
" Sudahlah urus pekerjaan mu!" Fox masih belum mau terbuka kepada Jelly. Lagi pula ini hanya pikiran kacau yang mampir.
" Aku tahu, hubungan kita agak renggang semenjak kamu memiliki buah hati. Tapi itu tidak menyurutkan ku untuk membalas semua kebaikan mu. Bukan kah tidak masalah, kalau hanya sekedar cerita seperti waktu lampau aku pernah cerita kepadamu dan akhirnya kamu menolongku. Ya ... aku tahu, mungkin kamu sudah tidak menganggap ku teman lagi." Jelly yang sedikit kecewa dengan sikap Fox. Meskipun dia dan Fox hanya atasan dan bawahan yang terbilang memiliki kedekatan. Namun jujur, kedekatan itu hanyalah sebuah pertemanan. Terlebih 6 tahun bahkan sudah terlihat renggang.
Fox terdiam tanpa kata. Saat dia menoleh dan ingin bicara.
Dert
Dert
Tiba-tiba ponsel Jelly bergetar.
" Angkat dulu itu mas ayang!" sinis Fox yang memutar kursinya. Itu pun dia katakan dengan bercanda hanya menggoda Jelly. Karena memang seperti itulah kedekatan mereka. Sebuah pertemanan yang terbilang dekat dan nyaman.
Namun Fox tidak segila Tamarin dan Tuan Kino. Yang sampai memiliki sebuah hubungan terlarang.
Sementara Jelly keluar dari ruangan Fox karena teman pria yang dekat dengan dia saat ini tengah menghubunginya.
.
.
Sejak tadi pagi Fox tidak konsentrasi penuh terhadap pekerjaannya. Membuat dia memutuskan untuk pulang saja meskipun Jelly berusaha menghiburnya.
Namun sepertinya belum waktu yang tepat untuk menceritakan masalah pribadi ini kepada Jelly.
Fox bahkan pulang dari kantor lebih awal dan tidak berpamitan kepada Jelly.
Sesampainya di rumah pun, Fox mendapati keceriaan Tamarin, Tuan Kino dan Candy yang sedang asyik bermain di halaman depan. Fox dapat merasakan jika mereka bertiga sangat bahagia bermain bersama.
" Itu papa pulang." Wajah Candy yang menoleh dan memandang papanya yang membuka kaca jendela mobil.
" Papa." teriak Candy dan berlari dengan antusiasnya hingga kemudian terjatuh.
Brug
" Candy." Fox yang tidak bisa berlari dan menyuruh supirnya.
" Aaa, sakit." ringis Candy.
__ADS_1
" Candy." Terkejutnya Tamarin dan berlari menuju dimana Candy terjatuh
" Candy sayang." panik bukan main Tuan Kino yang langsung mengangkat putri kecilnya dan segera dibawa masuk ke dalam rumah.
" Kamu tidak apa-apa sayang?" Tuan Kino yang sampai berteriak hingga membuat kehebohan para asistennya yang hanya menyuruh mereka mengambil obat merah.
" Perih Opa ... sakit." rengeknya manja.
Tuan Kino kemudian meniup-niup luka Candy pada kedua lutut dan juga sikut sebelah kanannya.
Fox sempat terdiam sesaat melihat ayahnya begitu mencintai putrinya melebihi nya bahkan. Melihat istrinya pula yang duduk berada di dekat Candy dan juga ayahnya yang sedang bahu membahu mengoles obat merah pada putri kecilnya.
Seperti tidak percaya. Jika Tamarin dan ayahnya ternyata hubungannya sudah terlihat baik dan malah jauh lebih baik bahkan. Apa ini hanya perasaannya?
Fox pun diam membeku tanpa kata.
" Sayang." Tamarin yang melihat suaminya tengah melamun.
" Ehm ... sorry. Candy sayang, maafin papa ya. Candy jadi terjatuh karena mengejar papa." Fox yang melihat luka Candy sudah di balut kain kasa sama ayahnya.
" Enggak apa-apa kok pa. Kan luka Candy sudah diobati sama opa."
Fox yang mengusap puncak kepala Candy seraya tersenyum.
