
Sejak mengecek ponsel Tamarin. Fox gelisah bukan main. Memandangi istrinya yang sudah tertidur lelap. Namun dia bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak malam itu.
Apa yang harus aku lakukan?
Sumpah demi apapun, dia seperti tercambuk tatkala mengingat penjelasan istrinya tadi siang. Jika memang benar dari Loly sahabatnya, harusnya ada jejak Loly berkirim pesan atau melakukan panggilan kepadanya. Namun ini malah tidak ada.
Apa iya Tamarin bermain api di belakang?
Tidak!
Tidak mungkin!
Jika iya?
Apa benar hasil pemeriksaan itu?
Candy.
Candy.
Fox sibuk menerjemahkan sekaligus menampiknya. Kepalanya sampai pusing hingga terasa nyut-nyut memikirkan ini semua.
Nafas panjang yang terdengar berantakan itu pun sampai membangunkan Tamarin istrinya.
" Kamu belum tidur sayang?" Tamarin berusaha bangun dan membuka matanya lebih lebar.
" Egh ... kepala ku pusing."
" Apa mau aku pijit?"
" Tidak usah sayang, terimakasih." sembari memegang pelipis kanannya. " Apa kamu mau buat kan aku minuman hangat?"
" Tentu." Anggukan yang diikuti dengan bangkitnya Tamarin dari ranjang. Dia kemudian mengikat rambut cokelat terang milik nya yang tanpa disadari sudah terlihat panjang.
Setelah Tamarin pergi ke dapur, Fox melanjutkan mencari ponsel Tamarin yang lama. Mencari di atas nakas yang dia pikir ada namun tidak ada. Di dalam laci nakas miliknya pun tak ada. Berikut dengan ponsel baru nya yang entah di letakkan dimana.
Dimana dia menaruhnya?
Fox yang dibuat bertambah pusing hingga akhirnya dia menyerah sebelum Tamarin kembali ke kamar.
Benar dugaannya, Tamarin dengan cepat kembali ke kamar dengan membawa satu gelas minuman hangat berikut cemilan.
" Ini sayang." Tamarin bahkan memegangi gelasnya dan menunjukkan perhatian ekstra kepadanya.
Fox hanya bisa meliriknya.
Dia bahkan tidak berubah, dia masih sama memberikan cintanya untukku.
Fox yang tidak menampik jika Tamarin adalah istri terbaik yang dicintainya.
" Sekarang kamu tidur ya!" Tamarin yang mengusap punggung suaminya setelah meminum minuman hangat yang telah dia buat.
.
__ADS_1
.
Keesokan pagi.
Tepatnya di lantai sepuluh lantai paling puncak. Fox menatap langit mendung pagi ini. Hatinya bimbang tidak karuan. Dia bingung dengan siapa dia bercerita. Sekaligus merasa berdosa jika menaruh curiga kepada istrinya.
Sejuta persen dia yakin jika istrinya sangat mencintainya. Fox kemudian meninggalkan ruangannya dan berpapasan dengan Jelly, yang ingin bertanya sesuatu berkaitan peristiwa yang dia lihat kemarin.
" Fox." sapa Jelly namun seperti diabaikan oleh bos besarnya. " Kamu mau kemana?" tanya Jelly berusaha menghentikan langkahnya.
" Ada yang harus aku kerjakan." sembari terus berjalan
" Tunggu Fox! ada sesuatu yang mau aku tanyakan."
" Lain kali saja Jelly." Fox yang memasuki lift tanpa bertanya lebih dulu apa yang akan Jelly pertanyakan.
" Eish ... Fox ... Fox." kepalan kelima jari kanannya gemas kepada bos besarnya itu.
Fox yang sudah sampai pada loby kantor akhirnya menyuruh supir kantor untuk mengantarnya ke sekolah Candy.
Sebelumnya dia berpikir akan sedikit terbuka kepada Jelly untuk mendengarkan ceritanya dan prasangka-prasangka yang masih buram ini.
Namun entah mengapa? Fox mengurungkan niatnya selama dia masih bisa menghandle nya sendiri.
Tiga puluh menit lamanya di perjalanan dari kantor menuju sekolah Candy. Fox diam-diam meneropong istrinya dari kejauhan. Sengaja dia tidak menyuruh supir kantornya memarkir di halaman sekolah Candy. Itu dia lakukan supaya bisa melihat apapun yang Tamarin lakukan setelah mengantar Candy ke sekolah.
Satu jam, dua jam hingga Candy pulang sekolah. Tamarin benar-benar menunggunya. Hari ini tidak ada hal aneh seperti hari kemarin. Membuat Fox memutuskan untuk kembali ke kantor, meskipun dia belum sepenuhnya tenang.
" Kamu sudah datang?" Lagi-lagi Jelly seperti hantu yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
Jelly sedikit kecewa dengan jawaban dari Fox. Padahal cukup lama dia menantinya. Malah Fox ketus kepadanya.
" Sorry Jell ... Jangan ganggu aku dulu ya!" Nada bicara yang sedikit memelan namun masih tidak enak untuk dia dengar.
Jelly hanya bisa tertunduk. Padahal niatnya sedikit banyak mencari tahu tentang kepemilikan apartemen yang berada tepat di sampingnya. Tapi memang mungkin ini seperti jawaban untuknya supaya tidak bertanya lebih jauh tentang urusan keluarga besar Fox.
Fox pun tetap melanjutkan langkah hingga masuk ke dalam ruang kerjanya.
