
Uog ... uog ... uog.
Suara yang terdengar dari dalam kamar mandi Tamarin. Suara yang sudah tidak asing bagi telinga Fox jika istrinya pasti mengalami morning sickness. Bahkan hampir setiap pagi Tamarin seperti itu.
Dia sebenarnya kasihan, tapi mau bagaimana lagi? jika itu memang tahapan dalam proses sebuah kehamilan.
Tapi suara itu tiba-tiba tak terdengar untuk beberapa menit. Membuat Fox yang masih duduk di atas ranjang dan akan bersiap pergi ke kantor terperangah dan langsung berjalan cepat mengecek istrinya di dalam kamar mandi.
" Sayang, sayang buka pintunya." ketuknya.
Namun tidak ada jawaban dari Tamarin.
" Sayang, aku buka ya pintunya." perasaan cemas yang tiba-tiba muncul hingga tangan kekar yang mencengkeram daun pintu itu membuka sebuah pintu kamar mandi.
Alangkah terkejutnya, jika Tamarin tergeletak di atas lantai. Fox shock bukan kepalang. " Tamarin ... Tamarin ... " panggilnya dua kali dengan tepukan di pipinya. " Sayang kamu kenapa?" kecemasan Fox bertambah dan dia mengecek denyut nadi Tamarin. Dia masih merasakan jika denyut nadi itu masih berdetak meskipun terdengar lemah. Fox dengan cepat memapah istrinya untuk keluar dari kamar dan berteriak. " Bibi." teriak Fox yang menggema hingga membuat sepasang suami istri yang berada di kamar sebelahnya yakni ayah dan ibunya penasaran.
" Itu suara Fox. Ada apa dia?" Nyonya Mint dengan cepat memulas bibir dengan lipstik di tangannya kemudian bergegas keluar kamarnya di ikuti Tuan Kino di belakangnya.
Kepanikan Fox bertambah karena seolah tak seorang pun ada yang menjawab panggilannya. " Bibi." teriaknya lagi.
" Iya den." larinya bibi yang tergopoh menghampiri tuan muda nya.
" Tolong ambilkan ponsel di meja nakas saya!"
" Baik den Fox." bibi yang bergegas menuju lantai dua kamar tuan muda nya.
Sementara sepasang suami istri yang berusaha mengejar Fox putranya. " Fox tunggu! ada apa dengan istrimu?" cemas Nyonya Mint yang jelas tiba-tiba muncul dari wajahnya.
" Iya Fox, ada apa dengan Tamarin?" Pertanyaan yang sama dari Tuan Kino yang menatap lekat wajah kekasih gelapnya dalam gendongan suaminya dengan penuh kekhawatiran.
" Nanti saja Bu, aku mau cepat-cepat bawa Tamarin ke rumah sakit." Fox yang berjalan cepat memapah istrinya dengan penuh kekhawatiran menuju sebuah mobil yang terparkir di garasi rumah besar.
" Fox, ayah ikut." Tuan Kino juga ikut berlari dengan jarak yang tidak jauh hingga melupakan istrinya Mint yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
Nyonya Mint yang bingung dengan menatap kedua pria di depannya yang sudah berlari duluan dan terdengar pula sudah menancap melajukan mobil pribadi mereka masing-masing.
Dia yang cemas pula, namun tidak melupakan pekerjaannya. Hingga dia berlari ke lantai dua kamarnya untuk mengambil tas kerja dan ponselnya. Nyonya Mint lalu bergegas menuju rumah sakit dimana suami dan putranya lebih dulu sampai.
.
.
Sementara Tamarin yang sudah diperiksa oleh seorang dokter di ruang Unit Gawat Darurat.
Tertinggal Fox dan Tuan Kino yang berjalan mondar-mandir di terpa kepanikan. Namun Fox kemudian memilih duduk di kursi tunggu rumah sakit. Namun tidak dengan ayahnya, yang masih dilanda cemas tidak ketulungan.
" Bagaimana bisa seperti ini? tidak becus jaga istri kamu! jaga istri kamu saja, kamu tidak bisa." murka Tuan Kino yang tiba-tiba membuat Fox tersentak. Mendongak menatap pria dengan tatapan penuh amarah.
" Aku juga tidak tahu yah." sanggah Fox berusaha membela diri.
" Seperti nya kamu memang tidak bisa menjaga Tamarin." murkanya kembali.
