Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua

Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua
Gelandangan Jalan


__ADS_3

Milk senang sekali, karena malam ini bisa membeli makanan enak untuk keluarganya. Tip dari teman pria Jelly tidak main-main. Dan sepertinya memang orang kaya raya. Dia memberi Milk upah lima kali lipat yang hanya mengantar dan menjemputnya ke Bandara, menunggu ke makam ibunya Jelly sebentar dan mengantar ke rumah Jelly.


Keluarga Milk juga sangat senang karena masih bisa makan meskipun jalan keluar belum mereka dapatkan.


Disaat semua keluarga Milk berkumpul. Sepertinya, ini adalah waktu yang tepat untuk membicarakan masalah rumah Jelly. Milk tidak bisa memutuskan sendiri dan harus disepakati bersama.


" Kenapa Honey?" tanya Ita karena melihat suaminya seperti memikirkan sesuatu.


" Aku butuh bantuan kamu."


" Apa?" tanya Ita kembali.


Membuat Ibu, ayah, kak Happy dan juga iparnya Dent hening mendengarkan percakapan mereka yang sedang duduk di ruang tengah.


" Rumah Jelly yang di Bandung kosong. Apa kalian dan terlebih kamu Honey, apa mau jika kita menyewa rumah milik Jelly yang tidak ditempati?" tanya Milk yang membuat pasang mata tercengang.


" Jelly." lirih Ita dengan mata membulat penuh tidak percaya.


Begitu juga ayah, ibu, kak Happy dan Dent. Mereka semua juga kaget Milk mengatakan hal itu.


" Jelly, mantan kekasih kamu." sahut kak Happy yang membuat Ita tidak nyaman jika nama Jelly harus dibahas di keluarga ini.


" Iya kak. Sepertinya tidak ada jalan lain, selain kita menahan rasa malu akibat kita pernah menolak Jelly dan menjadi bagian keluarga ini." jelasnya.


Membuat Ita terdiam dengan mimik wajah tidak nyaman.


Dari semua pihak keluarga yang awalnya tidak setuju, kemudian menyetujui dan akan bersama-sama datang ke Jakarta untuk menemui Jelly sekaligus meminta maaf jika mungkin pernah menyakiti hati Jelly.


Milk dan kakak iparnya Dent juga akan meminta pekerjaan kepada Jelly jika memang di kantornya sedang membutuhkan karyawan.


Mereka akhirnya sepakat, jika besok akan sama-sama datang ke Jakarta dan menemui Jelly.


.


.


Di sebuah kamar berukuran tidak terlalu besar. Milk dan Ita yang melanjutkan obrolan mereka yang sepenuhnya belum selesai.

__ADS_1


" Jadi kamu bertemu dengan Jelly waktu di Jakarta Honey?" tanya Ita terlihat posesif.


" Bagaimana tidak bertemu. Perusahaan ku dimana bekerja itu bekerja sama dengan perusahaan dimana Jelly bekerja." ucap Milk kepada istrinya.


" Oh," sinis Ita. " Atau jangan-jangan ... " kata-kaya Ita yang belum sepenuhnya dia selesaikan namun Milk dengan cepat menyelanya.


" Jangan-jangan apa? tolong kamu jangan berpikir macam-macam! kamu tahu? Jelly bahkan tidak pernah mau bertemu dengan ku meskipun hanya sekedar tatap." imbuh Milk. Milk kemudian mendekat ke istrinya. " Kamu tahu? dia bahkan belum sepenuhnya memaafkan kita?" Milk yang menatap wajah istrinya.


" Lalu kenapa kamu mengajak kita semua untuk tinggal di rumah Jelly?"


" Honey, singkirkan rasa malu mu saat ini. Apa kamu mau kita jadi gelandangan jalan? tidur dikolong jembatan, hah?" tanya Milk yang berusaha meyakinkan Ita.


" Bukan begitu maksud ku Honey. Aku hanya bingung kenapa kamu sudah terlihat baik hubungannya dengan Jelly? Bukan kah kata mu dia benci sama kita?"


Aku tidak mungkin menjelaskan kepada Ita jika aku pernah menolong Jelly dan menyelamatkan nyawa Jelly saat terjebak di lift kantornya. Yang ada dia tambah berpikir macam-macam.


" Aku tahu Jelly orangnya seperti apa. Maka dari itu, sebaiknya kamu yang bicara. Karena kamu adalah sahabat dekat Jelly. Dan aku yakin, Jelly tidak mungkin tega membiarkan kita pulang dengan tangan hampa. Toh kita akan mencicil uang sewa rumahnya." Milk yang optimis jika Jelly dapat menolong keluarganya.


" Iya Honey." tunduk Ita pada perintah suaminya.


.


.


" Wao ... Jelly tinggal disini?" tanya kak Happy yang memandang tinggi sekaligus terlihat


mewah apartemen yang berdiri kokoh di depannya. Saking herannya, seluruh matanya menelisik semua sudut hingga sebuah mobil berplat J 31 LY tidak luput dari kedua matanya. " Apa itu mobil Jelly?" tanya kak Happy lagi dengan menunjuk ke sebuah mobil mewah dan terlihat betul jika itu adalah Mercedes-Benz keluaran terbaru dengan harga tembus satu miliar lebih.


