
" Oh, bukan apa-apa sayang." Tuan Kino menyambar map berwarna hijau terang yang tergeletak begitu saja dan menyembunyikan dengan cepat di bawah kursi kemudinya.
Candy sudah baca belum ya?
Dia kan sekarang sudah pintar. Takut saja, jika dia akan mengatakan pada Tamarin. Yang ada aku sama Tamarin mulai perang dunia ketiga.
Perjalanan dari sekolah Candy menuju rumah besar, Tuan Kino tidak melewatkan menyentuhkan telapak tangan kirinya ke atas puncak kepala milik Candy.
Rasanya sungguh bahagia. Melihat putri manis disampingnya adalah benar seratus persen adalah darah dagingnya. Keyakinannya tidak main-main. Namun mengapa Candy begitu mencintai Fox melebihi apapun di dunia ini setelah Tamarin.
Jujur itu membuatnya cemburu berat dan rasanya benar-benar suatu saat nanti Candy bisa memanggil nya dengan sebutan papa seperti yang dia sematkan kepada Fox saat ini.
Kapan waktu itu terjadi? Entahlah!
" Apa Candy mau jalan-jalan?"
" Aku kangen sama mama dan papa opa. Semalam mereka tidak pulang. Apakah nanti malam mereka juga tidak pulang lagi opa?" Raut sedih dari wajah Candy itu jelas membuat Tuan Kino bingung harus menjawab apa. Meskipun sebenarnya dia ingin mengatakan.
Candy, papa sudah ada di samping mu sayang.
Namun kata-kata itu hanya dia lirih kan dalam hatinya. Mana mungkin Candy akan tahu jika dia adalah papanya? Seumur hidup pun sepertinya tidak akan ada yang tahu selama asmara terlarangnya dengan Tamarin tersimpan rapat dan keduanya saling bungkam.
" Bagaimana kalau kita susul mama papa opa?" celetuknya yang tidak mengerti kebutuhan orang dewasa. Kebutuhan dimana satu sama lain sama-sama ingin menyalurkan hasrat keduanya.
" Huft!" Nafas kasar terdengar berantakan pun berhamburan. Bukan karena kacaunya pikiran. Melainkan bagaimana cara membujuk Candy yang merengek meminta bertemu dengan mama papanya? Sementara jika dia yang menghubungi, saat ini dia hanya tidak ingin Fox memunculkan pikiran yang tidak-tidak meskipun nanti berujung dalih Candy kangen kepada mama papa nya. Tapi tetap saja. Dia hanya ingin menikmati waktu bersama putri kecilnya lebih dulu meskipun sebenarnya sejak bayi dia tidak pernah melewatkan nya.
Hanya saja, setelah mendengar hasil pemeriksaan tes DNA. Tentu saja rasa segalanya bertambah dengan begitu cepatnya untuk Candy.
" Sayang, Candy jangan bersedih ya. Hari ini, mama dan papa pasti pulang."
" Benar opa?"
" Iya, mama dan papa sepertinya sudah bicara sama Oma."
Mudah-mudahan saja Fox dan Tamarin nanti pulang.
Kalau nggak pulang.
Alamat deh Candy. Dia pasti ngambek dan susah sekali membujuknya.
__ADS_1
" Jadi bagaimana? Sekarang kita pulang? Atau Candy masih mau jalan-jalan." Tuan Kino yang memberi pilihan kepada Candy.
" Candy mau pulang saja, tunggu mama papa." Wajahnya yang sedari pagi sendu karena tak melihat papa mamanya di rumah.
" Okay."
.
.
Sementara Tamarin dan Fox tidak ada habisnya beraksi lebih gila. Inilah yang membuatnya terpuaskan oleh aksi Tamarin yang semakin liar dan bahkan diluar dugaan.
Tamarin sangat pandai dan lihai, bahkan jam terbang permainan nya tanpa di duga Fox membuatnya enggan menghentikan permainan mereka dan selalu ingin melanjutkan lebih lama dan lama.
" I love you." bisikan yang jelas-jelas membuat Tamarin semakin gila melakukan aksinya. Fox tidak segan-segan mengatakan hal itu tepat di telinga Tamarin yang saat itu duduk di pangkuannya dalam bathub Hotel saat keduanya mandi bersama.
Jangan ditanya apa yang selanjutnya mereka lakukan? Pembaca sudah tentu jauh lebih pandai mengimajinasikan pria dan wanita dewasa terlebih suami istri yang saling memuaskan.
Menumpahkan seluruh cinta mereka meskipun yang wanitanya mungkin hanya tiga perempat bagian. Karena seperempatnya, sudah tentu milik kembaran Brad Pitt yang sedikit banyak malah menghasilkan Candy. Bocah manis menggemaskan bak boneka hidup sungguhan.
