
Jelly tampak kesulitan berjalan dengan kaki pincang sebelah karena lutut kanannya mengeluarkan darah.
Membawa sepasang sepatu hells nya menuruni anak tangga yang terbilang tinggi karena pembangunan lift juga belum selesai.
Berjalan dari lantai lima menuju lantai dasar bahkan area dimana mobilnya terparkir bukanlah perkara mudah. Coba saja kakinya tidak terkilir sikutnya tidak lecet lututnya tidak berdarah, dia pasti sudah melenggang cepat berjalan seperti berangkat tadi meskipun terbilang engos-engosan.
Terlebih untuk segera menghindar dari lelaki kejam yang pernah dia kenal meskipun pernah dia cinta juga. Membuatnya harus mengumpulkan seluruh tenaga untuk cepat-cepat sampai di lantai dasar. Supaya wajah Milk tidak muncul tiba-tiba di depan muka dia.
Sementara Milk yang tidak tega melihat mantan kekasihnya yang tertatih-tatih berjalan menuruni anak tangga yang terbilang lebih dari puluhan anak tangga setiap lantai nya. Dia masih saja mengintai dari jarak aman supaya Jelly tidak meradang.
" Huft." Jelly menghamburkan nafasnya ke udara. Mengusap dahinya yang mulai berkeringat dengan lengan tertutup blazer merah mudanya.
Kehausan sudah pasti. Namun apa daya. Dia hanya mengelap bagian depan lehernya diikuti dengan menelan ludah yang bermuara dalam mulutnya. Membayangkan ada sosok Nobita dibantu Doraemon dengan pintu ajaibnya memberikan dia segelas ice lemon.
Namun lagi-lagi, ekspetasi tidak seindah realita. Baru saja dia sampai di lantai empat dan masih tiga lantai lagi yang harus dia tapaki.
Milk yang tetap meneropong Jelly dari jarak aman. Dia ingin sekali mengobrol banyak seperti dulu meskipun pada akhirnya dia menikahi Ita. Namun sayangnya, Jelly tidak pernah memberinya kesempatan kedua untuk sekedar saling sapa atau bahkan sekedar bertukar cerita.
Setelah pernikahannya dengan Ita, hubungan ketiganya renggang begitu saja tanpa kata. Jelly mungkin memang terluka atas keputusannya menikahi Ita. Dia sadar, jika dia sangat berdosa melakukan pengkhianatan kejam bersama Ita. Dia sendiri juga tidak menyangka, jika akhirnya dia memilih Ita sebagai pasangan hidupnya.
Tapi nasi sudah menjadi bubur. Mungkin memang jodoh tidak menakdirkan dia dan Jelly menyatu membangun biduk rumah tangga. Tapi jika dilihatnya sekarang, Jelly memang terlihat kasihan. Bahkan sampai sekarang, dia seperti belum menemukan jodoh pengganti darinya.
Jelly yang masih duduk untuk beristirahat sebentar sebelum kedua kakinya menuruni puluhan anak tangga. Mengipas-ngipas bagian wajahnya yang terasa gerah dengan kelima jari tangan kanan ke udara.
Milk memberanikan diri untuk lebih dekat dengan wanita yang pernah mengisi relung hatinya. " Jelly, boleh aku membantu mu?" tanya ragu dari Milk yang mulai mendekat ke posisi Jelly yang sedang duduk di anak tangga lantai empat paling bawah.
Membuat Jelly hanya melirik dengan sudut mata menatap pria yang sungguh dibencinya. Duduknya sudah mulai tak tenang lalu bangkit dan berdiri.
" Jelly, lutut mu berdarah." ulangnya dengan kata yang sama.
" Sudah lah Milk, jangan hiraukan aku lagi!Kenapa sih? tolong berhenti untuk tidak perduli terhadap ku lagi." murka Jelly dengan perasaan campur aduk. Jelly kemudian melangkah berjalan.
" Kalau kamu menyuruhku untuk tidak perduli terhadap mu lagi. Apa yang akan terjadi tadi? mungkin kepalamu sudah di jatuhi batu bata dan aku tidak tahu lagi bagaimana keadaanmu." balas Milk berkata tanpa jeda.
__ADS_1
Membuat langkah Jelly berhenti dan sejenak berpikir akan membalas jawaban apa kepada pria tidak tahu diri di belakangnya. Jelly yang kemudian memutar punggungnya. Menatap pria dengan jarak satu setengah meter darinya. " Oh, jadi kamu merasa sok pahlawan karena telah menolongku." ketus Jelly yang sangat tidak suka dengan perkataan Milk barusan.
" Bu-bukan begitu maksudku?" balas Milk yang sedikit terbata.
" Lalu apa?" sergah Jelly dengan begitu cepatnya.
" Aku hanya ingin memastikan keadaan kamu baik-baik saja Jell." imbuh Milk membela dirinya.
