Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua

Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua
Milk Bertemu Jelly


__ADS_3

" Maksud ayah?" tanya Fox lebih jelas kepada Taun Kino.


" Itu barang mu bukan?" Tuan Kino yang menunjuk menggunakan jari telunjuknya mengarah ke sebuah benda milik Fox di rak etalase paling atas. " Kemarin saya lihat Tamarin naik tangga, dan kamu tahu itu. Itu sangat berbahaya bagi kehamilannya." Tuan Kino sedikit murka dengan putranya. Dia bahkan tidak segan-segan memarahi putranya sendiri di hadapan istrinya yang tidak lain juga adalah kekasih gelapnya. Dia seperti tidak rela jika sampai sesuatu hal buruk terjadi kepada calon buah hatinya yang berada di dalam perut Tamarin.


" Apa itu benar sayang?" Fox yang kemudian menoleh ke arah istrinya yang juga sedang menatapnya. Dia kemudian mengangguk kecil dan menunduk.


" Lain kali kamu bisa suruh bibi, dan jangan lakukan hal apapun yang bisa membahayakan anak kita. Ingat, di dalam perut kamu sekarang, ada calon buah hati yang sedang berkembang." Fox yang menyentuh perut rata Tamarin dengan telapak tangan kanannya. Dia kemudian jongkok supaya mulutnya bisa berbicara pada makhluk kecil di dalam sana. " Sayang, papa berangkat kerja dulu ya." pamit Fox kepada calon buah hati yang masih terlalu dini itu. Dia kemudian mengecup perut Tamarin seolah sedang mengecup wajah buah hatinya di dalam sana.


Sementara Tamarin hanya bisa bertukar tatap dengan kembaran Brad Pitt yang terlihat betul bahwa dia seperti tidak rela jika putranya berlaku demikian kepada wanita pujaan nya yang mengandung buah hatinya.


Namun apa daya. Dia hanya bisa diam memperhatikan putranya begitu lembut memberikan perhatian kepada Tamarin dan juga calon buah hatinya. Hatinya berkata penuh keyakinan.


Dia anak ku Fox. Bukan anak mu. Dia darah daging ku. Dan kelak ...


gumam Tuan Kino yang buyar ketika Fox juga berpamitan kepadanya.


.


.


Sesampainya Fox berada di area parkiran mobil kantornya. Memarkir mobil nya persis di samping mobil Jelly. "Jelly ... Jelly ... kamu memang tidak pernah berubah. Kamu memang orang yang bisa di andalkan. Tidak salah kalau aku memberi mu kesempatan untuk menduduki jabatan Manager perusahaan." lirihnya seraya melihat arloji yang melingkar di tangan kirinya.


Fox lantas memasuki loby dan berlanjut masuk ke ruang kerjanya. Namun karena ruangan Jelly dan ruangannya bersebelahan, Fox menyempatkan menyapa Jelly terlebih dahulu.


Ketukan pintu sudah pasti dia lakukan. Bahkan Jelly tidak seperti kebanyakan orang yang asal perintah masuk dari balik pintu. Dia bahkan membukanya sendiri. " Fox." lirih Jelly.


" Rajin benar Bu Manager." ledekan Fox yang sudah jelas membuat pipi Jelly merona.


" Kamu antarkan laporan yang kemarin aku email ya! aku tunggu di ruangan ku." Fox yang kemudian lanjut melangkah ke ruang kerjanya.


" Iya."


Tidak lama, setelah mengetuk pintu dan di suruh Fox untuk masuk ke ruang kerjanya. Jelly dibuat takjub dengan ruangan milik bos besarnya itu. Ruang kerja Fox di desain minimalis dan terlihat rapi. Terlihat pula dua buah bingkai foto dan hanya satu yang mencuri sepasang bola mata Jelly. Yakni sebuah foto pernikahan Fox dan istrinya yang terletak di atas meja kerjanya.


Tergambar nyata, jika Fox sangat mencintai istrinya. Foto istrinya bahkan seperti ada dimana-mana. Dijadikan wallpaper pada ponselnya, alarm yang kesemuanya dari istrinya. Dan sekarang, foto mereka juga ada di atas meja kerja ini.


" Kenapa?" tanya Fox yang menyuruh Jelly duduk namun Jelly masih membeku dengan tatapan yang tidak berkedip berfokus pada sebuah bingkai foto.

__ADS_1


" Enggak papa. Ini laporannya." Jelly yang menyodorkan lembaran beserta map yang membungkusnya kepada Fox.


" Biar aku cek dulu." Fox yang membuka map tersebut dan satu persatu meneliti pekerjaan Jelly.


.


.


Di kota Bandung.


Di sebuah rumah yang berlantai dua, dua orang sedang berdiri di ambang pintu utama rumah mereka. Milk dan Ita. Mantan kekasih Jelly dan juga sahabat dekat Jelly.


" Awas lho Honey! jangan sampai kamu macam-macam di Jakarta. Aku akan bilang ke papa dan mama mu kalau kamu nakal." Cemberut Ita yang bibirnya mengerucut sedari kemarin. Wajahnya manja bergelayut tidak mau lepas dari pelukan suaminya.


Setelah mendengar jika Milk akan dipindah kerja ke Jakarta, dia langsung bersungut-sungut dan hormon kehamilannya naik turun tidak stabil membuat Ita sedikit-sedikit ngambek dan Milk kerepotan dengan mood Ita.


" Iya, aku tidak akan macam-macam. Kamu tenang aja. Aku juga tidak akan nakal." jawab Milk yang menenangkan istrinya.