.
.
Namun bahkan pakaian bagian leher Jelly terkoyak dan dirinya bertambah histeris menangis.
" Egh ... Egh!" tahannya memberontak sekuat tenaga namun pria kekar di depannya seperti yang memiliki tenaga sejuta kali lipat lebih dari nya.
Mana mungkin pria yang berusaha menekan punggungnya pada sebuah dinding kamar mandi di sebuah club, tidak bergerak sama sekali ketika Jelly berusaha mendorongnya sekuat tenaga yang dia punya.
Meskipun pria itu dirasuki oleh minuman keras karena bau pengar alkohol itu tercium aromanya dengan begitu kuat. Tetap saja Jelly tidak akan pernah memaafkan nya. Dengan dalih apapun, dia tidak sudi lagi mengenal pria yang kini berusaha mencium bibirnya namun sekuat tenaga pula Jelly menghindarinya.
Dug
Sebuah tendangan keras dari lututnya ke alat vital milik pria itu membuatnya meringis.
" Aw." Kedua tangan nya yang memegang anu nya yang mungkin sudah lecet atau bahkan tidak sakti lagi.
Jelly yang sedikit ketakutan, ternyata pria yang dikenalnya cukup lama ternyata bukan pria baik-baik. Jelly menangis keluar dari kamar mandi dan menerobos kerumunan orang yang sedang berjoget tidak jelas karena di pengaruhi oleh minuman keras di sebuah club malam.
__ADS_1
Tadinya dia ragu untuk berkencan malam ini dengan pria yang tengah dekat dengannya kini. Namun karena dia yang kesepian tidak ada teman, akhirnya mengiyakan meskipun sedari berangkat dia tida pernah tenang.
Ternyata firasatnya benar, untung saja tadi Jelly tidak minum barang seteguk atau dua teguk anggur. Mana tahu jika di dalam nya ada sebuah obat tidur yang akan dipergunakan pria yang tengah dekat dengan nya itu untuk menjebaknya.
Sesenggukan menangis di pinggir jalan menjauh dari sebuah club yang mungkin saja akan menjerumuskan nya ke dalam jurang kehancuran. Untungnya malam ini dia terselamatkan.
" Hikz ... Hikz ... Hikz." isak tangisnya terdengar samar karena beradu dengan dengan deru kendaraan yang berlalu lalang. Gaun malam yang dikenakannya pun terkoyak dengan rambut yang bahkan terlihat sangat berantakan. Meskipun pria itu tidak berhasil menjamahnya, namun tetap saja, ketakutan malam itu sungguh membuatnya bingung. Ponsel di tasnya yang ketinggalan di mobil pria itu. Dia juga tidak memiliki uang sepeser pun untuk memesan taksi online.
Jelly pun terus berjalan menyusuri trotoar yang mungkin beberapa orang memperhatikannya karena penampilannya yang berantakan dan bahkan berjalan tanpa hells nya yang entah mencelat kemana?
.
.
" Iya sayang, habis ini papa pulang. Sudah dulu ya." ujar Fox yang sudah rapi berpakaian dan akan segera pulang ke rumah besar. Hampir 24 jam dia meninggalkan putrinya dan benar saja, Candy bahkan tidak sabar bertemu dengan mama dan papanya.
" Okay papa. Papa sama mama hati-hati ya."
" Iya sayang." Fox pun mengambil ponsel yang di apit oleh telinga dan bahunya. Karena sedari tadi tangan kanannya sibuk menggunakan arloji mewah untuk dia lingkarkan di pergelangan tangan kirinya.
Tamarin yang kemudian mendekat sembari tidak pernah mengunci bibirnya untuk tidak tersenyum. Kebahagian benar-benar terpancar dari wajah keduanya. Kecupan Fox pun tidak akan membuatnya bosan meskipun jutaan kali dalam sehari.
Tamarin bergelayut menaruh kepalanya di dada bidang suaminya. Tersenyum mendongak ke wajah suaminya yang hanya berjarak beberapa senti itu. Begitu juga dengan kedua lengan mereka yang saling melingkar erat ke tubuh satu sama lain.
Malam itu mobil Fox pun melaju tidak begitu kencang menembus jalanan malam kota Jakarta. Malah terbilang lamban karena keduanya saling memberi perhatian.
Tidak berselang lama, mobil Fox melintas dimana Jelly juga berjalan dengan pipi basah akibat air mata yang tidak berhenti sedari tadi.
" Wanita itu." lirih Fox yang melihat dari spion sebelah kiri mobilnya.
" Ada apa sayang? Kenapa berhenti?"
" Wanita itu, kasihan sayang."
Bukankah itu Jelly?
Fox yang kemudian turun dari mobilnya.
BERSAMBUNG
__ADS_1