
" Sudahlah ayah! Jangan di perpanjang lagi!" Nyonya Mint berusaha memadamkan keributan kecil malam itu.
" Buat kamu Tamarin, jangan mentang-mentang karena saya begitu menyayangi putri mu, lantas kamu lupa dari mana asal mu." Lagi-lagi bukan hanya satu kalimat hinaan yang keluar dari mulut Tuan Kino. Seperti nya dia memang sengaja mengelabuhi Fox dan juga Mint dengan menambah kalimat cercaan yang terdengar menyakitkan bagi siapa saja yang mendengarnya.
Membuat Candy yang ternyata terbangun dari tidurnya juga ikut mendengar dan tampak sedih melihat mamanya dimarahi oleh opa.
" Mama." Raut wajah sedih itu jangan ditanya. Mata amber nya bahkan terlihat kesal dengan yang namanya opa.
Membuat Tuan Kino terkejut tidak percaya jika Candy ternyata mendengar semua perkataannya yang keluar saat memarahi mamanya.
Candy ... ini hanya pura-pura sayang.
Dia pasti sudah mengira aku jahat kepada mamanya.
Oh my God
dengusnya mendengar batin nya sendiri berbicara.
Candy yang berjalan menghampiri mamanya. " Ini kan cuma perkara piring jatuh opa. Mama pasti juga tidak sengaja. Iya kan mama?" sedihnya menatap mamanya dimarahi oleh Opanya.
Tamarin hanya melepas senyum ragu. Ekspresi wajahnya bingung bagaimana menjelaskan ke putrinya jika ini hanyalah sandiwara yang dimainkan oleh opa mu yang sudah gila. " Tidak apa-apa sayang, mama salah kok. Mama kurang hati-hati." Tamarin berusaha menetralkan hati Candy yang sepertinya marah dengan Tuan Kino.
Sementara Tuan Kino berusaha menjelaskan kepada Candy. " Candy ... maafkan opa, opa hanya ... " Belum selesai dari bicara, namun Candy menyelanya.
" Ayo mama kita ke atas saja! Opa jahat sama mama." Dengan polosnya anak kecil itu menarik pergelangan tangan Tamarin untuk mengikuti langkahnya.
Sementara Tuan Kino dibuat melongo dengan reaksi Candy yang sepertinya marah terhadapnya. " Candy." panggilnya namun diacuhkan oleh Candy.
Berikut Nyonya Mint dan Fox yang hanya bisa menyaksikan sandiwara Tuan Kino namun tidak pada Candy. Candy mengira Opanya sudah jahat terhadap mama nya.
" Mama nggak apa-apa kan?" tanya Candy saat dia sedang naik ke atas ranjang miliknya.
Tamarin yang kemudian duduk menatap putrinya dengan tersenyum. Menyentuh puncak kepala milik putrinya dengan lembut. " Mama nggak apa-apa kok sayang."
" Candy ... Candy maafin opa ya?" Tuan Kino yang berdiri di ambang pintu Candy seraya mengucapkan kata maaf.
" Opa nggak boleh masuk kamar Candy! Karena opa sudah jahat sama mama. Candy benci opa." kata polos yang keluar dari mulut Candy sungguh menghujam bagai pedang bagi Tuan Kino.
" Tapi Candy sayang ... " Tuan Kino yang masih berharap maaf pada Candy.
" Opa keluar!" teriaknya dengan sangat tidak sukanya.
Membuat Tuan Kino frustasi yang akhirnya memutar langkahnya untuk pergi dari hadapan Candy.
Tamarin juga tak kalah terkejutnya dengan reaksi putrinya. " Sayang kamu tidak boleh seperti itu dengan opa."
" Nggak ma, nggak ada yang boleh jahat sama mama." kelima jemari halus menawan itu menyentuh lembut pipi kanan Tamarin. Sepasang mata mereka bertatap intens dan dapat dilihat jika salah satu diantara mereka tidak ada yang mau jika salah satunya tersakiti atau disakiti siapapun.
__ADS_1
" Okay, kalau begitu Candy kembali tidur ya." Tamarin yang bangkit hendak menyelimuti putrinya.
Candy hanya mengangguk mengikuti perintah mamanya.
Tamarin yang kemudian meninggalkan kamar putrinya dan menuju kamarnya.
" Apa Candy sudah tenang?" tanya Fox yang masih sibuk membenarkan posisi duduknya di atas ranjang.
" Iya, dia sudah tidur."
" Apa yang sebenarnya terjadi tadi?" Fox berusaha meminta penjelasan Tamarin tentang kejadian di dapur barusan.
Tamarin sebenarnya tidak ingin menjelaskan dan menambah kebohongan kepada suaminya. Namun semua itu gara-gara Tuan Kino yang memulai sandiwara ini. Mau tidak mau dia berperan serta menambah kebohongan pada suaminya.
Setelah mendengar semua penjelasan Tamarin. Fox pun berusaha menguatkan Tamarin supaya sabar menghadapi sikap ayahnya. Dia lantas meraih tubuh istri yang duduk di ranjang dengan posisi yang sama dan memeluknya.
Maafkan aku sayang.
Aku sudah berdosa besar pada mu.
Tamarin yang tidak kuasa membohongi suaminya terus-terusan. Tapi bagaimana lagi? Dia juga tidak kuasa memutuskan asmara terlarang ini dengan ayah mertuanya. Bukan tidak mungkin jika dia bersikukuh untuk menghindari kekasih gelapnya, dirinya dan Fox sudah tentu tidak akan dibiarkan hidup tenang bersatu dengan damai.
