
" Ada yang ingin aku sampaikan." kata Jelly saat berada dalam ruang kerja Fox.
" Apa?" Fox menatap serius Jelly karena sepertinya ada yang penting hingga Jelly berani menyampaikan kepadanya.
" Aku ... " Jelly yang ragu.
" Katakan! ada apa?"
" Begini ... " Jelly akhirnya menjelaskan semua duduk permasalahan keluarga Milk kepada Fox. Bahkan Fox diingatkan oleh sosok sahabatnya yang bernama Ita.
" Apa? jadi mereka sekarang jatuh miskin dan bangkrut?" tanya Fox dengan dahi penuh kerut.
" Iya."
" Jadi Ita, yang merebut Milk dari kamu? astaga." Fox yang tidak habis pikir mengapa bisa sahabat dekat Jelly sejak SMP tega melakukannya.
" Tapi itu bukan sepenuhnya salah mereka. Aku juga salah. Sudahlah ... biarlah itu berlalu. " Fox yang melihat kesannya Jelly sudah berubah membela mantan kekasihnya padahal sepertinya kapan hari bahkan dia sangat membencinya.
" Apa karena dia menyelamatkan nyawa mu? kamu jadi berubah baik kepadanya." Sejenak Fox berhenti karena Jelly juga tidak menjawab apapun. " Okay, itu bagus. Jadi sudah tak ada sakit hati lagi pada hati kamu. Itu jauh lebih baik." Fox yang bangga pada Jelly karena bisa mengikhlaskan mantan kekasihnya itu.
Namun tidak padanya. Entah mengapa? saat Jelly menceritakan kisah pilunya, membuat dia harus bertindak memberikan pelajaran kecil terhadap pria yang pernah menyakiti Jelly. Termasuk Ita.
" Untuk masalah pekerjaan biar aku yang mengaturnya." tandas Fox yang akan bermain-main dengan keluarga yang pernah menyakiti hati Jelly. " Aku sendiri yang akan menyampaikan nya. Dan aku juga ingin bertemu dengan Ita."
.
.
Di kota Bandung yang sedang di guyur hujan sejak pagi.
Di sebuah rumah terlihat rindang karena dikelilingi pohon besar disamping kiri dan kanannya.
Semua penghuni sedang sibuk mengemasi barang-barang penting untuk dimasukkan dalam kardus-kardus besar berikut baju-baju yang di masukkan dalam koper-koper.
" Honey, aku mau bertanya satu hal sama kamu." tanya Ita disela-sela yang hanya bisa melihat suaminya sibuk mondar-mandir mengemasi barang-barang.
" Apa?"
" Kenapa saat di Jakarta, kamu seolah tahu detail tentang Jelly. Jelly tinggal dimana? bahkan sampai mobil Jelly, kamu hafal jelas bahkan kamu juga Tahu jika Jelly memiliki jabatan penting." tanya Ita yang ragu tapi dia harus berani bertanya guna mengusir pertanyaan dalam benak yang akhir-akhir ini mengusik batinnya.
" Kan aku sudah bilang, perusahaan dimana Jelly bekerja, itu bekerja sama dengan perusahaan dimana aku bekerja waktu itu."
" Tapi ... " Ita yang belum puas dengan jawaban suaminya.
" Tapi apa?" Milk yang menyelanya.
" Tapi, mengapa sampai kamu tahu Jelly tinggal dimana? bahkan sampai mobilnya kaki juga hafal." Ita yang takut-takut bertanya demikian.
" Oh, itu tidak di sengaja. Saat aku mencari makan malam. Aku tahu Jelly keluar dari mobilnya dan menuju apartemen yang tidak jauh dari Mall dimana aku juga mencari makan. Kamu tahu kan ada Mall yang jadi satu dengan apartemennya. Waktu itu aku mencari makan malam di Mall itu." penjelasan Milk yang masuk akal dan Ita lega mendengarnya.
" Sudahlah, jangan berpikir macam-macam. Keadaan ekonomi kita buruk. Aku harap kamu segera sembuh dan membantu kita bekerja." ucap Milk.
__ADS_1
" Apa?" tanya Ita yang penuh kerut di dahinya.
" Honey, kamu pikir hidup kita sama seperti dulu. Aku mati-matian memasukkan lamaran pekerjaan, namun belum ada yang nyangkut satupun di perusahaan besar di kota Bandung ini. Jadi aku harap, kamu bisa membantu kamu bekerja, supaya tambah cepat kita segera memiliki rumah dan tidak menumpang di rumah Jelly." imbuh Milk.
Milk yang kemudian melanjutkan aktivitasnya. Meninggalkan Ita dan keluar kamar guna mengecek semua barang supaya tidak ada yang tertinggal.
.
.
Sore hari setelah hujan reda. Keluarga Milk akhirnya sampai di rumah Jelly. Itu pun setelah mereka menyelesaikan kesepakatan kepada pihak Bank dan menyerahkan kunci rumah kepada pihak Bank. Dan lagi-lagi itu membuat dada sesak namun kembali lagi hidup harus terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.
" Hah." Milk yang akhirnya lega dia dan keluarganya tidak sampai jadi gelandangan jalan. Ada tangan Tuhan lewat sosok Jelly, yang pada akhirnya menolongnya. Merasa malu sebenarnya, karena Jelly pernah dia sakiti sedemikan rupa. Tapi apa daya? jika takdir harus bertindak demikian. Toh hubungan nya dengan Jelly sudah membaik.
" Apa?" Ita yang terkejut sekaligus senang saat menerima panggilan telepon dari Jelly. " Baik-baik, besok kita akan berangkat ke Jakarta. Terimakasih ya Jelly." Ita yang kemudian mengakhiri percakapannya dengan Jelly.