" Janji lho Honey, ingat! sebentar lagi aku lahiran. Awas saja kamu tidak ada di sampingku saat lahiran. Tidak peduli apapun alasan kamu." imbuh Ita yang masih ngambek sampai-sampai Milk kelimpungan beberapa hari ini sudah membujuk Ita dan membelikan Ita tas branded kesukaannya namun sepertinya tak mempan juga.


Karena nyatanya hari ini, Ita masih sulit merelakan dia pergi ke Jakarta yang ujung-ujungnya nanti pasti akan merepotkan dia yang memintanya sebentar-sebentar pulang ke Bandung.


" Honey, belum pergi saja kamu sudah lupa?" Ita dengan wajah kesalnya menarik lengan Milk suaminya.


" Lupa? memang nya apa?" Milk dengan tatapan bingungnya.


" Anak kamu. Kamu cuma mengelusnya. Kamu belum pamit sama dia." rengek Ita yang berat ditinggal pergi suaminya. Coba saja dia sebentar lagi tidak lahiran, dia sudah ikut ke Jakarta dan tinggal satu apartemen dengan Milk, suaminya.


" Astaga." Milk menepuk jidatnya. Sepertinya kali ini dia harus mengalah, menuruti semua kebawelan Ita istrinya yang membuatnya terasa benar kewalahan. " Sayang, anak papa. papa pamit dulu ya sayang. Kamu baik-baik di rumah jaga mama." Milk dengan sangat manja mengatakan hal itu kepada calon anak yang akan lahir ke dunia tidak lama lagi. Mengelus perut Ita dan mengecupnya berulang.


" Nah gitu dong." manja Ita yang masih bergelayut merangkul tubuh suaminya.


.


.


Di sebuah pertigaan jalan di Jakarta.

__ADS_1


Mobil Jelly dan mobil Milk hampir bertabrakan.


Ciiiiiiiiiiit


Suara ban mobil milik Jelly maupun Milk yang berdecit menggesek aspal karena pengerema n mendadak dan sangat signifikan.


" Aaaa." Teriak Jelly dengan nafas sengal penuh ketakutan. " Hah ... hah ... " nafasnya sungguh jelas terdengar ketika dia mulai mendongakkan kepala setelah wajahnya tersembunyi menempel pada sebuah setir.


Baik mobil dia maupun mobil yang hampir saja menabrak atau ditabraknya. Sungguh tidak jelas kejadiannya seperti apa hingga tiba-tiba mobil berplat D itu tiba-tiba menyerobot truk di depannya hingga hampir menabraknya. Padahal jelas-jelas ada sebuah pertigaan, namun karena sepertinya mobil itu berplat D, jadi Jelly bisa memakluminya. Karena itu mobil, pasti orang Bandung yang mengendarainya.


Keduanya sama-sama turun dari mobil dan berniat ingin minta maaf. Baik Jelly maupun Milk.


" Jelly." lirih Milk yang berjalan mendekat ke Jelly dan sudah berjarak sekitar tiga meter mantan kekasihnya itu.


Begitu juga dengan Jelly yang berjalan dengan rok span hitam dan terlihat anggunnya, terlebih memakai blazer untuk membungkus bagian lengan bercahayanya. Ditambah lagi hells hitam setinggi lima senti an yang menambah kecantikannya terlihat paripurna. " Milk." lirih Jelly yang sama terkejutnya dengan Milk.


Ketika sebutan sepasang mantan kekasih yang pernah tersemat untuk keduanya itu berdiri dengan jarak yang lebih dekat. Keduanya pun sama mengucap lirih masing-masing dari nama mereka.


" Kamu? kamu di Jakarta?" Kata kedua setelah Milk mengucap lirih nama Jelly.


" Kamu juga ngapain di sini?" tanya balik Jelly yang masih membuat penasaran Milk mantan kekasihnya.


" Aku sekarang kerja di Jakarta. Dan ini hari pertama keberangkatan ku dari Bandung."


Membuat Jelly terdiam tidak percaya. Dia yang ingin menjauh melupakan mantan kekasih dan sahabatnya yang telah berkhianat. Malah sekarang, dia harus bertemu dengan mantan kekasih terkejam yang pernah dia kenal.


" Kenapa? kenapa diam? kamu belum menjawab pertanyaan ku?" tanya Milk yang penasaran mengapa bisa bertemu dengan mantan kekasihnya itu di tengah jalan terlebih hampir bertabrakan.


Sementara mobil Fox yang melintas di jalan yang sama saat kedua sebutan mantan kekasih itu seperti berbincang serius di tepi jalan. " Jelly." lirih Fox yang kemudian memberhentikan mobilnya. Fox berlari menghampiri Jelly karena takut dengan peristiwa preman malam yang masih berbayang. " Jelly, ada apa ini?" tanya Fox serius menatap pria yang berdiri di depan Jelly.


" Tidak ada apa-apa. Ayo kita pergi." Jelly yang menarik lengan Fox untuk menjauh dari pria yang sudah menggores luka dalam di hatinya. Memporak-porandakan hidupnya bahkan sampai detik ini. Bagaimana bisa? dia masih selalu membayangi hidupnya. Terlebih sekarang, dia juga berada di Jakarta.


Jelly yang berjalan beriringan dengan Fox tanpa menoleh ke belakang lagi.


Sementara Milk, masih tidak menyangka jika sore ini dia harus bertemu dengan Jelly di situasi seperti ini. " Siapa pria itu?" lirih Milk yang mengingat pria yang terus berada di samping Jelly. Bahkan saat di pemakaman ibunya. " Jelly naik mobil?" imbuhnya dengan heran melihat Jelly naik mobil yang terbilang mewah dengan harga yang tidak main-main.


Milk hanya bisa memandang mobil Jelly perlahan melaju dengan kecepatan sedang dan menjauh pergi lalu menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2