Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua

Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua
Bagaimana Nasib Kyuri, Timun Jepang Jumbo?


__ADS_3

Mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai di area parkiran rumah sakit. Tuan Kino yang sayangnya mengalahkan apapun pada Candy, menggendongnya di depan dan tidak membiarkan putri kecilnya berjalan.


Sementara Nyonya Mint dan Tamarin tergesa dengan langkah besar mereka menuju sebuah ruangan Unit Gawat Darurat.


Mereka bertanya kepada siapapun tentang pasien yang baru saja dilarikan ke rumah sakit ini.


Seorang perawat kemudian memberi tahu jika pasien tengah ditangani oleh seorang dokter.


Mereka gelisah dan itu terlihat jika duduk mereka tidak tenang. Duduk, bangkit, berjalan mondar-mandir diikuti dengan kecemasan beserta Isak tangis yang terdengar samar.


Seakan hanya itu gambaran yang bisa mereka jelaskan dalam menyikapi sebuah keadaan yang sedang terjadi. Sudah tentu, tidak lupa jauh di lubuk hati mereka menyuarakan sebuah pengharapan besar yakni keadaan Fox baik-baik saja dan terselamatkan.


Tidak berselang lama, seorang Dokter yang menangani Fox pun akhirnya keluar.


" Bagaimana Dok?" tanya Nyonya Mint dengan wajah harap jika Fox putranya selamat.


Begitu juga dengan Tamarin yang tidak berhenti mengeluarkan air mata.


" Bagaimana Dok papa ku?" Hingga suara nyaring Candy pun terdengar dan barulah Dokter menjawab.


" Syukurlah, jika pasien selamat dan baru saja melewati masa-masa kritis. Namun, Saya perlu pindahkan pasien ke ruang khusus, hingga pasien benar-benar stabil. Dan satu lagi ... " Dokter yang kelihatan bingung bagaimana menjelaskan.


" Satu lagi apa Dok?" Tamarin yang memburu jawaban dari dokter. " Tolong sampaikan Dok?"


" Satu lagi. Untuk sementara, meskipun pasien sudah sembuh nanti ... timun Jepang jumbo milik pasien belum bisa dipergunakan bercocok tanam. Itu dikarenakan terjepit pada bagian mobil." Dokter dengan rasa canggung dan sedikit tidak nyaman menyampaikan perihal itu.


Membuat Nyonya Mint, Tamarin dan Tuan Kino sulit menelan ludahnya. Sesaat melongo meskipun terlihat jika sang Dokter berusaha menyamarkan kata yang kurang elok namun itu adalah bagian dari luka yang harus disampaikan kepada keluarga.


Sementara Candy sudah jelas tidak mengerti apa maksud yang disampaikan oleh sang Dokter.

__ADS_1


Setelah itu Fox dibawa ke ruang rawat khusus dimana keluarga belum boleh masuk ke dalam ruangan itu. Terlebih keadaan yang belum sepenuhnya stabil dan bisa berubah kapan saja, meskipun Fox sudah melewati masa-masa kritis.


Raungan dari Nyonya Mint seketika berganti dengan isak tangis samar. Merasa lega karena ternyata Fox bisa melewati masa kritisnya itu sudah jauh membuatnya bersyukur meskipun sebenarnya dia rela menggantikan tubuh putranya untuk terbaring di dalam sana. Hanya kelima jemari yang coba dia sentuhkan pada dinding kaca beserta derai air mata yang belum sepenuhnya usai.


" Papa ... Candy nggak akan marah sama papa. Tapi papa janji, papa harus bangun dari sana." Kata yang keluar dari putri cantiknya membuat Tamarin sedikit tersiksa.


Terlebih ini kali pertama jika Fox harus mengalami kecelakaan hebat seperti ini. Membuat Tamarin tidak berhenti meneteskan air mata yang sejak tadi sudah memenuhi bagian pipi.


Tuan Kino yang sedari tadi menyuruh asisten rumah tangga untuk membawakan baju mereka karena sepertinya mereka akan memutuskan bermalam di rumah sakit atau mungkin pulang ke sebuah apartemen mereka yang tidak jauh rumah sakit tersebut.


" Gantilah dengan pakaian ini!" Tuan Kino yang menyerahkan pakaian ganti kepada Tamarin berikut dengan Candy.


