
Sangat lama ibu guru Candy mencoba menghubungi Tamarin namun tidak mendapat jawaban..
Ibu guru Candy pun mencoba mengulangnya sampai lima kali namun hal yang sama tetap di dapatnya. Tidak ada jawaban dari mamanya Candy.
Untungnya ibu guru Candy memiliki nomor papanya Candy yaitu Fox. Ibu guru Candy kemudian mencarinya di daftar kontak sembari memperhatikan Candy yang terlihat murung dan sedih.
Fox sendiri dengan sangat seksama mengulangi langkah demi langkah untuk memeriksakan kesehatan anu nya yang bisa dikatakan bermasalah.
Setelah mengontrol kan alat tempurnya yang kemarin sempat ngilu. Fox benar-benar mendengarkan satu persatu apa yang disampaikan oleh Dokter hingga tak ada yang luput satu pun termasuk hasilnya yang sudah dia terima.
Tidak ada yang berubah dari hasil pemeriksaan itu. Tingkat kesuburan Fox memang bermasalah bahkan sebelum terjadinya kecelakaan. Lagi-lagi hasil pemeriksaan yang sengaja dia ulang cukup membuat otaknya berantakan.
Dert
Dert
Ponsel Fox dalam saku celana yang bergetar. Dia pun berpamitan kepada Dokter terlebih dahulu dan segera keluar dari ruangan sang Dokter.
Dengan cepat mengangkat sambungan telepon dari nama yang terbaca adalah Ibu Guru Candy dalam layar utama ponselnya.
Setelah mendengar apa yang disampaikan ibu guru Candy. Fox cukup terkejut. Karena ini kali pertama Tamarin sampai melupakan putrinya sendiri. Lalu ada dimana dia? Sampai tidak mendengar ponselnya saat ibu guru Candy menghubunginya.
Fox yang lupa jika anu nya masih sakit. Saat dia hendak berlari. Ringis nya pun menghiasi. Terpaksa dia harus berjalan pelan menuju ke mobil sembari membawa map berisi hasil pemeriksaan hari ini.
" Kita ke sekolah Candy ya pak!" ucapnya pada seorang supir pribadinya yang sudah membukakan pintu mobil untuknya.
Di dalam mobil. Fox tidak berhenti menghubungi Tamarin. Namun tak kunjung diangkatnya.
.
.
" Candy sayang, Candy tenang ya ... Sebentar lagi papa datang untuk jemput Candy." Ibu guru yang mencoba menghibur Candy supaya tidak lagi.
" Iya ibu guru." Candy pun di ajak ibu guru bermain sembari menunggu papa Fox datang.
.
.
Kepuasan tiada Tara yang dirasakan oleh Tuan Kino. Permainan ranjang mereka berakhir dengan cukup melelahkan hingga keduanya masih ogah-ogahan untuk bangkit dari ranjang.
Tuan Kino yang mengecup lengan bercahaya Tamarin yang belum memakai pakaiannya kembali. Tubuhnya masih terbaring tertutup selimut tebal dan Tuan Kino tidak berhenti membelai rambut cokelat terangnya.
Tamarin yang kemudian mengerjap kan kelopak matanya. " Candy." Jenggirat nya dari atas ranjang dan menyambar pakaiannya. Memakainya dengan cepat dengan nafas yang jelas terdengar berantakan.
__ADS_1
Begitu juga dengan Tuan Kino. Terlebih jika mengetahui setelah menyambar jam tangan mewahnya. Melihat jarum pendek mendekat di angka dua belas. Dan jelas sudah, terlambat lah menjemput Candy di sekolahnya.
" Fox?" Tamarin yang shock melihat panggilan tak terjawab di pemberitahuan ponselnya.
" Ibu guru Candy?" Tamarin bertambah panik melihatnya.
" Maafkan aku Baby." Permintaan maaf Tuan Kino disela-sela sibuknya menggunakan kaos berkerah nya.
" Tidak ada waktu lagi." Pergelangan tangan kembaran Brad Pitt yang digelandang cukup kuat oleh Tamarin, sementara kaos berlogo merk ternama itu belum rapi sempurna di pakainya.
Namun Tamarin seolah tidak perduli dan tetap menggelandangnya keluar dari pintu apartemen.
Brak
Pintu apartemen sejuta kali lipat terdengar dibanting Tamarin.
Keduanya pun dengan langkah besar menuju lift dan tergesa-gesa supaya bisa cepat sampai ke sekolah Candy.
Di lain sisi, Jelly yang sedari tadi menguping mereka di ruang tamu. Berharap mereka cepat keluar namun ternyata dia menunggu lama hingga terdengar pintu yang terbanting dengan berlipat lebih kerasnya dari yang awal mereka masuk.
