
Aku hanya mampu diam dengan mata berkaca kaca di sertai rasa ketakutan, bahkan tubuhku gemetar seperti seorang narapidana yang akan menjalani eksekusinya.
"Kenapa diam?aku sedang bertanya padamu!!!
darimana?" David mengulang pertanyaan dengan ekspresi dingin serta wajah yang merah membara menahan amarah dikarenakan efek alkohol yang dia minum tadi.
Aku diam seribu bahasa,kini rasa takut semakin mencengkram seluruh tubuh ku,yang membuat mulut ku semakin terkunci tak mampu bersuara hanya sebuah getaran di bibirku mewakili rasa takut yang tak mampu aku utarakan.
David Bryan menghampiriku,aku semakin ketakutan,tubuhku bergetar aku tak berani menatapnya,aku hanya menunduk dan mencoba mengontrol rasa takut ku mencoba menyembunyikan nya dari David,dan tanpa sadar aku meremas jari jari ku sendiri,yang memang menunjukan aku tetap tak bisa menguasai rasa takut ini.
Tangan David Bryan mengangkat wajahku membuatku menatap matanya,dengan tersenyum kecut dia bertanya lagi
"Darimana???Apa kamu tuli,atau bisu sehingga tidak bisa menjawab pertanyaanku,
Apakah ini pertanyaan yang sulit bagimu?,"dengan raut wajah yang menahan marah,di iringi aroma alkohol yang menyengat keluar dari nafasnya.
Kata kata David sungguh menusuk hati,ingin marah tapi memang aku yang salah,
dengan sedikit keberanian yang muncul,aku pun membuka mulutku.
"Aku ada urusan,jadi aku keluar!maaf tidak mengabari mu"kata ku sambil kembali menundukkan kepalaku,sungguh aku tak sanggup jika menatap matanya yang sangat merah.
David melangkah membelakangiku sambil tertawa terbahak bahak, dan kembali ke tempat duduknya guna meraih sebotol bir dan langsung meminumnya dengan mata yang terus menatap ku dengan tajam.
Pandangannya saja sudah membuatku tersayat sayat membuatku semakin takut serta bingung akan sikapnya.
"Urusan apa,keluar pagi dan sore baru pulang"katanya datar dan sedikit senyuman kecut.
Deg...
aku seolah berhenti bernafas,keringat mulai membasahi keningku,seketika aku memucat,
lagi lagi aku di skak mat oleh David Bryan,
"Jawab"bentaknya yang seketika membuat aku kaget,
Aku hanya diam dan diam,tidak bisa menjawab,
David yang sudah geram padaku lagi lagi membuang botol minuman yang di genggamnya membuat aku semakin takut dan tak mampu lagi rasanya membendung air mataku.
"Sudah ku bilang aku ada urusan ya ada urusan kenapa kamu mengejarku dengan pertanyaan pertanyaanmu itu,"teriakku dan akhirnya air mataku tak terbendung lagi.
David semakin marah,rahang sudah mengeras dan tangannya mengepal,matanya sangat merah,namun dia tetap mencoba menguasai amarahnya.
Dia meraih satu botol bir lagi dan beranjak menghampiriku, sambil membuka semua kancing kemejanya yang dari tadi memang sudah setengah terbuka.
__ADS_1
Aku pun mundur perlahan,mencoba menghindarinya,
tanpa kusadari kini aku bersandar di dinding,ingin menghindar namun tangan David sudah terlebih dahulu menempel di dinding sekan menghalangi ku untuk menjauh.
Kami saling berhadapan, matanya mengisyaratkan jangan pernah mengindar darinya.
David mendekatkan wajanya kepadaku,dan berbisik"Jadi apa urusanmu datang ke jalan xxx,di sebuah rumah mewah milik keluarga Pramana.
Aku membulatkan mataku,menatapnya lekat
"Jadi dia sudah tau"batinku dengan sangat ketakutan.
Masih tidak bisa menjawab?? Ucap David.
Jika kau tetap diam maka aku yang akan berbicara.
"Aku sudah tau semuanya,aku tau kapan David Reno pulang dan aku tahu semua yang kau lakukan saat aku tidak d rumah
Aku memang cinta buta dengan dirimu dan aku mungkin bucin mu,tapi satu hal yang harus kamu tahu,aku tidak sebodoh itu,dan aku tidak sebuta itu."katanya dengan datar dan lirih.