Begitu juga ketika ibunya tidak sengaja terkena pisau dapur saat memasak. Ayahnya bahkan tidak mau melihatnya dengan alasan takut dengan darah.
Tapi mengapa? ayahnya yang dulu sangat berbeda dengan saat ini yang dilihatnya. Bahkan ayah sendiri yang membersihkan darah dari kedua lutut dan sikut Candy.
" Papa melamun?" tanya bocah manis itu dengan polosnya.
" Egh ... enggak sayang."
Tamarin yang ingin menuntun Candy ke kamarnya, dilarang oleh Tuan Kino karena pasti kaki Candy masih sakit. Tuan Kino pun menggendong Candy untuk ke kamarnya.
Apa hanya aku yang merasakan jika ayah sangat berlebihan memperlakukan Candy?
Apa mungkin karena saking senangnya dia? mempunyai cucu pertama dan itu perempuan terlebih Candy memang sangat menggemaskan.
batin Fox berkecamuk. Karena entah mengapa hari ini bertubi-tubi melihat kedekatan mereka bertiga. Sedangkan biasanya, ayahnya tidak begitu dekat dengan Tamarin.
__ADS_1
" Ada apa sayang?" Tamarin yang duduk di sebelah Fox, tepatnya ditepi ranjang kamar.
" Nggak ada apa-apa."
" Apa kamu mau makan sesuatu?" Tamarin melihat Fox seperti memikirkan sesuatu. Tapi dia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya itu.
" Boleh."
Tamarin kemudian pergi ke dapur untuk mengambil potongan cake yang dia beli tadi siang.
Namun Tuan Kino menghampirinya dan membisikan kalimat.
" Sorry Baby, aku harus bermain sandiwara."
Membuat Tamarin bingung dan bereaksi dengan dahi berkerut.
Ther
Piring yang berisi makanan yang Tuan Kino pegang sengaja dilempar ke atas lantai. Pecah lah piring itu dan terdengar nyaring hingga ke lantai dua.
" Kamu itu bagaimana sih?" Murka pura-pura bernada pelan namun menusuk, hingga sedikit membakar telinga. " Apa kamu tidak bisa lihat saya?" imbuh Tuan Kino.
Membuat Fox kemudian turun meskipun berjalan pelan namun dia bisa mendengar jika ayahnya sedang marah-marah kepada Tamarin.
" Maaf aku tidak sengaja." ucap Tamarin kepada Tuan Kino.
" Harusnya kamu bisa lebih hati-hati! Kamu itu udah punya anak! Bukan anak kecil lagi." Sengaja dia layangkan murka ke Tamarin supaya Fox tidak begitu menganggapnya terlalu dekat dengan istrinya. Terlebih Fox tahu tadi pagi dia mengantar Tamarin dan Candy ke sekolah. Sorenya, Fox tahu dia bermain dengan Candy dan Tamarin di halaman depan.
Sedikit banyak melenyapkan anggapan yang entah ada atau tidak ada dalam pikiran Fox. Jika ada, sirna lah sudah anggapannya. Jika tidak, baguslah.
" Ada apa ini?" Fox yang tahu jika ayahnya sedang memarahi Tamarin.
" Lihat itu istrimu! Membawa piring saja tidak becus." Tuan Kino yang melirik piring, berikut makanan yang ikut berserak di atas lantai. Sandiwaranya tampak berhasil dengan sempurna. Dalam hatinya, ampun Baby ... ampun Baby. Lihat saja nanti.
Tamarin yang kemudian berniat ingin membersihkan.
" Sayang stop! Biarkan bibi yang bersihkan!" ujar Fox.
Nyonya Mint kemudian masuk rumah setelah memarkir mobilnya di garasi. Samar-samar Mendengar keributan yang terjadi. Dia kemudian menghampiri dan berdiri di samping putranya. " Ada apa ini?" Sedikit terkejut melihat piring pecah di bawah kaki suami dan menantunya yang keduanya berdiri tidak jauh.
__ADS_1
" Biarkan saja dia yang bersihkan. Supaya istri mu itu tidak manja." ketus Tuan Kino dengan sorot mata terlihat murka namun sayangnya itu hanya sandiwara belaka.
BERSAMBUNG