Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua

Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua
Keluarga Milk Jatuh Miskin


__ADS_3

Teriakan kakak perempuan Milk itu sungguh nyaring di seluruh telinga pasang mata. Yang mau tidak mau Dent dengan melangkah pasrah jika wajahnya harus terkena tampar atau bahkan bogem mentah dari tinju adik iparnya. Atau bahkan mungkin tendangan maut dari sang istri yang telah dibuat naik pitam olehnya.


Apa saja yang akan mereka katakan dan lakukan pada dirinya seolah Dent harus siap dengan konsekuensi yang harus dia terima.


Tidak ada jalan lain selain menghadapinya. Ingin berlari namun hidupnya bergantung seratus persen dari keluarga ini. Bahkan bisa dibilang dia tidak ada harga diri sebagai lelaki. Hanya wajah tampan yang dia miliki, namun sayang hidupnya harus dibawah ketiak istri yang bernama Happy.


Dengan berjalan menundukkan kepala, Dent memegangi ujung kaos abu-abu bagian depan.


" Jelas kan ini mas! Apa maksud kamu menggadaikan rumah ini." Teriak Happy yang melengking di ujung kalimatnya.


Dent suami Happy yang ketakutan bagaimana cara dia menjelaskan kepada istrinya. Dia hanya menunduk tanpa mengeluarkan sepatah kata dengan sikap yang sama.


Para petugas Bank yang merasa tidak nyaman menyaksikan pertengkaran mulut kemudian pamit undur diri. Dia hanya memperingatkan jika besok rumah ini sudah harus dikosongkan oleh penghuni.


Namun Milk berhasil mengiba kepada pihak Bank untuk memberinya waktu satu Minggu untuk mengosongkan rumah karena memang keluarganya sedang berduka dan baru saja mengalami kecelakaan.


Pihak Bank akhirnya sepakat karena memang adanya ketidaktahuan dari pihak keluarga yang lain. Jadi kedua belah pihak sepakat agar dalam satu Minggu rumah sudah harus kosong dan mereka terpaksa meninggalkan rumah yang sudah lebih dari tiga puluh tahun ditempati oleh keluarga besar Milk.


Percekcokan mulut berganti di dalam rumah. Happy kakak perempuan Milk tidak segan-segan mendorong sangat kuat dan kasar pada pria yang bermodal wajah tampan di depannya.


Tangisnya pecah. Suaranya yang nyaring sekaligus melengking itu tidak berhenti memaki, mengumpat dan segala kata dia keluarkan, dia cerca kan kepada pria yang hanya diam tanpa melawan.


" Apa yang Mas lakukan? Sekarang kita mau tinggal dimana? Kenapa kamu mencuri sertifikat rumah yang bukan milik mu dan bagian mu mas?" tangis murka sekaligus gemas di ujung tanya dan saking malu nya memiliki suami yang hanya menumpang hidup saja di keluarganya namun malah menyengsarakan kita semua.

__ADS_1


Ibu, Milk dan Ita yang hanya menyaksikan pertengkaran mulut antar keduanya. Ruang keluarga menggelegar tidak ada ampun dengan kemurkaan seorang Happy.


Sementara Dent hanya bisa pasrah dan berharap ampun meskipun itu mustahil dia dapatkan.


" Hihihi ... " tangis kak Happy yang lelah dengan mengamuk disertai tindakan tak terpuji dari mulut kasar dan tangan yang tak luput dari menjambak rambut ikal dan mencakar kedua lengan suaminya. Kemurkaannya tidak terkendali bagai singa lapar yang keluar dari kandang dan ingin sekali memakan orang.


Namun itu hanya bertahan lima menit. Happy memulai kembali peperangan yang belum sepenuhnya usai. " Kamu buat apa uang nya? kamu buat apa?" jerit tanya diujung kalimat yang terdengar melengking dan membuat sakit telinga yang mendengarnya.


Merasa geram pertanyaan nya tidak satupun dijawab pria berwajah tampan itu. Happy kemudian menarik lingkar dada dari kaos longgar warna abu-abu. Seolah menantang sekaligus menginjak-injak harga diri suaminya yang tidak tahu diri itu. Happy seolah tidak peduli lagi dan bahkan hampir hilang akal ingin membunuh pria yang sudah dinikahinya sepuluh tahun yang lalu.


Wajah putih bersinar dari seorang pria berambut ikal itu berubah menjadi berantakan dalam waktu sekejap. Bekas tamparan yang entah kesekian kalinya masih membekas berwarna merah muda di kedua pipinya. Belum lagi cakaran dari kuku panjang Jari lentik kakak perempuan dari Milk itu seolah membabi buta bahkan dikuasai angkara murka.


" Sudah kak ... sudah." kedua tangan Milk yang mencengkeram kuat melerai kakak perempuannya yang bisa saja membunuh benar kakak iparnya. Dan bisa saja masalah bertambah jika kakak iparnya melaporkan tindakan kakak perempuannya dalam kategori kekerasan dalam rumah tangga. Bisa-bisa masa depan kakak perempuannya suram dan membusuk di penjara akibat luapan emosi hingga menghilangkan sebuah nyawa.


Tidak kuasa air matanya ikut tumpah beriringan dengan tangis kakak perempuan nya yang tak kunjung usai.


Ita juga sangat sedih mengapa keluarga besarnya menjadi seperti ini. Dan yang lebih menyedihakan. Dia hanya bisa menyaksikan di atas kursi roda tanpa bisa berbuat apa-apa.


Dia lantas teringat rumah orang tuanya. Namun dia akan menunggu sampai suaminya menenangkan hati kakak perempuannya.


Milk kemudian menyuruh kakak iparnya untuk tidak mendekat terlebih dahulu kepada kak Happy. Supaya kakak perempuannya tenang dan untuk sementara tidak terjadi pertikaian yang berujung kekerasan atau bahkan penghilangan nyawa yang tidak disengaja yang berujung dengan penyesalan.


Setelah nya kak Happy dibawa di kamarnya dan mulai tenang. Milk kemudian tersadar jika dia telah meninggalkan Ita untuk waktu yang cukup lama. Dia hampir lupa jika istrinya tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuannya atau orang lain saat ini. " Honey, maafkan aku. " Milk yang segera menghampiri istrinya yang tidak berubah tempat.

__ADS_1


" Tidak apa-apa." Ita sadar, bahwa dia sekarang tidak lebih dari seorang istri yang tidak berguna. Namun karena melihat keluarga ini kacau, dia tidak ingin menambah beban suaminya.


" aku ambilkan makan terus minum obat."


" Aku ikut." jawab Ita cepat karena tidak ingin ditinggal suaminya.


Milk kemudian mendorong kursi roda Ita ke dapur.


Setelahnya sampai dapur, Milk melihat kosong dan tidak ada apapun di atas meja makan. Hanya mie instan dan beberapa telur yang ada di lemari pendingin. Membuatnya berpikir ada apa dengan keluarganya? Mengapa biasanya kak Happy banyak menyimpan aneka makanan dan buah-buahan seolah menjadi gersang dan bahkan terlihat menyedihkan.


" Kenapa?" tanya Ita.


" Tidak ada apa-apa." Milk yang merasa malu menjadi seorang pria. Sekaligus nelangsa melihat keadaan rumah tangganya dan keluarganya yang tiba-tiba terjun bebas ke dasar samudra.


Istri dan keluarganya bahkan belum tahu jika dirinya di pecat. Ingin membelikan makan untuk Ita istrinya yang sedang sakit saja dia bahkan tidak memiliki uang sepeser pun. Membuat dia terdiam dan hanya memandangi beberapa mie instan dan beberapa butir telur.


" Honey, seadanya saja." Membuat Ita tidak kuat menahan kata-katanya. Bagaimana bisa? Sepertinya sulit keadaan ini harus dia terima. Tapi lagi-lagi dia hanya seorang istri yang tidak berguna. Lalu mau menuntut seperti apa? jika berjalan saja masih belum bisa dan masih perlu bantuan orang lain untuk mendorong kursi roda.


Kedua mata Milk memerah berkaca-kaca. Memasak mie instan dan telur yang hampir tidak pernah dilakukannya.


Keduanya pun memakan semangkuk mie instan berdua. Diikuti dengan tetesan air mata yang basah di kedua pipi Ita. Sedangkan Milk, hanya bisa menyeka air mata istrinya. Saling bertatap wajah dengan air mata duka. Membelai rambut lurus berkilau milik istrinya. Seolah janji, jika keadaan ini akan segera berakhir dan kembali pulih seperti sedia kala.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2