Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 10 Sakit tetapi tidak berdarah.


__ADS_3

Wajah yang begitu memosana dan imut, membuat Kane mencubit pipinya Dee. “Sudah ingat?” tanya Kane sembari tersenyum.


“Sakit tahu!” pekik Dee menepis tangan Kane.


“Aku ke kantor dulu. Kamu,  tunggu dan istirahatlah di rumah. Kita bicarakan lagi nanti,” lirih Kane sembari menyimpulkan labium. “Dan jangan mencoba untuk lari seperti sebelumnya,” lanjut Kane kembali menyubit pipinya Dee.


Saat sang surya berada di puncaknya, Liliana datang berkunjung. Saat Dee hendak mengambil segelas air karena haus, dan bertemu dengan Liliana secara tidak sengaja. Hebatnya, kedua orang itu langsung menjadi musuh pada pertemua pertama mereka.


“Siapa ka—”


“Apa kamu pembantu di sini?” sela Dee dengan nada sedikit lirih.


Liliana hanya tersenyum, tidak terlalu menanggapi pertanyaan yang Dee ajukan. Seakan-akan keduanya salling salah paham. Kepala Pembantu yang saat itu baru kembali dari dapur, langsung menundukkan kepalanya sembari meminta maaf kepada Liliana. 


“Se-selamat datang Miss Lilliana. Maafkan saya karena tidak menyambut kedatangan Anda di depan rumah,” lirihnya sembari tersenyum.


“Siapa dia? Pembantu baru di sini?” tanya Lilliana.


“Iya, Miss. Dia Pembantu baru di sini, menggantikan yang lama,” balas Kepala Pembantu itu.


Liliana hanya mengangguk pelan lirih duduk di softa kemudian. “Kamu, buatkan aku teh hangat,” titah Liliana.

__ADS_1


“Kau! Si—” Darah mendesir mengalliri wajah Dee, hendak melontarkan berbagai makian. Namun, dia dihentikan oleh Butler.


“Ayo, ikut denganku. Akan kuajari bagaimana cara membuat the yang Miss Liliana sukai,” ajak Butler itu sembari menarik paksa lengan Dee.


“Apa yang kamu lakukan, ha? Kenapa aku harus membuatkan wanita itu minuman! Aku bukan pelayan di sini!” tegas Dee penuh amarah.


“Mohon maaf, Nona Dee. Tapi Miss Liliana adalah tunangannya Tuan Kane. Selain itu, Tuan Kane juga mengatakan kepadaku, kalau Nona Dee harus berpura-pura menjadi pembantu, selagi menjalankan pekerjaannya sebagai wanita sewaan,” lirih Butler mencoba untuk menjelaskan situasinya.


“Ha! Kenapa aku harus menjadi … haa, sudahlah. Lihat saja nanti, akan kubalas si sialan Kane itu! Dikiranya aku ini apaan coba!” ketus Dee mencoba untuk meredam amarah.


Dee hanya bisa pasrah, sekali pun hatinya dipenuhi amarah. Karena kesal, Dee memutuskan untuk mencampurkan bubuk cabai dan lada ke dalam minuman Liliana. Sembari tersenyum dan penuh hormat, Dee pun memberikan minuman itu pada Liliana.


Hahaha ... rasain tu teh cabai! Batin Dee menahan tawa.


“Apa-apaan ini? Kenapa rasanya sangat pedas! Apa kamu memasukkan cabai ke dalamnya, ha! Jangan bilang kamu sengaja melakukannya?” teriak Liliana dengan wajah memerah.


“Maaf, Miss Liliana. Aku tidak sengaja melakukannya. Mungkin karena kondisi badan saya yang kurang sehat, jadi tanpa sengaja memasukkan bubuk cabai ke dalamnya,” lirih Dee dengan wajah polos tak berdosa.


Sementara Dee meminta maaf tanpa rasa dosa, Butler itu menundukkan kepalanya dengan penuh penyesalan. Dia meminta maaf atas nama Dee, bahkan berjanji bahwa hal seperti itu tidak akan terjadi lagi. Melihat hal itu, Dee merasa sedikit bersalah dan merenungi perbuatannya. Namun, di saat yang bersamaan dia juga merasa sangat senang, apalagi melihat ekspresi yang Liliana tunjukkan.