Jelly kemudian membuka pintunya, dan berjalan mengendap-endap celingukan dan memastikan aman. Nafas lega pun akhirnya dia suarakan dan dengan cepat dia menuju lift untuk pergi makan siang di Mall yang tidak jauh dari apartemen karena perutnya lapar.
Karena ada dua orang tadi, Jelly tidak bisa kemana-mana karena takut. Apalagi lemari pendinginnya juga kosong karena dia belum belanja. Yang seharusnya tadi dia beli obat meriang sekaligus sarapan dan pergi ke supermarket bawah sebentar, semua dia urungkan. Alhasil perutnya keroncongan ditambah suhu tubuhnya meningkat.
" Apa tidak bisa lebih cepat?" Tatapan Tamarin yang terdapat setitik murka bertambah dengan panik.
Membuat Tuan Kino memutuskan untuk lebih baik diam ketimbang terjadi sebuah perang mulut.
Tuan Kino pun mengikuti saja perintah wanita yang kini duduk cemas disampingnya.
.
.
" Bukannya itu mobil Tamarin." tengoknya dan Fox yakin dia tidak salah jika mobil yang terparkir di pinggir jalan itu adalah mobil istrinya.
Tidak lama, Fox pun turun dari mobil untuk menuju ke kelas Candy.
" Papa." Candy yang berlari menghampiri papanya dengan melepas senyum riang.
" Maafkan papa ya sayang, papa agak lama. Tahu kan? Papa belum bisa berjalan normal apalagi berlari?"
" Hihihi." Candy yang menyuarakan riak tawanya.
" Terimakasih ya Bu." ucap Fox kepada ibu guru Candy dan langsung berpamitan.
__ADS_1
" Sama-sama pak." balas ibu guru Candy.
Fox dan Candy pun berjalan beriringan dengan pelan-pelan.
" Papa hati-hati saja jalannya tidak usah buru-buru!" Candy yang malah khawatir dengan papanya.
" Iya sayang. Papa jadi kangen cepat ingin sembuh dan menggendong Candy lagi." balasnya.
Tidak berselang lama, mobil Tuan Kino yang hendak menyeberang jalan. Namun dia urungkan karena melihat Fox dan Candy berjalan beriringan menuju sebuah mobil.
" Kenapa terus? Kenapa tidak berhenti?" Tamarin yang langsung bereaksi.
" Ada Fox." tatapnya tajam sekaligus cemas.
" Lalu harus bagaimana?" Tamarin seperti Dejavu dengan peristiwa enam tahun lalu. Peristiwa yang hampir ketahuan oleh Fox dan Nyonya Mint.
" Sebaiknya kamu turun! Ambil mobil mu dan segera pulang! Carilah alasan!" Perintah Tuan Kino yang langsung dijalankan oleh Tamarin.
Tamarin pun akhirnya turun dan menuju mobilnya. Dia sedikit bingung dengan alasan apa yang akan dia katakan kepada suaminya.
Di dalam mobil pun dia tidak tenang dan gelisah. Sampai beberapa kali hendak menabrak orang yang akan menyebrang jalan. Lalu dia berhenti dan meminggirkan mobilnya untuk berdiam sejenak supaya lebih tenang.
Barulah setelah hampir sepuluh menit membuang nafas beratnya, dia melajukan mobilnya kembali.
.
.
Di dalam mobil yang berbeda.
Fox dan Candy tengah berbicara layaknya putri kecil yang merindukan papanya. Candy mendekap erat lengan papanya dan kepalanya dia sandarkan pada bahu papanya seolah tidak mau lepas.
" Bukankah kamu tadi di antar mama?" Fox yang memulai pembicaraan kepada putrinya.
" Iya papa, tidak biasanya juga mama tidak menunggu ku hari ini. Mungkin karena ibu guru menambah jam kelas papa?"
" Oh ya?" tengoknya kepada putrinya.
" Hem." seraya mengangguk.
" Apa tadi mobil Tamarin?" Fox yang menyuruh supir pribadinya untuk mengecek mobil yang terparkir di pinggir jalan agak jauh dari sekolah Candy tepatnya di dekat taman.
Ya, Tamarin tadi pagi memang memarkir mobil pribadinya di sekitaran taman. Itu karena Candy meminta kembang gula dan mainan gelembung sabun sebelum masuk kelas. Dengan dalih kasihan melihat tukang jualnya. Alhasil Tamarin pun mengiyakan rengekan putrinya.
BERSAMBUNG
__ADS_1