
" Hallo selamat pagi anak manis." sapa Dokter yang akan memeriksa Fox.
" Hallo Dokter." balas Candy yang masih duduk di samping papanya, tempat tidur rumah sakit.
" Sini sayang, Dokter mau periksa papa dulu." sahut Tamarin kepada putrinya.
Candy pun akhirnya bersama dengan Tamarin. Sementara Fox dibawa oleh dokter menggunakan kursi roda meskipun alat perangnya sungguh menyiksa.
Ya, Fox dibawa ke ruang dokter karena dokter akan menyampaikan sesuatu hal yang penting mengenai pemeriksaan menyeluruh tentang kesehatan Fox tak terkecuali alat perang di ranjangnya bersama Tamarin.
" Begini pak, saya sudah memeriksa semua kesehatan bapak, dan perkembangan nya sangat bagus bahkan lebih cepat pemulihannya dari yang saya duga. Hanya saja, alat perang untuk di ranjang bapak yang sedikit bermasalah."
" Iya, memang sangat sakit sih Dok. Tidak masalah kalau harus berpuasa."
Pembicaraan sesama laki-laki di ruang Dokter terlihat sangat santai.
" Hahaha." tawa yang keluar dari sang Dokter. " It's no problem kalau hanya untuk fantasi di ranjang. Kecuali kalau istri anda sudah tidak sabaran ingin memiliki momongan." imbuh sang Dokter.
" Maksudnya?" sedikit kerut pada dahi Fox yang kurang mengerti apa maksud dari ucapan Dokter.
" Karena menurut pemeriksaan menyeluruh yang sudah kami lakukan terkait kesehatan anda, tingkat kesuburan anda bermasalah dan akan sangat sulit memiliki anak. Dan itu bukan karena kecelakaan ini." imbuh sang Dokter dengan sangat santainya menyampaikan hal tersebut.
Sejenak Fox terdiam. " Hahaha." Fox pun terkekeh. " Sepertinya hasil pemeriksaan Dokter kali ini salah. Karena anda bahkan sudah ngobrol dengan putri saya tadi." Fox pun membalas santai apa yang dijelaskan dokter. Karena memang untuk masalah tingkat kesuburan itu tidak sepenuhnya pasti.
Banyak saat menjalani pemeriksaan, hasilnya sangat berbeda dengan kenyataan. Itu hal wajar. Karena Dokter juga hanya menyampaikan sesuai hasil dari pemeriksaan itu sendiri.
Terkadang orang yang sudah di vonis akan meninggal saja bisa mendapatkan keajaiban dan bahkan bisa sembuh dari penyakit kronisnya. Apalagi hanya masalah keturunan, yang A, B, C hasilnya dan bahkan banyak yang divonis tidak akan bisa memiliki keturunan ujungnya memiliki keturunan meskipun dengan penantian yang panjang.
" Waw, it' good. Saya senang mendengarnya. Jadi kalau begitu tidak ada yang dikhawatirkan." Dokter kemudian bangkit setelah ngobrol santai dengan pasien laki-laki yang ternyata ada selera humornya. " Ingat, satu bulan atau bahkan dua bulan, timun Jepang jumbo baru akan bangun. Kejepitnya lama." bisik Dokter yang mendekatkan bibirnya tidak jauh dari telinga Fox yang malah di sambut dengan riak tawa di dalam ruangan tersebut.
" Hahaha." Fox sampai geleng-geleng kepala.
Percakapan keduanya berakhir. Fox dibantu dengan perawat yang mendorong kursi roda menuju ke ruang dimana dia seharusnya terbaring kembali untuk pemulihan.
Meskipun terbesit sedikit di kepalanya akan sosok Candy putrinya. Wajahnya sempat terlintas di kepala untuk sesaat mengaitkan apa yang dikatakan Dokter. Namun tidak lama dia menepisnya. Karena batinnya membungkam pikiran buruk yang terlintas soal Tamarin. Dan Fox sangat yakin jika Tamarin tidak melakukan hal diluar norma.
" Papa." sambut Candy yang sudah memeluknya saat dia masih duduk di kursi roda. Fox hanya bisa memandang wajahnya, mata amber nya, senyumnya yang tak pernah pudar menghiasi harinya yang ceria. Masak ini bukan anaknya. Jauh-jauh Fox membuang pikiran kotornya.
Terlebih saat menatap istrinya Tamarin yang kemudian mendekat ikut memeluknya. Rasanya tidak mungkin dia akan mengkhianatinya.
Fox yang memeluk keduanya di sisi kanan dan kirinya. Mengecup satu persatu dari kening mereka dan hanya ada kata yang terlahir dari semuanya adalah kehangatan keluarga yang mencintainya. Kedua kepala bidadarinya belum terlepas bergelayut di bahu Fox. Sementara Fox sendiri masih menikmati mengelus rambut keduanya seraya selalu bergantian menempelkan tulang rahang pada puncak kepala mereka.
__ADS_1
.
.
Empat hari kemudian.
Fox sudah pulang dari rumah sakit meskipun alat perang ranjang nya sangat menganggu aktivitasnya. Dia harus pelan-pelan dan sangat hati-hati ketika harus berjalan.
" Sayang, kamu mau ke kantor?" Tamarin yang berjalan mendekat melirik ke arah alat perang ranjang Fox.
Fox yang tahu itu. " Memang nya kenapa? ada yang salah?"
" Apa?" Tamarin yang masih tidak yakin jika alat perang yang sempat terjepit saat kecelakaan itu sudah baik-baik saja.