" Iya." jawab Milk yang membuat Ita terkejut. Mengapa suaminya seolah tahu tempat tinggal Jelly dan bahkan mobil Jelly. Ujung hidungnya yang kembang kempis menahan banyak pertanyaan yang akan dia pertanyakan kepada suaminya. Dadanya terdengar gemuruh setelah mendengar jawaban Milk yang dengan bangga menjawab iya.


Setelah itu mereka berenam masuk ke loby dan mempertanyakan dimana apartemen Jelly. Karena Jelly mendapat perlakuan khusus dari apartemen dia tinggal yang kesemuanya adalah milik Fox, bos besar di kantornya bekerja sekaligus teman lama dan sematan cinta tak kesampaian saat SMP.


Pihak resepsionis akhirnya mengantar sampai tepat di depan persis pintu utama apartemen Jelly.


Yang tidak luput dari semuanya sangat terkagum-kagum dengan kemewahan dan kecanggihan dari apartemen yang di tempati Jelly. Lebih tepatnya adalah kata Eksklusif yang biasanya ditempati oleh konglomerat Jakarta.


Ketukan jari Milk pada pintu apartemen Jelly.

__ADS_1


Tidak lama setelah ketukan itu, Jelly akhirnya membuka pintu. Seketika kedua bola matanya membulat penuh karena rasa terkejutnya. " Milk ... Ita." lirihnya sekaligus bola mata yang bergeser menatap semua yang berdiri di depan pintu apartemennya.


" Jelly." sapa Ita sahabat SMP hingga kuliah.


" Ada apa ini?" tanya Jelly yang sedikit bingung. Terlebih melihat Ita yang kini duduk di kursi roda dengan perban yang melingkar di kakinya.


" Boleh kami dipersilahkan masuk Jelly?" sahut Milk yang meminta izin supaya Jelly mempersilahkan mereka semua masuk.


" Oh, silahkan-silahkan."


Jelas saat mereka masuk, sepasang mata dari masing-masing mereka dibuat terpesona dan terpana dengan keindahan interior yang menghiasi apartemen Jelly.


" Ada apa?" tanya Jelly kepada mereka yang masih terheran-heran. Jelly tahu sepertinya keluarga Milk heran mengapa dia bisa tinggal di apartemen semewah ini. Dan semua ini berkat Fox. Ita bahkan mungkin masih mengingatnya. Karena Ita juga mengenal Fox saat SMP.


" Begini Jelly ... " kata Milk yang langsung diserobot oleh ibunya.


" Maafkan kami nak Jelly. Kami mohon maaf jika ada ucapan bahkan sikap kami kepada nak Jelly satu tahun silam." sahut wanita paruh baya dengan hijab instan panjang yang dikenakan nya itu.


" Tidak apa-apa Bu, saya sudah memaafkan. Terlebih, saya juga sudah ... " ucapan Jelly yang menggantung dan belum sempat dia selesaikan. Dia melihat Milk gelisah dan sepertinya tidak perlu mengatakan jika Milk sudah menyelamatkan nyawanya saat terjebak di lift waktu itu.


" Terlebih apa nak Jelly?" sahut wanita tua berpakaian gamis itu.


Sementara Jelly dan Milk yang saling melempar lirikan. Terlihat jika Milk wajahnya sedikit menegang.


" Terlebih saya dan Ita sudah bersahabat sejak lama." jawaban Jelly yang membuat lega Milk, karena bisa-bisa akan terjadi perang ketiga jika sampai telinga Ita mendengarnya. Terlebih, jika Ita tahu kalau dirinya mengantar Jelly di rumah sakit saat terjadinya hari kecelakaan Ita. Bahkan dia mengabaikan ponselnya karena berjuang meminta maaf kepada Jelly. " Ada apa ini?" tanya Jelly kembali.


Ita kemudian mengawali bercerita tentang kedatangannya dan keluarga suaminya menemui Jelly. Ita mengatakan semua hal hingga tak ada hal yang terkecuali termasuk kehilangan bayi yang hari nahas itu seharusnya dia melahirkan.


" Apa?" terkejutnya Jelly bukan main saat mendapati cerita Ita yang sangat memilukan.


" Bagaimana Jelly? Apa kami boleh menyewa rumah kamu yang di Bandung? Kami janji akan mencicil uang sewanya setelah Milk dan kakak ipar Dent berhasil mendapatkan pekerjaan." ucap Ita yang sangat berharap Jelly mau menyewakan rumahnya yang di Bandung.


Jelly yang sejenak terdiam. " Sebenarnya ini sulit, karena rumah itu banyak kenangan saya dan ibu saya. Saya tetap merawatnya dan selalu pulang saat saya berziarah ke makam ibu saya." jawab Jelly yang bingung dan harus memikirkannya.


Hampir semua wajah yang tertuju pada kembaran Priyanka Chopra itu sedikit kecewa.


" Akan aku pikirkan terlebih dahulu." jawab Jelly yang meminta waktu untuk memikirkannya. Karena Jelly pikir, Milk juga banyak memiliki saudara, begitu juga dengan Ita. Apakah saudara mereka tidak ada yang membantu? hingga dialah tujuan terakhir dari harapan mereka.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2