Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua

Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua
Davos


__ADS_3

Candy yang sudah membuka matanya dan tidak ingin ditinggalkan oleh papanya. Meskipun Fox menjadi dilema terhadap sebutan papa yang mengusik telinganya. Jika nantinya Candy terbukti memang bukan anaknya. Lantas bagaimana dia menjelaskannya? Itulah yang saat ini terlintas dalam benaknya.


.


.


Tok ... Tok


Jelly yang mengetuk pintu ruang kerja pimpinannya di kantor barunya.


" Masuk!" Perintah Davos. Davos adalah pria yang mobil mewahnya tidak sengaja di tabrak oleh Jelly hingga peyok tadi pagi. Davos adalah seorang CEO yang dimana perusahaannya bersaing dengan perusahaan milik Fox.


Jelly pun mengikuti perintah pimpinan barunya. Alangkah terkejutnya Jelly ketika memandang pria yang duduk di meja kerjanya. " Anda?" lirihnya seraya melangkah lebih dekat. " Bukankah anda pria yang tadi?" Jelly jujur terusik jika mengingat berapa biaya perbaikan mobil mewah dari pria itu.


Davos pun tersenyum dan malah membuat Jelly bingung. Lirikan dari sudut mata Davos benar-benar membuat Jelly resah. Terlebih pria itu tampak tak mengedipkan mata hingga membuat Jelly salah tingkah.


" Apa ada yang salah?" Jelly memperhatikan betul penampilannya mana tahu ada yang salah. Mengecek pakaian yang dikenakan berikut menunduk ke bawah hingga hells lima sentinya mana tahu terjadi kesalahan.


Namun lagi-lagi Davos tak menjawabnya. Davos tetap senyum senyum dan bertambah lebar diikuti dengan geleng-geleng kepala.


Jelly pun mendengus. Berusaha acuh terhadap apa yang membuat pimpinannya itu tidak berhenti untuk tersenyum.


" Ini berkas yang anda minta." Jelly pun maju lima langkah untuk meletakkan berkas yang diminta CEO di kantor barunya. " Apa anda akan terus tersenyum dan membuat ku takut?" imbuhnya.


" Hahaha," tawa Davos malah menggema. " Jadi kamu ternyata sekretaris baru di kantor ini?"


Jelly tidak menjawab dan wajahnya datar saja. Karena sepertinya pimpinannya kali ini tidak lah sama dengan Fox. Pria di depannya 360 derajat berbanding terbalik dengan Fox.


Lihat saja dengan gayanya yang tengil dengan tatapannya. Jelas sudah sepertinya akan membuat lelah Jelly kedepannya.


" Apa rambutmu itu asli?" tanya Davos dengan pulpen yang sibuk menandatangani berkas dan sesekali pandangannya tertuju ke arah Jelly.


Membuat kelopak mata Jelly mengerjap lebih lebar. Seluruh jemari kanannya dia gunakan menyentuhkan bagian-bagian dari rambut curli nya.

__ADS_1


Kenapa dengan rambut saya?


Apa ada yang salah?


Mengapa sampai bertanya ini asli atau bukan?


Apa dia tidak pernah melihat orang dengan rambut curly.


" Iya ini asli," jawab Jelly.


" Tentunya kamu bosan dong dengan rambut asli kamu yang sejak dulu seperti itu." seraya mengusapkan kelima jari pada janggutnya. Menatap Jelly dan menyandarkan punggung pada kursi kerjanya.


" Maksud anda?"


" Ya, karena kamu sekarang menjadi sekretaris saya. Saya tidak ingin melihat penampilan kamu yang seperti ini," imbuhnya seraya bangkit dari kursi dan menggerakkan jari telunjuknya naik turun ke udara.


Membuat Jelly menyeringai. Masih tidak mengerti mengapa pimpinannya kali ini aneh hingga harus meminta mengubah penampilannya. Jelly pun akhirnya menarik nafas panjang dan mengeluarkannya. " Bisa tolong katakan apa yang perlu saya rubah dari penampilan saya?" Jelly pun memilih mengalah, ketimbang membuat masalah.


Lagi pula dia sudah keluar dari perusahaan Fox. Jadi mau tidak mau, dia harus mengikuti perintah pimpinan baru nya. Lagi pula tidak masalah, jika mungkin hanya mengganti syle rambut dan pakaiannya.


Membuat Jelly tercengang. Meskipun dia sudah menduganya.


