
" Keluarlah! Keluar!" Fox dengan tegas mengusir istrinya sendiri. Mengangkat tangan kanan menunjuk dimana pintu, supaya Tamarin pergi dari ruangannya.
Salah satu perawat yang berjaga tidak jauh mendengar jika ruangan Fox terdengar keributan. Perawat rumah sakit pun membantu Tamarin untuk keluar dari ruangan Fox seraya masih terus menerus berderai air mata meskipun dia berulang menyekanya.
Fox pun merebahkan punggungnya dengan sangat putus asa. Tamarin, wanita yang dicintainya begitu menggores luka yang teramat dalam. Luka yang tak pernah bisa disembuhkan. Terlebih, jika ibunya tahu dan menyaksikan sendiri apa yang sudah diperbuat suami dan menantunya. Dia pasti orang pertama, yang mendengar jerit pilu ibunya.
Membuat Fox semakin menggebu dan ingin sekali berteriak lantang supaya keduanya mengaku, bersujud di kaki ibunya karena pengkhianatan luar biasa yang dilakukan keduanya.
.
.
Kembalinya Tamarin dari ruangan Fox. Membuatnya menangis sepanjang malam. Mendekap erat tubuhnya sendiri, merutuki penuh umpat untuk tubuhnya yang sudah kotor karena dustanya pada suami.
Begitu juga dengan Fox, sedari tadi kedua matanya berkaca-kaca. Mencoba bangkit dari tempat tidur, memandang langit gelap dari kaca jendela yang membuat ingatannya mengajak menyelam. Jauh ... menyelam pada kenangan yang sangat jauh. Dimana wanita yang dijadikan istrinya itu adalah wanita yang dicintainya sejak SMA.
Kenangan-kenangan bersama Tamarin menggeliat, menyeruak, meminta dirinya untuk mengakui, jika Tamarin lah wanita yang dicintainya lebih dari enam tahun pernikahan bahkan. Karena keduanya sudah sangat lama menjalin romansa. Fox bahkan sudah tidak mampu berkata-kata.
.
.
Di rumah besar.
Tuan Kino bahkan enggan keluar kamar Candy, putrinya. Dan terus menunggui Candy yang tengah terjaga dalam tidurnya.
Nyonya Mint, yang sendirian di kamar. Merasa banyak hal janggal antara Tamarin dan putranya. Putranya dengan suaminya sendiri. Bayangkan saja. Saat mereka berempat ditambah dengan Candy yang biasanya tercipta suasana hangat. Mendadak penuh kebisuan saat tadi berada di rumah sakit. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa Fox benar-benar akan menceraikan Tamarin?
.
__ADS_1
.
Pagi hari nya pun, Tuan Kino sibuk mengurus Candy yang tengah sakit. Nyonya Mint lagi-lagi merasakan suasana tampak berbeda dari yang biasanya.
Sarapan di meja makan seorang diri setelah menyapa Candy. Dan berniat untuk menemui Fox putranya untuk bertanya terkait masalah apa hingga dia harus menceraikan Tamarin?
Sementara Tuan Kino, mendapati kabar jika Fox berhasil dibawa ke suatu tempat. Ya, saat malam dan suasana rumah sakit sepi. Fox yang tengah melamun saat itu, tiba-tiba dipukul bagian tengkuk lehernya dan dilemahkan hingga dia tidak sadarkan diri. Dengan sangat mudahnya, dia dibawa oleh orang suruhan Tuan Kino yang tadinya sudah gagal namun Tuan Kino memberi perintah lagi, untuk melakukan aksi malam itu dan akhirnya Fox berhasil di bawa mereka ke suatu tempat.
.
.
Di suatu tempat tersembunyi.
Fox yang tengah di dudukkan di atas kursi kayu dengan seluruh tangan dan kaki diikat oleh tambang besar.
Belum lagi mulutnya di lakban hingga dia hanya bisa, em ... em ... em. Karena dia tidak bisa bicara. Betapa kejamnya Tuan Kino, darah dagingnya sendiri, dengan tega harus menjadi korban dari keegoisan cintanya kepada istri dari putranya.
Langkah kaki dari sepatu pantofel mengkilat berwarna hitam dengan sebuah brand ternama yang tersemat mungil itu semakin bergerak cepat untuk segera menuntaskan perang dunia ketiga dengan putra nya sendiri.
Fox yang sempat kelelahan akibat berusaha keras ingin melepaskan ikatan pada kaki dan tangannya, membuatnya tertidur sejenak meskipun dengan duduk dan tangan beserta kaki yang terikat.
Salah satu orang suruhan Tuan Kino bahkan sampai memercikan air ke wajah Fox, supaya Fox terbangun.
Perlahan dimulai dari sudut matanya yang memicing, perlahan pula kedua matanya membuka bertambah lebar hingga benar-benar membuatnya sadar jika ayahnya tengah berdiri tepat sekitar tiga langkah di hadapannya.
Tuan Kino, yang tengah melipat kedua tangannya di dada. Memulai menatap putranya yang terlihat jelas jika kedua mata Tuan Kino sangatlah besar harapannya jika Fox, putranya bisa di ajak bekerja sama.
Krek
__ADS_1
" Eagh." Bersamaan dengan suara lakban yang dengan cepat disingkirkan dari mulut Fox oleh salah satu orang suruhan Tuan Kino.
Fox masih belum mengeluarkan kata. Masih posisi yang enggan menatap ayahnya padahal Tuan Kino jelas menatap dirinya.
" Ayah tidak akan pernah melakukan ini, jika kamu bisa diajak bekerja sama Fox." tukas Tuan Kino seraya berjalan perlahan mengitari putranya yang tengah terduduk dengan segala ikatan tambang yang menjeratnya. " Tidak sulit Fox! Tidak sulit! Hanya jangan katakan kepada ibu mu tentang skandal cinta terlarang ku dengan Tamarin. Biarkan ibu mu tahu dengan sendirinya." imbuh Tuan Kino berkata.
" Ayah takut ... ayah pecundang!" seraya menggerakkan kepalanya, mendongak menatap tajam iris mata kecoklatan milik ayahnya.
Sudah dia duga, jika Fox akan mati-matian membela ibunya. Ikatan ibu dan anak laki-lakinya itu sangatlah kuat. Dimana Fox tidak ingin hati wanita yang melahirkannya tersakiti, meskipun dengan ayahnya sendiri.
" Kenapa ayah tidak sekalian bunuh saja aku? Bunuh saja aku ayah! Jika itu membuat rahasiamu terjaga dari ibu. Bunuh saja anak laki-laki mu ini! Bunuh!" Fox berteriak lantang mengibarkan terus-menerus bendera perang. Membuat Tuan Kino semakin mendidih dengan keberanian putranya.
" Jadi kamu akan melanjutkan untuk mengatakan kepada ibumu?" Tatapan tajam setajam mata setan itu menyiratkan api yang berkobar dengan begitu besar. Fox bahkan tak gentar sedikit pun, padahal jelas-jelas dirinya sudah kalah telak.
" Iya, aku akan tetap mengatakan kepada ibu. Aku akan pakai cara ku sendiri, supaya ibu lebih cepat tahu siapa sebenarnya suaminya dan siapa menantunya."
" Kamu bahkan tidak peduli dengan Tamarin Fox."
" Cih, nama dia sudah aku kubur dalam-dalam, hanya tersisa kebencian yang mengakar kuat. Karena apa? Apa ayah ingin tahu? Karena ayah menikmati tubuhnya juga bukan?" Perlahan setiap kata yang keluar dari mulut Fox begitu membuat amarah Tuan Kino memuncak.
Plak
Tamparan keras dari Tuan Kino mendarat di pipi sebelah kanan Fox. Membuat wajah yang sudah terdapat beberapa titik lebam membiru itu di tambah dengan terdapatnya bekas tamparan tangannya.
Fox begitu sakit hati. Demi Tamarin, dia telah membuat putranya sendiri hancur. Bahkan bisa saja, ayahnya gelap mata dan melenyapkannya.
Apa yang tidak bisa ayahnya lakukan? Buktinya, hari ini saja, dia bahkan tega memperlakukan putranya sendiri seperti binatang.
" Jangan sekali-kali kamu hina Tamarin, Fox!" Ultimatum keras penuh dengan kemurkaan yang maksimal membuat Fox ingin mengingatkan ayahnya kembali.
__ADS_1
BERSAMBUNG