Lalu David Bryan menjatuhkan bibirnya di bibirku,kali ini dia melakukannya dengan sedikit kasar,bahkan dia sampai menggigit bibirku karena aku menguncinya tak membiarkan lidahnya bergerilya disana,dengan sekuat tenaga aku pun mendorong tubuh David, hingga di mundur kebelakang.
Karena dia sangat mabuk sehingga membuat diri ku mudah mendorongnya.
"Kamu sedang mabuk David,biarkan aku keluar"pintaku mencoba melepas tangannya.
Jangan pernah mencoba menghindar urusan kita belum selesai"duduk," bentak david.
Aku masih diam terpaku di tempatku tanpa mengikuti perintah David
David kita bisa berbicara saat kamu sudah tidak mabuk,bau alkohol membuatku mual,"aku pun mencoba bernegosiasi dengannya.
"Duduk"kata david,kali ini David tidak membentak ku,namun entah kenapa ucapan barusan seakan menjadi peringatan terakhir. Aku yang sangat ketakutan akhirnya menuruti ucapannya.
Aku melangkahkan kaki dan duduk di tepian tempat tidur.
David pun melangkah menghampiri ku sambil meminum bir yg ada di genggamnanya,belum sempat David sampai ketempat dimana aku duduk,David tersungkur dilantai,aku yang kaget pun langsung beranjak menghampiri David.
Aku menangis dan bingung apa yang harus aku lakukan,tangisku adalah bentuk dari rasa takut serta rasa kawatir akan kondisi David yang sudah tak mampu berdiri.
Saat aku membalikan badannya aku melihat air mata mengalir di antar kedua ujung mata David yang dimana menunjukan betawa kecewanya dia terhadapku,terdengar lirih David berucap, "tak kusangka kamu setega itu Put,"lalu David pun tak sadarkan diri.
Kupindahkan kepalanya di pangkuan ku,aku pun memeluknya dengan tangisan yang pecah,
"Maafkan aku,maafkan aku,"
__ADS_1
Aku lalu berteriak memanggil siapapun yang di luar yang bisa mendengar suara ku yang semakin serak.
Pak Herman dan beberapa art yang mendengar teriakan ku pun segera berlari menuju tempat dimana kami berdua berada.
Mereka mendapati ruangan yang berserakan dengan beberapa pecahan botol serta David yang sudah tak sadar di pangkuan ku dengan air mataku yg mengalir di iringi Isak tangis dari ku.
"Apa yang terjadi nyonya???tanya pak Herman dengan raut wajah khawatir.
Aku tidak menjawab dan hanya bisa menangis.
Pak Herman dan beberapa art pun langsung sigap mengangkat David ke tempat tidur tanpa menunggu jawaban dari ku.
"Sepertinya Tuan David mabuk berat lagi nyonya,
apakah saya perlu memanggil dokter."??tanya pak Herman.
"Tidak usah,biarkan dia istirahat sejenak,terima kasih dan Pak Herman bisa pergi"kataku lirih.
"Baik nyonya"kata pak Herman sambil mengangguk.
Sebelum pergi,Pak Herman memerintahkan art untuk membersihkan beberapa pecahan botol yang berserakan di lantai serta membersihkan botol botol kosong yang ada d meja.
Akupun memeluk David dan terus mengucapkan maaf.
mungkin hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku,
Aku terus saja mengucapkan maaf di iringi tangisanku,lalu membuka semua baju dan menyekanya supaya bau alkohol yang menempel hilang.
Aku hanya bisa menangis dan menangis, dan mengabaikan kalau ada beberapa art yang sibuk bersih bersih,aku tetap menangis dan meminta maaf sambil trus mencium kening David.
Sebelum art keluar aku meminta mereka untuk membawa makan malam ke kamar.
"Tolong makan malam di antar ke kamar biar nanti kalau tuan bangun bisa langsung di makan."
Aku setia berada di samping David, sambil terus meratapi kesalahanku,
karena lelah tak sadar akupun ikut tidur dengan memeluknya,tiba tiba suara ketukan pintu mengagetkan ku,
beberapa art datang membawa makan malam kami.
Setelah menutup pintu dan meminum beberapa teguk air putih,aku pun kembali kesamping David,aku memeluknya dan berucap Sorry, really sorry,forgive me....
Entah sadar atau tidak tiba tiba tubuh David berpaling membelakangi ku.
"Bahkan dalam tidur,kamu marah dengan ku"gumamku.......
__ADS_1