" Gaya rambut kamu dan gaya berpakaian kamu! Aku tidak suka kamu memakai blazer sepanjang ini." Davos yang menarik kecil blazer bagian lengan Jelly. " Terus, rok span yang kamu kenakan hari ini. Apa tidak ada yang lebih modis?"


Membuat Jelly lagi-lagi tercengang. Meskipun sedikit sebal. Bagaimana bisa dia yang baru saja masuk di ruang kerja pimpinannya sudah mendapat kritik habis-habisan soal penampilannya hari ini.


" Trus lipstik kamu? Aku tidak suka kamu memakai warna lipstik yang menyala. Kamu bisa ganti dengan warna yang lebih soft."


Jelly pun mendengus kasar dan jelas itu terdengar sampai telinga Davos yang berdiri tidak jauh dari nya.


" Kenapa? Kamu tidak suka?"


" Oh, tidak. Tidak masalah pak, jika saya harus merubah penampilan saya. Lagi pula, saya juga bosan dengan penampilan saya," ujar Jelly yang jelas berpura-pura. Dia terlihat memunculkan senyum tipis yang padahal dalam hatinya ketimbang panjang urusannya. Mengingat masih ada perihal soal ganti rugi dari biaya mobil mewahnya yang Jelly tidak mau di persulit oleh pimpinannya.

__ADS_1


" Baguslah kalau begitu. Sekarang kamu boleh keluar!" titahnya dengan tangan yang dia hempaskan ke udara sebagai tanda supaya Jelly segera keluar meninggalkan ruang kerja miliknya.


Jelly pun akhirnya keluar. Entah sampai kapan dia bisa bertahan menghadapi bos besar yang sikapnya seperti demikian? Apa karena mungkin selama enam tahun Fox bahkan memberinya kebebasan dalam segala hal dalam urusan pekerjaannya. Makanya Jelly terasa dikejutkan jika ternyata setelah keluar dari kantor Fox, dia mendapatkan pimpinan yang sepertinya arogan dan akan sangat melelahkan.


Jelly bahkan mendengar para karyawan yang lain tengah memperbincangkan pimpinan perusahaannya itu. Memuji ketampanannya setinggi langit seolah tak ada celah yang ada pada diri pria itu.


Padahal jelas-jelas, baginya pria itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan pahlawannya selama ini. Fox.


Memang pimpinannya kali tampan. Tapi sayang, Jelly bahkan tidak tertarik untuk memperbincangkan ketampanan pimpinannya seperti para karyawan yang lain.


" Eh kamu tahu nggak sih? Tadi aku satu lift dengan pak Davos?" ujar salah satu karyawan yang sedang nimbrung di tempat kerja mereka.


" Oh ya? Trus gimana? Apa dia menyapa mu?" tanya seorang karyawan yang lainnya tengah menimpali.


Sementara Jelly yang hanya geleng-geleng kepala mendengar gosipan mereka tentang atasannya.


Davos?


Jadi dia namanya Davos?


Jelly yang melanjutkan kerjanya. Entahlah setelah pulang kerja nanti dia akan pergi ke salon dan merubah style rambutnya seperti apa?


Dia masih tidak habis pikir dan tidak percaya jika dia bisa benar-benar pergi meninggalkan kantor Fox dan sekarang duduk di kantor baru ini. Jelly pun terlihat seperti melamun.


" Tolong kamu kerjakan ini ya!" Davos yang meletakkan map berwarna merah gelap di atas meja kerja Jelly. Namun pria itu sepertinya tahu jika Jelly tengah melamun karena tidak bereaksi saat dia menyuruhnya


Membuat Davos tidak suka jika ada karyawannya melamun saat tengah jam kerja.


" Ehem." Deheman Davos yang berdiri tepat di samping Jelly, sudah pasti membuyarkan lamunan wanita itu..


Jelly pun sontak kaget, panik dan berusaha menyentuhkan tangannya pada benda apapun seolah dia terlihat bekerja. " Ma-maaf pak." Jelly yang menunduk dan memejamkan mata seraya mengatur nafasnya yang berantakan.


" Dengar ya! Aku tidak akan menggaji sekretaris yang tidak bisa di andalkan! Di luar sana, banyak yang mengantri ingin bekerja menjadi sekretaris saya. Kalau kamu hanya melamun. Saya bisa pecat kamu!" Davos yang sepertinya tidak main-main dengan ucapannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2