
" Apa?" Ita yang terkejut mendengar penjelasan saudaranya. Rasa putus asa sudah membayangi dalam benaknya. Melirik suaminya Milk yang sama pula putus asanya.
Ternyata rumah milik orang tua Ita juga hampir sama dengan yang dialami oleh keluarga Milk. Orang tuanya ternyata memiliki beberapa hutang dan rumah itulah satu-satunya yang harus di jual untuk membayar hutang-hutang orang tuanya.
Belum lagi kata saudara Ita, bahwa kecelakaan kemarin juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk biaya ini itu termasuk pemakaman.
Tidak mungkin, enam orang sekaligus akan menumpang di rumah saudara Ita maupun di rumah saudara Milk. Yang ada, mereka pasti tidak nyaman dan sangat terbebani.
" Bagaimana ini Honey?" nada kecewa terdengar dari suara Ita. Karena rumah orang tuanya adalah harapan dia satu-satunya untuk menolong keluarga suaminya.
" Nanti kita pikirkan ya. Sekarang lebih baik kita pulang dulu." jawaban Milk yang bingung dan itu nyata dari raut wajah yang kusut akibat cobaan yang datang bertubi-tubi.
Milk kemudian mendorong kursi roda istrinya dan memasukkannya dalam mobil. Di sepanjang perjalanan, tak ada kata yang mereka ucapkan. Suasana tampak hening dan Ita yang sesekali memandangi wajah suaminya yang kusut. Ita tidak berani berkata banyak. Karena takut Milk akan tambah stres jika dia salah ucap.
Setelah mobil sedan itu memasuki halaman luas yang kanan kirinya di tumbuhi pepohonan rindang. Mobil itu kemudian berhenti tidak jauh dari pohon besar dan berteduh dibawahnya.
Milk dengan sabar menurunkan Ita berikut kursi rodanya. Mendorongnya, walau pikirannya entah kemana. Menatap gamang akan hidup keluarganya selanjutnya.
Milk dan Ita pun memasuki rumah dengan wajah yang sedih.
" Bagaimana Milk ... Ita?" tanya wanita paruh baya dengan kerudung biru lautnya. Wajah wanita tua yang berharap sebuah jawaban menggembirakan darinya.
Namun Milk dan Ita hanya bisa bertukar tatap tanpa bisa menjawab.
" Ada apa? Kenapa wajah kalian kusut?" tanya wanita yang kemudian meraih lengan putranya dan menyuruhnya duduk.
" Intinya kita tidak bisa tinggal disana Bu. Orang tua Ita juga memiliki beberapa hutang dan banyak biaya waktu kecelakaan dan hanya rumah itu yang dipergunakan untuk melunasi hutang-hutang mereka dan biaya pemakaman." jawab Milk.
" Jadi terus bagaimana ini? Kita mau tinggal dimana Milk?" wajah wanita paruh baya itu yang kemudian terlihat sedih. Jangan ditanya lagi air mata yang berderai dengan adanya mimpi buruk ini. Rasanya saja, dia juga sudah lelah terus menangis dan menangis. Tidak terkena serangan jantung saja, itu sudah bersyukur mengingat apa yang akan dipakai untuk biaya rumah sakit.
Milk hanya bisa diam dengan punggung yang dia sandarkan pada kursi. Entah apa isi dalam kepalanya? sampai-sampai dia terlihat putus asa.
.
.
Di lain tempat. Fox merubah jadwal yang seharusnya dia memberi kejutan kepada Jelly. Tadinya, dia ingin Jelly datang ke sebuah restoran mewah dan mengajaknya makan malam sebagai kejutan ulang tahun nya.
__ADS_1
Tapi dia berpikir? Apa itu elok dia lakukan mengingat dia memiliki seorang istri? Meskipun niatnya hanya memberi sebuah kejutan dan ingin Jelly senang dan bahagia, tapi rasanya, itu terlihat romantis dan hanya pasangan yang memiliki status hubungan saja yang pantas melakukannya.
Jika seandainya ada beberapa teman lainnya yang menikmati makan malam itu, mungkin tidak menjadi masalah. Namun ini hanya berdua, duduk berhadapan bersulang merayakan hari jadi tambah usia. Menikmati makan malam yang bisa dikatakan romantis, belum lagi suara biola yang mengiringi makan malam itu. Ah, rasanya itu tidak pantas.
Alhasil, Fox dalam sekejap merubah rencananya.
" Kita mau kemana?" tanya Jelly yang risih karena sedari tadi banyak karyawan yang memperhatikan dia dan bos besarnya, itu dikarenakan Fox menggelandang pergelangan tangannya sampai area parkiran.
" Masuk saja!" perintah Fox yang membuka pintu mobil untuk Jelly.
Jelly yang melempar lirikan mata ke bos besarnya, namun dia patuh juga dengan apa yang diperintahkan nya. Dia masuk dalam mobil sesuai perintah Fox.
