
" Sebentar." Milk mengusap pinggir bibir Jelly yang belepotan menggunakan ibu jarinya.
Membuat Jelly menatap deg-degan pria yang pernah mengisi relung hatinya itu. Meskipun pria itu pula yang mengahancurkan nya, mengapa tetap saja merasa salah tingkah jika kini dia sangat dekat dengan nya.
Tatapan sepasang mata dari masing-masing itu jelas menggambarkan seperti masih ada perasaan walau secuil.
" Apa kamu mau kita ngobrol di taman rumah sakit? supaya kamu bisa menghirup udara malam." Sengaja Milk berkata demikian karena bisa melihat jika Jelly seperti tidak nyaman dengan sikapnya yang masih perhatian dan perduli kepadanya.
" Boleh." jawab singkat Jelly yang menginginkan hal itu terjadi supaya pria di depannya tidak terus memandangi nya atau bahkan memberikan perhatian yang bisa membuatnya deg-degan atau malah jantungan.
Tidak dipungkiri pesona Milk masih tetap sama. Dia tetap menjadi raja yang masih menguasai isi hatinya. Satu tahun berlalu dengan keputusan menikahi sahabatnya, Jelly masih terngiang dengan semua perlakuan pria yang sudah meninggalkannya.
Kebenciannya terasa sirna, setelah Milk membawanya ke rumah sakit dan menyelamatkan jiwanya.
.
.
Berbeda dengan Fox yang istrinya sedang hamil muda. Tamarin yang kondisinya sekarang jauh lebih baik dan dibolehkan pulang.
" Kamu bisa sayang?" pertanyaan manis beserta perlakuan manis dari suami yang habis-habisan terkena murka dari ayahnya sendiri sekaligus kekasih gelap istrinya. Fox membantu Tamarin untuk duduk di kursi roda supaya Tamarin tidak lelah berjalan untuk menuju ke tempat parkir mobil.
" Bisa." jawab Tamarin supaya suaminya jangan terlalu berlebihan mengkhawatirkannya. Namun demikian dia sangat bahagia dengan perhatian yang Fox berikan kepadanya.
Fox kemudian mendorong kursi roda yang diduduki Tamarin untuk keluar dari ruang perawatan. Menyusuri lorong-lorong rumah sakit untuk menuju ke parkiran mobil.
Namun secara tidak sengaja, Fox melihat Jelly dan seorang pria duduk di bangku taman rumah sakit. Fox memberhentikan kursi roda yang diduduki Tamarin. " Jelly." lirih Fox. " Pria itu?" Fox yang mengenal pria itu yang sepertinya adalah mantan kekasih Jelly. " Jelly di infus? kenapa dia?" tanyanya cemas.
" Sayang kenapa berhenti?" tanya Tamarin yang mendongakkan kepala menatap janggut suaminya.
" Oh." Fox yang hampir lupa jika dia bersama istrinya. Fox kemudian melanjutkan mendorong kursi roda yang diduduki Tamarin hingga parkiran mobil meskipun hatinya banyak pertanyaan tentang kembaran Priyanka Chopra itu.
Sementara Jelly yang sedari tadi sudah banyak bertukar cerita dengan Milk.
" Berarti hubungan kita sudah baik-baik saja kan Jell?" tanya Milk di ujung malam.
" Iya, aku sudah lupakan peristiwa satu tahun silam. Selamat ya, atas kehamilan Ita dan sebentar lagi kamu akan jadi ayah." ujar Jelly meskipun hatinya belum rela. Tapi dia harus terlihat baik-baik saja supaya pria disampingnya tidak tinggi hati jika dia tahu dia belum sepenuhnya bisa menerima.
Milk melepas nafas panjang. Seolah lega jika hubungan yang sempat memburuk untuk satu tahun silam kemudian membaik kembali dan bahkan jauh lebih baik.
__ADS_1
" Iya, aku juga tidak sabar menantikan kehadiran anak ku yang sebentar lagi akan lahir." binar mata bahagia yang terpancar saat sesekali Jelly mencuri pandang wajah pria disampingnya.
Deg
Seketika jantung Jelly serasa berhenti. Hatinya bagai tersayat-sayat mendengar pria yang masih menjadi raja di hatinya seolah bahagia dengan pernikahannya.
Sementara dia, pantas jika disebut wanita paling merana sedunia. Terbukti, sampai saat ini nyatanya dia juga belum menemukan pengganti dari mantan kekasihnya itu.
" Kalau begitu aku pulang dulu ya." pamit Milk yang berdiri dengan menyembunyikan kedua telapak tangan di kedua kantong celana. Namun tidak tatapan matanya, yang terus tertuju kepada wanita yang duduk di depannya.
" Iya. Sekali lagi terimakasih." Jelly sudah tidak ragu lagi mengatakan hal itu berulang kali.
" Apa perlu besok saya jemput?" tawaran Milk yang dengan cepat di tolak oleh Jelly.
" Tidak usah, aku bisa pulang sendiri."
" Baiklah kalau begitu." Milk yang kemudian pergi meninggalkan Jelly karena Jelly masih ingin berada di taman. Sesekali Milk masih menoleh ke belakang saat langkahnya memandu berjalan ke depan. Melihat Jelly yang sama pula memandangnya dari kejauhan.
.
.
Milk kemudian bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena seluruh tubuhnya terasa lengket dan dia merasa tidak nyaman.
Meninggalkan ponselnya di atas meja hingga baterai ponselnya dirasa cukup untuk dinyalakan kembali.
Setelahnya kembali dari kamar mandi, dia yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk putih menggunakan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya sibuk menyalakan ponsel guna laporan kepada Ita istrinya.
Seperti biasa, jam dimana biasanya dia menghubungi Ita guna menanyakan sudah makan apa belum atau sekedar obrolan ringan antara suami dan istri yang dimana sedang LDR an untuk waktu yang tidak bisa dipastikan.
Kedua mata Milk membulat menegang. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang. Masih belum tahu apa yang terjadi. Namun jika melihat pemberitahuan pada layar utama ponselnya. Isi kepalanya timbul pertanyaan. Mungkinkah Ita sudah lahiran? Karena sebenarnya, jadwal hari perkiraan lahiran Ita kurang dua minggu. Siapa tahu memang Ita lahiran lebih awal dari jadwal yang ditentukan dokter kandungan.
Belasan kali ibu mertuanya melakukan panggilan. Ditambah dengan kakak perempuannya yang bernama Happy juga sama banyaknya melakukan panggilan ke ponselnya. Belum cukup dua orang itu melakukan panggilan. Iparnya yang bernama Dent juga sama banyaknya melakukan panggilan.
Membuat nafas Milk semakin cepat dan pikirannya gembrambyang. Namun dia berusaha tenang dan menghubungi kakak perempuannya.
.
.
__ADS_1
Di rumah sakit di kota Bandung.
" Bagaimana Happy? Apa adik mu sudah bisa dihubungi?" tanya Ibu Milk cemas setengah mati. Menghubungi putranya sedari siang hingga malam namun sampai sekarang tidak berhasil jua. " Kemana adikmu itu?" keluh wanita paruh baya yang menggunakan kerudung segi empat merah tua.
" Aku juga tidak tahu Bu." Happy juga terlihat kesal dengan Milk adik laki-lakinya itu.
Dent kakak ipar Milk yang kemudian berjalan menghampiri istrinya dan duduk di samping istrinya menunggu Ita yang masih berjuang antara hidup dan mati di ruang operasi.
" Bagaimana? Apa Milk bisa kamu hubungi Dent?" tanya wanita paruh baya penuh dengan kecemasan.
Dert
Dert
" Milk." lirih Ita yang menyebut nama adiknya ketika membaca nama pemanggil di layar ponsel yang di genggamnya.
" Cepat angkat sayang." titah Dent dengan sangat serius.
" Iya." lirih Happy kepada suaminya. " Hallo Milk, kamu kemana saja? kenapa dihubungi dari tadi ponsel mu tidak bisa? kamu tahu ... " Ucapan kakak perempuan Milk yang bernama Happy masih menggantung dan membuat hatinya terenyuh tidak tega jika Milk adiknya sampai mendengarnya.
" Iya maaf kak. Ponselku baterainya habis dan tidak menyala. Ada apa kak? apa Ita sudah lahiran?" tanya Milk di balik sambungan ponselnya.
Happy yang berdiri dari duduknya bingung untuk menjelaskannya. Happy melirik suaminya dengan tatapan tidak tega untuk menyampaikan kepada Milk apa yang sebenarnya terjadi.
Dent suami Happy langsung menyambar ponsel istrinya dan mengatakannya. " Istri mu mengalami kecelakaan dan malam ini juga pulanglah ke Bandung!"
" Apa?" Milk terkejut bukan main. Jantungnya serasa berhenti saat itu juga. Ponselnya jatuh. Air matanya sudah deras membasah di kedua pipinya.
" Milk ... Milk." panggil Dent kakak iparnya berulang namun tak ada jawaban dari sambungan telepon.
Wanita paruh baya berkerudung merah tua itu menangis terisak menundukkan wajahnya. Suami paruh baya nya yakni ayah Milk berusaha mengusap bahu istrinya dan menyuruh untuk ikhlas menerima jika calon cucunya tak terselamatkan.
Begitu histerisnya tangisan keluarga Milk saat tahu jika calon buah hati Milk yang harusnya saat ini di timang oleh mereka. Namun belum saja lahir ke dunia, calon cucu nya itu sudah harus kembali diminta Pemiliknya.
Padahal itu adalah calon cucu yang ditunggu-tunggu oleh keluarga besar Milk. Setelah Happy dan Dent yang sudah hampir sepuluh tahun menikah namun tak kunjung di karuniai seorang anak. Membuat calon anak Milk inilah yang digadang-gadang dan harapan kedua orang tua Milk untuk segera menimang cucu.
Namun sungguh bernasib malang. Sudah kehilangan besan dan calon cucu dalam waktu bersamaan. Kini malah Ita menantunya dalam keadaan kritis di ruang operasi.
BERSAMBUNG
__ADS_1