Ah sudahlah ...
Hingga entah apa yang terjadi dengan keduanya? hingga menimbulkan suara erangan dari Fox yang cukup tersiksa. " Aw ... sakit." ringis nya sembari memegangi alat tempurnya bangkit dari ranjang sembari jinjit-jinjit.
Jangan ditanya ekspresi wajahnya. Sudah tentu sepasang mata membulat sempurna dengan mulut menganga.
Ternyata Fox menahan sakit jika alat perangnya ternyata bereaksi saat Tamarin berusaha memancing lebih dan menggoda hasratnya.
Fox pun berusaha menjauh dari Tamarin dan bahkan memalingkan wajahnya supaya malam ini dan malam selanjutnya alat tempurnya aman terkendali hingga sembuh dan dapat bertarung kembali di ranjang.
Tamarin yang mengerti akan kondisi suaminya. Dia bahkan berganti piyama tidur yang lebih tertutup, supaya Fox tidak tergugah selera dan menjamahnya.
.
.
Sementara Tuan Kino yang frustasi dan belum tidur berada di atas balkon. Sandiwaranya dianggap serius dengan Candy yang tidak tahu apa-apa. Rencananya gagal dan malah menimbulkan kebencian Candy padanya.
Sibuk berjalan mondar-mandir, bersedekap sembari memikirkan cara apa supaya Candy tak lagi marah padanya.
" Sebaiknya kamu jangan terlalu keras dengan Tamarin." ucap Nyonya Mint yang menyentuhkan telapak tangannya pada bahu suaminya. " Aku pikir kebencian mu sudah hilang padanya setelah memberi mu cucu? Ternyata kamu masih menyimpan benci pada menantu kita. Apa hanya karena dia gadis biasa? hingga membuatmu tidak pernah melupakan dari mana asalnya."
Tuan Kino terdiam dan melirik ke arah istrinya.
Maafkan aku Mint.
__ADS_1
" Sebaiknya aku tidur." Tuan Kino yang meninggalkan istrinya sendirian di balkon.
Keesokan hari di rumah besar.
Tuan Kino sudah duduk di sisi ranjang milik Candy. Namun bocah manis itu belum ada tanda-tanda akan bangun dari tidurnya.
" Opa?" Candy yang terkejut sekaligus masih kesal kepada opa nya. Bibirnya manyun dengan tatapan yang tidak suka. " Opa ngapain di kamar Candy?"
" Candy sayang, opa minta maaf ya. Opa janji akan minta maaf sama mama Tamarin. Tapi Candy janji harus maafin opa ya." rayu Tuan Kino kepada Candy.
" Opa janji ya, jangan galak-galak lagi sama mama!" omelannya Candy mengalahkan mama Tamarin saja.
" Iya sayang." Senyum pun akhirnya terlepas dari bibir keduanya yang saling berpelukan.
Setelah keduanya turun dan menuju meja makan. Sepasang mata dari Fox, Tamarin dan Nyonya Mint berbinar melihat Candy sepertinya sudah baikan sama opa nya.
Itu karena terlihat sekali dari riak tawa yang menggema yang keluar dari mulut keduanya.
" Waw ... it's good, apa kalian sudah baikan?"
celetuk Nyonya Mint saat melihat keduanya tiba di meja makan.
" Sudah dong Oma. Sekarang waktunya opa minta maaf sama mama!" balas Candy dengan sangat santainya.
" Siap Tuan Putri." jawaban dari Tuan Kino yang membuat Candy melepas tawa kecil dan kemudian menutupnya menggunakan telapak tangannya. " Tamarin, aku minta maaf ya." ucapan maaf yang terdengar canggung dari Tuan Kino.
Tamarin pun tersenyum menatap ke Tuan Kino. " Iya."
" Kok gitu? Kata ibu guru, kalau minta maaf itu harus berjabat tangan." Candy yang menarik lengan Opanya dan menyuruhnya untuk mendekat kepada mamanya dan menjabat tangan Tamarin. " Trus bilang, aku minta maaf ya, karena aku sudah berbuat kesalahan. Aku janji tidak akan mengulangi lagi. Kita baikan ya! Begitu kata ibu guru Candy." Celoteh yang keluar dari mulut Candy menyita perhatian Oma dan papa nya. Keduanya pun dibuat tertawa setelah melihat Tuan Kino di ajari oleh Candy.
Tuan Kino pun akhirnya mengatakan apa yang disuruh Candy kepada Tamarin. Dan sepertinya dia harus hati-hati kepada Candy dalam berucap. Soalnya Candy sudah mengerti dan jangan sampai ada kejadian seperti pagi ini lagi.
Setelah itu, semuanya memulai makan pagi dengan suasana hangat di meja makan.
.
.
Tamarin yang sedang bersiap dan berjalan ke garasi untuk menuju mobil. Namun baru dia tersadar jika Fox ternyata tidak menggunakan pakaian formal untuk pergi ke kantor.
" Sayang, apa kamu hari ini tidak ke kantor?"
" Iya, aku akan pergi ke dokter untuk mengecek ..." lirikan Fox pada bagian alat tempurnya dibawah sana.
Tamarin pun terkekeh. " Apa tidak sebaiknya aku mengantar mu?"
" Tidak! Tidak usah!" Fox dengan tegas menolaknya.
__ADS_1
" Kenapa?" tanya Tamarin yang sedikit heran.
BERSAMBUNG