
Sementara di dalam rumah. Nyonya Mint menenangkan Tamarin berikut Tuan Kino yang tidak tega melihat Tamarin menangis.
" Tuan ... Nyonya" Petugas keamanan yang berlari terbirit-birit memanggil mereka dengan setengah berteriak.
Jangan ditanya nafasnya? Sudah tentu tersengal-sengal tidak karuan.
" Ada apa?" jawab Tuan Kino.
" Itu Tuan, nona Candy." Petugas keamanan yang masih mengatur nafas nya supaya aman terkendali. " Nona Candy keluar mengejar mobil papanya."
" Candy." Kelopak Tuan Kino melebar seketika mendengar hal itu. Dia pikir Candy tidak akan jauh. " Fox." geramnya dengan seluruh gigi mengerat karena malam-malam membuat masalah.
" Candy." Tamarin yang langsung panik dan berlari mengejar Candy berikut dengan Nyonya Mint dan Tuan Kino.
" Candy." Teriakan Tamarin saat tahu putrinya terus mengejar mobil papanya. " Candy berhenti sayang!" Tamarin yang terus berlari mengejar Candy dan shock saat tahu mengetahui jika ada mobil melaju kencang melintasi pertigaan.
" Aaaaa." teriak Candy yang tidak bisa menghindar dari mobil kencang yang melaju dan menghantam tubuhnya yang mungil.
" Candy." teriak hebat Tamarin tidak kuasa menolong putrinya saat tahu jika ada mobil yang hendak menghempas putrinya ke aspal.
Nyonya Mint dan Tuan Kino yang berjarak agak jauh dari Tamarin menyaksikan jika Candy tertabrak mobil. Keduanya shock bukan main.
Apalagi Fox, Dia melihat semuanya dari spion mobilnya.
" Candy ... Candy bangun sayang. Candy." Tamarin menangis histeris memangku putrinya di tengah keheningan malam.
Ngiung
Ngiung
Suara ambulan pun datang dan membawa Candy dilarikan ke rumah sakit.
Candy akhirnya di tangani oleh Dokter secara cepat dan dibawa ke ruang Unit Gawat Darurat.
Sementara di ruang tunggu.
Plak
Tuan Kino menampar keras pipi kanan Fox. Fox pun hanya menunduk, sadar mengapa ayahnya melakukan hal itu. Semuanya ini terjadi karena kesalahan nya.
Coba saja dia berhenti dan tidak membiarkan Candy mengejar mobilnya. Candy tidak akan tertabrak oleh mobil.
" Kenapa kamu tidak pernah dewasa Fox? Kenapa?" Tidak cukup Tuan Kino menampar pipi kanan putranya sendiri. Dia masih memarahi Fox habis-habisan.
__ADS_1
Andai Fox bisa mengatakan, dirinya juga tidak menginginkan hal ini terjadi pada Candy. Lebih baik dia yang harus terbaring menggantikan Candy sekarang. Namun di hanya bisa diam ketimbang masalah bertambah dan semakin panjang.
" Dengarkan Fox! Ayah tidak akan memaafkan kamu jika ada apa-apa dengan Candy." Murkanya Tuan Kino yang memuncak tatkala putri kandungnya harus mengalami kejadian ini.
Membuat Fox semakin menundukkan kepala dan tidak berani menatap wajah ayahnya.
" Hihihihi." Tangis Tamarin bertambah nyaring apalagi sudah lebih dari satu jam Candy berada di ruang UGD.
Sampai dimana Dokter akhirnya keluar dan menyampaikan keadaan Candy.
" Pasien sedang kritis dan membutuhkan banyak darah." Satu kalimat Dokter yang keluar itu membuat raut wajah mereka sedih.
Apalagi Tamarin. " Hikz ... Hikz ... Hikz." Tangisnya sudah jelas tidak mudah untuk berhenti begitu saja dengan cepat.
" Ambil darah saya saja Dok." Fox yang meminta Dokter untuk mengambil darahnya saja.
" Baik, akan segera kami periksa dulu ya pak. Mari." Fox pun mengikuti dokter untuk diambil darahnya.
Tuan Kino yang kalut baru tersadar, jika darah Fox sudah tentu tidak akan cocok dengan darah Candy. Namun hanya dia yang mengetahui hal itu.
Dia yang masih sedih memikirkan nasib Candy dalam ruang UGD. Masih harus ditambah pula dengan memikirkan cara agar Fox tidak mendengar jika darahnya ternyata tidak cocok dengan darah Candy.
Namun belum sampai dia masuk di ruang dimana Fox diperiksa dan akan diambil darahnya. Tuan Kino sudah dikagetkan dengan langkah gontai Fox yang sepertinya sudah mengetahui jika darahnya tidak cocok dengan darah Candy.
