
" Jadi kamu kenal pria itu?" tanya Milk saat perjalanan pulang ke kota Bandung.
" Iya. Dia memang anak orang kaya. Salah satu anak konglomerat di Jakarta. Beruntung sekali Jelly bertemu dengan dia. Fox seperti cinta lama Jelly yang belum kesampaian. Pantas saja, jika Jelly mendapatkan fasilitas mewah dari Fox." terang Ita.
" Oh, pantas." lirih Milk mengingat semua perlakuan Fox kepada Jelly.
" Apa pria itu belum menikah?"
" Memangnya kenapa? coba aku cek di aplikasi pertemanan berlogo biru." Ita dengan cepat mengecek status Fox yang mereka sudah saling mengikuti sejak SMP. " Fox sudah menikah. Ini istrinya. Wajahnya mirip sekali sama Jelly, hanya warna rambut dan kulit mereka yang berbeda." Ita memberikan ponselnya kepada Milk untuk melihat foto pernikahan mereka.
Tapi mengapa pria itu begitu perhatian kepada Jelly. Dan seperti melebihi seorang teman. Apa jangan-jangan ...
Milk melamun sesaat ketika melihat gambar Fox dan istrinya.
.
.
" Milk." Jelly yang sedang melihat Milk membersihkan lantai.
" Jelly." balas Milk saat tahu jika Jelly ternyata sedang berdiri di belakangnya.
" Maafkan aku, aku tidak bisa ... "
" Tidak apa-apa Jell, bantuan dari kamu sudah lebih dari cukup."
Dent melihat Milk tengah ngobrol berdua dengan Jelly. Dent memotretnya dan mengirimnya pada Ita.
Ita memang berpesan kepada kakak iparnya untuk terus mengawasi Milk. Itu Ita lakukan semata rasa cintanya kepada Milk. Dia takut, jika Milk akan menyeleweng darinya mengingat kondisinya saat ini hanya bisa duduk di kursi roda.
Siapa tahu Milk tergoda dengan perempuan lain, perempuan kantoran, sehingga akan membuat rumah tangganya hancur dan berakhir menceraikan dirinya. Itulah yang tidak diinginkan oleh Ita.
" Honey ... Jelly." Ita yang melihat kiriman gambar dari Dent. " Sepertinya mereka hanya ngobrol biasa." lirih Ita bermonolog.
.
.
" Hai." sapa Fox kepada Milk dan Jelly yang tengah ngobrol di loby. " Apa kamu mau terus ngobrol disini?" tanya Fox yang meraih pergelangan tangan Jelly untuk segera meninggalkan Milk.
" Milk." panggil kepala cleaning servis.
__ADS_1
Milk kemudian menghampiri kepala cleaning servis.
" Tolong kamu bersihkan semua lantai! Dan kamu, kamu antarkan semua minuman yang karyawan dan staf pesan." ucap kepala cleaning servis. Setelahnya menyuruh Milk dan Dent. Kepala cleaning servis langsung lapor kepada Fox. Semua itu dia lakukan semata untuk memberi pelajaran kecil kepada pria yang telah menyakiti hati Jelly.
" Ini sih gila, galak amat itu kepala cleaning servis. Bisalah kamu lapor ke Jelly bagaimana tindakan kepala cleaning servis itu." keluh Dent yang merasa pekerjaannya terlampau berat dan diluar batas. Ditambah hanya mereka berdua yang masuk. Sementara yang lain sedang libur. " Perusahaan ini ada sepuluh lantai dan hanya kita kerjakan berdua. Mustahil kita bisa pulang sore." imbuh Dent.
" Sudahlah kak, kita kerjakan dulu." Milk yang kemudian membawa peralatan mengepelnya.
Sementara Fox, dia hanya tertawa setelah mendengar jika pria yang pernah menyakiti Jelly diberi pekerjaan gila oleh kepala cleaning servis.
Tampak Milk sangat kelelahan membersihkan dan mengepel yang baru mendapat lima lantai, padahal hari sudah sore.
Agak tengah malam, Milk akhirnya sampai pada lantai sepuluh dimana itu adalah ruangan para petinggi. Ada beberapa ruangan kepala bagian, bahkan ruangan Jelly dan ruangan Fox, pemilik perusahaan ini.
" Kamu belum pulang?" tanya Jelly heran.
" Kamu sendiri juga belum pulang?" Milk yang tidak menyangka jika Jelly berubah seribu kali lebih cantik. Apalagi ditunjang dengan penampilan berkelasnya seperti arloji mewah di pergelangan tangan kirinya dan juga hells cantik yang membungkus telapak kaki miliknya.
" Kamu kenapa?" tanya Jelly melihat Milk yang terpaku melihatnya.
" Tidak. Aku ikut senang jika kamu bahagia. Tapi ... "
" Bukankah kamu tahu? jika bos besarmu itu sudah memiliki istri?" imbuh Milk.
" Iya aku tahu. Memangnya kenapa? aku tidak lebih dari sekedar teman dengannya." sanggah Jelly.
" Teman? sedekat itukah Jell?" Milk yang masih penasaran mana tahu jika Jelly menyembunyikan sesuatu darinya.
" Aku tidak mengerti maksud kamu."
" Aku melihat seperti ada yang lain dari kalian. Apa mungkin kalian memiliki sebuah hubungan? Terlebih Ita mengatakan, jika kalian pernah saling jatuh cinta namun tidak kesampaian karena Fox pindah ke Jakarta." Milk masih mengejar sebuah jawaban dari Jelly.
Jelly tidak menjawab sepatah kata pun ucapan Milk.
" Semoga saja, kamu tidak jatuh cinta padanya. Terlebih dia memiliki segalanya. Ingat! dia sudah punya istri Jelly. Harusnya kamu bisa lebih jaga jarak kepada dia." imbuh Milk.
" Kamu berpikir terlalu jauh. Permisi." Jelly yang kemudian pergi dari hadapan Milk.
Sepanjang perjalanan pulang ke apartemen, Jelly terngiang apa yang dikatakan oleh Milk. Dia memang terbilang dekat dengan Fox akhir-akhir ini.
Terlebih semua perhatian yang Fox berikan kepadanya. Sudah mengikis sedikit demi sedikit rasa sakit hati yang ditorehkan Milk dalam hatinya.
__ADS_1
Membuat Jelly tidak sadar jika menjatuhkan setetes air mata.
.
.
" Hah." keluh Dent yang akhirnya selesai juga mengerjakan semua tugasnya. " Gila, sudah jam 11 malam." Dent, kakak ipar Milk yang kemudian mencari keberadaan adik iparnya.
Setelah bertemu dengan Milk, keduanya pun pulang ke tempat kost mereka. Milk tidak menyangka jika dia harus merasakan bekerja jadi kalangan bawah seperti yang dia rasakan hari ini.
Seluruh tangan dan kakinya terasa pegal terlebih punggungnya. Belum lagi setiap pulang kerja, dia dan kakak iparnya masih harus berjalan kaki menuju tempat kost di seberang dari kantornya.
.
.
Keesokan pagi di rumah besar.
" Mint." lirih Tuan Kino yang heran mengapa istrinya tidak mengeluhkan tentang dress-nya.
" Iya." balas Nyonya Mint yang sedang menutup dress miliknya dengan blazer untuk pergi ke kantor.
Bukankah resleting bagian punggung itu rusak.
Aneh sekali.
Nyonya Mint yang kemudian turun ke bawah seperti biasa. Kali ini dia dan Fox melewatkan sarapan pagi.
Sementara Tuan Kino mengintrogasi bibi yang mencuci baju milik Mint.
" Ada apa Tuan besar?" tanya bibi heran karena tumben sekali Tuan besar sampai mendatanginya yang sedang menyapu di halaman taman.
" Kamu tahu kan? jika resleting bagian punggung dress istri saya rusak."
" Oh, iya Tuan. Saya sudah menjahitnya saat saya tahu jika bagian resleting punggung dress nyonya besar rusak. Takut Nyonya besar marah Tuan, apalagi itu dress kesayangan Nyonya besar." jawaban bibi yang membuat suka Tuan Kino. Dia tidak perlu pusing karena ternyata bibi lebih tanggap dan bisa mengerti situasi.
" Bagus. Nanti aku transfer ke rekening mu." Tuan Kino yang kemudian berbalik masuk ke dalam rumah.
Sementara bibi yang berlompat girang karena sebentar lagi rekeningnya teraliri sejumlah uang. " Hanya modal benang sama jarum saja dapat uang dari Tuan Besar. Oh My God." Senang nya hati bibi tergambar dari wajah nya yang sedari tadi bekerja sambil bernyanyi.
BERSAMBUNG
__ADS_1