
Tuan Kino langsung gelapan berikut menampilkan wajah panik tanpa dia sadar. " Ma-maksudku, Candy adalah putri nya Fox. Maaf kan aku Mint," sembari mengeluarkan nafas panjang dengan kasar. " Dari dulu, aku terlalu mengkhawatirkan Candy. Karena, dia adalah cucuku satu-satunya. Cucu kita."
Mendengar hal itu Nyonya Mint tidak malah bersikap baik. Dia malah pergi dan tidak menimpali apa perkataan suaminya.
" Mint ... Mint," seru Tuan Kino kepada istrinya namun sudah dapat dipastikan jika Mint cukup kecewa dengan apa yang baru saja dilakukan Tuan Kino.
Biasanya memang dia akan memaki siapa saja yang menyebabkan Candy terluka atau apapun itu yang berurusan dengan Candy. Fox putranya sendiri bahkan sampai habis-habisan terkena murka ayahnya sendiri saat Candy mengejarnya dan Candy kecelakaan. Dan sekarang, Mint tidak menyangka jika suaminya bahkan sampai berani memukul pipinya akibat Candy tenggelam di dasar kolam.
Dan setelah melihat sikap Mint, istrinya yang pergi dari hadapannya, Tuan Kino pun langsung naik ke lantai dua melihat putrinya yang masih trauma.
" Bagaimana Tamarin? Apa Candy sudah lebih baik?" Tuan Kino yang melihat putri manisnya itu masih menangis memeluk mamanya karena masih takut dengan kejadian yang baru saja menimpanya.
" Seperti nya Candy masih ketakutan," jawab Tamarin yang menenangkan putrinya.
Tuan Kino yang membelai rambut putrinya. Mengecup rambut kepala bagian belakang putrinya.
Dia langsung melangkah keluar kamar Candy lalu menuju kamarnya. Tampak sekali jika Mint tengah berpura-pura tidur di ranjangnya tanpa peduli lagi kepada suaminya yang tengah masuk ke dalam kamar dan mungkin memperhatikannya.
Entah mengapa? Suasana rumah besar tidak sehangat dulu. Setelah kepergian Fox, rumah besar tampak hening terlebih dengan peristiwa tadi sore terkait tenggelamnya Candy di kolam renang.
Tentunya menambah kebisuan antar penghuni rumah. Terlebih Nyonya Mint dan Tuan Kino.
.
.
Keesokan pagi.
Nyonya Mint tampak bergegas setelah siap dengan merias wajahnya dan membawa tas kerjanya. Dia bahkan menghindari bertatap wajah dan terlibat percakapan dengan suaminya.
" Mint, maafkan aku Mint," kata Tuan Kino seraya meraih lengan istrinya, Mint. Namun sayang Nyonya Mint malah menghempas lengan kekar milik suaminya itu. Dan dia melanjutkan langkahnya untuk keluar dari kamarnya dan menuju kamar Candy.
Kino, suaminya bahkan mengekori Mint sedari tadi. Hingga Mint kini tengah berada di kamar Candy yang sudah ada Tamarin di dekat Candy.
" Candy sayang, maafkan Oma ya," kata Nyonya Mint yang mengelus puncak rambut selembut sutra milik Candy.
" Iya Oma, Candy hanya takut," balas Candy yang memeluk Omanya.
Tidak kuasa, bola mata Mint bahkan sampai berkaca-kaca setelah memeluk Candy yang akibat kelalaiannya tenggelam di kolam renang.
" Oma janji, Oma akan jagain kamu baik-baik kalau kita main lagi," seraya melepaskan pelukannya dan keduanya saling bertatap.
" Iya Oma," balas Candy yang sepertinya sudah jauh lebih tenang.
" Kalau begitu Oma kerja dulu ya sayang." Nyonya Mint pun akhirnya bangkit dari tepi ranjang dan langsung meninggalkan mereka bertiga. Tanpa basa-basi kepada Tamarin bahkan dia begitu saja pergi. Dan jujur itu membuat Tamarin merasa heran ada apa dengan ibu mertuanya?
Setelah dapat dipastikan jika Nyonya Mint sudah berangkat ke kantor dan meninggalkan rumah besar. Tamarin pun bertanya kepada kekasih gelapnya itu. " Ada apa dengan Nyonya Mint?"
__ADS_1
Membuat Tuan Kino kurang nyaman dengan pertanyaan wanitanya itu. Dia masih enggan menjawab karena dapat dipastikan jika Tamarin akan mengomelinya.
" Ada apa dengan Nyonya Mint?" ulangnya dengan pertanyaan yang belum diubah dari segi kata-kayanya.
Membuat Tuan Kino akhirnya mengeluarkan nafas panjang sekaligus kasar seraya berjalan keluar kamar Candy dan menuruni anak tangga sama-sama untuk menuju garasi.
" Aku menamparnya." Jawaban singkat Tuan Kino itu membuat Tamarin menganga hingga berhenti langkah.
" Apa? Menamparnya? Apa yang anda lakukan? Pantas saja dia seperti berbeda?"
" Huft." Nafas kasar dan panjang kembali lagi keluar dari lubang hidung Tuan Kino. " Bukankah itu sudah lama aku lakukan? Tidak peduli kepada siapa pun. Fox bahkan lebih parah karena dia sudah membuat Candy di tabrak mobil. Dan aku tidak mau siapa pun melukai putri kecil ku. Kamu tahu bukan? Jika aku sangat menyayangi putri ku. Aku sangat menyayangi Candy, Tamarin." Wajah Tuan Kino yang sempat bersitegang bahkan kata per kata hingga kalimat yang diucapkannya penuh dengan penekanan.
Membuat Tamarin terdiam, meskipun dengan susah payah dia menelan ludahnya. Melanjutkan kembali langkahnya tanpa menimpali apa yang disampaikan Tuan Kino. Yang ada bertambah panjang, bisa-bisa terlambat sampai di kantor.
.
.
" Halo," sapa Nyonya Mint yang kini berada tepat di depan loby kantor Davos. Dia tengah menghubungi Jelly setelah datang kembali ke kantor Davos dan meminta ke petugas resepsionis nomor telepon Jelly.
Mint merutuki kebodohannya, mengapa tidak sejak awal meminta nomor ponsel kepada pihak resepsionis.
" Okay, thank you Jelly." Mint yang mengakhiri percakapan sambungan seluler dengan Jelly.
Mint yang sudah selesai membuat janji dengan Jelly setelah dia kembali dari urusan pekerjaannya di luar kota.
Nyonya Mint yang mengetahui hal itu, dia langsung berucap kata terimakasih kepada orang kepercayaan nya yang sudah tanggap dan langsung respon dengan keadaannya yang sedang galau.
.
.
Berbeda dengan Milk dan juga Ita yang baru saja mereka bertemu di Bandung dengan Jelly dan juga Davos.
" Jadi kalian dipecat?" tanya Jelly yang begitu terkejutnya.
" Iya. Tamarin, istrinya Fox yang menggantikan posisi Fox sekarang di kantor. Begitu pula, ayahnya. Beliau tampaknya yang akan mengawasi Tamarin secara langsung di kantor," Ita menambahkan.
Glek
Jelly menelan ludahnya dengan susah payah.
Aku tidak boleh, mengatakannya kepada Ita.
Meskipun aku tahu, jika sepertinya ada sesuatu yang tidak beres antara ayah Fox dan istrinya.
Namun, Ita tidak boleh tahu.
__ADS_1
batin Jelly yang sudah dapat merasakan, jika sepertinya Tamarin, memang tidak menginginkan orang-orang dekat Fox berada di kantor itu.
Dia pasti sengaja, memecat Milk dan Ita.
Tamarin tahu, jika Milk dan Ita adalah sahabat Fox.
Jelly yang menunduk seraya berpikir.
" Darling, biarkan Milk dan Ita ikut bergabung di perusahaan kita," pinta Jelly kepada Davos yang tengah duduk di sebelahnya.
" Iya Darling. Nantinya perusahaan itu juga akan jadi milik mu, kalau kita sudah menikah. Dan bukankah kita akan segera menikah?" Davos yang meraih kelima jemari kanan Jelly dan mengecupnya.
Membuat Milk yang duduk di depan Davos meski terhalang meja mengumpat dua kata.
Dasar buaya.
Milk begitu sangat tidak suka hingga memalingkan wajahnya, saat Davos menunjukkan seolah pria bucin akut pada mantan kekasihnya itu, Jelly.
.
.
Malam hari di rumah besar.
Nyonya Mint masih mendengar jika Candy masih dibacakan cerita oleh suaminya. Bahkan masih terdengar gelak tawa cucu perempuannya itu hingga membuat langkahnya berhenti tidak jauh dari pintu kamar Candy.
" Oma," sapa bocah manis itu setengah berteriak menoleh pada Nyonya Mint yang mematung tidak jauh dari pintu kamar Candy.
" Candy sayang, Candy belum tidur?" balasnya.
" Ini opa sedang bacakan cerita buat Candy."
Mint yang kemudian masuk dan duduk di tepi ranjang Candy. Entah masih merasa bersalah atau raganya mencoba memberi tahunya namun dia masih tidak sadar juga jika Candy bukanlah cucunya. Jemari kanan Mint menyentuh dan kemudian mencubit kecil pipi chubby milik Candy dengan bocah manis itu tidak pernah mengunci mulutnya karena senantiasa tersenyum. " Good night Candy," ucapnya mengakhiri malam Mint sebelum hendak bangkit menuju kamarnya.
" Good night Oma," balas bocah manis itu yang malah semakin melebarkan senyumnya.
Saat Mint keluar dari kamar Candy, Tamarin berpapasan dan Mint bahkan tidak menyapanya meskipun Tamarin berusaha ingin mengucapakan sekedar pertanyaan kecil pada Mint hingga membuat Tamarin kikuk dengan sendirinya melihati punggung ibu mertuanya yang menjauh dari kamar Candy.
Karena tidak ingin Mint, istrinya curiga. Tuan Kino pun menyusul Mint ke kamarnya dan masih berusaha mendapatkan kata maaf dari wanita yang hampir tiga puluh tahun hidup bersamanya.
Kino yang tidak biasanya memeluk istri dinginnya itu. Dia akhirnya memeluk Mint, istrinya dari belakang, guna mencairkan kebekuan hati Mint akibat tamparannya kemarin.
Mint yang sadar jika Kino suaminya tengah berusaha menutupi semua darinya. Namun tidak padanya, yang akan terus mencari tahu. Apa yang sebenarnya sudah disembunyikan Kino dari nya?
Mint yang membalik badannya, keduanya bahkan tidak terkikis jarak. Bibir Tuan Kino bahkan ingin mengecup bibir Mint. Namun sayang, sengaja Mint meraba jari manis kanan milik suaminya.
" Mana cincin mu? Cincin pernikahan kita?" tanya Nyonya Mint yang membuat wajah Tuan Kino seketika panik.
__ADS_1
BERSAMBUNG