
Namun setelah dirasa mereka sedikit tenang dan lelah karena terus menangis dan bersedih. Iya berusaha memberikan solusi dan pendapatnya. " Sebaiknya kita semua berkumpul dan tinggal di rumah kamu." ucap Ita yang menyentuhkan telapak tangan ke lengan suami yang duduk di sampingnya.
Milk yang menoleh bingung. Karena hanya Ita yang belum tahu jika rumah yang mereka tempati sudah di jual untuk biaya pengobatan rumah sakit.
Begitu juga dengan semua pasang mata yang tertuju kepada Ita.
Milk yang mengusap tengkuk leher kemudian berbicara. " Honey, maafkan aku, rumah kita sudah di jual untuk biaya pengobatan kamu di rumah sakit." ujar Milk dengan menggenggam kelima jemari kanan istrinya.
Membuat Ita menelan ludah dengan sulit. Bola matanya membulat penuh, sekaligus raut wajah serius setelah Ita mendengar apa yang disampaikan Milk suaminya. " Terus?" Ita yang tak sanggup berkata-kata.
" Maafkan aku Honey." Milk yang kemudian mengecup jemari istri yang digenggamnya.
Sementara Ita tidak kuasa menahan air mata yang mengambang. Dia kemudian menarik nafas dalam. " Bagaimana kalau kita meminjam uang di kantor mu? Perusahaan dimana kamu bekerja itu perusahaan besar. Siapa tahu bisa memberikan pinjaman pada kita?" antusias Ita setelah dia shock mendengar jika ternyata rumahnya dengan Milk sudah di jual.
Milk yang perlahan melepaskan jari tangan istri dari genggamannya. " Ini juga yang akan aku katakan kepada kalian." ucap Milk ragu setelah mendengar bertubi-tubi terpaan cobaan yang menghantam. Takut jika malah akan menambah beban. " Aku sudah di pecat."
Membuat jantung Ita berhenti untuk sesaat. Seolah tidak percaya dan berharap ini hanya mimpi.
" Apa?" Ibu Milk yang terkejut bukan main. Menatap penuh wajah putra yang duduk di sebelahnya.
" Iya Bu, kepergian ku ke Jakarta kemarin adalah keputusan dari pemilik perusahaan untuk memberhentikan saya kerja. Tapi sudahlah, nanti aku akan mencari pekerjaan baru. Sekarang lebih baik kita berunding dimana kita akan tinggal." jelas Milk berusaha tenang di depan keluarganya padahal kepalanya pusing tujuh keliling.
" Kalau begitu, kita sebaiknya tinggal di rumah orang tua ku." balas Ita yang ingin berguna meskipun dia duduk di kursi roda.
__ADS_1
" Nanti juga, aku akan coba pinjam ke teman-temanku. Siapa tahu ada yang membantu." jawab Happy sambil menyeka air mata dengan kata yang tak sepenuhnya lancar jaya.
" Tidak usah! nanti kamu malah seperti suami kamu." sentak wanita paruh baya dengan daster lengan panjang rumahan itu. Ibunya Milk.
Happy hanya bisa memejamkan kedua kelopak mata bersamaan dengan tetesan bening yang mengalir. Dia yang sebal dengan suaminya, lalu didorong lah dada bidang terbungkus kaos hitam itu dengan hentakan kasar dari telapak tangan Happy. Happy dengan cepat berlari ke kamarnya.
Dent, suami Happy menyusul meskipun ayah mertuanya penuh tanda tanya mengapa banyak luka di sekujur wajah dan juga lengan menantu pria nya.
Percekcokan mulut dari dalam kamar Happy pun nyaring terdengar kembali. Seolah hari ini adalah mimpi buruk untuk keluarga ini. Bisnis bangkrut, jatuh miskin dan kemungkinan akan menjadi gelandangan sudah membayangi keluarga ini.
Tuar
Terdengar pecahan entah apa dari kamar Happy yang sedang bertikai dengan suaminya.
" Kak Happy!" Teriak Milk terkejut dengan kakaknya yang sedang meletakkan pecahan beling dari sebuah gelas ke urat nadinya.
" Happy hentikan!" sahut ayahnya pula. " Apa yang kamu lakukan?"
