Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua

Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua
Fox Memberi Semangat Kepada Jelly


__ADS_3

Fox yang membanting tubuhnya terlentang di atas ranjang kamar Hotel dimana dia menginap.


Menghembus nafas kasar karena tubuhnya lelah untuk seharian ini. Dia bahkan melupakan Tamarin dan tidak mengecek ponselnya karena malam sudah membuat kedua matanya terpejam.


.


.


Keesokan pagi. Fox yang terkejut bukan main ketika matanya terbangun dan melihat jam di ponselnya yang menunjukkan pukul 09.00 pagi.


Dia yang sepertinya kelelahan karena seharian pontang-panting seperti kitiran dari yang mengantar ibunya Jelly ke rumah sakit hingga ke pemakaman dan bahkan hingga kembali ke Hotel larut malam.


Tersadar, jika dia memiliki janji dengan seorang kepala bagian cabang untuk meninjau proyek pembangunan apartemen yang sedang berjalan. " Astaga." ucapnya lirih menepuk jidatnya dengan kepalan tangan kanannya.


Fox lantas menyambar ponsel yang tidak jauh


darinya. Betapa terkejutnya karena nama Istriku Tercinta menduduki nama teratas dalam daftar pemberitahuannya. " Tamarin." lirihnya lagi.


Namun tetap saja, untuk pagi ini dia lagi-lagi mengabaikan Tamarin istrinya. Fox dengan cepat mencari daftar nama Kepala bagian cabang dan mengundurnya besok saja jika akan mengunjungi proyek apartemen yang sedang berjalan.


Setelahnya usai menghubungi Kepala bagian cabang. Dia lantas menghubungi Tamarin.


Cukup lama Fox mencoba menghubungi Tamarin, namun tidak ada tanda-tanda suara dari balik sambungan ponsel.


Fox yang tidak berpikir macam-macam. Dia lantas bergegas menuju kamar mandi dan bersiap menuju ke rumah Jelly.

__ADS_1


Dia bahkan melupakan sarapannya dan langsung menginjak pedal gas mobil melaju rumah Jelly yang tidak jauh dari Hotel.


Sesampainya Fox di depan rumah Jelly. Pintu pagar yang tidak terlalu tinggi itu tidak terkunci. Jarak halaman yang cukup jauh dari pintu utama itu membuat nya masuk dan sangat jelas jika pintu utama rumah Jelly terbuka lebar. Itu menandakan jika ada orang di dalam rumah.


" Non, non Jelly harus makan, dari kemarin non Jelly tidak makan. Nanti non sakit non." pinta seorang asisten rumah tangga Jelly yang terdengar jelas oleh telinga Fox yang sedang berdiri di ambang pintu utama rumah Jelly.


" Permisi." Fox mencoba memanggil penghuni rumah.


" Iya, sebentar." bibi yang meletakkan piring lengkap sarapan pagi untuk majikannya di meja nakas.


" Eh, temannya nona Jelly. Silahkan duduk!" jawab bibi yang mempersilahkan Fox untuk duduk di teras bagian depan yang terdapat meja bundar dan empat kursi yang mengelilingi.


Sementara bibi yang memanggil nona Jelly dan memberi tahu jika ada temannya yang datang, Jelly bahkan tidak bergeming dari duduk di atas ranjang milik ibunya dan mendekap erat bingkai foto yang terdapat gambar dirinya dan ibunya yang melepas senyum bahagia.


Matanya yang memerah membengkak, rupa wajah yang tidak karuan sembab akibat menangis semalaman suntuk tidak habis dan tidak berhenti.


" Boleh saya menemuinya bi?" Fox yang tidak ingin pergi dengan tangan hampa tanpa berbincang atau hanya sekedar melihat keadaan Jelly sesungguhnya.


" Silahkan, dia juga dari kemarin tidak makan. Saya mengkhawatirkan kesehatan nona Jelly." Bibi yang berjalan beriringan dengan Fox menuju kamar ibunya yang tidak jauh setelah Fox dan bibi melewati ruang tamu.


Fox sedikit tercengang melihat Jelly yang sepertinya putus asa. Mungkin dia bingung, setelah ini dia harus bagaimana menjalani hidupnya tanpa ibunya.


Fox melangkah pelan memasuki ruangan kamar yang tidak terlalu luas itu. Ruangan sekitar tiga kali tiga meter itu tampak bersih dan hanya terdapat ranjang berukuran sedang dan meja nakas di samping kanan dan samping kiri ranjang itu.


Jelly yang bahkan belum mengganti pakaiannya. Kerudung hitamnya pun masih melekat melingkar di lehernya. Rambutnya bahkan berantakan tidak karuan.

__ADS_1


" Jelly." sapa Fox dengan menyentuhkan tangan kiri miliknya ke bahu Jelly.


" Maaf, aku tidak izin terlebih dahulu jika aku tidak masuk kantor." Jelly tetap pada posisi kepalanya yang menunduk sesenggukan mendekap erat bingkai foto ibunya.


" Iya, tidak papa. Aku tahu." Untuk sesaat Fox memandangi lekat bagian area wajah Jelly yang hanya terlihat sebelah kanan. " Tapi kamu tidak boleh terus-terusan seperti ini. Maaf sebelumnya. Aku tahu, ini berat bagimu. Tapi kamu juga harus tahu, kesehatan mu penting dan hidupmu harus berlanjut." Fox yang berusaha menyemangati Jelly.


Jelly yang menyeka kedua pipi yang membasah akibat air matanya. " Iya, kamu benar. Terimakasih atas nasehatnya." Jelly yang kemudian meletakkan kembali bingkai foto milik ibunya ke tempat semula. Berdiri dan berjalan pelan menjauh dari hadapan Fox dan menuju ke sebuah jendela kaca yang terbuka lebar. " Aku tidak tahu, apakah masih ada gunanya aku hidup?"


Fox yang mendengar itu sesaat membelalakan matanya. Meyakinkan apa yang baru saja di dengarnya.


" Setelah aku dikhianati oleh mantan kekasih sekaligus sahabatku sendiri, dan mereka melenggang ke pernikahan." Jelly yang berusaha membagikan cerita hidupnya yang menyedihkan kepada Fox. " Dan semua itu, sedikit banyak aku korbankan hidupku untuk merawat ibuku. Aku berjuang mati-matian bekerja banting tulang buat membiayai pengobatan ibu. Yang ayahku sendiri malah pergi meninggalkan kami berdua dan memilih menikah dengan istri baru. Dan melupakan kami begitu saja. Apa menurutmu hidup ku masih berguna?" Jelly dengan isak tangisnya dan kata terbata, hingga akhirnya dia menceritakan kepahitan hidupnya.


Fox yang tidak menyangka dengan apa yang dialami oleh Jelly. Pantas saja, meskipun ini rumah tidak terbilang mewah. Namun rumah ini cukup asri dibilang sederhana.


Dan benar dugaannya, kehidupan Jelly ada yang berbeda. Sekarang dia tahu, mengapa semenjak kedatangannya dan bertemu Jelly hingga beberapa hari menghabiskan waktu bersama, dia sering melamun dan tidak fokus pada apa yang dikerjakannya.


Ternyata cukup berat, apa yang dialaminya. Fox bisa merasakan, pontang-panting bekerja keras mencari uang mati-matian demi pengobatan ibunya itu tidaklah mudah.


Terlebih ayahnya yang memiliki cukup uang bahkan sudah tidak perduli lagi kepada kehidupannya dan ibunya.


Membuat Fox sedikit geram kepada ayahnya Jelly. Begitu egoisnya meninggalkan anak dan istrinya begitu saja tanpa perduli kehidupan mereka selanjutnya.


Terlebih jika melihat bahwa penyakit ibunya Jelly yang tidak main-main, pastilah membutuhkan biaya besar dan Fox yakin pasti Jelly menderita saat itu.


Hatinya terenyuh. Menarik nafas dalam dan mengeluarkan nya dengan sangat berat. Seluruh gigi dalam mulutnya mengerat, seolah mengapa begitu terlambat kehadirannya ke kota Bandung ini, andai kehadirannya lebih cepat satu tahun yang lalu. Mungkin Jelly tidak semenderita ini. Paling tidak dia tidak melewati kepahitannya sendiri.

__ADS_1


Kasihan kamu Jell, aku tidak menyangka, jika kamu yang seorang primadona sekolah saat itu. Akan bisa mengalami rentetan peristiwa pahit seperti ini. Tapi aku masih melihatmu tegar. Kamu kuat. Dan kamu tetap wanita pintar yang dulu aku kenal.


BERSAMBUNG


__ADS_2