Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua

Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua
Anmum, Prenagen, Lactamil, Lovamil, SGM bunda, Vidoran Ibunda, Enfamama A+


__ADS_3

" Kamu kenapa sayang?" tanya Fox saat Tamarin seperti orang gelisah saat akan menaiki ranjang tidur mereka.


" Tidak papa."


" Mau aku buatkan susu lagi?"


" Boleh." jawab Tamarin yang entah mengapa tidak bahagia dengan kehamilannya. Perasaannya selalu dibuat was-was, takut jika memang benar apa yang dikatakan oleh pria yang mengisi seperempat bagian hatinya. Tuan Kino.


Sementara Fox masih sibuk mencari tombol lampu dapur dimana tempatnya. Puluhan tahun menempatinya, namun tidak menjadikannya hafal dengan sebuah tombol lampu dapur dan segala isi rumah besar ini.


Cetek


Suara tombol lampu dapur yang kemudian menyala.


Masih saja dia bingung dimana bibi meletakkan susu yang Tamarin beli. Membuka satu persatu rak lemari dapur yang berdesain klasik modern putih itu. Namun tidak kunjung menemukannya jua.


Ketika Fox hendak bertanya naik ke lantai dua kepada istrinya. Alangkah terkejutnya dia. Matanya seketika membulat melihat tumpukan kardus kuat warna cokelat pekat berada di pojokan dengan sangat banyak dan tinggi.


Fox kemudian mendekatinya. Penglihatannya tidak luput untuk membaca satu persatu segala merek susu ibu hamil lengkap dengan gambar wanita hamil menghiasi kardusnya.


" Anmum, Prenagen, Lactamil, Lovamil, SGM Bunda, Vidoran Ibunda, Enfamama A+, Frisian Flag mama, Sun Ibu, Friso Gold Mum, Nutrima Royal." lirih Fox mengucapkannya satu persatu hingga dia membungkukkan punggungnya membaca pada kardus bagian bawah.


" Gila ... ini sih gila. Sebanyak ini." imbuhnya dengan geleng-geleng kepala. Menelan ludah dan mendelik menatap semua kardus berjajar dan bertumpuk memenuhi pojokan dapur.


Sepasang mata Fox bergeser pada sebuah kardus di rak bagian bawah yang terlihat. Dan alangkah masih dibuat terkejutnya dia, melihat banyak sekali kotak susu ibu hamil dengan berbagai merek dan rasa pula yang di tata rapi oleh bibi memenuhi lemari rak bagian bawah dapur. " What? Tamarin beli sebanyak ini? Oh my God." Fox yang masih tidak percaya jika istrinya membeli semua susu ibu hamil sebanyak ini.


Dengan masih pelan-pelan walau dia coba. Dia membaca petunjuk penggunaan, untuk berapa sendok dia harus menuangkan susu bubuk ini ke dalam gelas. Dirasa sudah manis, dia kemudian naik ke kamarnya.


" Kok lama sayang?" tanya Tamarin kepada suaminya dan meneguk satu gelas susu hangat yang diberikan kepadanya.


" Oh, itu. Aku kaget saja kamu belanja susu ibu hamil sebanyak itu. Dapur sampai penuh begitu." ujar Fox dengan herannya.


" Ugh ... Ugh ... " Tamarin tersedak dan menghentikan minum susunya. Mengelap pinggir bibir dengan jarinya dengan dada penuh tanda tanya.


Memenuhi dapur. Oh my God. Seketika ingatannya tertuju kepada pria yang seperempat menaungi hatinya. Tuan Kino.


" Pelan-pelan minumnya. Ayo habiskan! apa kurang manis?" tanya Fox sedikit cemas melihat istrinya tersedak dan memijat tengkuk leher Tamarin.


" Enggak ... enggak. Cukup! udah manis kok." Tamarin melanjutkan meminum kembali sisa susu putih hangat yang masih tersisa dalam gelas.


.

__ADS_1


.


Di lain sisi. Jelly lagi-lagi tidak bisa tidur karena kesepian. Menatap dalam wajah ibunya pada bingkai foto yang dia pegang.


Serasa rindu berat kepada ibu yang disayanginya. Wanita satu-satunya yang dia perjuangan kesembuhannya namun Tuhan berkehendak lain.


Dert


Dert


Ponsel Jelly bergetar dan nama Fox yang dia baca pada layar utama. " Hallo."


" Hallo, kamu belum tidur?" tanya Fox dibalik sambungan telepon.


" Belum." jawab Jelly yang kemudian turun dari ranjang menuju kaca jendela besar dan membuka sedikit kelambu abu-abu muda itu.


" Oya, jangan lupa ya. Kamu cek ulang email yang baru saya kirim." Sengaja Fox berbasa-basi malam dan memberi pekerjaan Jelly untuk mengecek laporan perusahaan yang tidak banyak itu. Baginya, Jelly akan sangat mudah mengecek laporan yang baru saja dia kirim karena dia adalah wanita yang cerdas. Sengaja itu dia lakukan supaya Jelly tidak merasa tidak enak hati terus atas fasilitas yang dia pergunakan.


" Oh, okay." jawab Jelly.


" Kalau begitu. Good night." Tutup Fox pada ponselnya.


.


.


Fox juga sama, entah mengapa? semenjak bertemu dengan Jelly, dia seperti memiliki tanggung jawab ingin membahagiakannya. Apa ini hanya perasaan iba? atau ada hal lain yang tidak bisa dijelaskan dengan kata.