Membuat Ibunya berlari menghampiri mereka. " Happy ... hentikan nak!" jerit tangis ibunya berusaha membujuk putrinya untuk membuang pecahan beling yang akan digoreskan pada nadinya.
Sementara Happy dengan tangis bercampur ide gilanya. Ketidakwarasan nya membuat dia putus asa. " Semua gara-gara kamu mas, kamu suami tidak tahu diri, suami tidak tahu diuntung. Keluarga ku jadi membenci ku dan semua itu ulah mu. Kita sudah tidak punya tempat tinggal lagi dan semua itu gara-gara kamu mas." tangis dan teriak bercampur menggebu di ujung kalimat Happy kepada suaminya.
" Maafkan aku sayang, semua itu aku lakukan demi kamu." iba Dent yang berusaha meminta ampun kepada istrinya.
__ADS_1
" Apa maksudnya semua itu demi aku?" Happy yang tidak sedikitpun memiliki belas kasihan pada suaminya.
" Aku selama ini berbohong jika aku bekerja." jawaban Dent, suami Happy yang membuat semuanya membulatkan mata penuh dan tertuju kepadanya. " Dan itu semua karena kamu menuntut ku untuk mencari pekerjaan yang bergaji tinggi seperti Milk adikmu." ibanya dengan tundukan kepala pasrah. Ingatannya menyelam pada suatu peristiwa beberapa tahun silam saat dia masih bekerja ikut merintis usaha ayah mertuanya. Yakni ayah Happy dan Milk.
" Cuma segini mas gaji kamu." sentak Happy yang menunjukkan beberapa lembaran uang seratus ribuan di tangan kanannya.
" Iya kan, usaha keluarga kita baru merintis sayang." jawab Dent yang saat itu lelah setelah pulang kerja seharian. Belum sempat makan malam Happy sudah memaki-makinya. Padahal dia seharian mengantar barang-barang milik pelanggan. Karena saat itu bisnis ayah Milk memang baru merintis dan belum memiliki pegawai. Membuat Dent merangkap tugas bagian administrasi keuangan bahkan kurir untuk mengantarkan barang pelanggan. Namun Happy seolah tidak pernah menghargainya.
" Coba dong sayang, kamu itu minta kerjaan sama Milk. Lumayan kerja di kantoran. Apalagi Milk sudah menjabat jadi kepala bagian. Dia pasti bisa memberimu pekerjaan dengan penghasilan tinggi. Simpan buat kamu saja uangnya. Toh juga kamu kerja ikut orang tua aku." sinis Happy yang memberikan uang lembaran seratus ribuan itu ke telapak tangan suaminya.
Sejak saat itu, dia malu sebagai laki-laki karena hanya menumpang makan dan seperti tidak pernah dihargai oleh keluarga istrinya. Hingga akhirnya dia gelap mata dan menggadaikan sertifikat rumah ini untuk membangun bisnis sendiri. Belum lagi untuk foya-foya dan membelanjakan Happy supaya istrinya bahagia dan senang dan tidak menghinanya.
Namun bisnis rumah makannya juga bangkrut seiring berjalan waktu tidak bisa membayar sewa dan pegawai hingga akhirnya tidak bisa membayar cicilan Bank berikut bunganya hingga akhirnya mimpi buruk ini terjadi.
Ingatan yang dia sudahi. Membuat Happy menjatuhkan pecahan beling itu ke atas lantai dan menjatuhkan dirinya di atas lantai pula. Bersamaan dengan tangisnya yang berderai dan di dekap oleh suaminya Dent.
Sementara Milk, ibunya dan juga ayahnya hanya bisa miris menyaksikan pasangan suami istri yang padahal usianya tidak terbilang remaja bahkan sudah dewasa, namun mengapa tidak bisa berpikir panjang? dan malah membuat sengsara keluarga besar.
Raut wajah kecewa dari ketiganya yang menyaksikan pasangan suami istri yang dirasa mereka sangat kekanak-kanakan. Sekaligus memberikan pelajaran bagi ayah dan ibunya supaya lebih memperhatikan mereka dan tidak serta merta percaya begitu saja dengan menantu prianya.
Milk hanya bisa menarik nafas dalam melihat kakak perempuan dan kakak iparnya yang saling mendekap sesenggukan.
BERSAMBUNG
__ADS_1