
Tit ... Tit ... Tit ...Tiiiiiiiiiiiit ...
Suara Elektrokardiogram yang menandakan jika detak jantung ibu Jelly sudah berhenti.
Bersamaan dengan ujung alat itu berbunyi panjang. Jeritan histeris menggema ke seluruh langit-langit rumah sakit.
" Ibu." jerit tangis histeris yang keluar dari mulut Jelly. Tangisnya pecah, genggaman tangannya luruh dan memeluk tubuh ibunya.
Mengguncang tubuh yang yang sudah tidak bernyawa itu dengan terus membangunkannya. Berharap keajaiban datang dan Tuhan tidak memanggil ibunya secepat ini.
Begitu juga dengan Fox yang menyaksikan Jelly menangisi ibunya yang sedang berjalan menuju surga.
Pelupuk matanya tidak kuat untuk menahan air mata. Tidak menyangka, jika kepergiannya meninjau proyek di kota Bandung membuatnya bertemu kembali dengan Jelly, bernostalgia masa sekolah dan berbagai rangkaian peristiwa hingga detik ini yang ada di depan mata.
Membuat dadanya bergetar, membayangkan jika itu terjadi padanya. Pasti rasa sedih nya akan sama dengan apa yang sekarang di lihatnya.
Fox yang hanya bisa menyentuhkan seluruh jari kirinya untuk mengelus, membelai rambut hitam bercahaya milik Jelly.
Mencoba menjadi teman terbaik disaat-saat berkabung seperti ini. Berharap Jelly sedikit terhibur karena tidak merasa sendirian dan memilik teman.
Karena Fox yakin, jika hati Jelly saat ini remuk redam yang mendalam karena harus ditinggal pergi dari orang yang disayang untuk selamanya.
" Ibu, ibu jangan tinggalkan aku sendiri. Aku butuh ibu ... aku butuh ibu ada di sampingku. Siapa lagi Bu? siapa lagi yang akan menjadi teman ku sekaligus orang yang selalu menasehati ku?" air mata bawang yang keluar bercucuran terasa perih menyayat hati jika terdengar di ujung telinga.
Terlebih kata-kata terakhirnya. Jelly seperti tidak memiliki siapa-siapa lagi kecuali ibunya. Semakin membuat Fox yang berdiri di dekatnya terenyuh menyaksikan pilu dan kesedihan mendalam yang dirasakan oleh Jelly.
.
.
__ADS_1
Jelly yang ditemani Fox di pemakaman ibunya. Dengan memakai pakaian serba hitam dan Fox yang memegang payung berwarna hitam pula untuk memayungi tubuh Jelly.
Sementara Jelly yang menabur bunga di atas tanah basah kuburan ibunya, masih terdengar suara Isak tangis yang mencoba untuk dia tahan namun sialnya tidak mampu juga.
Kedua matanya tetap mengeluarkan air mata dan mulutnya berjuang untuk menangis tak bersuara. Namun tetap tidak bisa. Isak tangisnya masih terdengar terbata kala dia harus luruh duduk tanpa daya di sisi tanah kuburan ibunya.
Fox hanya bisa diam. Memayungi tubuh yang sembilan puluh persen mirip dengan Priyanka Chopra itu supaya tidak terkena sedikitpun rintikan hujan.
Jelly yang terus menatap gundukan tanah merah bertabur bunga melimpah di depannya. Semua syarafnya bahkan seperti membeku ketika dia hendak meninggalkan jasad ibunya yang terkubur di bawah sana.
Sesekali Jelly membenahi kerudung panjang hitam yang berkelebat terkena angin untuk menutupi rambut berkilau nya. Kaca mata hitamnya juga sedari tadi menutupi matanya yang mungkin sudah memerah bahkan membengkak akibat menangis tanpa henti.
Hanya ujung hidung yang terlihat memerah, berikut dengan sesenggukan samar yang terdengar. Mencoba ikhlas atas kepergian orang yang sangat disayanginya adalah sulit baginya.
Ini adalah kali kedua dalam satu tahun, dia harus merasakan kepahitan yang sama. Meskipun kepahitan yang pertama adalah hal asmara. Namun perihnya luar biasa hingga sama sakitnya dengan apa yang dialaminya hari ini.