Fox kemudian melajukan mobilnya sampai bandara. Ya, dia sengaja tidak menyetir sendiri pulang pergi Jakarta-Bandung karena takut jika dia akan kelelahan dan malah merepotkan istrinya yang tengah hamil akibat sakitnya.
Jelly yang masih tidak tahu jalan pikiran Fox.
" Kita mau kemana?" tanya Jelly yang masih dibuat penasaran.
" Sudah ikut saja! kamu akan tahu nanti." Tangan Jelly yang lagi-lagi digelandang Fox untuk masuk ke Bandara dan berjalan menuju ke parkiran pesawat yang ternyata akan berangkat.
" Bandung?" lirih Jelly yang heran mengapa Fox mengajak nya ke Bandung.
Mereka kemudian menaiki tangga pesawat dan mencari nomor penumpang sesuai tiket penerbangan. Alhasil berhasil ketemu dan mereka akhirnya duduk bersebelahan.
Kembaran Priyanka Chopra itu masih tidak mengerti apa maksud pria sekaligus bos besarnya. " Sebenarnya kita mau apa pergi ke Bandung?" tanyanya menoleh kepada pria yang duduk di sebelahnya dengan bahu bersentuhan dengan nya.
" Nanti kamu akan tahu." Entah mengapa tatapan Fox yang teduh selalu membuat Jelly nyaman sekaligus grogi jika Fox menatapnya dengan jarak dekat. Meskipun antara kami tidak ada rasa, tapi tidak dipungkiri jika satu sama lain pernah terpesona saat duduk di bangku SMP.
Sesaat setelah keduanya saling bertukar tatap dengan jarak dekat. Jelly kemudian sadar jika bos besarnya hanya senang menggodanya, memberinya harapan palsu yang tak mungkin dia gapai. Melakukan ini itu hanya karena simpati kepadanya.
Sadar Jelly, dia pahlawan mu tapi bukan milik mu.
Semua yang dia lakukan tak lebih karena rasa kasihan.
Jelly yang kemudian memandang ke arah jendela pesawat karena pesawat sudah mulai perlahan mengudara.
Perjalanan singkat itu tidak terasa. Hingga akhirnya pun mereka sampai di kota Bandung.
__ADS_1
Fox juga sudah memesan mobil rental berikut supirnya. Dan sekarang mobil rental berikut supirnya itu pasti sudah menunggunya di Bandara.
Alangkah terkejutnya, Milk dan Jelly bertemu setelah Milk menghubungi nomor ponsel Fox selaku penyewa mobil rental dan supirnya.
Ceritanya, Milk dihubungi salah satu saudaranya yang menyewakan mobil rental. Namun karena saudaranya tidak bisa, saudaranya mencoba menghubungi Milk apalagi keluarganya sedang kesusahan saat ini. Alhasil Milk mengiyakan tawaran saudaranya. Hitung-hitung lumayan mendapatkan uang untuk sekedar membeli makan malam sekeluarga.
" Milk." lirih Jelly heran karena Milk tampak kurus dan terlihat kusut.
" Jelly." lirih Milk yang heran mengapa Jelly bersama pria yang lagi-lagi pernah dia lihatnya. Pria yang kini berdiri dan bahkan menggandeng pergelangan tangan Jelly. Bola mata Milk bergeser memperhatikan Jelly dan Fox.
Fox yang mengenal pria yang disebut Jelly. Dia hanya diam menyaksikan dua orang yang pernah menjalin sebuah hubungan, namun kandas dan sekarang bertemu bahkan untuk kesekian kali.
Setelah keduanya saling berkerut dahi karena heran mengapa tiba-tiba bisa bertemu tanpa sengaja.
Fox kemudian menyudahi tatap heran mereka yang tanpa bicara.
" E ... " Fox yang akan berbicara namun Milk sadar dan menyelanya.
" Maaf, apa benar atas nama Fox?" Milk yang menggeser sementara pandangannya dari Jelly.
" Iya." jawab Fox.
" Maaf, kalau saya yang menggantikan saudara saya. Jadi silahkan." Milk memandu mereka pada mobil sedan yang terparkir di area parkiran bandara.
Sementara isi kepala Jelly banyak pertanyaan yang membuatnya penasaran.
Mengapa dia di Bandung?
Bukannya harusnya dia di Jakarta dan sedang bekerja. Tapi ...
Jelly yang melamun sejak tadi hingga hilang konsentrasi pada jalannya.
" Jelly ... Jelly ... " Fox yang memanggil Jelly karena Jelly terus berjalan padahal mobil Milk sudah di depan mata.
" Hem." bingungnya dengan memasang wajah bodoh.
Dan itu disaksikan oleh Milk dan Fox yang sudah pasti membuat pipi Jelly merona akibat malu karena melamun.
__ADS_1
" Silahkan." Milk yang membukakan pintu mobilnya untuk Jelly dan Fox.
BERSAMBUNG