Sementara Fox luruh dalam kebingungannya.
Darah Candy tidak cocok dengan darah ku?
Bagaimana bisa?
Fox yang terus bertanya-tanya dengan langkah gontai nya.
Dia kemudian memutar kembali langkahnya untuk meminta suster mengeceknya kembali mana tahu ada kesalahan. Namun baru sampai dia di ambang pintu ruang pengambilan darah. Fox dikejutkan dengan sosok ayahnya yang sudah mendonorkan darahnya.
Dia hanya mengintipnya dari balik pintu yang tak sepenuhnya rapat. Sebelum Tuan Kino melihatnya. Fox lekas pergi meskipun dia akan kembali dan bertanya kepada suster perihal ayahnya yang mendonorkan darah.
Setelah Tuan Kino pergi, barulah Fox mencari tahu untuk apa ayahnya datang kemari. Dan alangkah terkejutnya dia. Ternyata darah ayahnya cocok dan memang di donorkan untuk Candy namun meminta untuk tidak memberi tahu kepada siapa pun.
Tuan Kino menyuruh agar darah di dapat dari Blood Bank. Sehingga Tamarin pun tidak tahu jika dia mendonorkan darah untuk Candy.
Karena persediaan darah dengan golongan yang sama dengan milik Candy sedang habis di rumah sakit ini. Membuat Dokter meminta keluarga mendonorkan darah bagi yang cocok untuk pasien mengingat pasien sedang kritis dan membutuhkan banyak darah.
" Darah ayah cocok untuk Candy?" lirihnya bertanya meskipun ditengah kusutnya pikiran.
__ADS_1
" Bagaimana? Bagaimana bisa?"
Hembusan nafas kuat menghentikan langkahnya dan duduk di sembarang kursi tunggu rumah sakit. Kedua telapak tangannya menutupi wajah dan kemudian luruh memegang kedua pelipis kepala.
Setelah setengah jam lamanya. Fox pun bangkit dan ingin kembali melihat Candy. Meskipun jujur isi kepalanya semrawut.
Entah apa yang ingin semesta tunjukkan kepadanya? Bertubi-tubi mendapati kejanggalan yang dia sendiri bingung untuk menerjemahkan.
Belum sampai di ruang UGD dimana Candy terbaring. Fox mengetahui Tuan Kino ayahnya yang tengah menenangkan Tamarin dan memberikan dadanya untuk bersandar bagi kepala Tamarin.
Keduanya tengah berdiri di belakang rumah sakit. Mencari tempat agak sepi dan terlihat tidak ada canggungnya dengan status mereka yang di sebut ayah mertua dan menantu.
Ayahnya bahkan tidak sungkan membelai rambut Tamarin. Begitu juga dengan Tamarin, menyandarkan kepalanya di dada ayahnya seperti layaknya sepasang kekasih.
Membuat jantung Fox terasa berhenti. Mencubit bagian lengan nya yang semoga ini hanyalah mimpi namun ternyata tidak.
Fox lantas pergi meninggalkan keduanya sebelum mereka mengetahui keberadaannya. Fox masih tidak bisa berkata-kata. Dia masih sulit mempercayainya. Apa yang dilihatnya masih mungkin salah? Mungkin memang Tamarin sedang butuh ditenangkan. Maka dari itu ayahnya mencoba menenangkan.
Membuat Fox menangis terisak di dalam mobilnya yang terparkir. Melayangkan pukulan keras pada badan setir mobilnya dengan kepalan sepuluh jemari.
Isak tangisnya masih buram meskipun tertanam kekecewaan. Dia lagi-lagi menampik dan enggan menerjemahkan.
.
.
Pagi harinya.
Candy yang masih belum sadar dan masih kritis keadaanya.
Sementara di lain tempat. Jelly mencoba menghubungi Fox dan tidak berhasil mendapatkan jawaban.
Sampai dimana sebuah pesan mencengangkan jika Fox tidak ingin diganggu lagi olehnya. Dan menyuruhnya untuk tidak menghubunginya lagi.
" Fox." lirih Jelly tidak kuasa menahan air mata yang sudah keluar membasahi pipinya.
Jelly bisa menyimpulkan jika mungkin Fox dan Tamarin bertengkar karena telah menolongnya semalam.
Tanpa pikir panjang, setelah mendapati pesan yang dikirim Fox saat dipuncak semrawutnya pikiran. Membuat Jelly berkemas dan hendak pergi meninggalkan apartemen berikut surat resign yang sudah dia persiapkan.
" Maafkan aku Jelly." seraya mendengus kasar setelah mengirim pesan untuk Jelly.
BERSAMBUNG
__ADS_1