" Kamu tenang saja. Aku bisa. Aku hanya akan suruh supir pribadi buat antar jemput aku ke kantor." Fox yang sedikit kesusahan saat memakai celana kerja.
Tamarin yang menahan tawa karena pria di depannya sangat ngotot sekali padahal jelas-jelas memakai celana kerja saja dia kesulitan.
" Harusnya kamu bantu! bukan malah tertawa." ketus Fox dengan nada datarnya.
Tamarin yang malah menyuarakan riak tawanya. " Apa iya kamu tetap pergi ke kantor?" Dia yang kemudian membantu suaminya. " Nanti kalau kamu ingin buang air kecil bagaimana?" Tamarin dengan dahi berkerut yang menatap suaminya ragu bisa melakukan aktivitas seperti biasanya.
" Dipikir belakangan. Ada banyak yang harus aku kerjakan di kantor."
Fox pun dibantu Tamarin untuk menuruni anak tangga. Jalannya saja masih seperti anak yang selesai di sunat. Entah lah apa nanti yang akan terjadi di kantor? yang inginnya kerja atau malah merepotkan para pekerjanya.
Belum selesai menuruni anak tangga dan masih tiga anak tangga lagi. Suara Tuan Kino dengan sangat keras dan kasarnya tengah memarahi salah seorang asisten rumah tangga.
" Lain kali jangan ceroboh! Kalau ada apa-apa dengan Candy bagaimana?" murkanya menggaung hingga sudut rumah.
" Iya maaf Tuan, maaf nona Candy." ucap salah satu asisten seraya menundukkan kepala saat dimarahi oleh Tuan besar.
Salah satu asisten rumah ini ceroboh sekali ada kabel panjang yang sedari tadi menghalangi jalan karena memang akan menggunakan alat untuk membersihkan lantai. Membuat Candy tersandung dan lututnya sebenarnya tidak papa. Hanya sakit pasti iya, cuma memang dasar Tuan Kino yang takut jika Candy yang diyakini adalah putrinya kenapa-napa, ya wajar kalau dia heboh sekali apabila menyangkut putri kesayangannya.
Nyonya Mint yang dari lantai dua pun mendengar murka suaminya. Dia kemudian turun dan mendekat pada Fox dan juga Tamarin yang menyaksikan pula kemurkaan suaminya.
" Kamu nggak papa sayang." Tuan Kino yang hebohnya minta ampun, jongkok dan sangat khawatir melihat kedua lutut Candy.
" Aku tidak apa-apa kok Opa." Candy bahkan takut melihat Opa nya marah seperti raja hutan.
" Awas ya! kamu ceroboh lagi. Saya pecat kamu!" tengoknya menatap ke arah salah satu asisten yang kepalanya menunduk sejak tadi dimarahi Tuan besarnya.
__ADS_1
Sementara Tamarin langsung berlari kecil meninggalkan ibu mertua dan suaminya. Keduanya masih mematung dan menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi.
" Kamu kenapa sayang?" Tamarin yang menyentuhkan kedua telapak tangan miliknya ke kedua pipi Candy. Mendongakkan supaya Candy menatap ke arahnya.
" Candy nggak papa kok mama." Candy yang menyentuhkan jemarinya ke tangan mamanya yang menyentuh pipinya.
" Ya udah kalau begitu, kamu pamit papa ya! papa mau berangkat kerja." Tamarin kemudian mengajak Candy menghampiri papanya.
" Papa mau kerja? Apa papa sudah sembuh?" tanya bocah manis yang dengan polosnya bertanya demikian pada papanya.
Fox pun tersenyum tipis. " Belum sembuh betul sih sayang, tapi papa kan harus kerja. Oh ya, Candy tadi kenapa?" tanya Fox yang ingin tahu mengapa ayahnya marah-marah sampai segitunya.
" Oh, Candy tadi jatuh pa. Tapi Candy nggak papa kok." Sambil memberi tahu kedua lututnya untuk diperlihatkan kepada papanya.
" Oh, lain kali hati-hati ya kalau jalan! Trus jangan lari-lari! biar tidak ... tidak apa?"
" Tidak jatuh." balas Candy dengan gaya bicara yang terdengar masih menggemaskan.
" Pinter." Fox yang kemudian tersenyum berikut Oma dan mamanya mendengar si Candy bocah riang dengan segala kegemasannya.
" Aku berangkat dulu ya sayang." kecup Fox kepada Candy dan juga Tamarin berikut mamanya yang berdiri tidak jauh darinya.
" Hati-hati sayang." pesan Tamarin yang sudah mengantarnya hingga masuk mobil yang sudah standby tidak jauh dari pintu utama.
" Dada papa." lambaian tangan Candy yang dibalas sama oleh Fox melalui kaca jendela mobil yang dia buka.
Sementara di dalam mobil. Fox selalu terngiang dan terbayang wajah Candy berikut dengan Tamarin. Entah mengapa? meskipun bahkan dengan terang dia mempertegas menepis jika apa yang disampaikan oleh Dokter adalah salah, jujur sedikit banyak dia malah terusik dengan itu.
Apalagi tadi, melihat ayahnya murka sampai begitunya melihat Candy terjatuh. Bukankah itu terlalu berlebihan? terlebih lutut Candy juga tidak kenapa-napa?
Apa aku pantas mencurigai Tamarin bermain dengan laki-laki lain?
Apa Candy bukan ... ?
Tidak!
Tidak!
Candy putriku
" Apa kamu pernah mengantar Tamarin pergi keluar sendirian?" tanyanya dengan cepat tanpa pikir panjang kepada supir pribadinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG