu kamar mandi ratusan kali supaya Mint membukanya.
" Mint! Buka Mint!" seraya diikuti suara ketukan dari pintu kamar mandi.
Begitu seterusnya hingga Tuan Kino tidak tahu harus berbuat apa. Hampir dua jam lebih Mint, istrinya di dalam kamar mandi.
" Mint! Ada apa ini Mint?" teriak Tuan Kino yang semakin frustasi.
Hingga dia tidak ada cara lagi selain mendobrak pintu kamar mandi.
Bruk
Bruk
Berulang kali dia mendobrak pintu kamar mandi itu namun berulang kali dia gagal. Hingga membuat Tuan Kino memutuskan untuk menyuruh petugas keamanan rumah nya membantu mendobrak pintu tersebut.
Bruak
Pintu kamar mandi akhirnya berhasil di buka. Tuan Kino dibuat tercengang melihat pergelangan tangan Mint yang mengeluarkan darah segar dan tidak kunjung berhenti.
__ADS_1
" Miiint!" teriak Tuan Kino dengan sangat khawatirnya. " Apa yang kamu lakukan Mint? Apa?" Tuan Kino tidak berhenti menyentuhkan jemarinya pada area wajah Mint dan akhirnya memapah Mint dengan segera.
BERSAMBUNG