Membuat Fox hanya bisa diam, dengan tatapan bingung kepada sikap ayahnya. Bola mata kecoklatan miliknya bertukar tatap dengan bola mata milik ayahnya. Hingga Fox kemudian hanya bisa menunduk pasrah jika harus terkena amarah dari sang ayah.
Mengapa ayah sebegitu khawatirnya dengan Tamarin?
Padahal dulu saja ayah begitu membencinya.
gumam Fox dalam hati penuh tanya kemudian buyar saat sang Dokter yang selesai memeriksa Tamarin membuka kelambu berwarna biru muda.
" Bagaimana Dok?" tanya cepat Tuan Kino seolah lepas kendali saking khawatirnya kepada wanita pujaannya.
Malah Fox yang bingung dengan sikap ayahnya kemudian mengulang pertanyaan yang sama. " Bagaimana istri saya Dok?" tanya Fox kepada sang Dokter.
" Apakah pasien sedang hamil muda?" tanya sang Dokter.
" Iya Dok." jawab kedua pria yang kemudian saling bertukar tatap.
__ADS_1
Membuat Tuan Kino sesaat tersadar jika tindakannya bisa-bisa membuat Fox curiga.
" Istri saya memang sedang hamil muda Dok." imbuh Fox.
" Tidak ada apa-apa. Bapak tidak usah terlalu khawatir. Hanya saja, ketika di rumah asupan makanannya yang masuk harus lebih diperhatikan. Pasien hanya lemah karena kurangnya asupan makanan yang disebabkan karena gangguan mual-mual sehingga membuatnya tidak enak makan." jawab sang Dokter.
" Hah ... syukurlah." lega Fox dengan mengeluarkan nafas panjang.
" Sekarang akan saya pindahkan ke ruang perawatan untuk di infus. Jika memang pasien sudah pulih dan sadar. Pasien boleh pulang." imbuh sang Dokter.
" Terimakasih Dok." balas Fox kepada sang Dokter.
Tidak berselang lama, Nyonya Mint datang menjinjing tas mewah ditangan kanan nya. Tas mewah yang selalu di bawanya ke kantor. Menghampiri kedua pria yang pastinya menghubungi Fox terlebih dahulu supaya tahu dimana Tamarin di rawat.
" Bagaimana Fox?" tanya Nyonya Mint yang baru datang dan mendekat ke posisi putranya yang baru saja keluar dari ruang rawat Tamarin.
" Tamarin tidak apa-apa Bu. Dia hanya lemah saja karena mual-mual nya dan sepertinya memang harus dipaksa makan supaya kejadian seperti ini tidak terulang." jawab Fox yang menjelaskan kepada ibunya.
" Oh ... syukurlah." lega Nyonya Mint dengan menyentuhkan telapak tangan kanan nya ke bagian dada nya.
" Tapi tetap saja kamu tidak boleh menyepelekan nya." ucapan tegas dengan sorot mata murka itu langsung dilayangkan Tuan Kino kepada Fox.
Membuat Nyonya Mint menatap cemas akan percekcokan yang akan kembali dimulai. " Sudah-sudah." Nyonya Mint berusaha melerai kedua nya.
" Ini tidak bisa dibiarkan. Dia memang tidak becus menjadi seorang suami bagi Tamarin. Kamu terus saja bela putra mu! Dan kamu tahu, kalau seperti ini terus aku bisa kehilangan ... " Tuan Kino yang hampir saja lepas kontrol dan mengatakan kehilangan anaknya jika dia tidak segera berhenti menutup mulutnya akibat murka yang meluap-luap.
" Kehilangan?" Nyonya Mint dan Fox yang menatap wajah Tuan Kino dengan serius.
Meskipun jantungnya risau akibat lepas kendali mulutnya. Namun dengan cepat Tuan Kino menetralkan semuanya. " Kehilangan cucu. Bukan kah itu cucu kita Bu?" tatapnya serius kepada Mint, istrinya.
" Iya yah." jawab Nyonya Mint yang kemudian melirik ke putranya. " Kalau begitu ibu berangkat ke kantor dulu ya sayang. Kamu jaga Tamarin baik-baik." Nyonya Mint mengecup kedua pipi putranya begitu juga dengan suaminya.
Mendengar kata kantor, Fox seperti diingatkan jika dia ada janji bertemu dengan Manager PT Sinar Jaya. Dia lantas mengambil ponsel di mobilnya dan menghubungi Jelly untuk menggantikannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG