Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua

Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua
Papa Kapan Pulangnya? Aku rindu papa


__ADS_3

Fox masih mendalami bagian per bagian dari setiap cincin tersebut. Nama Kino, bukanlah nama yang kebanyakan orang pakai. Dan dapat di pastikan, jika ini milik ayahnya.


Fox yang kemudian teringat ada selembar kertas yang sengaja di tindih supaya kertas tersebut tidak terbang. " Surat dari Jelly? Kenapa Jelly tidak pernah membicarakannya?" tanya Fox yang tidak mengerti. " Apa mungkin dia lupa?" imbuhnya seraya mengambil selembar kertas yang tidak terlalu lebar itu.


Fox, maafkan aku.


Terimakasih untuk semuanya.


Meskipun selama enam tahun terakhir semenjak hadirnya putri mu, Candy ... Di antara kita seperti ada jarak yang membentang.


Tapi sudahlah Fox, aku tidak bahas tentang kita.


Cincin ini.


Aku temukan di dekat pintu apartemen sebelah. Yang saat itu aku mendapati setelah kembali bertemu dengan mu secara tidak sengaja bersama Candy saat aku sakit.


Tidak tahu milik siapa?


Aku juga bingung harus mengatakan atau tidak. Tapi aku pilih untuk mengatakannya lewat surat ini bersamaan dengan cincin ini.


Satu orang pria, satu orang wanita.


Begitu sangat tidak sabarnya, sampai-sampai ketika lift baru terbuka, keduanya bahkan tidak lepas dari saling bertaut bibir dengan sangat agresifnya dari keduanya menuju apartemen tengah.


Jujur aku sangat takut jika aku ketahuan. Namun aku berhasil dengan cepat masuk kembali ke apartemen ku, karena mereka sibuk saling memuaskan.


Maafkan aku, menjadi tahu rahasia besar keluargamu. Namun aku tidak mau tahu, siapa pria dan wanita itu?


Jelly.


Nafas Fox terasa sesak. Setelah membaca surat dari Jelly yang ternyata menemukan cincin pernikahan ayahnya.


" Tidak salah lagi, Tamarin dan ayah sering kesini. Waktu Jelly sakit? Bukankah itu belum lama?" tanyanya pada diri sendiri yang merunut kembali peristiwa yang disebutkan oleh Jelly.


" Benar dugaan ku, Tamarin terlambat menjemput Candy karena mereka ada disini sedang ... Argh!" Fox yang frustasi dan memukulkan kepalan lima jari menggenggamnya ke atas sofa. Fox pun menangis histeris, dia merasa frustasi berat hingga tubuhnya luruh terduduk di atas lantai. Mengingat dimana Tamarin yang berbohong bertemu Loly padahal jelas-jelas Loly mengatakan hal berbeda saat tidak sengaja dirinya bertemu dengan Loly yang baru saja menginjakkan kaki di Indonesia.


Kebohongannya bertambah dengan dalih ponsel rusak meskipun Fox mencurigai hal aneh. Dan ternyata benar. Semua terbukti. Jika saat keterlambatan Tamarin menjemput Candy, adalah datangnya Tamarin dan ayah di apartemen ini. Tepatnya di apartemen sebelah persis yang disebutkan Jelly dalam surat Jelly.


Bahkan resleting punggung Tamarin yang waktu itu tidak sepenuhnya rapat. Wajah dan rambutnya begitu pula penampilannya yang terlihat sangat berantakan. Membuat Fox bertambah menangis dan berteriak dalam waktu yang bersamaan. Murkanya juga tak kalah menggaung ke seluruh sudut ruangan.


" Kalian keterlaluan!"


Rumah tangganya sudah tidak ada harapan. Fox benar-benar bertekad akan menceraikan Tamarin. Pengkhianatan kejam yang dilakukan oleh Tamarin dan ayahnya, sungguh menyakitkan dan menusuk dalam hingga tembus ke tulang bagian belakang.

__ADS_1


Sakitnya jangan ditanya. Sudah tentu sakit hingga tak berasa. Kini, yang tersisa tinggallah murka. Murka Fox yang benar-benar sudah tidak dapat dia redam.


Ya, ibunya harus tahu. Ibunya berhak tahu perilaku bejat pria yang dia panggil suaminya. Begitu juga, perilaku tidak terpuji dari menantunya.


Fox yang dengan cepat menghubungi ibunya. Merogoh ponsel dalam kantong celananya.


" Come on ibu!" Fox yang sudah menempelkan ponsel pada daun telinganya. Berharap dengan cepat mendapat jawaban dari ibunya.


Namun sialnya. Berulang kali dia mencoba menghubungi ibunya. Berulang kali pula sebuah jawaban dari seorang operator dari ponselnya, mengatakan jika nomor ibunya sementara tidak aktif.


Fox membuang nafas kasarnya dengan panjang. Duduk di atas sofa perlahan. Sejenak mengabaikan ibunya, karena Fox yakin mungkin ibunya tengah tidur.


" Berarti mereka semua bohong?" lirih Fox mengingat tatkala dia mengintrogasi seluruh staf resepsionis bawah dan bagian cctv.


" Ayah." Sematan kata yang sejujurnya tidak pantas dia sebut ayah. Kedua mata Fox bahkan tersirat kebencian dan juga dendam mengakar mulai detik dimana dia sudah banyak mendapatkan bukti dari cinta terlarang dengan istrinya.


Begitu juga dengan Tamarin. Sematan kata istri, sudah tidak pantas lagi untuk dia sandang. Begitu sangat tidak di sangka. Setega itu keduanya pada ibu dan juga dirinya.


" CCTV di kamar." Fox yang tiba-tiba mengingat CCTV yang dia pasang di kamar secara diam-diam.


" Ada dan tidak ada bukti di dalam nya. Aku tetap harus melihatnya." Fox yang mulai mengurai satu persatu kekisruhan rumah tangganya. Membuktikan kepada mereka dan juga ibunya tentang cinta terlarang keduanya.


Dengan begitu, baik Tamarin maupun ayahnya sudah tidak mungkin bisa mengelak lagi.


" Sakit sekali Tamarin. Kenapa kamu tega? Kenapa?" Bersamaan dengan kedua tangan nya yang mengepal kuat dan juga tulang rahang yang perlahan menegang.


.


.


Candy yang tidak bisa tidur karena rindu papanya. Sedih karena papanya tidak berpamitan padanya saat hendak pergi ke luar kota.


Berbeda sekali dengan Oma, yang menyempatkan berpamitan kepadanya saat hendak pergi ke luar negeri untuk beberapa hari ke depan.


Candy berinisiatif menghubungi papanya. Tapi karena dia yakin semua orang sudah tidur. Candy akhirnya ke kamar mamanya secara diam-diam. Karena Opanya kini tengah tidur di sampingnya menemani dia tidur.


Candy mengendap-endap menuju kamar mamanya. Perlahan dia membuka pintu dan menutupnya kembali dengan sangat pelan.


Melihat mamanya tengah terjaga dalam tidurnya. Candy akhirnya memutuskan segera mencari ponsel mamanya.


" A ... itu ponsel mama," katanya tanpa bersuara dan hanya gerakan bibirnya. Candy pun meraih ponsel Tamarin yang ada di atas nakas. Membawanya ke walk in closet mamanya dengan sempurna.


Jemari mungilnya mengotak-atik ponsel pintar tersebut seraya duduk di atas lantai tepatnya bersembunyi di dalam lemari supaya mamanya tidak mendengar.

__ADS_1


" Papa." Bibirnya yang mengeja mencari nama papanya. Sangat lama sekali putri Tamarin yang menggemaskan itu sampai pada kata papa di pencarian dalam daftar kontak ponsel mamanya.


Sampai-sampai Candy sendiri sebal, karena hampir semua nama sudah dia eja namun tak kunjung menemukannya.


" Papa." Candy yang sangat bahagia, dengan mulut menganga diikuti kedua mata yang membulat sempurna akhirnya menemukan kata papa berganti nama suamiku tercinta, karena Candy pernah mendengar dan mengingat jika sepasang wanita dewasa dengan pria dewasa yang memiliki anak itu berbeda sebutannya untuk keduanya.


Setelah berjuang keras dan akhirnya menemukan nomor ponselnya. Candy menyentuhkan ujung jari telunjuknya pada gambar telepon berwarna hijau pada layar ponsel mamanya yang berarti memanggil.


Menempelkan benda tersebut di telinganya, seraya menunggu jawaban dari seberang sana.


Namun sangat lama sekali Candy berulang kali mencoba menghubungi papanya namun tidak berhasil mendapat jawaban.


" Papa mungkin sudah tidur." Sedihnya Candy padahal dia hanya ingin mendengar suara papanya yang akhir-akhir ini tidak mengucapkan selamat tidur padanya seperti dulu.


Namun wajah sedih itu tidak kehabisan akal. Candy berusaha berkirim pesan dengan cara mengeja supaya papa mau mengangkat sambungan teleponnya.


Sengaja dia ingin mencoba cara itu terakhir kali sebelum dia mengabaikan ponsel mamanya.


Pa, ini Candy.


Pesan singkat dan sebenarnya tidak karuan untuk di baca. Namun ketimbang pembaca bingung. Begitulah kira-kira pesan dari Candy kepada Fox.


" Candy." lirih Fox saat melihat pemberitahuan pesan terkirim di layar utama pada ponselnya.


" Jadi dari tadi Candy yang menelepon? Bukan Tamarin?" Fox sedikit ragu. " Tapi rasanya benar jika ini Candy," ucapnya.


Dari tadi, sebenarnya Fox mendengar jika ponselnya berbunyi. Sengaja tidak mengangkatnya, karena dia sedang pernah dingin dengan Tamarin.


Tidak lama, nama Istriku Tercinta masih tersemat untuk Tamarin dan sangat membuat muak jika Fox membaca panggilan di layar utama ponselnya.


Fox pun mengangkatnya namun diam dan menanti suara dari balik ponsel tersebut.


" Papa." Candy yang memanggil papanya.


Jujur Fox sedih, ketika lagi-lagi Candy memanggil dirinya papa. Padahal jelas-jelas dia bukan papanya dan Candy bukan putrinya.


Dengan cepat Fox segera membalas jawaban dari Candy.


" Candy."


" Papa."


Entah mengapa? Fox tanpa sadar mengeluarkan air mata. " Candy belum tidur sayang?"

__ADS_1


" Papa kapan pulangnya? Aku rindu papa." Suara menggemaskan terdengar sedih itu cukup membuat telinga Fox terenyuh. Terlebih kenyataan yang sungguh tidak mengenakkan harus dia terima terkait Candy yang bukan putrinya.


BERSAMBUNG


__ADS_2