“Maaf? Kamu! Cepat ke sini dan habiskan minuman ini!” titah Liliana penuh amarah.

__ADS_1


Merasa djpermainkan, Liliana enggan untuk memaafkan Dee. Mereka langsung terkejut saat mendengar perkataan Liliana, bahkan Butler itu pun tidak tahu harus berbuat apa. Disatu sisi Butler itu tidak bisa melawan perintah Liliana, karena statusnya yang seorang tunangan. Namun, di sisi lain dia juga tidak bisa membiarkan Dee untuk meminum minuman itu, apalagi saat ini Dee tengah mengandung anaknya Kane. 


Beruntung Kane kembali dari kantornya, yang mana langsung bisa meredam situasi di sana. Kane yang mana tidak tahu kalau Liliana akan datang berkunjung, hanya bisa terdiam sembari memerhatikan sekitar.


“Liliana, kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Kane dengan manik hitam sedikit terbelalak.


Liliana lekas beranjak dan memeluk Kane, bahkan mengadu tentang apa yang Dee lakukan padanya. Kembali Liliana meminta Dee untuk meminum minuman itu. Namun, Kane berusaha melindungi Dee, mengingat calon anaknya yang ada di dalam kandungan Dee. Namun, Liliana kukuh memaksa Dee untuk meminum the cabai  itu, karena hanya itulah cara agar dia bisa meredam amarahnya.


“Tenanglah, Sayang. Aku akan menghukumnya nanti,” ujar Kane mencium kening Liliana. “Dan kamu, kembalilah ke kamarmu. Aku tidak ingin kejadian seperti ini sampai terulang kembali!” titah Kane sedikit meninggikan suaranya.


Seketika semua amarah di hati Liliana langsung mereda, bergantikan sebuah bahagia atas ciuman mesra yang telah Kane berikan. Akan tetapi, ada hati lain yang merasa tersakiti saat melihat kemesraan di antara Kane dan Liliana. Sembari tersenyum dengan wajah memerah, Liliana memaksa Kane untuk saling bertukar saliva.


Dada Dee semakin sesak saat melihat hal itu, seakan ada belati yang menusuk hatinya. Dee bahkan sampai menggigit bibirnya hingga terluka, meremas ujung pakaiannya karena rasa sakit yang tak bisa dijelaskan. Dee sendiri tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi, tetapi itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan.


Kirana sang rambulan kian datang, menggantikan tugas sang surya untuk menghangatkan dunia. Dee yang masih terus memikirkan tentang kejadian tadi siang, memilih pergi ke dapur untuk mencari ketenangan. Di sebuah dapur yang sedikit berantakan, sebuah ponsel berdering. Lirih suara penuh mesra dan cinta ke luar dari mulut seorang Dee. “Mas Rizky,” lirih Dee penuh perasaan.


Dia terus berbicara melalui ponsel genggam, dan setiap kata yang terucap seakan dipenuhi oleh cinta. “Iya, Mas. Aku sekarang lagi di rumah teman kok. Enggak. Hmm … iya, aku juga sayang sama mas,” ujar Dee sembari tersenyum.


Senyuman di wajahnya langsung pudar seketika menutup ponselnya. Dia menggenggam ponsel dan menempelkannya di dada, menatap ke atas sembari memejamkan kedua bola mata. 


Kane yang khawatir pada kondisi Dee, pergi untuk memeriksa kondisi Dee. Dia mencoba untuk pergi ke kamarnya Dee, tetapi tidak mendapati hasil. Secara tidak sengaja saat hendak pergi ke dapur, Kane melihat Dee tengah berbicara dengan seseorang di ponselnya. Awalnya dia tampak biasa saja, tetapi saat mendengar kata sayang dengan nada yang begitu dipenuhi rasa, wajah Kane langsung memucat dengan kedua mata terbelalak.

__ADS_1


Jantungnya berdegup kencang, dan hatinya terasa seperti tersayat dari dalam. Dia sendiri juga tidak mengerti dengan perasaannya saat ini. Kane bahkan menolak untuk percaya bahwa dirinya tengah terluka karena rasa cemburunya pada Dee. Namun, tidak peduli seberapa sering logika mencoba untuk menyangkalnya, sebanyak itu pula hati memaksanya untuk menerima fakta.


__ADS_2