.


.


Pagi hari buta, dimana Tamarin sudah bolak-balik berlari ke wastafel. Morning sickness itulah istilah mual-mual setiap pagi bagi ibu hamil yang tidak bisa dihindarkan.


Sementara Fox hanya bisa pasrah menatap bingung dengan apa yang harus dia lakukan kecuali memijat tengkuk leher Tamarin.


Dan yang dilakukan kembaran Brad Pitt alias Tuan Kino adalah berjalan mondar-mandir di depan Fox dan Tamarin.


" Ayah ngapain disitu?" Nyonya Mint melihat suaminya seperti gelisah tidak jelas.


" Oh, tidak papa. Kita turun." Tuan Kino merangkul pundak Nyonya Mint sesekali melihat pintu putih yang masih tertutup rapat itu. Kecemasannya soal Tamarin, memang melampaui batas hingga lupa dia bersikap di dalam rumah saat dekat dengan anak dan istrinya. Tapi semua itu dia lakukan karena demi calon buah hatinya. Dia tidak ingin terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.

__ADS_1


Sementara Tuan Kino tetap terlihat gelisah oleh Nyonya Mint karena mengapa Fox dan Tamarin tak kunjung juga turun untuk sarapan pagi.


" Bisa?" Fox yang menuntun istrinya yang tampak tidak bersemangat dan terlihat lemah itu.


Tuan Kino yang sedari tadi memandangi mereka saat masih menuruni anak tangga hingga sekarang saat Fox dan Tamarin sudah mengambil tempat duduk untuk bersiap makan.


" Kamu pucat sekali Tamarin?" celetuk Nyonya Mint melihat wajah menantunya itu.


" Tapi aku baik-baik saja ibu mertua. Hanya perutku, yang sepertinya masih belum bisa normal seperti biasanya." jawab Tamarin dengan hanya menundukkan kepala.


" Kamu tenang Tamarin, masa-masa hamil muda itu akan berlalu. Perut kamu akan normal kembali saat makan makanan. Malah kamu akan sangat doyan makan. Tahan-tahan aja sampai kurang lebih tiga bulan. Jadi kamu sabar ya! Kamu juga Fox, tidak usah terlalu khawatir melihat istrimu begini. Semua wanita hamil juga begini sayang." Nyonya Mint berusaha menenangkan Tamarin dan juga putranya.


" Iya Bu." jawab Fox seraya mengambil nasi goreng yang tersaji di meja makan. " Kamu tidak makan?" Fox yang melihat Tamarin bahkan tidak menyentuh sarapan paginya.


" Kamu tahu kan perutku seperti apa. Malah nanti kalian tidak nafsu makan karena aku mual-mual disini. Sebaiknya aku pergi ke kamar." Tamarin yang bangkit dari duduknya dan ingin melangkah menuju anak tangga.


Namun dua pria sekaligus bangkit dari kursi duduk. Fox berhasil mengejarnya. Namun tidak pada Tuan Kino yang sadar akan istrinya yang sepasang matanya menatap heran kepadanya.


Tuan Kino lantas duduk kembali karena tidak kuat menatap kedua mata Mint yang sedari tadi mungkin bingung dengan sikapnya. Padahal jelas-jelas jika tidak ada istri dan putranya, perhatiannya tercurahkan penuh untuk Tamarin, wanita pujaannya.


Di lantai dua tepatnya di kamar Tamarin. Tamarin tengah memeluk mesra suaminya Fox. Seolah manja tidak mau ditinggal kerja oleh Fox dan tidak mau jauh-jauh dari Fox suaminya.


" Kalau begini terus aku bisa terlambat ke kantornya." Fox yang masih memeluk erat dan membelai rambut cokelat terang milik istrinya.


Sementara Tamarin yang masih bergelayut manja karena terlalu rindu tidak menikmati waktu bersama dengan suami yang dicintainya.


Kemesraan keduanya tidak luput dari teropong Tuan Kino yang berdiri tidak jauh dari kamar Fox dan Tamarin yang pintunya terbuka lebar itu. Terlebih Nyonya Mint sudah berangkat ke kantor duluan. Dan membuat Tuan Kino akhirnya naik ke lantai dua dan melihat keduanya tengah asyik bermanja ria. " Ehem." Dehem Tuan Kino yang membuyarkan aksi manja keduanya. Jiwa posesifnya yang mulai membara. Membuatnya tidak tahan jika wanita pujaannya disentuh pria lain meskipun itu suami Tamarin sendiri yang tidak lain juga adalah putranya.


Fox dan Tamarin yang kemudian menoleh ke sumber suara pria berdiri di ambang pintu.


" Ayah." lirih Fox yang kemudian memutar langkahnya namun tidak kemana-mana.


" Kamu tidak berangkat ke kantor?" tanya Tuan Kino berjalan mendekat masuk ke dalam kamar.


" Iya habis ini yah."


" Lain kali, kamu jangan menaruh barang sembarangan yang membuat istri mu harus membereskan. Jadi kamu harus sadar, jika istri mu ini sedang hamil." Tuan Kino dengan melipat tangan di dada menasihati putranya.


Tamarin yang terkejut karena mengapa Tuan Kino sampai memarahi Fox, padahal itu hanyalah masalah sepele.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2