Lengkap dengan pakaian serba hitam dan payung hitam pula.
Milk.
Mantan kekasih Jelly yang sudah menancapkan pedang ke dalam lubuk hati paling dalam.
Dan juga Ita. Sahabat terbaiknya yang menikam dari belakang hingga keduanya melakukan pengkhianatan kejam.
Ita tengah hamil dan sedang mengandung anak dari mantan kekasih yang sudah digadang-gadang menjadi suami Jelly.
Terlihat Milk begitu sangat mencintai Ita hingga tanpa melepaskan genggamannya semenjak keduanya keluar dari mobil sedan berwarna hitam yang terparkir di ujung sana.
Sepasang kaki mereka semakin dekat hingga berhenti tepat berada di hadapan gundukan tanah merah dengan taburan bunga berlimpah.
__ADS_1
" Jelly." sapa Milk dengan nada timbre besarnya.
" Kita ikut berduka Jelly." sahut Ita yang menata posisi tubuhnya hingga sama duduknya dengan Jelly namun karena perutnya yang besar karena sedang mengandung, membuatnya bertumpu pada kedua lututnya.
" Terimakasih." Jelly yang masih tidak bergeming dari tatapan kuburan milik ibunya. Jelly bahkan tidak menatap wajah kedua pengkhianat yang sedikit banyak membuat hidupnya berantakan.
Sementara Tubuh Milk mematung sama persis dengan apa yang dilakukan oleh Fox. Yakni memayungi tubuh istrinya Ita yang sedang menabur bunga di atas gundukan tanah merah di hadapannya.
Milk jujur merasa iba dengan apa yang terjadi dengan Jelly. Mendengar Jelly yang sesenggukan mencoba kuat, hanya terlihat menunduk kan kepala sedari tadi tanpa menampakkan wajahnya membuat dia sedikit tidak percaya dengan kenyataan hari ini.
Milk sedikit banyak tahu perjuangan Jelly merawat ibunya demi kesembuhan. Bahkan hubungannya harus karam dan itu tidak luput dari kesalahan Jelly yang berulang yang lebih mementingkan ibunya dan sedikit banyak tidak pernah menganggapnya. Membuatnya jengah dan entah mengapa bisa mencintai Ita yang jelas sudah mereka sahabat karib lama.
Itulah mengapa? Jelly seperti tidak akan pernah memaafkan pengkhianatan yang dilakukannya. Sehingga membuat Milk dan Ita merasa bersalah yang luar biasa atas kekejaman hati yang mereka lakukan kepada Jelly.
Setelah sangat lama keempatnya berada di posisi yang sama. Hari mulai senja, dimana matahari mulai membenam dan guyuran rintik hujan mulai reda.
Jelly bangkit dan berdiri dengan sangat lemah. Fox kemudian meraih tubuh Jelly yang lemah dan terlihat pucat. Hingga akhirnya Fox benar-benar menuntun tubuh Jelly yang delapan puluh persen seperti orang tidak berdaya dan shock berat karena kenyataan hari ini.
Dalam dekapan bahu dan dibawah payung hitam. Fox berjalan menjauh dari pemakaman dan tidak melepaskan tautan lengan yang dia rangkulkan ke tubuh wanita yang mirip dengan istrinya sekaligus Priyanka Chopra.
Sementara Milk dan Ita yang hanya bisa menatap keduanya menjauh dari posisi mereka. Banyak pertanyaan yang mereka simpan. Namun seolah tidak lagi penting bagi keduanya.
Baik dia adalah kekasih Jelly atau bukan. Setidaknya mereka lega, jika Jelly sudah ada teman pria atau bahkan sudah move on dari pernikahan mereka.
" Kita pulang honey." tangan Milk yang menyentuhkan pergelangan tangan Ita istrinya dan menuntunnya berjalan menuju mobil di area parkiran pemakaman.
Sementara Fox dan Jelly yang lebih dulu sampai di dekat mobilnya. Membukakan pintu mobil untuk Jelly yang sepertinya butuh waktu untuk berbicara.
BERSAMBUNG
__ADS_1