Sementara Jelly menatap sedih pria yang sudah lenyap dari hadapannya. Akhir-akhir ini Fox terlihat murung bahkan seperti tidak bersemangat ketika berada di kantor.
Ingin rasanya mengetahui apa yang sedang dipikirkan nya. Namun mungkin Fox masih tidak ingin berbagi padanya. Enam tahun ini, Fox seperti memberi jarak bagaikan jurang terhadapnya.
.
.
Hari demi hari berganti. Satu Minggu, dua Minggu, hingga satu bulan lamanya Fox memendam masalahnya seorang diri.
Prasangka-prasangka tentang Tamarin masih menaungi di dalam hati. Padahal selama itu pula dia juga meneropong Tamarin dari kejauhan. Apapun pergerakan Tamarin di sekolah Candy tak luput dari pengawasannya secara langsung. Dan tidak ada tanda-tanda mencurigakan.
Hanya saja melihat ayahnya beberapa kali datang, namun mereka tidak satu mobil dan malahan Tuan Kino membawa Candy untuk jalan-jalan.
Apakah pantas di kepalanya masih tertanam kecurigaan?
__ADS_1
Setelah apa yang sudah dia buktikan sendiri. Seolah tidak ada celah untuk Tamarin bisa melakukan suatu hal yang menurutnya hingga diluar dugaan.
Fox yang merasa bersalah akhirnya ingin memberi kejutan kepada Tamarin. Seolah lupa dengan peristiwa satu bulan yang lalu masalah keterlambatan untuk menjemput Candy.
Dia akan memberi kejutan kepada Tamarin untuk membawanya makan malam romantis yang lama tidak dilakukannnya.
Menghajarnya habis-habisan di ranjang dan kalau perlu membuat adik Candy lagi karena alat tempurnya sudah sangat siap dia pergunakan setelah berpuasa panjang.
Fox yang mulai antusias menyambut malam ini. Dia sendiri bahkan yang memilihkan gaun berwarna hitam panjang dengan belahan punggung yang lumayan lebar yang akan membuat kecantikan Tamarin bersinar bagaikan rembulan.
Sengaja dia tidak pulang malam ini dan menyuruh supir kantor untuk membawakan gaun malam berwarna hitam panjang di hiasi dengan tebaran kristal di seluruh bagian gaun malam yang akan dikenakan Tamarin.
Menyuruh supir kantornya membawa Tamarin sendirian dan tidak lupa menutup kedua matanya pula.
Membuat semua penghuni rumah inti tidak berkedip saat Tamarin melangkahkan kaki menuruni anak tangga. Terlebih Tuan Kino yang dibuat kelimpungan karena ternyata putranya sudah menyiapkan kejutan spesial untuk Tamarin.
Rasa cemburunya menggebu membuat gerah dadanya hingga bawaannya ingin marah saja.
" Wah, mama cantik sekali." Candy yang melihat mama nya seperti putri Cinderella bak tokoh-tokoh serial Disney.
Tubuh proposional Tamarin tampak elegan memakai gaun panjang yang sepenuhnya menutup lengan bercahayanya itu. Mata kakinya pun tak terlihat karena tertutup gaun malam panjang berwarna hitam berhiaskan kristal bertebaran di seluruh bagian.
" Terimakasih sayang." Tamarin yang menyentuh lembut pipi chubby putrinya.
" Nona, mari!" Supir kantor yang disuruh Fox untuk menjemput Tamarin pun mengingatkan untuk segera berangkat.
" Wah papa hebat banget sih kasih kejutan ke mama. Pakai acara begini-begini segala. hihihi." goda Candy yang kemudian menyuarakan tawa kecilnya.
" Mama pergi dulu ya sayang." Tamarin kemudian melangkah menjauh keluar menuju pintu utama setelah ibu mertuanya mengucapkan kata hati-hati untuk Tamarin.
" Silahkan nona." Sang supir yang membantu Tamarin untuk membuka pintu mobil.
" Terimakasih pak."
Mobil yang dikirim Fox untuk menjemput Tamarin pun akhirnya melaju keluar dari pagar tinggi menjulang yang mengungkung rumah besar.
Sepuluh menit mobil melaju tanpa Tamarin tahu dia mau dibawa kemana.
Dia berulang kali bertanya kepada supir yang membawanya, namun berulang kali pula dia juga berkata nanti juga akan tahu.
Tamarin hanya pasrah seraya memainkan ponsel di tangan nya. Mencoba menghubungi suaminya namun sekeras apapun dia berusaha tetap saja Fox tidak mengangkatnya.
Fox sendiri dengan cemas menunggu di restoran mewah yang sudah dia booking lengkap dengan instrumen musik yang sudah akan dimainkan jika Tamarin melangkah masuk ke dalam.
Hampir tiga puluh menit di perjalanan. Duduk Tamarin semakin tidak tenang. Apalagi tentunya jam semakin bertambah dan pastinya bertambah pula resah nya karena sepertinya akan hujan.
Bres
Benar dugaannya, Hujan tiba-tiba jatuh serentak seperti yang beberapa menit lalu dia kira.
Membuat perasaan yang tadinya tidak sabar bertemu dengan suaminya malah berakhir mencekam karena hujan lebat ditengah nya malam.
" Ada apa pak?" Tamarin yang bertambah khawatir karena tiba-tiba mobil berhenti.
__ADS_1
BERSAMBUNG