
" Baik pak, sekali lagi saya mohon maaf atas ketidak nyamanan ini." Bos besar dari PT Sinar Jaya yang menutup ponselnya. Fox menyampaikan keluhannya, dimana seorang Managernya hampir saja ketiban material dari atas. Belum lagi masalah Jelly yang terjebak di lift yang rusak.
Bagaimanapun kejadian itu terjadi di kantor PT. Sinar Jaya. Maka Fox berhak komplain atas apa yang dialami oleh Managernya Jelly dimana itu bisa membahayakan jiwa.
Bos besar alias pemilik dari PT Sinar Jaya mencoba menghubungi Milk namun tidak ada respon. Membuatnya geram terlebih tidak ada pemberitahuan dan memberikan pesan ke bawahannya jika dia izin pulang ke Bandung karena istrinya mengalami kecelakaan.
Satu Minggu kemudian.
Di sebuah rumah sakit di kota Bandung.
" Honey." lirih Fox saat tahu jika Ita perlahan mulai membuka matanya. Ita juga menggerakkan jari-jarinya. Namun sepertinya tatapan Ita masih kosong.
" Honey, kamu sudah sadar." setetes cairan bening itu jatuh dari pelupuk mata tanpa disadari Milk. Dia dengan cepat memencet tombol panggilan ke perawat. Perawat datang dengan seorang Dokter yang kemudian memeriksa Ita.
Setelah nya Dokter memeriksa kondisi Ita. Milk berjalan mendekat ke posisi dimana Dokter berdiri. " Bagaimana Dok kondisi istri saya?" wajah Milk yang menoleh tertuju kepada wanita yang sudah membuka matanya.
" Syukurlah, kondisinya sudah jauh lebih baik. Semua sudah saya cek dan sudah stabil. Hanya saja kakinya, masih memerlukan perawatan agak lama."
" Terimakasih Dok." Milk lantas berjalan mendekat di sisi tempat tidur Ita. Masih tidak bisa menyentuh bagian tubuh Ita karena Milk takut jika Ita akan kesakitan saat dia menyentuhkan meskipun hanya sebuah jari yang ingin mengelus lembut pipi istrinya.
Kedua mereka bertatap. Entah Ita mau bicara apa? karena bagian mulut dan hidung tertutup dengan sebuah alat yang membantu pernafasan paru-paru nya. Belum lagi banyak selang di bagian dadanya dan juga perban tertempel dimana-mana. Membuat miris dan lagi-lagi Milk hanya bisa meneteskan air mata.
" Honey." terlihat Ita mengucap kata demikian meskipun tanpa suara namun gerakan bibirnya terlihat jika dia memanggil suaminya. Jari-jari Ita juga berusaha meraih tangan suaminya.
" Sudah, kamu jangan banyak gerak dulu ya. Tunggu beberapa hari, keadaan kamu pasti lebih baik dan kamu akan kembali sehat." ucap Milk dengan kedua pipi basah.
Disaat itu pula sebuah ponsel yang bersembunyi di balik celana jeans Milk berdering.
Milk kemudian meninggalkan Ita dan keluar dari ruang rawat dimana Ita terbaring.
" Hallo pak." jawab Milk yang tahu jika yang menghubunginya adalah bos besarnya.
__ADS_1
" Apa kamu bisa ke kantor?" jawab dari seorang pria tanpa basa-basi.
Milk untuk setengah detik tidak menjawab. Namun ini adalah perintah dari bos besarnya, yang mau tidak mau Milk akan tetap datang ke kantor sekaligus berencana menjelaskan tentang absen ketidak hadiran nya ke kantor selama satu Minggu ini. " Baik pak."
Milk kemudian titip Ita kepada ayah, ibu dan kakak perempuan sekaligus kakak iparnya yang pagi itu tengah menjenguk ke rumah sakit lagi.
Hanya pesan hati-hati saat berkendara yang disampaikan ibu dari Milk karena melihat peristiwa Ita.
Milk berjanji tidak akan lama dan akan segera kembali setelah negosiasi dengan atasannya untuk meminta cuti dalam beberapa hari lagi sampai kesembuhan Ita.
Setelah perjalanan Bandung-Jakarta sudah dia tempuh. Tibalah dia di depan kantornya. PT. Sinar Jaya.
Untuk sementara Milk melupakan duka nya. Dia dengan langkah kuat memasuki loby hingga naik ke ruangan pemilik dari PT. Sinar Jaya.
Dua buah suara ketukan jari dari Milk di balik pintu.
Disambut dengan kata masuk dengan nada dan wajah yang tidak bersahabat dari sang bos besarnya.
Milk hanya melangkah dan menundukkan kepala.
" Kemana saja kamu?" pertanyaan sinis terlontar dari mulut bos besar Milk.
Milk yang masih menunduk dan masih bingung bagaimana menjelaskannya. " Maaf pak, istri saya mengalami kecelakaan dan sekarang kondisi nya masih kritis di rumah sakit. Kedatangan saya mau izin cuti sampai istri saya keluar dari rumah sakit." ucap Milk mengiba kepada pemilik PT. Sinar Jaya.