" Memastikan keadaan ku baik-baik saja, apa mentertawakan aku karena menderita di atas kebahagiaan pernikahan kamu dan Ita?" dengan geram diikuti nafas sesak dada Jelly mengeluarkan kata dahsyat yang bisa mengingatkan pengkhianatan kejam mantan kekasihnya.
Milk yang kedua matanya mengerjap seketika, " Aku sama Ita minta maaf Jell. Tolong maafin aku sama Ita."
Membuat mata Jelly berkaca-kaca, mengingat kejadian demi kejadian masa silam yang tidak terlupakan. Menggores luka dalam yang butuh waktu lama untuk tersembuhkan. Namun seketika dia sadar, dia tidak ingin Milk menyangka jika sejujurnya dia sulit move on darinya. Dia tidak mau Milk menganggap dia wanita paling merana karena berpisah dengannya. Dia membalik langkah tanpa menjawab permintaan maaf yang keluar dari mulut Milk, pria yang kini berdiri di depannya.
Dengan langkah tergesa menahan rasa sakit pada kakinya, Jelly berusaha menjauh dari pria yang berusaha mengejarnya.
" Jelly ... Jelly." panggil Milk tidak hentinya berusaha mendapat maaf dari wanita yang pernah disakitinya.
.
.
Membuatnya menyusul Jelly karena hari sudah sore dan Jelly juga tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Fox yang menaiki anak tangga setelahnya sampai di depan bangunan gedung tinggi yang sepenuhnya belum selesai.
Larinya menaiki anak tangga satu persatu dari lantai dasar menuju dimana posisi Jelly yang baru saja dia tanyakan kepada seorang pekerja.
Hingga untuk beberapa menit berselang tanpa keduanya sadar tubuh Fox dan Jelly bertubrukan.
" Aw." Puncak kepala Jelly membentur dada bidang Fox di sebuah tikungan ruangan.
" Sorry ... sorry ... Jelly." Dengan tatapan keduanya yang sangat dekat. Fox kemudian melihat sosok pria yang tidak asing baginya dan sepertinya dia kenal pria itu. " Itu kan ... " lirih Fox yang kemudian di pergelangan tangannya di gelandang oleh Jelly.
__ADS_1
" Ayo kita pergi dari sini!" dengan cepat Jelly mengajak Fox untuk meninggalkan Milk, pria yang sedari tadi mengejarnya dan menunggu jawaban maaf dari mulutnya.
" Kakimu kenapa? lututmu berdarah." Fox yang terkejut melihat darah merah segar menghiasi lutut kanan bagian tengah kaki Jelly.
" Nanti saja ceritanya!" ujar Jelly yang tidak nyaman dan ingin segera pergi dari pandangan pria yang sudah menusukkan pedang hingga jantung terdalam.
Tidak lama, Fox dan Jelly akhirnya sampai di dekat mobil mereka.
" Aku obati dulu luka mu." Fox yang bergegas mengambil kotak P3K di dalam mobilnya. Fox kemudian memberi obat merah pada lutut Jelly yang terluka. " Cerita nya bagaimana? kok bisa begini?" tanya Fox yang ingin tahu kronologi dari lutut berdarah yang saat ini dia obati.
" Tadi aku hampir aku kejatuhan material."
" Apa? kok bisa? ceroboh sekali mereka." Fox seperti tidak suka kepada para pekerja yang ceroboh apalagi sampai bisa membahayakan jiwa. " Trus?" lanjutnya.
" Ya ini hasilnya?" Jelly yang enggan menyebut nama kekasihnya seolah jadi pahlawan karena telah menolongnya.
" Pria tadi? bukannya dia ... " ucap Fox yang belum selesai namun Jelly dengan cepat menyelanya.
" Jangan bahas dia lagi!" ketus Jelly.
Fox yang hanya bisa memunculkan senyum dan geleng-geleng kepala. " Sepertinya, apa mungkin kalian jodoh yang tertunda?"
Jelly yang kemudian menatap bos besar nya kesal.
" Hahaha." riak tawa Fox mengudara. " Habisnya kamu pindah ke Jakarta, dia juga nyatanya berulang kali hadir di depan mata kamu. Secara tiba-tiba pula." Fox yang melayang kan canda kepada wanita yang rambutnya sedikit berantakan akibat tertiup angin senja.
" Apa an sih." ujar Jelly kesal kemudian melangkah masuk ke dalam mobilnya. Meninggalkan begitu saja bos besarnya tanpa mengucapkan terimakasih kepadanya.
Sementara Fox hanya bisa senyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkat wanita yang menyimpan benci membara kepada mantan kekasihnya. " Bisa nyetir nggak?" tanya Fox meragukan jika Jelly bisa mengendarai mobilnya.
Sementara pria yang disebut mantan kekasih oleh Jelly, tengah memperhatikan dua orang yang terbilang dekat dari ketinggian. Sampai saat ini, Milk mempertanyakan siapa pria yang selalu dekat dengan Jelly akhir-akhir ini. Karena ini tidak pertama kali nya Milk berjumpa dengan pria itu.
BERSAMBUNG
__ADS_1