Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua

Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua
Mentos


__ADS_3

" Apa aku boleh ikut sayang?" Tamarin yang membenahi kerah kaos yang dikenakan suaminya.


" Kamu pasti akan bosan. Jadi sebaiknya kamu di rumah ya."


" Baiklah, kamu hati-hati ya."


Iyes berhasil. dengan senyum kemenangan layaknya memenangkan sebuah pertandingan. Dia girang jika Fox akhirnya akan pergi ke bandara dan sangat jauh dari rumah besarnya. Terlebih Fox harus menunggu sahabat yang itu tidak pernah ada dan datang. Tuan Kino hanya berbohong kepada Fox supaya Fox sibuk di luar, sementara dia dan Tamarin ...


" Ayah." sapa Fox saat keluar dari kamar yang pintunya terbuka lebar.


" Kamu sudah siap?"


" Iya, ini aku mau berangkat."


" Okay hati-hati. Terimakasih ya sayang." Tuan Kino yang menemani Fox menuruni anak tangga sembari memberi tahu Fox seperti apa dan nama sahabat ayahnya itu. Berikut kedatangan pesawatnya kira-kira tiba jam berapa. Itu semua hanyalah fiktif dan akal-akalan Tuan Kino semata.


Setelah Tuan Kino mengantar Fox sampai pintu depan rumahnya dan melihat mobil putranya keluar dari pagar tinggi menjulang untuk menuju bandara.


Dia bahkan melepas senyum lebar bahagia dan segera naik ke lantai dua tepatnya di kamar Tamarin.


" Baby." Tuan Kino yang meraih tubuh wanitanya. Sudah tentu tatapan mereka akan seperti apa? keduanya bahkan tak berjarak hingga lagi-lagi itu membuat Tuan Kino semakin menggebu ingin memiliki Tamarin seutuhnya. " Apa kamu sengaja melakukannya?" tanya Tuan Kino yang cemburunya overdosis padahal jelas-jelas Tamarin adalah istri putranya.


" Melakukan apa?" Tamarin yang tidak mengerti apa maksud kekasih gelapnya itu.


" Kamu bercumbu mesra dengan Fox di depan ku. Apa kamu tahu perasaanku?" Semakin dekat tatapan mata itu seolah meminta hal lebih pada Tamarin.


Tamarin mendengus. " Anda gila! Fox suami saya, lalu aku harus bagaimana?" Tamarin yang berusaha melepas lengan kekar yang melingkar pada pinggulnya.


" Setidaknya kamu tidak melakukannya di depan ku."


Tamarin hanya menoleh kesal dengan pria yang mengisi seperempat hatinya itu. Dia hanya berdiri tanpa peduli dengan Tuan Kino.


Sementara Tuan Kino yang tahu jika sepertinya Tamarin tidak suka akan pernyataannya tadi. Dia dengan cepat merayu wanitanya untuk tidak mempersoalkan nya. Dan sekarang dia hanya ingin waktu yang tersisa sebelum kedatangan Fox, dia pergunakan betul untuk menikmati setiap belaian manja dari wanitanya.


Satu jam, dua jam bahkan sampai lima jam lamanya Fox menunggu kedatangan sahabat ayahnya, namun tak kunjung jua dia bisa bertemu dengan sahabat ayahnya di bandara.


Berkali-kali Fox berkirim pesan kepada ayahnya. Namun Tuan Kino selalu berkilah jika pesawatnya delay dua jam dan akhirnya Fox menunggu sampai sore.


Hingga hari sudah menjelang malam. Fox akhirnya menghubungi ayahnya dan dengan mudahnya Tuan Kino mengatakan jika sahabatnya tidak jadi datang dikarenakan masih transit di Singapura. Dan menyuruh Fox pulang.


Tuan Kino yang menutup ponselnya diiringi dengan riak tawa bahagia.


" Kenapa?" tanya Tamarin yang sedang berada dalam pangkuan kekasih gelapnya. Keduanya berada di long sofa dalam kamar itu karena Tamarin tidak mengijinkan seorang pun kecuali Fox berada di atas ranjangnya.

__ADS_1


Tuan Kino yang membelai rambut cokelat terang milik wanitanya. " Tidak, tidak ada apa-apa?"


" Bukankah tadi Fox?"


" Iya, aku menyuruh Fox pulang. Karena sahabatku tidak jadi datang."


Tamarin yang kemudian duduk dan menatap Tuan Kino. " Apa ini hanya rencana anda? supaya ... " Tamarin dengan wajah penasarannya.


" Betul, itu karena aku ingin kita terus selalu seperti ini, Baby." Tuan Kino yang mengendus mendekatkan wajahnya pada bagian leher milik wanitanya kemudian mengecupnya dengan lembut.


Fox, kasihan dia. gumam Tamarin dalam hati.


" Tak ada yang boleh mengganggu kita bukan?" Tuan Kino yang terus menghujani Tamarin dengan kecupan.


.


.


" Fox mana?" tanya Nyonya Mint saat ketiganya duduk di meja makan untuk menyantap makan malam.


Tidak lama langkah Fox terdengar lesu dengan wajah bertekuk nya.


" Malam." sapa Fox kepada semua yang tengah duduk di meja makan. Tidak lepas dari lirikan mata yang Fox layangkan kepada sosok yang dia panggil ayah.


" Dari bandara?" Fox yang menggeser kursi lalu duduk di samping istrinya.


" Bandara? ngapain?" tanya Nyonya Mint yang penasaran mengapa putranya baru datang saat makan malam.


" Sorry ya Fox. Gara-gara ayah kamu jadi menunggu lama di Bandara." sahut Tuan Kino.


" Memangnya kamu suruh apa Fox di Bandara?" tanya Nyonya Mint dengan heran.


" Itu, Mentos katanya mau datang dan mampir ke rumah. Tapi ternyata dia masih di Singapura akibat pesawatnya delay hingga dua jam." jelas Tuan Kino.


Nyonya Mint yang memperlambat mengunyah setelah mendengar apa yang dikatakan suaminya. " Mentos?" wajahnya yang menatap suaminya.


" Iya Mentos." jawab tanpa ragu dari Tuan Kino kepada istrinya.


Mentos. Bukankah dia pengusaha kaya yang bahkan tidak pernah menggunakan pesawat komersil. Dia selalu menggunakan jet pribadinya, kalau pun dia berkunjung ke Indonesia.


Delay.


What?

__ADS_1


Kenapa ini semua tampak ngawur.


Well. gumam dalam hati Nyonya Mint yang bingung dengan ucapan suaminya. Dia lantas melanjutkan menghabiskan makanan yang masih tersisa di atas piringnya.


Meskipun sesekali mencuri pandang suaminya yang menerka apakah terlihat aneh, namun Nyonya Mint tidak berhasil mendapatkan jawaban dan menganggap tidak ada yang aneh dengan suaminya.


.


.


Setelah makan malam berakhir. Nyonya Mint yang sedang membersihkan wajahnya dari make up yang menempel pada wajahnya menggunakan kapas dan duduk di depan cermin riasnya.


Dia kemudian sadar, saat tadi pagi mencari lipstik kesayangannya yang berwarna merah darah namun sangat cocok dan nyaman jika dipakainya sepertinya tidak ada di atas meja rias.


Nyonya Mint membuka satu persatu lipstik yang segambreng itu dan melihat nomor pada bagian bawah namun dia curiga mungkin lipstiknya terjatuh. Dia kemudian mencarinya sampai di bawah lantai mana tahu terselip di bawah karpet dan mencelat entah kemana.


" Kamu sedang mencari apa?" Tuan Kino yang sedang bermain mobil legend itu sadar jika istrinya sepertinya sedang resah. Meskipun konsentrasinya pada layar Hp. Namun lirika sudut mata jelas terlihat jika Mint istrinya seperti mencari sesuatu.


" Sepertinya lipstik ku jatuh."


Jawaban yang membuat Tuan Kino terdiam dan End. Dia kalah dalam permainan mobil legend nya. " Kok bisa?"


" Entahlah, aku masih belum menemukannya. Padahal itu lipstik kesayangan ku."


Untung saja lipstik yang patah itu sudah aku buang.


Ya, lipstik yang dipakai Tuan Kino menyamar jadi bencong metropolitan itu akhirnya di buang oleh Tuan Kino karena ketimbang dia bingung mencari-cari alasan. Hal termudah adalah membuangnya supaya istrinya tidak mempertanyakan.


" Kamu kan punya lipstik banyak. Kalau pun sudah hilang, kamu kan tinggal beli lagi." celetuk Tuan Kino yang memberhentikan aktivitas Nyonya Mint untuk menelusuri mencari lipstiknya yang hilang yang menurutnya terselip.


Tok ... Tok.


Suara ketukan di balik pintu yang ternyata bibi mengantarkan dress cantik bermotif bunga-bunga setelah di cuci dan tentunya di setrika.


" Ini Nyonya dress-nya." Bibi yang menyerahkan dress kesayangan Nyonya Mint.


" Terimakasih ya Bi." Nyonya Mint yang menutup kembali pintu kamarnya kemudian menuju walk in closet untuk menggantung dress-nya.


Tuan Kino yang deg-degan apakah Mint akan tahu jika resleting pada bagian punggung itu rusak?


Namun Nyonya Mint menggantungnya tanpa mengecek dress miliknya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2