
Tamarin yang sedang menyentuh semua pernak-pernik yang menghiasi kamar putrinya nanti. Senyumnya sangat bahagia melebihi apapun di dunia. Melihat semua hal di depan mata dan sangat tidak pernah ia sangka, jika waktu berlalu secepat ini dan tinggal menghitung hari, putrinya akan lahir ke dunia.
Sudah tidak sabar ingin melihat wajah cantiknya. Karena setiap bulan hanya bisa dilihatnya melalui cek kandungan dan USG rutin dengan empat dimensi.
" Kamu senang?" tanya Tuan Kino yang melangkah lebih dekat kepada Tamarin yang sedang kagum dengan desain interior kamar putrinya.
Semua nuansanya berwarna jingga, dari yang pekat hingga ranum dan semua itu sangat mengagumkan mata. Memang selera kembaran Brad Pitt tidak main-main. Bahkan hampir dia semua yang membeli dan mempersiapkannya.
Yang dikira Fox semuanya adalah Tamarin yang membeli dan mempersiapkannya. Bagaimana tidak? ketika Fox baru kepikiran dan berencana, Tuan Kino ayahnya satu langkah di depan bahkan sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari. Jelas, jika Fox terkesan seperti melupakannya. Namun tidak pada Tamarin, yang sangat mengerti betul kesibukan suaminya.
Tak ada masalah baginya siapa yang lebih perhatian kepadanya. Toh dia juga menerima cinta dari keduanya dan itu lebih dari cukup untuk dia terima.
" Ya, anda sangat pintar sekali memilih semua ini." Tamarin yang mengedarkan dan berjalan menyentuhkan ke semua hal yang terpasang di kamar putri kecilnya. Senyumnya tidak pernah dia kunci. Matanya selalu berbinar kagum tiada henti sejak tadi memasuki ruangan ini.
" Aku senang, jika kamu juga bahagia." Sepuluh jemari Tuan Kino yang meraih sepuluh jemari Tamarin. Saling berhadapan dengan senyum bahagia dari keduanya. Menantikan bayi mungil cantik jelita dari rahimnya. Dan itu pasti hal yang luar biasa membahagiakan untuknya. Tuan Kino kemudian menarik lebih dekat sepuluh jemari yang terangkat untuk dia sentuhkan kepada bibirnya. Mengecupnya penuh cinta dengan sangat lama.
.
.
" Huh ... huh ... huh ... emt ... " Ringis kesakitan dari Jelly yang dia gaungkan berulang.
Seluruh perawat dan juga dokter bersatu padu untuk memberi semangat pada Tamarin di ruang persalinan.
Namun pembukaan tak kunjung bertambah. Keringat bercucur tanpa henti menambah kepanikan pria yang sedari tadi mondar-mandir di dekat ruang bersalin.
" Apa anda suaminya Tuan?" tanya dokter cepat yang membuat Tuan Kino menoleh kepada Tamarin seolah memberi kode padanya untuk bilang bukan.
" Bukan dok. Sebentar lagi, sebentar lagi suaminya datang." jawab cepat dari Tuan Kino karena saking panik melihat Tamarin yang menegang kesakitan.
" Apa?" Fox yang timbul kepanikan, mendengar Tamarin sudah berada di ruang bersalin dan akan melahirkan. Dia menutup ponsel dan memasukkan pada saku jasnya.
Menyeret Jelly tanpa ampun. " Fox." teriaknya.
" Tidak ada waktu lagi Jelly, aku mohon! antar aku ke rumah sakit sekarang juga karena mobil ku sedang di servis." Panik Fox yang di luar batas.
Jelly belum sampai bertanya. Fox sudah tidak tenang dengan sikap dan ucapannya.
" Istriku akan melahirkan." Suara dan wajah panik itu membuatnya tertular.
__ADS_1
Membuat Jelly panik pula karena Fox tidak sabar memencet semua tombol lift karena saking paniknya.
" Kamu bisa tenang kan Fox." pinta Jelly supaya Fox lebih tenang.
" Tidak bisa Jelly!" ucapnya cepat hingga membuat Jelly melompat.
Lift terbuka. Fox menggelandang Jelly hingga salah satu hells nya terlepas. " Fox ... Hells ku." pekik Jelly.
" Lupakan hells mu! nanti aku bisa ganti ratusan hells yang kamu mau." tanpa melepaskan pergelangan tangan Jelly yang dicengkeram kuat untuk mengikuti langkah besar sekaligus cepat dari Fox.
" Biar aku yang nyetir!" geram Jelly dengan melotot dahsyat yang Fox kemudian mundur dan bergegas ke kursi penumpang. Jelly tidak mau, kejadian seperti yang pernah diceritakan oleh Ita. Terlebih Fox panik, bisa-bisa melajukan kendaraan di atas kecepatan rata-rata yang akan membuatnya jantungan sepanjang perjalanan.
" Kamu bisa lebih cepat!" geram Fox yang paniknya sudah di ubun-ubun.
" Kamu tahu Fox, disana banyak para dokter dan perawat. Apa kamu bisa lebih tenang sedikit? supaya kamu tidak menganggu ku menyetir mobil." ketus Jelly dengan fokusnya mencengkeram setir bulat mobilnya.
" Okay." lirihnya Fox yang berusaha mengatur nafas dan mencoba menenangkan dirinya.
.
.
" Apa? Tamarin mau melahirkan? Aku akan tinggalkan pekerjaan ku dan aku akan ke rumah sakit sekarang." Nyonya Mint yang masih menempelkan ponsel pada telinganya.
.
.
Setibanya mobil Mercedes-Benz biru Jelly memasuki area rumah sakit. Pikiran Fox yang panik dan terngiang wajah Tamarin akhirnya reda. " Thank you Jelly." dengan gemas kedua tangan miliknya mencubit kedua pipi kembaran Priyanka Chopra itu. " Kamu selalu dapat di andalkan." puji Fox kepada Jelly ditambah dengan pipi kanan yang ditepuknya pelan menggunakan telapak tangan kanannya. " Nanti aku hubungi kamu." teriaknya setelah membuka pintu mobil dan mendapat dua langkah.
Jelly hanya bisa geleng-geleng kepala kepada pria yang sudah tak terlihat punggungnya itu. Menyandarkan kepala dengan perasaan lega. Sesaat tersadar jika telapak kakinya lumayan sakit karena diajak berlarian oleh Fox.
" Bagaimana Tamarin ayah?" Nafas Fox yang sudah tidak bisa dikondisikan lagi.
Tuan Kino menoleh pada sosok perempuan yang jujur ingin dia raih jemarinya. Ingin sekuat tenaga memberinya semangat supaya Tamarin bisa lebih cepat mengeluarkan bayinya.
Fox dengan cepat menyentuh dahi Tamarin. Mengelapnya keringat yang memenuhi dahinya. " Aku sudah disini sayang, kamu bisa." Semangat dari Fox yang membuat Tamarin lega. Fox bahkan menggenggam erat kelima jari kirinya dengan sepuluh jemarinya.
" Apa anda suaminya?" tanya dokter kembali dan memeriksa apakah pasien sudah menambah bukaan.
__ADS_1
" Iya Dok saya suaminya." jawab Fox yang tak pernah rileks sejak pertama kali mendengar jika Tamarin akan melahirkan.
" Sekarang kita mulai ya Bu. Pelan-pelan ... buang nafas ... tarik nafas lagi ... " berikut seterusnya instruksi dari dokter yang membantu persalinan Tamarin.
Ya, Tamarin menginginkan persalinan secara normal. Itu dikarenakan proses pemulihannya lebih cepat dan sudah dibicarakan sebelumnya. Itu semua demi kesepakatan bersama. Supaya mereka bisa dengan cepat menyiram bunga setiap hari kembali dan ehem-ehem setelah Fox dan Tamarin berpuasa cukup lama.
Kasihan Fox dan kembaran Brad Pitt. Takut jika timun Jepang jumbo mereka layu karena lama tak disirami.
" Huh ... Huh ... Huh ... Emt ... "
Begitulah seterusnya hingga terdengar.
" Oeg ... Oeg ... Oeg ... "
Suara tangis bayi yang sangat cantik jelita menggaung ke seluruh sudut ruang bersalin.
" Selamat ya nona ... Tuan ... ini putrinya sangat cantik sekali." sang dokter yang bahagia karena persalinan berjalan dengan lancar.
Aura bahagia yang terpancar dari keduanya. Tangis haru menyatu bercampur saat memandangi wajah merah cantik putri kecil mereka.
" Dia cantik seperti mu sayang." lirih Fox yang tak bisa berkata-kata karena bahagia. Tanpa terasa air mata pun jatuh barang setetes dua tetes dari sudut mata.
Wajah cantik dengan rambut pirang seperti milik ibunya. Iris mata perpaduan ayah dan ibunya yakni amber orange kecoklatan membuatnya semakin lebih jelita.
" Siapa namanya?" tanya Tamarin kepada Fox yang sejak tadi menimang putri kecilnya. Meskipun sangat takut karena lenturnya tubuh mungil yang dia letakkan pada kedua telapak tangannya.
" Candy ... ya ... Candy." lirih Fox memberi nama pada putri kecilnya.
Tidak lama Tuan Kino dan Nyonya Mint yang baru saja datang masuk untuk segera melihat cucunya.
" Cucuku." panggil Nyonya Mint yang tak ingin kalah dari papa nya si bayi mungil ini. Dia juga tidak sabar menimang dan memandangi lebih lama cucu pertamanya. Senyum Nyonya Mint terpancar rona bahagia.
" Kamu beri nama siapa Fox?" tanya Tuan Kino kepada Fox.
" Candy."
" Nama yang bagus sekali." ucap Tuan Kino yang sangat setuju jika Fox memberinya nama Candy.
Ruang bersalin itu penuh dengan kebahagiaan dengan hadirnya Candy. Putri kecil yang cantik jelita yang akan menjadi bagian dari penghuni inti rumah besar.
__ADS_1
Menambah kebahagiaan sekaligus sumber dari segala persoalan di rumah besar. Candy ... welcome in the world. Jangan bikin pusing mama papa ya! jangan panggil kakek kamu dengan sebutan papa juga.
BERSAMBUNG