" Ada apa?" tanya wanita paruh baya yang sedang duduk di kursi teras menunggu senja.
" Iya ada apa Ita?" sahut kak Happy.
Ita kemudian menceritakan jika suami dan kakak iparnya akan bekerja di perusahaan dimana Jelly bekerja.
" Syukurlah. Semoga ini awal yang baik ya Bu." harapan kak Happy.
" Aku akan segera beritahu Milk." lanjut Ita.
" Aku juga akan katakan pada mas Dent, untuk bersemangat dalam bekerja." ujar kak Happy yang kemudian mendorong kursi roda Ita untuk masuk ke dalam rumah.
.
.
" Terimakasih Honey, semua juga berkat dari kamu." ucap Milk yang menggenggam erat sepuluh jemari Ita.
Setelah perasaan bahagia itu mereka lepaskan. Timbul penasaran dari Ita. " Tapi mengapa aku juga di suruh datang ke Jakarta?" tanya lirih Jelly pada suaminya.
Pasangan suami istri itu bertatap dengan penasaran.
.
.
Hari sudah terlihat senja. Dimana bibi tinggal menyelesaikan membakar beberapa barang di belakang rumah.
" Asap ... bau asap." lirih Milk yang mencari sumber asap disela-sela aktivitasnya yang masih menata barang-barang. " Apa itu Bi?" teriak Milk kemudian mendatangi asisten rumah tangga Jelly yang sedang berdiri dan membakar sesuatu.
" Ini barang-barang nona Jelly, saya disuruh membakarnya." jawab bibi.
" Boleh aku lihat?" Milk yang meraih sesuatu di tangan bibi.
Alangkah terkejutnya, karena Milk melihat foto dirinya dan Jelly dalam bingkai yang sebagian mungkin sudah dibakar oleh bibi.
__ADS_1
Untuk sejenak, tubuh Milk mematung. Tidak menyangka jika sampai detik ini Jelly masih menyimpan foto mereka. Terlebih dia dan Ita sudah menikah.
" Jelly." lirihnya dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Milk akhirnya melempar sendiri bingkai fotonya masuk ke dalam kobaran api yang tidak jauh dari tempatnya berdiri di bawah lampu temaram, karena hari juga sudah gelap dan penerangan tidak sepenuhnya benderang.
Dia menyaksikan sendiri foto-foto dirinya lenyap terlahap oleh kobaran api yang membakar. Milk kemudian masuk ke dalam rumah dan beristirahat karena besok subuh dia harus berangkat ke Jakarta.
.
.
Tiga orang sudah duduk menunggu di loby kantor Fox. Mereka adalah Milk, Ita dan Dent suami Happy.
Jelly kemudian menyuruh mereka masuk ke dalam ruangan Fox. Mereka pun berjalan di belakang Jelly dan Milk dengan setia mendorong kursi roda Ita.
Hingga akhirnya mereka berempat di suruh Fox untuk masuk, namun Fox sedang duduk membelakangi mereka berempat.
" Semuanya sudah datang." ucap Jelly kepada Fox yang masih duduk di kursi kerja dan belum menampakkan wajahnya.
Setelah mendengar kata Jelly, Fox kemudian memutar kursi yang terhalang meja kerja miliknya.
Membuat Ita terkejut bukan main. " Fox." lirih Ita dengan sulit menelan ludahnya. " Kamu Fox kan, benar kan Jell?" Ita mendongak ke arah Jelly berdiri.
Jelly mengangguk.
" Hai Ita, syukurlah kalau kamu masih ingat aku. Kita berteman bukan waktu SMP. Ya ... meskipun hanya satu tahun dan setelah itu aku pindah. Ternyata ingatan mu kuat."
" Jadi, jadi kamu pemilik perusahaan ini?" Ita yang tidak menyangka. Dia bahkan senang pasti nanti suaminya akan diberi pekerjaan dengan jabatan yang tinggi pula sama seperti Jelly.
" Bisa dikatakan seperti itu." jawab Fox singkat.
" Oh, ya langsung saja karena waktu saya tidak banyak." Fox yang melihat arloji mewah yang melingkar di pergelangan kirinya. " Suami kamu dan kakak ipar kamu diterima kerja. Tapi ... " Fox yang ragu mengatakannya, bahkan Jelly tidak tahu menahu rencana yang dibuat untuk memberi pelajaran kepada pria yang tidak pantas disebut Jelly mantan kekasih itu.
" Tapi apa Fox?" tanya Ita semangat.
" Tapi kantor aku saat ini hanya membutuhkan dua orang pekerja cleaning servis. Itu pun kalau kalian terima." jawaban Fox yang jelas membuat sepasang mata mereka termasuk Jelly membulat penuh.
" Apa? cleaning servis?" Ita yang shock bukan main. Mereka bertiga saling bertukar tatap satu sama lain.
" Tapi suamiku lulusan sarjana S1? apa tidak ada pekerjaan lain?" Ita yang berusaha meminta pada Fox pekerjaan yang pantas buat suaminya.
" Maaf Ita, hanya posisi itu yang saat ini kantor ku butuhkan. Itu pun kalau kalian terima, besok sudah langsung bekerja. balas Fox.
Ita yang mulai pasrah. Termasuk Milk dan juga Dent.
" Sudahlah Honey, untuk sementara tidak masalah. Nanti sambil aku juga mencari kerja disini." bisik Milk kepada Ita.
" Jadi bagaimana? kalian menerimanya?" tanya Fox menunggu kepastian mereka.
" Iya kami terima." Milk dengan jawaban yang membuat Ita seperti tidak rela jika suaminya menjadi cleaning servis.
Ita hanya mendongak memandang suaminya.
__ADS_1
BERSAMBUNG