" Kamu tahu, kesalahan mu cukup banyak. Dan sepertinya kamu tidak bisa mengemban tugas yang saya percayakan. Kamu di pecat." ucapan tegas dari sang pemilik Perusahaan yang sepertinya sudah tidak bisa ditawar.
Kedua mata Milk membulat seketika, diikuti dengan kerutan tipis di dahinya. " Dipecat?" wajahnya dia tatap kan kepada pria yang sedang berdiri tidak jauh dari tempat duduknya.
" Iya kamu di pecat. Apa menurutmu kamu bisa seenaknya saja untuk tidak masuk kerja tanpa pemberitahuan kepada sekretaris kamu? Dan itu selama satu Minggu." kalimat akhir yang penuh penekanan dari sang bos.
" Ta-tapi pak. Saya mohon, jangan pecat saya!Istri saya sedang di rawat di rumah sakit dan sedang kritis. Saya sedang butuh biaya untuk pengobatan istri saya." Iba Milk yang tidak lepas dari mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
" Saya turut prihatin atas kejadian yang menimpa istri mu. Tapi Perusahaan saya, juga butuh orang profesinal. Dan ini uang pesangon untuk kamu. Semoga bisa membantu biaya rumah sakit istri mu." Pimpinan PT. Sinar Jaya yang menggeser amplop berwarna cokelat tua dengan berisi lembaran uang seratus ribuan yang entah berapa isinya di atas meja kerjanya.
Milk hanya tertegun. Menatap kosong dengan pikiran bertambah kacau. Seolah ujian kali ini datang bertubi-tubi dan tiada henti. Seperti peribahasa. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Berikut adalah gambaran dari situasinya saat ini.
Dimana dia sudah kehilangan kedua mertua, anak dalam kandungan Ita. Iya masih terbaring di rumah sakit. Sekarang malah dia harus di pecat.
Milk hanya bisa meratapi sedihnya saat ini. Memukul dinding PT. Sinar Jaya dengan seluruh kekuatan dalam kepalan tangannya. Meluapkan amarah sekaligus tangisnya yang berkecamuk dalam dada. Dengan langkah gontai dia masuk ke dalam mobil dengan membawa amplop berwarna cokelat tua yang pasti nanti akan berguna.
Pulang ke Bandung dengan perasaan kacau balau. Namun dia hempas kan perasaan itu begitu cepat setelah sadar jika dirinya sedang berkendara untuk pulang. Dia pikir akan sangat mudah untuk dia melamar kerja kembali nanti setelah Ita sembuh.
Bolak-balik Jakarta-Bandung membuatnya lelah. Tanpa sadar, dia sedang berhenti di warung makan yang di depannya adalah rumah Jelly di Bandung.
Ingatannya mengajak menyelam saat dia masih menjadi kekasih Jelly.
" Sudahlah!" Milk menghempas tangan Jelly ke udara.
" Aku mohon pengertian kamu. Siapa lagi yang akan merawat ibu kecuali aku." Iba Jelly yang saat itu berharap maaf dari Milk karena lagi-lagi Jelly mengabaikan janjiannya untuk menghadiri pesta pernikahan saudara Milk karena ibu Jelly yang kambuh.
Milk yang melepas nafas kasar sekaligus marah kepada sikap Jelly. " Aku tidak tahu, sampai kapan hubungan kita akan bertahan." Milk dengan tegas mengancam Jelly jika Jelly tidak berubah.
" Iya sayang, aku janji tidak mengulanginya lagi." ucap Jelly bersamaan dengan meraih kedua tangan kekasihnya itu namun dihempaskan Milk dengan kasar hingga Jelly mundur untuk beberapa langkah.
" Janji? kamu bahkan ratusan kali berjanji seperti itu. Aku kasih kesempatan terakhir, dan jika kamu mengulangi lagi. Hubungan kita berakhir." Milk dengan tegas mengatakan hal demikian. lidahnya bagai pedang meskipun ucapannya pelan. Sorot mata murka yang tidak bisa dia sembunyikan karena merasa disepelekan. Milk kemudian meninggalkan Jelly di teras rumahnya. Dengan gegas dia naik mobil pribadinya dan melihat wajah kekasihnya saat itu hanya terpancar kesedihan. Milk tahu persis jika Jelly menderita dengan kata-kata yang baru saja dia ucapkan.
Ingatan yang membayang itu kemudian buyar. Milk menyadari, apakah mungkin ujiannya saat ini adalah karma instan dari perbuatannya terhadap Jelly.
Dulu dia sangat egois dan menuntut Jelly untuk memperhatikannya juga. Karena menurutnya, Jelly hanya sibuk mengurusi ibunya yang sakit-sakitan dan selalu mengabaikan jadwal janjian yang dibuat keduanya. Karena itu berulang, membuat Milk jengah dan memutuskan tegas kepada Jelly.
Padahal harusnya dia bisa lebih sabar dan malah membantu Jelly yang saat itu pontang-panting sendiri merawat ibunya. Namun karena keegoisan semata. Membuat hubungan hancur antar keduanya.
Namun Milk sekarang bisa bernafas lega, jika hubungan nya dengan Jelly membaik. Tapi mengapa? dikala membaiknya hubungannya dengan Jelly, malah terjadi peristiwa seperti ini?
__ADS_1
BERSAMBUNG