Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua

Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua
Davos Bos Gila


__ADS_3

" A-aku minta maaf pak." Jelly yang kemudian tersadar terhadap apa yang dilakukannya. Gara-gara tidak bisa mengendalikan dirinya. Dia sampai melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Semua itu gara-gara dia bertemu dengan ayahnya.


" Kamu sekretaris gila Jelly." Tatapan Davos benar-benar geram pada Jelly.


.


.


Dert


Dert


Suara ponsel Fox yang bergetar. " Iya Milk. Bagaimana?"


Dari seberang, Milk memberi tahu kepada Fox jika Jelly tidak pulang ke Bandung. Karena keluarganya sudah mengeceknya sendiri, namun Jelly tidak ada di rumahnya. Kemungkinan Jelly masih di Jakarta.


" Terimakasih Milk." Fox pun segera menutup ponselnya dan berlanjut pergi ke rumah sakit untuk menemui Candy.


.


.


Berbeda dengan Jelly yang tengah menghadapi bos besarnya yang tengah marah kepadanya akibat kecerobohannya.


Davos yang tengah berjalan cepat dan tampak pula jika wajahnya sangat bersungut-sungut. Sesekali membenahi kancing jas yang dikenakan dan berjalan menuju ke salah satu stafnya. " Tolong kamu siapkan surat pemecatan untuk sekretaris saya."


Jelly yang sedari tadi berjalan di belakang Davos dan sekarang berdiri tidak jauh pun dibuat tercengang oleh tindakan pimpinan barunya. Kedua matanya membelalak lebar. Mulutnya menganga dan langsung bereaksi. " Jadi bapak mau pecat saya?"


Davos pun melanjutkan langkahnya menuju ke ruang kerjanya diikuti dengan Jelly. " Apa saya kelihatan bercanda Jelly?"


" Tapi pak ... ?" Jelly yang berusaha memberikan penjelasan kepada Davos.


Davos pun langsung berhenti tepat di depan pintu ruang kerjanya. " Kamu pikir nyawa saya seribu? Hingga kamu hampir saja membuat ku mau mati tadi!" ketusnya berikut dengan mimik wajah yang benar-benar menyeramkan.


" Saya tidak bermaksud seperti itu pak," sanggah Jelly yang berusaha menjelaskan.


Ceklek


Davos berlalu masuk ke dalam ruang kerjanya. Dia tetap acuh padahal Jelly sudah berusaha menjelaskan. " Saya mohon pak, jangan pecat saya. Saya butuh pekerjaan ini," ucap Jelly sedikit memelas supaya Davos iba kepadanya.


Davos kemudian duduk di kursi kerjanya. Wajahnya belum selesai reda sepenuhnya dari rasa geram akibat ulah Jelly.


Tok ... Tok


Suara ketukan dari salah satu staf yang akan memberikan surat pemecatan untuk Jelly.

__ADS_1


" Masuk!" perintah Davos.


" Ini pak, surat yang bapak minta." Staf pun mengulurkan surat tersebut kepada Davos.


" Terimakasih, kamu boleh keluar."


" Baik pak." Staf pun keluar seraya melirik Jelly yang sepertinya wajahnya tegang karena belum mengenal siapa bosnya itu.


Sedikit menahan tawa, karena Jelly jelas-jelas masuk dalam perangkap bos besar nya itu. Lagi-lagi Davos adalah bos yang suka iseng dan cukup jahil terlebih dengan sekretarisnya.


Alangkah bagusnya kejadian tadi, membuat Davos tidak perlu repot-repot membuat alasan yang macam-macam supaya Jelly bisa dengan mudah dia takluk kan. Dengan diberi sebuah ancaman, tentunya Jelly akan masuk perangkap dan akan menuruti segala hal yang diinginkan oleh bos gilanya itu.


Davos hanya ingin sekedar bermain-main dengan sekretaris barunya. Meskipun peristiwa tadi cukup menegangkan. Dan benar-benar membuatnya sempat jantungan. Ternyata sekretarisnya memiliki keberanian yang tidak dia lihat.


" Jadi saya benar-benar dipecat pak." Jelly melangkah mendekat dimana Davos tengah duduk memeriksa lembaran kertas yang diberikan oleh stafnya.


Davos tidak langsung menjawab karena dia sungguh menikmati melihat ketegangan Jelly dan raut wajah sedihnya. Baru setelah dia puas melihat wajah sedih Jelly. Dia bangkit seraya menyembunyikan kedua tangan di balik celana melipis nya " Okay, saya akan pertimbangkan untuk tidak memecat kamu."


Membuat kedua mata Jelly mengerjap. " Benar pak?"


" Iya, tapi ada satu syarat." Davos yang kemudian mendekatkan wajahnya tepat di depan Jelly.


" Apa pak syaratnya?" Jelly yang sebenarnya canggung untuk sekedar melihat wajah pimpinan barunya itu.


" Okay pak. Jadi surat pemecatan batal?"


Davos mengangguk. " Sekarang kamu boleh kembali bekerja! Tapi ingat! jangan lakukan kecerobohan apapun lagi, kamu pikir nyawa saya atau pun kamu itu tadi double."


" Iya pak, saya minta maaf."


" Oh ya, siapa laki-laki tadi? Apa kamu mengenalnya?"


Jelly terdiam. " Sepertinya saya harus kembali bekerja pak." Jelly bahkan tidak menjawab pertanyaan Davos.


" Okay."


.


.


Di rumah sakit.


" Papa." Teriak Candy saat tahu Fox tengah membawakannya boneka beruang besar untuknya.


" Halo sayang." Fox yang mendekat dan memeluk putrinya berikut dengan Tamarin yang bangkit dari long sofa.

__ADS_1


" Wah, papa bawa boneka ma, buat Candy," seraya memeluk boneka besar berwarna merah muda soft itu.


" Candy suka sayang."


" Suka dong papa," celoteh Candy yang tak pernah tidak membuatnya tertawa.


Begitu juga dengan Tamarin, dia juga terkekeh mendengar celoteh menggemaskan dari putrinya.


" Papa, kapan Candy pulang ke rumah. Aku sudah bosan pa, di rumah sakit," imbuhnya.


Fox yang kemudian memeluk putrinya. Meskipun banyak keraguan yang mendera jika dia bukan putrinya. Namun tetap saja dia tidak bisa terlepas dengan Candy begitu saja. Membelai rambut Candy yang selembut sutra. " Iya sayang, besok Candy sudah boleh pulang," tuturnya.


" Hore ... Asyik ... Candy akhirnya bisa pulang ke rumah. Candy rindu dengan kamar Candy papa." Candy yang mendongak ke arah papanya yang tengah menatapnya pula.


" Iya sayang, Candy janji ya, untuk tidak melakukan hal seperti kemarin lagi."


" Baik papa, tapi papa juga janji ya, untuk tidak marahan lagi sama mama." Harapan Candy yang seperti nya mustahil bagi Fox. Karena sebentar lagi juga Fox akan membawa Candy untuk tes DNA. Supaya keraguannya benar-benar terjawab, apakah Candy putrinya atau bukan.


Jika memang keraguannya benar adanya, bukan tidak mungkin dia malah akan bertengkar lebih hebat dengan Tamarin. Yang ada hal yang lebih menyakitkan antar keduanya pun tidak dipungkiri bisa saja terjadi. Perpisahan.


" Ehm, sekarang Candy istirahat ya. Kan besok Candy akan pulang ke rumah." Fox yang kemudian bangkit seraya membaringkan putrinya.


" Kenapa papa nggak mau janji?" Candy yang memburu jawab dari papanya.


" Iya sayang." Ketimbang harus berdebat dengan Candy. Fox akhirnya mengiyakan saja supaya putrinya lebih tenang. Ketimbang Candy akan terus berceloteh memintanya untuk tidak bertengkar dengan Tamarin.


Fox kemudian mengecup kening putrinya. " Candy istirahat ya," seraya mengusap puncak kepala Candy.


" Memangnya papa mau kemana?"


" Papa harus pulang sayang, kan ada mama yang menjaga Candy."


" Apa papa masih marah sama mama?"


" Enggak sayang, papa hanya banyak pekerjaan. Sudah ya." Fox pun berlalu, bahkan terbilang sikap dan ucapannya sedikit banyak melukai hati Candy.


Tamarin pun mengikuti suaminya yang sudah keluar dari ruangan. " Apa kamu masih marah?"


" Aku hanya banyak pekerjaan Tamarin." Fox yang bahkan tidak menoleh ke arah Tamarin. Pandangannya tetap lurus ke depan dan memunggungi istrinya.


" Kamu berubah sayang." Tamarin jujur sedih mendapati sikap Fox yang banyak perubahan semenjak malam pertengkaran mereka.


" Oh ya?" Fox pun tidak ingin menambah panjang pertengkarannya dengan Tamarin. Dia lalu melanjutkan langkahnya yang sedikit banyak jujur dia juga sedih mengapa harus begini.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2