Tuan Kino pun mengantar Tamarin dan Candy ke sebuah ruang ganti.


Setelah Candy dan Tamarin berganti pakaian dan tidak mengunakan gaun Frozen lagi. Tuan Kino meraih tubuh wanitanya. Karena tidak tega melihatnya terus menangisi suaminya. " Baby, Fox akan baik-baik saja." lirihnya.


Sementara Tamarin tetap tidak berhenti dari isak tangis yang kepalanya dia sandarkan pada dada bidang kekasih gelapnya.


Satu malam berlalu dengan cepat.


Mereka berempat sarapan pagi di sebuah kantin rumah sakit.


Tuan Kino yang perhatiannya luar bisa mengalahkan apapun kepada putri kecilnya. Mendaratkan satu suapan meskipun sempat di tolak oleh Candy karena Candy tidak mau makan.


" Candy nggak mau makan opa." wajah sedihnya sudah tentu tergambar nyata dan itu terlihat jika Candy tidak seceria hari biasanya.


" Sayang, nanti kalau papa bangun ... dan Candy sakit, papa juga akan cemas." Bujuk Tuan Kino seraya mengulurkan suapan pada mulut Candy untuk kedua kalinya. Setelah suapan pertama mendarat sempurna walaupun memerlukan perjuangan yang luar biasa.


" Candy makan ya sayang." sahut Tamarin dengan wajah yang tak kalah sedihnya. Kedua matanya sembab akibat terus menangis karena suaminya belum juga sadar.

__ADS_1


" Aku nggak lapar ma ... hiks ... hiks ... hiks." Tangisnya kembali pecah seraya memeluk mamanya. " Aku mau papa suapi Candy." seraya air mata yang sudah menggenang.


Tahu Candy seperti itu Tamarin semakin erat memeluk putrinya. Tidak kuasa air mata bening itu pun jatuh di puncak kepala Candy hingga keduanya lirih dalam tangis yang tak terbendung.


Begitu juga dengan Nyonya Mint yang masih harap-harap cemas karena sampai sekarang Fox juga belum sadar. Dia takut keadaan berubah dan kondisi membalik jika belum melihat putranya tersadar dari atas pembaringan. Membuat pikirannya belum sepenuhnya tenang apalagi sampai perut bisa menerima makanan.


Dokter yang sedang memeriksa kondisi Fox, berikut perawat yang selalu siap dengan apa dan peralatan yang dokter minta untuk memeriksa pasien.


" Bagaimana Dok?" pertanyaan yang selalu diulang oleh mereka setelah dokter memeriksa kondisi Fox.


" Sebaiknya kita tunggu sampai pasien tersadar. Sejauh ini kondisi nya masih stabil dan tidak ada hal yang sekiranya mengkhawatirkan. Tapi kembali lagi, kita harus menunggu pasien tersadar lebih dahulu. Karena memang ada luka bagian kepala akibat benturan. Apakah itu berakibat pada ingatan pasien atau tidak." Dokter yang berusaha memberikan penjelasan.


" Baik dok, terimakasih." sahut Nyonya Mint.


Dokter kemudian pergi meninggalkan keluarga ini.


Sementara Tamarin, ketakutan tiba-tiba berkecamuk ketika mendengar kata terakhir yang disampaikan oleh Dokter.


Hilang ingatan?


Apakah suamiku harus mengalami amnesia?


Entah mengapa bisa dirinya berpikiran sejauh itu? namun tetap saja, kekhwatiran tidak bisa dihalangi karena memang kondisi Fox belum sepenuhnya dipastikan hingga dia tersadar, barulah Dokter akan dapat menyimpulkan bagaimana kondisi Fox selanjutnya.


" Mint ... Mint" Tuan Kino saat mendapati Nyonya Mint akan jatuh pingsan.


Untung saja dia cepat meraihnya hingga tubuh istrinya tidak sampai jatuh ke lantai.


" Mint ... Mint." panggil Tuan Kino seraya menepuk bagian tulang rahang sebelah kanan dari Nyonya Mint. " Candy sama mama dulu ya." Dia tetap tidak tega membiarkan Candy sedih. Merasa tersiksa jika melihat wajah putrinya basah terkena air mata. Entah untuk siapapun dia menangis. Tapi jika melihat putri kecilnya bersedih. Dia adalah orang pertama yang akan menghapus air matanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2